
"Kekasihnya Abi..?" tanya Haiden sambil mengerutkan alisnya. Dalam hati ingin tertawa, tapi ia urungkan.. Muka bantalmu ini sangat meggemaskan batin Haiden.. "Kenapa kamu bisa ada disini..?"
"Hmm.. Abi yang memanggil saya.. katanya ia ada di Surabaya dan kebetulan mendapat satu kamar.. jadi dia mengajak saya untuk datang kesini.."
"Aku tidak menyangka Abi seorang pria yang lemah dan polos bisa menganut pergaulan bebas.."
"Bbukan.. bbukan begitu tuan.. kami tidur terpisah dan tidak pernah melakukan hal - hal yang dilarang agama.."
"Oke aku percaya karena Abi itu tidak mahir berciuman.. ia seperti orang suci.."
"Eh.. iya tuan.."
"Atau kamu mau aku ajari bagaimana ciuman yang sesungguhnya siapa tahu Abi akan makin cinta kepadamu.."
"Ttiidaak..! jjjangan tuan.. ttidak perlu.." jawab Aira gugup.
"Baiklah kalau itu maumu.. jika kamu suatu saat menginginkannya kau bisa menghubungiku.. dan aku tidak akan memungut biaya alias gratis.." ucap Haiden menggoda. "Kau tidak menyuruhku masuk..?"
"Oh ya.. ttapi Abi baru keluar tuan.."
"O..o.. dia tidak ada.. tidak masalah aku orang terhormat dan tidak akan melakukan hal - hal seperti itu.. kamu tidak usah khawatir.."
"Oh.. ya saya percaya.. silahkan masuk tuan.." ucap Aira. Ia menghela napas panjang.. wah bisa panjang ini urusannya bila tuan menunggu Abi pulang.. bagaimana aku bisa berganti pakaian.. ya tuhan aku terjebak dengan drama ini batin Aira.
Haiden duduk di sofa. Oke Aira akan aku tunggu sampai mana kamu bisa bertahan dengan drama mu ini batin Haiden.
"Maaf tuan saya ke kamar mandi sebentar.." pamit Aira. Di dalam kamar mandi Aira membasuh mukanya dengan harapan dapat menambah kesegaran, memikirkan bagaimana caranya agar Haiden tidak mengetahui penyamarannya. Dilanjut dengan menggosok gigi sambil mondar mandir ke sana kemari.
Heh.. aku harus hati - hati dalam menjawab semua pertanyaan tuan nantinya.. sudah kepalang basah.. maaf tuan terpaksa aku membohongimu batin Aira. Ia segera berkumur dan memastikan lagi penampilannya di kaca kemudian bergegas keluar dan duduk di depan Haiden.
"Siapa namamu..?"
"Oh.. saya Denaira.. tuan bisa memanggil saya Aira.." jawabnya tegas. Oke ronde pertama aku bisa lancar menjawab pertanyaan tuan batin Aira sedikit lega
"Hmm.. aku ingat kau gadis yang di pusat perbelanjaan itu kan..?"
"Ttuan masih ingat..?"
"Tentu saja.. otakku tidak tumpul seperti kekasihmu itu.." jawab Haiden memancing.
Waduh aku lupa.. aku pernah bertemu tuan dengan berpenampilan wanita.. tenang.. tenang.. aku harus tenang batin Aira.
"Eh iya dia agak bodoh tapi bisa diandalkan.."
"Kamu juga tetangga keluarganya Abi kan..?"
"Maksud tuan..?"
"Aku pernah melihatmu memanjat pohon mangga di rumah Abi.."
"Apa tuan El ingat..!" ucap Aira dengan nada tak percaya.
Deg.. deg.. deg.. tuan ingat semua batin Aira tidak percaya. Memang harus di akui daya ingat tuan sangat kuat.
"Kau memanggilku El..?"
"Bbukan.. bbukan.. tuan salah dengar tadi.."
"Maksud kamu aku tuli..?"
"Bbukan.. bbukan itu maksud saya.." jawab Aira denga gugup. Kenapa semua menjadi serba salah batin Aira.
Haiden tersenyum tapi dia juga kasihan melihat wajah Aira yang sudah pucat pasi dan mengeluarkan keringat dingin padahal di kamar berAC.
"Kenapa Abi lama..?"
"Saya kurang tahu tuan.."
"Baiklah sampaikan saja kalau nanti jangan sampai terlambat jam delapan aku berangkat.."
"Baik tuan nanti saya sampaikan bila ia sudah pulang.." ucap Aira tersenyum lega. Yes.. akhirnya tuan mau kembali ke kamarnya.
Haiden berdiri dari sofa. Aira mengikutinya dari belakang. Tetapi Haiden tiba - tiba berbalik, tangannya yang kekar meraih pinggang Aira dengan erat dan menarik ke tubuhnya hingga tanpa jarak.
"Aaacchh..! apa yang tuan lakukan.." teriak Aira.
Wajah Haiden mulai mendekat sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Haiden tersenyum melihat wajah Aira yang ketakutan. Kemudian ia membisikkan sesuatu di telinganya.
"Lain kali jika kekasihmu sedang ada pekerjaan ke luar kota dengan atasannya jangan menyusul.. mengerti.." bisik Haiden. Aira hanya mengangguk - angguk saja. "Itu mengganggu.." lanjutnya sambil mengigit telinga Aira
"Aauuww sakit..!" teriak Aira.
Haiden tersenyum puas melihat Aira berteriak kesakitan, kemudian melepaskan tangannya dan langsung keluar kamar.
Aira terduduk lemas, awalnya ia mengira kalau Haiden menyadari penyamarannya. Tapi ternyata tidak. Hah syukurlah ini sudah selesai batin Aira lega.
☘☘☘☘☘
Haiden sudah bersiap untuk golf bersama dengan Hiroshi. Noah dan Aira sudah menunggu di depan pintu kamar.
"Ayo berangkat.."
"Baik tuan.. " jawab mereka bersamaan.
Mereka naik mobil yang sudah di sediakan hotel. Sebelumnya kondisi mobil sudah di cek tingkat keamanannya oleh Noah. Segala sesuatu harus berjalan dengan lancar mengingat Haiden banyak musuh.
"Abi.."
"Ya tuan.."
"Kau tinggalkan kekasihmu di kamar..?"
"Tidak tuan.. dia sudah pulang.." ucap Aira. "Maafkan kelancangan saya yang membawanya tidur di hotel tuan.."
"Berani juga kamu.. ternyata kau memiliki nyali yang besar juga.. aku tidak bisa memandang remeh.."
"Maaf tuan tidak akan saya ulangi lagi.. karena itu akan mengganggu pekerjaan saya.."
"Hmm.. sepertinya kamu siap menerima hukuman dariku.."
"Siap tuan.." jawab Aira. Terserah tuan mau hukum kayak gimana yang penting penyamaran ini tidak terungkap batin Aira pasrah.
"Kau minta di hukum yang ringan atau berat..?"
"Hehehehh.. kalau boleh yang ringan saja tuan.."
"Ngelunjak kamu.." ucap Haiden. "Oya kenapa telingamu merah..?"
"Oh ini.. ini digigit serangga waktu keluar tadi tuan.." jawab Aira sambil mengusap telinganya.
Sialan dia mengatakan aku serangga batin Haiden
"Aku pikir digigit kekasihmu.."
"Bukan tuan.." jawab Aira. Heh seandainya tuan tahu kalau ini adalah gigitanmu waktu pagi tadi aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa nanti hidupku.
Aira bernapas lega karena walaupun tuan itu bersikap dingin tapi cukup perhatian dan penyayang. Haiden juga yang selalu melindunginya.
Haiden segera menemui Hiroshi yang sudah menunggunya di sana.
"Selamat pagi tuan Haiden.."
"Pagi tuan Hiroshi.. maaf saya terlambat"
"Oh tidak tuan.. saya yang berangkat terlalu pagi.." ucap Hiroshi. "Mari saya perkenalkan dengan anak saya.." Ia kemudian memanggil seorang wanita muda berkulit putih bersih, berwajah oriental dan cantik. "Nah tuan Haiden ini Shiena putri kesayangan saya.."
"Halo tuan Haiden.."
"Halo.." sambut Haiden.
"Tuan Haiden.. nanti tuan akan ditemani anak saya karena ia sangat mahir bermain golf. Dan kali ini saya tidak ikut andil.. hanya sebagai penonton saja.."
"Tidak apa - apa tuan Hiroshi.. saya justru sangat senang bisa ketemu lawan yang imbang.."
"Wow suatu kehormatan untuk saya bisa menemani tuan Haiden.. pasti banyak wanita yang akan iri melihatnya.."
Mereka berdua akhirnya bermain golf bersama. Shiena seorang yang pintar bergaul itu terbukti dengan cepat ia bisa dekat dengan Haiden. Mereka berbincang di sela - sela permainan golf.
Tuan kalau ada wanita cantik pasti akrab.. seandainya saat ini aku dengan wujud asliku tuan juga tidak akan melirik wanita dari kelas biasa sepertiku batin Aira sambil menarik napas panjang. Selalu seperti ini setiap tuan dekat dengan wanita cantik jantungku selalu tidak beraturan, napasku sesak..
"Hai.. sendirian..?" sapa seorang pria.
"Oh ya.." jawab Aira sambil tersenyum.
"Boleh aku duduk disini..?"
"Oh silahkan.. tentu saja boleh.."
"Oya aku Fahri.. aku yang bertugas mengurus resort dan lapangan golf ini.." ucap Fahri sambil mengulurkan tangan.
"Saya Abi.. pelayan pribadinya tuan Haiden.." ucap Aira sambil menjabat tangan Fahri.
"Wow untuk ukuran pria tanganmu sangat halus.. kenapa formal banget sih.. santai saja.."
"Walau bagaimana pun saya cuma seorang pelayan.."
"Kamu memang pelayan, tapi ini beda.. kamu pelayannya tuan Haiden.. hei siapa yang tidak kenal dengan Kafael Haiden Lukashenko seorang raja di dunia bisnis.."
"Memang beda karena ia pelayan pribadiku..! tanpa seijinku kau juga tidak boleh menyentuhnya..!" ucap Haiden yang tiba - tiba sudah berdiri di belakangnya. "Abi ayo kita pulang.."
"Tuan sudah selesai..?"
"Sudah.. ayo pulang.." perintah Haiden sambil menarik tangan Aira.
"Haiden tunggu.." panggil Shiena. "Kenapa buru - buru..?"
"Aku ada urusan.."
"Oke.. kalau begitu nanti malam kita keluar.. aku yang traktir.."
"Noah kau urus semuanya.." perintah Haiden sambil berjalan menuju mobil.
"Baik tuan.."
Haiden dan Aira lebih dulu masuk ke dalam mobil. Mereka masih menunggu Noah untuk konfirmasi jamuan nanti malam.
"Hukumanmu ditambah dua kali lipat..!"
"Kok bisa tuan..?"
"Karena kau lalai dalam bekerja.. dan juga asyik ngobrol dengan orang asing.."
"Namanya Fahri tuan.. katanya dia pengurus resort.."
"Kamu juga sudah tahu namanya..? pekerjaannya..?"
"Iya tuan.." jawab Aira. Ini tuan kenapa sih marah - marah tanpa alasan batin Aira.
"Jangan dekat - dekat atau bicara dengan orang asing.."
"Kenapa tuan..?"
"Kau itu pelayan pribadiku pasti akan jadi incaran orang untuk mengorek semua informasi tentangku.. jadi harus berhati - hati.."
Aira langsung menyadari kesalahannya "Maafkan saya tuan.."
"Ya sudah jangan sampai kau ulangi.."
☘☘☘☘☘
Setelah tiba di hotel mereka menuju ke kamar masing - masing. Rencananya Aira akan berendam untuk menghilangkan kepenatan dan menelepon teman - temannya. Memang hari ini tadi sangat melelahkan.
Dengan menggunakan beberapa minyak aroma terapi Aira mulai berendam. Hmmm rasanya sangat nyaman, semua kepenatan tubuh maupun pikiran hilang seketika. Pasti saat ini tuan bersiap untuk makan malam dengan nona Shiena. Dasar laki - laki semuanya sama batin Aira. Setelah di rasa cukup Aira keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk tidur.
Tiba - tiba telepon kamar berdering..
"Ya halo.."
"Ke kamarku.."
"Baik tuan.."
Aira bergegas menuju ke kamar Haiden.
"Ada perintah tuan..?"
"Hmm.. duduk.."
Aira duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan.
"Sudah siap menerima hukuman.."
"Hukuman..? saya pikir nanti kalau sudah di Jakarta tuan.."
"Karena kamu melakukan kesalahan dua kali jadi hukuman aku gandakan.. satu disini dan satu lagi setelah tiba di Jakarta.."
"Hukumannya apa tuan..?"
"Pijat badanku sampai aku tertidur.."
"Baik tuan.."
Aira mengambil minyak zaitun dan mulai memijat tuannya.
"Tuan tidak jadi makan malam dengan nina Shiena..?" tanya Aira dengan hati - hati.
"Tidak.. aku malas.."
Jawaban singkat dari tuannya membuat hati Aira lega. Kalau seperti ini mau pijat sampai pagi juga akan aku lakukan tuan batin Aira..
☘☘☘☘☘