
"Jadi hari ini kamu mau ke kantor..?" tanya Haiden
"Jadi.. nanti siang aku mampir ke sana.." jawab Azkara.
"Baiklah kalau begitu.. aku berangkat dulu.." pamit Haiden. "Ayo Abi.."
"Baik tuan.." jawab Aira.
Mereka berjalan menuju mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil Noah membisikkan sesuatu di telinga Haiden.
"Abi.. kau tunggu disini.. aku masih ada keperluan dengan Noah.."
"Baik tuan.."
Haiden dan Noah berjalan menuju ruang kerja. Sesampainya di sana Noah memberikan beberapa data ke Haiden.
"Bengkel..? apa maksudmu ini Noah..?"
"Itu data bengkel yang dikunjungi secara rutin untuk service mobil orang tua nona Aira tuan.."
"Terus..?"
"Jadi sebelum kecelakaan mobil yang di kendarai baru saja di service di sana.. logikanya mobil pasti dalam keadaan bagus dan rem juga tidak blong.. tapi ini berbeda terbalik dengan mobil keluarga nona Aira.."
"Berarti ada yang sengaja mengutak atik mesin.."
"Betul dan suatu kebetulan.. salah satu mobil kita ada yang di service kan disana atas nama Roberto.. setelah saya selidiki kedua mobil itu ditangani oleh orang yang sama.."
"Sudah kau temukan orangnya.."
"Dia sudah meninggal satu bulan setelah kecelakaan itu terjadi.."
"Kau tidak menemukan bukti yang lain..?"
"Ada tuan.. sebuah rekaman video permintaan maaf dari montir itu.. pihak keluarga almarhum sudah lama mencari keluarga Aira untuk meminta maaf tapi tidak pernah bertemu.."
"Apakah dia menyebut nama Roberto..?"
"Ya tuan dia menyebutkannya.."
"Kerja yang bagus Noah.." puji Haiden. "Tapi aku yakin Roberto bukan dalang dari semua ini.. pasti ada yang menyuruhnya.." tebak Haiden. "Apa mungkin Kemal..? tapi apa hubungannya ia dengan keluarga Aira..?"
"Hmm.. maaf tuan.."
"Apalagi..?"
"Ada satu informasi lagi yang harus saya sampaikan.."
"Apa..?"
"Ternyata nyonya Nungki dan tuan Kemal semasa sekolah adalah sepasang kekasih.. tetapi kakek anda tidak merestui hubungan ini karena nyonya Nungki dari keluarga biasa dan di anggap tidak sederajat.."
"Hmm.. ternyata mereka sudah saling kenal.. pantas Ivanka tahu banyak tentang diriku.. ternyata Kemal yang memberinya informasi.. selidiki terus Noah.. ada konspirasi apa.. ini semua hanya praduga kita belum memiliki bukti yang kuat.."
"Baik tuan.."
"Ayo kita berangkat.."
Haiden dan Noah keluar dari ruang kerja menuju mobil. Abi sudah menunggu mereka cukup lama bersama dengan Tama. Begitu melihat Haiden datang Tama segera membukakan pintu mobil.
Pagi ini jalanan di Jakarta lancar tanpa adanya hiruk pikuk kendaraan yang selalu memenuhi jalan. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Haiden disibukkan dengan laptopnya, membaca dan menganalisa setiap laporan.
"Maaf tuan jam sepuluh nanti kita ada meeting dengan perusahaan Lux Furniture di kantor mereka.. saya hanya mengingatkan.."
"Ah.. aku sampai lupa.. kita langsung saja ke kantor mereka.."
"Baik tuan.." ucap Tama.
☘☘☘☘☘
"Ingat.. kata Nungki gadis itu bekerja untuk Haiden dengan memakai baju pria.. ini fotonya kalian awasi terus.."
"Baik tuan Leo.."
"Begitu ada kesempatan kalian culik dan bawa padaku.."
"Baik tuan.."
Tiba - tiba ada seorang pria bertubuh agak gemuk dan berambut ikal masuk ke dalam.
"Maaf tuan saya akan melapor.."
"Ada apa Ronald..?"
"Saat ini tuan Haiden tidak ada di perusahaan.. dia ada meeting dengan perusahaan Lux Furniture.."
"Bagus kalau begitu akan memudahkan kalian menculik Aira tanpa keberadaan Haiden.."
"Maaf tuan.. Aira ikut di manapun tuan Haiden berada.."
"Oke.. kalau begitu rubah strategi kalian.. saat Haiden masuk ke ruang meeting kalian segera lumpuhkan beberapa bodyguard di sana.. sudah menjadi kebiasaan, Haiden akan membawa empat bodyguard setiap kali dia pergi.. begitu mereka dilumpuhkan culik gadis itu.. aku yakin dia tidak punya kekuatan apa - apa.."
"Bagaimana dengan security di perusahaan itu tuan..?"
"Tenang perusahaan itu aku kenal dengan pemiliknya.. aku akan coba hubungi agar tidak terlalu menarik perhatian.. sekarang kalian pergi.."
"Baik tuan.."
☘☘☘☘☘
Akhirnya Haiden sampai di depan perusahaan Lux Furniture. Perusahaan ini di percaya oleh Haiden untuk menangani semua design interior dan perabotan untuk proyek hotel dan apartemen mereka yang baru di Surabaya.
"Noah kau tidak usah ikut masuk.. tunggu aku diluar.. meeting kali ini aku bisa menanganinya sendiri.."
"Baik tuan.."
"Entah kenapa perasaanku tidak enak.."
"Tuan sakit..?"
"Tidak aku tidak apa - apa.. sudahlah mungkin instingku saja.." jawab Haiden.
Sebelum masuk Haiden memandang ke arah Aira. "Hei.." panggilnya
"Ya tuan.." Aira berjalan mendekat
"Jangan keluyuran kemana - mana.. meetingku cuma sebentar.." pesan Haiden sambil membelai kepala Aira.
"Baik tuan.."
Haiden segera memasuki ruang meeting. Ia adalah orang yang disiplin jadi segala sesuatu harus tepat sesuai dengan perhitungannya.
"Abi.. duduk sini.."
"Ya nanti.. aku mau melihat pemandangan dari atas sini.." jawab Aira yang masih setia berdiri dekat jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan hutan kayu - kayu yang sengaja di tanam oleh perusahaan Lux Furniture.
Sekitar hampir tiga puluh menit meeting berlangsung. Tampak enam pria berpakaian jas hitam berjalan mendekati mereka. Kemudian salah satu dari mereka dengan tiba - tiba menarik tangan Aira.
"Hei..! siapa kalian..?!" teriak Aira. Dengan sedikit kemampuan yang sudah di ajarkan oleh Haiden ia bisa melepaskan diri dan menendang kaki pria itu.
Noah bersama bodyguard yang lain masih bertarung melawan para pria utusan dari Leo. Pertarungan cukup imbang. Tampak salah satu pria berjas hitam itu mengeluarkan senjata api dan mengarahkan ke Noah. Aira yang melihat dengan sigap menendang tangan bodyguard itu "Noah awas..!!!" teriaknya dan Doorrr...!!!
Ia membuka pintu dan doorr..! doorr..! doorr..! tiga bodyguard tumbang. Sementara yang sisanya masih adu jotos dengan bodyguard Haiden. Ia segera berlari menghampiri Aira.
"Abi kamu tidak apa - apa..?"
"Tidak tuan.."
"Noah.. kamu urus mereka, aku akan pergi dengan Abi.."
"Baik tuan.. maaf tuan target mereka adalah Abi.."
Dengan sigap Haiden membawa Aira keluar dari sana. Terus berlari menuju lift untuk turun ke basement paling bawah yaitu tempat parkir.
"Bos.. mereka berhasil melarikan diri.." lapor salah seorang dari mereka dengan menggunakan HT.
Beberapa pria berjas hitam datang lagi kira - kira lima orang dan mereka semua mengejar Haiden.
"Sial.. kenapa lift ini lama sekali.."
Aira dengan tangan gemetar masih memencet tombol di lift.
"Sudah biarkan saja.. kita lewat tangga darurat..!"
Haiden menarik tanhan Aira, mereka berdua berlari menuruni tangga. Di belakang mereka ada lima pria yang terus mengejar sambil menembakkan senjata ke arah mereka. Doorr..! doorr..! doorr..!
"Aaachh.." teriak Aira ketakutan. "Mereka bawa senjata tuan..!"
"Tetap pegang tanganku Abi jangan sampai lepas.."
"Baik tuan.."
Mereka terus menuruni tangga. Hingga Aira sudah tidak sanggup lagi.
Dengan napas terengah - engah "Heeehh.. heeehh.. tuan saya tidak kuat lagi.."
"Sedikit lagi Abi.."
"Heehh.. heehh saya kehabisan napas tuan.."
Haiden melihat wajah Aira yang sudah pucat di tambah ia kesulitan bernapas, kakinya tampak gemetar kelelahan. Haiden mencari pintu untuk keluar dari tangga darurat.
"Di sana ada pintu.. ayo sedikit lagi Abi.."
"Baik tuan.."
Mereka kembali berlari menuju pintu itu. Dengan susah payah Haiden membukanya. Ternyata itu adalah ruangan seperti gudang alat - alat dan kayu yang sudah tidak terpakai. Tempat itu sangat kotor bahkan banyak debu dan gelap.
"Kita sembunyi di sini dulu.." perintah Haiden. Mereka bersembunyi di belakang rak yang berisi cat dan kulit untuk bahan lapisan sofa.
"Sial..! kemana mereka..!"
"Bodoh kalian semua..! menangkap satu orang saja tidak becus..!"
"Maaf bos.. gadis itu ternyata memiliki bodyguard.."
"Makanya jangan meremehkan sesuatu yang kamu anggap lemah..! cepat cari..! jika tahu kalian gagal tuan Leo pasti murka.."
Haiden dan Aira masih bersembunyi. Aira mendengar pembicaraan mereka yang menyebut kata gadis. Mudah - mudahan tuan tidak mendengar apa yang mereka katakan batin Aira panik. Rasa panik itu membuat Aira mulai kesulitan bernapas di tambah dengan ia memiliki ketakutan sendiri di ruang tertutup.
"Ttuan.. saya tidak bisa bernapas.."
"Tunggu sebentar lagi Abi.. mereka masih diluar.. peluruku tidak cukup.. jika kita keluar sekarang akan mati konyol.."
"Ttapi tuan...sa..sa..saya sudah tidak bisa bernapas.."
Haiden teringat bahwa Aira memiliki trauma di ruang tertutup. Apa yang harus aku lakukan pikir Haiden.
Ia tiba - tiba menangkupkan kedua tangannya di pipi Aira. "Maaf Abi hanya ini cara satu - satu agar kau bisa bernapas.."
Haiden memberikan napasnya melalui mulut Aira. Mirip dengan CPR tapi dalam keadaan sadar.
"Sudah agak lega..?" tanya Haiden pelan. Aira hanya menganggukkan kepala antara sadar dan menikmati.
Haiden melakukan aksinya itu berulang kali hingga Aira sudah tidak sesak napas lagi.
Tiba - tiba terdengar tembakan sebanyak tiga kali. Doorr..!! doorr..!! doorr..!!
"Cepat bawa mereka..!" teriak Noah dari luar.
"Itu suara Noah, kita aman Abi.. ayo keluar.."
Haiden dan Aira keluar dengan susah payah dari ruangan gelap dan pengap itu.
"Tuan.." panggil Noah. "Maaf saya terlambat.."
"Tidak apa - apa.. ayo kita segera keluar dari tempat ini.."
Setelah membawa pria - pria tadi ke pihak berwajib dan membereskan kekacauan yang ada mereka bertiga keluar dan menuju tempat parkir.
"Duduklah dulu disini.. kita menunggu Tama.." perintah Haiden pada Aira.
Aira duduk disebuah kursi tunggu. Sementara itu Noah melaporkan informasi yang dia dapat dari kejadian ini.
"Siapa mereka..?"
"Berdasarkan dari informasi orang - orang yang tertangkap, mereka adalah utusan dari tuan Leo.."
"Leo..? yang ingin membeli Aira..?"
"Betul tuan.." jawab Noah. "Tampaknya ia masih penasaran dengan nona Aira.."
"Aku anggap Nungki ikut terlibat.."
"Dalam hal ini.. murni keputusan dari Leo tuan.. ia sangat terobsesi dengan Aira.. menurut informasi ia memiliki beberapa hotel dan pabrik minuman keras di Jepang.."
"Bagaimana Nungki bisa kenal dengan Leo..?"
"Salah satu teman sekolah Nungki adalah rekan bisnis dari Leo. Memang untuk menjual nona Aira.. ia banyak menawarkan ke lelaki hidung belang.. hanya ke Leo lah Nungki menjatuhkan pilihan kerena ia berani membayar dua ratus lima puluh juta untuk...." Noah tidak melanjutkan kata - katanya.
"Untuk apa..?" tanya Haiden
"Maaf keperawanan nona Aira tuan.." jawab Noah
"Brengsek..!!!" ucap Haiden geram.
Sementara itu Aira tampak lelah dan lemah. Ia hanya duduk saja di kursi tunggu. Pikirannya kacau, ia berusaha menelaah satu persatu kejadian yang menimpanya tapi justru menambah beban di pikirannya. Ia sangat merasa bersalah dengan tuannya karena selalu merepotkannya.
Ia melihat sekelilingnya yang tampak sepi. Hanya ia, Haiden, Noah dan beberapa mobil terparkir disana. Tiba - tiba ia melihat mobil hitam bergerak keluar. Tampak penumpang memakai pakaian serba hitam yang berada di dalam membuka jendela dan mengarahkan senjata api ke arah Haiden. Menyadari hal itu bisa mengancam nyawa tuannya Aira bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah Haiden sambil berteriak
"Tuan awas..!!!" teriaknya dan doorr..!!!
Haiden tampak kaget mendengar suara tembakan senjata dan mendapati Aira yang melindunginya dari tembakan itu.
"Abi.. Abi.. apa yang kamu lakukan..!!!" teriak Haiden panik. Tubuh Aira melemah dan jatuh. Haiden segera menangkap tubuh yang lemah itu.
"Syukurlah tuan selamat.. maafkan saya tuan.." ucapnya lirih. Tangannya yang membelai pipi Haiden, kemudian pelan - pelan terkulai dan ia tak sadarkan diri.
"Abi.. Abi.. Abiii...!!!"
☘☘☘☘☘