
"Azka mau kemana..?"
"Mau ke kamar bu.."
"Temani ibu jalan - jalan.."
"Baiklah.. ibu mau jalan - jalan kemana..?"
"Bagaimana kalau belanja..?"
"Hmm.. sepertinya menyenangkan.." ucap Azkara. "Kalau begitu akan memanggil Abi.. dia nanti bisa membantu membawakan barang kita.."
"Ijin dulu ke kakakmu.."
"Cuma pinjam sebentar saja bu.." ucap Azkara. "Posesif banget.."
"Kau tahu sendirikan.. kalau sesuatu itu sudah jadi miliknya siapapun tidak boleh menyentuhnya.."
"Tapi Abi itu seorang pria dan pelayan.. tidak akan baik untuk El jika terlau dekat dan posesif.. setahuku dengan Noah juga tidak seperti itu.."
"Ah sudahlah.. itu sudah jadi keputusannya.."
"Ada apa ini Azka kenapa berdebat dengan ibu..?" ucap Haiden yang tiba - tiba muncul.
"Aku mau jalan - jalan dengan ibu.. bolehkan Abi aku ajak.."
Haiden diam.. dia berpikir sejenak.. kantor akan terasa sepi tanpanya.. Haiden sudah terbiasa dengan kehadiran Aira.
"Ini juga demi misi yang kau berikan padaku.." bisik Azkara di telinga Haiden
Sial.. dia memanfaatkan perintah yang kuberikan.. sambil menghela napas panjang "Baiklah kau ajak Abi.. tapi jangan kau suruh dia membawakan barang belanjaanmu.. bawa beberapa bodyguard.."
"Tenang saja kakak.. aku akan menjaganya dengan baik.."
Haiden segera berpamitan dengan Harika dan Azkara. Hari ini ada sesuatu yang kurang dengan dirinya.
"Abi.. hari ini kau antar kami belanja ya.."
"Baik nona.. saya akan bersiap.."
Tak berapa lama mereka bertiga dengan beberapa bodyguard pergi ke pusat perbelanjaan. Hanya memakan waktu tiga puluh menit mereka akhirnya sampai.
Harika dan Azkara masuk ke sebuah toko baju terkenal. Abi hanya berada di belakang mereka dan melihat - lihat saja. Tiba - tiba matanya tertuju pada sebuah baju dengan motif floral warna hijau dengan rok plisket beludru warna coklat tua.
Wah kalau seandainya aku ada uang tentu saja baju itu akan aku beli batinnya. Ia menghampiri baju itu dan memegangnya sebentar. Lembutnya..
"Hmm.. bagus.." ucap Azkara dari belakang.
"Oh nona.. iya ini memang bagus.. bahannya juga lembut.."
"Kalau kamu suka aku belikan.."
"Iya saya suka dengan model baju yang seperti ini.."
"Kamu..?" tanya Azkara mengerutkan alisnya.
"Eh.. maksud saya kekasih saya nona.. ya kekasih saya.."
"Oh kekasih kamu.." ucap Azkara manggut - manggut. Sebentar lagi kamu akan masuk jebakanku Aira batin Azkara.
"Aku akan membelikannya untukmu.. yah itung - itung sebagai hadiah.."
"Hadiah apa nona..?"
"Yah karena kamu sudah menjaga El dan juga Ibu.."
"Benarkah..?" mata Aira berbinar
"He em.. benar.." ucap Azkara. "Mbak minta tolong yang ini ya.." perintahnya sambil menunjuk gaun yang disukai Aira.
Pelayan toko segera mengambil dan melepas hanger, kemudian menyerahkan ke Azkara.
"Terima kasih.." jawab Azkara. "Fitting room nya dimana..?"
"Disebelah sana nona.." jawab pelayan toko.
"Nah Abi.. cobalah kau bisa berganti baju di sana.." perintah Azkara yang menjebak.
"Baik nona.. terima kasih.." ucap Aira dengan wajah bahagia. Aura nya bisa terpancar dari sorot matanya.
Tapi baru beberapa langkah ia tersadar akan kekeliruannya. "Maaf nona.. bagaimana saya bisa mencoba.. saya kan seorang pria.."
"Ah.. ya aku lupa.." ucap Azkara. "Maafkan aku Abi.."
"Tidak apa - apa nona.."
"Oya coba kamu cek apakah ukurannya pas dengan tubuh kekasihmu.."
Aira meneliti ukurannya "Ini sudah pas nona.."
"Baiklah.. bawa itu ke meja kasir akan aku membayarnya.."
Aira membawa baju tadi ke kasir. Azkara memperhatikannya dari jauh. Heh jiwa wanitamu pasti meronta melihat baju - baju yang indah ini. Tunggu saja Aira setelah ini kamu pasti akan tergoda lagi batin Azkara tersenyum puas.
"Hei kau melamun.. apa yang sedang kau perhatikan..?"
"Ibu tunggu saja dan lihat hasilnya.." ucap Azkara kemudian segera menyusul ke meja kasir.
Setelah di toko baju mereka bertiga menuju sebuah toko kosmetik dan parfum.
Azkara memilih beberapa bedak dan lipstik. "Abi sini.." panggilnya.
"Ya nona.."
"Coba lihat.. menurutmu warna yang cocok yang mana..?" Azkara memperlihatkan beberapa lipstik pada Aira.
Mata Aira terbelalak melihat warna - warna yang bagus. Bahkan warna - warna itu ia sudah lama ingin mencobanya. Azkara melihat ekspresi Aira yang berubah menjadi senang. Sepertinya misinya berjalan dengan lancar.
"Hei kenapa bengong..? ayo mana yang menurutmu paling bagus..?"
"Hmm.. menurut saya yang ini warna coral atau peach tea.."
"Bagus.. akan terlihat cantik di bibir.." ucap Azkara sambil mengambil tester dan mencoba di bibirnya.
"Bagaimana menurutmu..?"
"Wow.. warna nya benar - benar cantik nona.." puji Aira dengan mata berbinar.
Warnanya benar - benar bagus, nanti kalau ada waktu luang dan dapat liburan dari tuan.. aku akan membelinya bersama Eka dan Nayla batin Aira.
"Kamu mau mencobanya..?"
"Eh.. ya saya mau nona.." jawab Aira spontan. Ups.. Aira keceplosan.
"Kau harus memberikan penjelasan padaku ketika pulang Abi.." ucap Azkara
"It's oke.. tidak perlu takut.. jelaskan nanti begitu tiba dirumah.."
"Maafkan saya nona.." ucap Aira sambil menunduk.
Setelah memilih beberapa kosmetik dan parfum. Mereka bertiga segera pulang. Selama perjalanan Aira hanya diam saja. Terus terang hatinya tidak tenang karena penyamarannya diketahui oleh Azkara. Bagaimana kalau sampai terdengar ditelinga tuan juga. Ia pasti akan diusir.. bagaimana dengan nasib pekerja di perusahaan Baskara. Semuanya berkecamuk di pikiran Aira.
☘☘☘☘☘
Malam itu di dalam kamar Aira.
"Kau seorang wanita..?"
"Iiya nona.. maafkan saya.."
"Siapa nama asli mu..?"
"Denaira Kamania Abimana.. nona bisa memanggil saya Aira.."
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu Aira.. tapi kau telah membohongi kakakku.."
"Iya saya tahu saya telah membohongi tuan.. tapi saya ada alasan.. tapi kenapa nona begitu cepat tahu bahwa saya seorang wanita..?"
"Aku seorang pekerja seni Aira.. begitu pertama kali bertemu denganmu aku langsung tahu bahwa kamu seorang wanita.. postur tubuhmu, cara bicaramu, cara berjalanmu.. dan aku yakin dugaanku tidak salah.. maka aku buktikan dengan mengajakmu berjalan - jalan.."
"Nona sangat pintar.."
"Aku menunggu penjelasanmu Aira.."
Aira menceritakan dari awal ia menyetujui menyamar menjadi seorang pria. Itu ia lakukan demi pekerja di perusahaan.
"Kenapa kau mau melakukannya Aira..? apa kau tidak pernah merasa bahwa kau telah di bohongi dan di manfaatkan oleh keluargamu itu..?"
"Ada nona.. cuma saya anggap itu balas budi saya karena mereka mau membesarkan dan menampung saya.."
"Hei balas budi apa..! rumah, perusahaan itu sebenarnya milik kamu.." ucap Azkara geram.
"Bahkan ketika suatu hari tuan menanyakan bagaimana jika Om Baskara tidak bisa membayar hutangnya.. saya tahu itu dari awal, om saya tidak akan pernah mau membayar hutangnya.. jadi saya sudah memupus harapan saya pelan - pelan untuk punya rumah sendiri, keluar dari lingkaran keluarga Baskara.. karena saya tahu akan seumur hidup menjadi pelayan disini.."
"Jahat..! sangat jahat..!" ucap Azkara. "Seharusnya kamu berjuang demi kebahagianmu sendiri.."
Aira menghela napas panjang "Awalnya seperti itu nona.. tapi setelah saya lama tinggal disini dan merasakan kehangatan yang diberikan nyonya Harika dan tuan Haiden saya bisa merasakan arti sebuah keluarga lagi.. apalagi bu Eda, Noah, Mustofa juga baik terhadap saya jadi saya memilih bertahan.." jelas Aira. "Dan juga ada satu alasan lagi.."
"Apa itu Aira..? katakan padaku.."
"Orang tua saya meninggal karena kecelakaan.. saat itu saya sempat tersadar sebelum akhirnya pingsan dan di bawa ke rumah sakit.. saat itu ada dua orang pria, berjas hitam dan menggunakan mobil dengan lambang "Ls" seperti lambang keluarga ini.. mereka seperti memastikan apakah saya dan orang tua saya benar - benar sudah meninggal.."
"Apa..! benarkah itu..?! apakah El tahu.."
"Tidak nona.. saya tidak memberi tahu tuan.. kalau saya memberitahu, tuan akan menyadari bahwa saya seorang wanita.."
"Benar juga.. apa kamu curiga kecelakaan itu di sengaja..?"
"Iya nona.."
"Itu artinya mereka sudah menargetkanmu dan orang tuamu.."
"Dan juga.. salah satu dari pria itu pernah saya temui disini.."
"Siapa..?"
"Namanya Roberto.."
"Roberto..? dia bodyguard paman Kemal.."
"Benar nona.."
"Ttapi.. kenapa bisa Roberto..? tidak mungkin pamanku dalang dari kecelakaan yang menimpa orang tuamu.. pamanku juga tidak mengenal keluargamu dan juga pamanku itu orang baik Aira.. memang dia sering berseteru dengan El.. tapi pada dasarnya hatinya baik.."
Mungkin saat ini nona Azkara belum apa yang sudah tuan kemal lakukan selama ini karena ia tinggal lama di luar negeri.. biarlah ia tahu dengan sendirinya.. bukan porsiku untuk bercerita tentang masalah itu pikir Aira.
"Saya tidak bisa menuduh siapa - siapa nona.. karena semua itu perlu bukti.. tapi bukti - bukti itu seakan hilang tanpa jejak.. sudah cukup lama saya berusaha menyelidikinya tapi semuanya nol.. dan saya baru mendapatkan sebuah titik terang ketika bekerja disini.."
"Jadi alasan itu juga yang membuatmu bertahan di rumah ini walaupun jadi pelayan seumur hidup..?"
"Benar nona.."
"Aku akan berusaha membantumu Aira.. aku yakin kita akan segera menemukan pembunuh orang tuamu.."
"Terima kasih nona.." ucap Aira sambil menggenggam tangan Azkara. "Dan saya mohon jangan katakan hal ini pada siapun nona.. suatu saat saya akan bercerita dengan tuan dan nyonya.. mudah - mudahan mereka bisa mengerti posisi saya.."
Maaf Aira aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun kecuali kakakku batin Azkara. "Baik.. aku janji.." ucap Azkara. "Istirahatlah aku akan keluar.."
"Baik nona.."
Azkara keluar dari kamar Aira dan menuju ke kamar Haiden.
"Bagaimana..? sudah tahu alasannya..?"
"Sudah.."
"Bagus ceritakan padaku.."
"El.. aku benar - benar kasihan terhadapnya.. aku mohon kalau kau memang menyukainya tolong jangan kau permainkan perasaannya seperti wanita - wanita yang lain.."
"Kau gila.. kapan aku mempermainkan perasaan mereka.. justru merekalah yang mengejar aku.. dan juga aku belum yakin dengan perasaanku.."
"Oke.. oke.. aku tahu kau seperti ayah selalu bertanggung jawab atas sikapmu.."
"Cepat ceritakan padaku.."
Azkara menceritakan semua pembicaraannya dengan Aira termasuk kecelakaan yang dialami oleh orang tuanya..
"Pantas.. saat bertemu dengan Roberto dia sangat histeris bahkan mengejar mobil yang dikendarai Kemal tanpa berhenti.."
"Dengan mendengar cerita dan kisah hidupnya aku jadi lebih menghargai semua yang ada pada diriku.."
"Aku akan membantu menyelidikinya.."
"Terima kasih El.." ucap Azkara. "Oya kalau malam ini kamu gelisah tidak bisa tidur.. datang saja ke kamarnya.. aku yakin Aira saat ini sudah tidur dengan nyenyak.."
"Sialan.. aku bukan laki - laki pengecut yang bertindak secara diam - diam.."
"Baiklah.. kakakku yang tampan ini bukan seorang pengecut.. aku sebagai adikmu hanya memberikan saran saja.." ucap Azkara sambil tersenyum. "Aku istirahat dulu.. selamat malam El.."
"Malam.."
Sepeninggal Azkara, Haiden tampak gelisah. Sial.. kenapa aku memikirkan saran Azkara.. aku benar - benar tidak bisa tidur batin Haiden gelisah. Seharian ini tadi aku belum melihatnya.. belum bertemu dengannya. Haiden mengambil dan membuka Ipadnya, tampak pada layar bahwa Aira sudah tidur.
"Hah.. sepertinya malam ini aku harus menjadi pengecut hanya untuk sebuah kenyamanan dalam tidur.." gumam Haiden. Ia segera mengambil piyama, memakainya dan keluar dari kamar. Melangkah dengan tegap berjalan menuju kamar si stempel keakraban.
"Aku tahu kau akan melakukannya El.." gumam Azkara yang melihat kakaknya keluar dari kamar tidurnya berjalan menuju kamar Aira. Hanya saja kau belum menyadari perasaanmu El batin Azkara.. Aku harap hal baik akan segera terjadi di rumah ini.. sudah saatnya kau merasakan kebahagian kakakku.
☘☘☘☘☘