My Desire

My Desire
Cemburukah...



"Tttuuaannn...!!!"


"Sssttt.. diam..!!!" ucap Haiden. "Apa kamu ingin seisi rumah tahu dan melihat kita dengan posisi seperti ini.."


"Tidak tuan.." jawab Aira sambil mengelengkan kepala. "Tapi kenapa tuan begitu basah..?" tanya Aira yang masih memejamkan mata.


"Kamu kan tahu aku habis mandi.. handuk juga ada di dekatmu kan.."


"Iya.. iya.." jawab Aira. "Tapi bisakah tuan segera minggir.. saya kurang nyaman dengan posisi kita sekarang ini.."


"Kamu kira aku nyaman..? sama sekali tidak..!" ucap Haiden yang agak tersinggung dengan ucapan Aira.


"Maaf tuan.. terus terang saya benar - benar gugup.."


Haiden melihat Aira yang masih memejamkan mata. Tangannya tampak gemetar, mungkin ini baru pertama kalinya dia melihat hal diluar dugaannya. Haiden segera bangun dan meraih handuk di dekatnya, kemudian melilitkan di pinggangnya.


"Ini murni kecelakaan..! tidak perlu kamu pikirkan..!" ucap Haiden kemudian keluar dari kamar mandi. Blaamm..!!! ia menutup pintu dengan keras.


Aira bernapas lega. Dia segera membetulkan celananya dan bersiap untuk keluar juga. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar mandi, ternyata Haiden sudah di ruang walk on closet. Ah syukurlah tuan masih ganti baju.. aku harus segera membersihkan tempat tidur dan kembali ke kamarku sendiri pikir Aira.


Setelah semuanya selesai ia segera pergi meninggalkan kamar Haiden. Ada sepasang mata melihatnya keluar dari kamar dan tersenyum.


Sementara itu di dalam kamar.


"Sudah kau lihat rekaman CCTV nya..?" tanya Haiden di telepon


"Sudah tuan.."


"Segera laporkan.. aku tunggu di ruang kerja.."


"Baik tuan.."


Haiden mengakhiri panggilannya. Ia melihat tubuhnya di cermin setelah semua terlihat sempurna ia kemudian keluar dari ruang walk on closet.


Oh dia sudah pergi ke kamarnya ternyata. Kenapa akhir - akhir ini aku jadi susah mengendalikan diri jika di dekat Aira. Apa yang salah dengan diriku batin Haiden.


Tok..tok..tok..


"Masuk.."


"Pagi kakakku sayang.."


"Tumben kau memanggilku kakak.. kau mau dibelikan apa..?"


"Ah nggak seru.. kau selalu tahu jika aku punya keinginan.."


"Kau adikku Azka.."


"Oke.. oke.. kakakku ini yang paling hebat.." puji Azkara. "Hmm.. bagaimana semalam..?"


"Apanya yang bagaimana..?"


"Tidak usah pura - pura.. sudah terus terang saja dengan Aira tentang bagaimana perasaanmu.."


"Aku tidak mengerti.. hei anak kecil bicara yang jelas.."


"Oke.. aku perjelas.. semalam Aira tidur disini kan.. sebentar lagi aku akan punya keponakan.."


"Sial..! kau memata - mataiku.."


"Tidak.. itu semua tuhan tunjukkan padaku dengan tidak sengaja.." ucap Azkara bangga.


"Azkara please.. biarkan aku berpikir dengan tenang tentang perasaanku.. oke.."


"Baiklah kalau kau tetap ingin mengulur waktu.. silahkan saja.."


"Bagus kalau mengerti.."


"Hari ini ada kenalanku mau main kesini.. boleh..?" tanya Azkara.


"Pria atau wanita..?"


"Pria.."


"Kekasihmu..?"


"Bukan.. dia sahabatnya temanku kebetulan kenal dengan Aira.."


"Kenal dengan Aira..?" Haiden sedikit terganggu.


"Iya.. katanya sih atasannya yang dulu.. hmm waktu Aira kerja di cafe.."


Haiden tampak diam dan berpikir.. jika ia tidak mengijinkan, Azkara pasti akan mengira jika ia cemburu tapi jika ia mengijinkan, terus terang entah kenapa hatinya tidak tenang.


"Baiklah ia boleh datang.. tapi tidak lama - lama.."


"Oke.. terima kasih kakakku sayang.." ucap Azkara. "Ah gilang pasti senang jika bertemu dengan Aira. Waktu jadi atasannya di cafe dia selalu bangga dengan kinerja Aira.." pancing Azkara. Ia sebenarnya tahu kalau kakaknya yang bodoh akan cinta itu bimbang. "Baiklah aku akan bersiap dulu.."


Azkara keluar dari kamar Haiden. Tak berapa lama kemudian Haiden keluar. Ia turun tangga untuk menuju ruang kerjanya. Tapi baru sampai pertengahan langkahnya terhenti oleh sesuatu pemandangan yang entah kenapa ia ingin marah.


"Ehem.."


"Selamat pagi tuan.." sapa Noah sambil menunduk


"Tuan.." sapa Aira.


"Masuk ke ruangan.." perintahnya


"Baik tuan.." jawab Noah.


Haiden masuk ke dalam ruang kerjanya di ikuti oleh Noah. Sedangkan Aira beranjak menuju ke meja makan untuk mempersiapkan sarapan.


"Bagaimana soal kejadian tadi malam..?"


"Saya sudah mencari identitas anak muda itu dan ternyata ia masih kerabat jauh dari Roberto. Ia sudah saya amankan jika tuan ingin menginterogasinya.."


"Tidak perlu.. aku hanya butuh nama saja.. siapa yang telah menyuruhnya melakukan perbuatan itu.. perlu mereka tahu perbuatan sepele seperti itu terjadi di rumahku.. itu tandanya mereka tidak menghargai aku.." ucap Haiden.


"Baik tuan.. saya usahakan nanti siang saya sudah bisa melaporkan siapa dalang dari semua ini.."


"Apa yang kau bicarakan dengan Aira..?" tanya Haiden tiba - tiba.


"Oh.. kami ingat ada kejadian lucu ketika saya menendang bokong anak buah Leo.." jelas Haiden.


"Apa itu lucu..?"


"Iya tuan.. Aira sampai tertawa terbahak - bahak jika ingat kejadian itu.." jawab Noah sambil tersenyum.


"Menurutku itu tidak lucu..!"


"Maaf tuan.."


"Kita berangkat ke kantor sekarang.. aku sarapan di kantor saja.."


"Baik tuan.."


Noah segera mempersiapkan mobil. Tama yang sedang sarapan di belakang pun terpaksa harus menghentikannya. Baru kali ini Haiden berangkat ke kantor pagi sekali dan tanpa sarapan.


Begitu mobil siap Noah segera membukakan pintu. Selama perjalanan hanya ada keheningan.


"Noah.." panggil Haiden tiba - tiba.


"Ya tuan.."


"Jangan ulangi lagi.."


"Maaf.. ulangi apa tuan..?"


"Ngobrol dan tertawa bersama Aira..! aku tidak suka..!"


Noah dan Tama saling berpandangan. Mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Haiden. Cemburukah..


"Baik tuan.. maafkan saya.. saya tidak akan mengulanginya lagi.."


"Bagus kalau kamu mengerti.. bicara seperlunya saja jika bertemu dengannya.."


"Baik tuan.." jawab Noah


Suasana hening kembali. Tapi sudah ada sedikit kelegaan di hati Haiden setelah berbicara seperti itu dengan Noah.


☘☘☘☘☘


"Kenapa dengan kakakmu Az..? kenapa tidak sarapan.. ini tidak biasanya.."


"Aku tidak tahu ibu.. dia kan sudah besar.."


"Ini tidak biasanya Az.. siapa tahu dia cerita padamu.."


"Tanya saja Aira.. siapa tahu ia bisa menjawab.."


Harika memandang Aira. Yang dipandang tiba - tiba malah gugup "Maaf nyonya saya tidak tahu apa - apa.."


"Benarkah ia tidak cerita apa - apa kepadamu..?"


"Benar nyonya.."


"Sudahlah ibu.. El sudah besar.. ia tahu apa yang terbaik untuknya.." ucap Azkara.


Apa tuan masih marah padaku untuk masalah di kamar mandi. Aduh bagaiamana ini. Berarti gara - gara aku tuan tidak sarapan batin Aira takut.


"Oya Aira.. nanti temanku gilang mau kesini.."


"Pak gilang..?" tanya Aira tak percaya. "Non Azkara kenal dengan pak gilang.."


"Iya.. temanku juga temannya dia.." ucap Azkara. "Nanti kau temani aku ya ngobrol dengannya.."


"Baik nona.." jawab Aira.


☘☘☘☘☘


Tak berapa lama Haiden sampai di kantor. Setelah masuk ke dalam ruangan ia segera menaruh jas dan melonggarkan dasinya. Aira belum bisa bekerja mendampinginya seperti dulu waktu menjadi Abi. Itu karena lukanya belum sembuh.


Apa laki - laki itu sudah datang batin Haiden. Ia mondar mandir dan tampak sedang berpikir.


"Maaf tuan.. ini sarapannya.."


"Taruh saja disitu.."


"Baik tuan.. saya permisi.." pamit Noah.


Haiden kembali melamun.


Apa dulu laki - laki itu pernah menyukai Aira atau bisa saja sebaliknya, Aira menyukai laki - laki itu batin Haiden tidak tenang. Cukup lama Haiden hanya mondar - mandir tanpa mengerjakan apa - apa.


Akhirnya Haiden memutuskan untuk menelepon Eda.


"Eda apa teman Azkara sudah datang..?"


"Sendirian..?"


"Iya sendirian tuan.."


"Apa Aira bersama dengan Azkara..?"


"Iya tuan.. apa perlu saya panggilkan..?"


"Tidak perlu.." jawab Haiden. "Ya sudah kau lanjutkan pekerjaanmu.." perintah Haiden dan kemudian mengakhiri panggilannya.


Haiden kembali terdiam dan memandang ke arah jendela kaca. Tampak pemandangan kota yang padat.


"Maaf tuan ini beberapa berkas yang perlu di tanda tangani.." ucap Noah


"Taruh saja di situ.."


"Baik tuan saya permisi.."


"Hmm.."


Muncul beribu pertanyaan dan prasangka dalam pikiran Haiden. Ia menjadi tidak fokus dalam bekerja hanya karena memikirkan pertemuan antara Aira dan mantan atasannya itu.


Gila sepertinya aku sudah gila batin Haiden. Ia meraih jasnya dan keluar dari ruangan.


"Ayo kita pulang.." perintah Haiden


"Baik tuan.." jawab Noah. Apa lagi ini, kenapa tuan Haiden aneh sekali hari ini pikir Noah. Ia segera menelepon Tama untuk mempersiapkan mobil lagi.


"Cepat sedikit Tama.."


"Baik tuan.."


Tama memandang ke arah Noah seakan mengatakan ada apa ini. Noah tahu jika Tama bingung, ia kemudian memberikan tanda untuk tidak banyak bertanya.


Dengan menggunakan kecepatan penuh dan semaksimal mungkin Tama mengendarai mobil sesuai perintah Haiden. Tapi apa daya di jam - jam sibuk seperti ini pasti ada kemacetan di mana - mana.


Tak berapa lama mereka sampai kembali di rumah. Tanpa menunggu Noah membukakan pintu mobil, Haiden sudah keluar dan masuk ke dalam rumah.


"Eda..! eda..!" panggilnya.


"Saya tuan.." jawab Eda.


"Dimana mereka..?"


"Siapa tuan..?"


"Azkara dan tamunya..?"


"Oh mereka di taman samping tuan.."


Haiden dengan langkah cepat segera menuju ke sana. Sayup - sayup terdengar suara tawa mereka. Itu membuat Haiden geram. Dengan sedikit berlari dia berusaha melihat apa yang mereka lakukan. Langkah Haiden terhenti ini sama dengan pemandangan yang tadi pagi ia lihat. Aira tampak tertawa bahagia dan terlibat obrolan yang menarik. Berbeda ketika bersama dengan dirinya. Wajah Aira tampak ketakutan.


Haiden mengepalkan tangannya dan kemudian berbalik lagi ke depan.


"Kita pergi.." perintahnya pada Noah.


"Baik tuan.." jawab Noah. "Ayo Tama.."


Mereka bertiga kembali lagi ke dalam mobil.


"Maaf tuan kita kemana..?" tanya Noah


"Sudah jalan saja.."


"Baik tuan.."


Tama segera mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia tahu tuannya sedang galau. Cukup lama mereka hanya berputar - putar keliling kota hingga akhirnya..


"Antar aku ke klub.."


"Baik tuan.."


Mereka menuju sebuah klub langganan Haiden. Klub mewah yang biasa Haiden kunjungi jika sedang ingin bersantai sambil menikmati anggur atau minuman yang lain.


☘☘☘☘☘


"Noah.. Noah.. Noah.."


"Saya tuan.."


"Hmmm.. apa aku galak.. apa aku menakutkan.."


"Tidak tuan.. anda sangat baik dan pengertian.."


"Bohong..!!! kalau benar aku baik.. kau pasti akan selalu tersenyum padaku.."


"Tuan.. sebaiknya kita pulang.. anda sudah mabuk.."


"Diam..! diam..! diam semua..! ayo sekarang tertawa bersamaku.."


"Hahahahh.." Noah dan Tama yang menemani Haiden yang sedang galau terpaksa tertawa.


"Kurang keras..!!!"


"Hahahahhh.." mereka berdua tertawa lagi.


Plok.. plok.. plok "Hmm.. bagus.. bagus.." Haiden bertepuk tangan.


"Tuan.. sudah malam mari kita pulang.. nyonya Harika sudah menanyakan tuan.." ucap Noah berbohong.


"Ibu..? hahhahahahh.. ibu menanyakanku..? hmm.. baik.. baik kita pulang.." ucap Haiden. Ia berdiri dan berjalan sempoyongan. Karena badan Haiden yang tinggi dan besar, Noah harus dibantu Tama untuk membawa tuannya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan ia tertawa terus. Bahkan Noah dan Tama juga harus ikut tertawa dan kemudian bernyanyi.


Akhirnya mereka sampai di kediaman Lukashenko.


"Tuan kenapa..?" tanya Aira dari dalam.


"Mabuk.." jawab Noah.


"Ayo Tama kita bawa tuan ke kamar.."


Aira mengikuti mereka dari belakang. Setelah sampai depan kamar, Aira juga membukakan pintu dengan segera. Noah dan Tama meletakkan Haiden di tempat tidurnya.


"Tolong kamu urus tuan.. suasana hatinya sedang buruk.." setelah mengucapkan itu Noah dan Tama keluar kamar.


Aira segera menutup pintu. Ia mengambil waskom dan handuk yang di beri air hangat untuk membersihkan tubuh tuannya dari minuman.


"Hmm.. kamu siapa..?"


"Saya Aira tuan.."


"Hahahhah.. Aira..? kamu benar - benar Aira..?"


"Ya tuan saya Aira.."


Haiden dengan susah payah berusaha berdiri.


"Tuan berbaring saja.." ucap Aira.


"Ssssttt.. diam kamu..! aku perlu memastikan apa kamu benar - benar Aira.."


Haiden berhasil berdiri. Dengan berjalan sempoyongan dia mendekati Aira. "Hmm.. bukan.. bukan.. kamu bukan Aira.. tapi.. tapi kamu Abi.." ucapnya sambil terus berjalan mendekati Aira. Dan Aira berjalan mundur.


"Abi itu Aira tuan.. mereka orang yang sama.."


"Ssstt.. ssstt.. jangan keras - keras.. itu.. itu.. rahasia.."


"Tuan lebih baik tuan berbaring saja di tempat tidur.."


"Tidak.. tidak.. aku tidak mengantuk.." ucap Haiden sambil terus memojokkan Aira hingga Aira tidak bisa berjalan mundur lagi. Tubuhnya terhalang meja.


"Tuan.. bisa tuan mundur sedikit.. kita terlalu dekat.."


"Kenapa..? kenapa..? memang kenapa..?" ucap Haiden "Kau takut padaku..?"


"Tidak tuan.."


"Apa kau tidak suka dekat denganku..?" bisik Haiden di telinga Aira


"Ssaya.. saya suka tuan.."


"Hehehehhh.. Apa kau tidak suka ngobrol denganku..?" bisiknya lagi


"Ssaya suka tuan.."


Haiden tersenyum dan tiba - tiba mengangkat tubuh Aira dan meletakkannya hingga duduk diatas meja.


"Aaacchhh..! apa yang tuan lakukan..?" teriak Aira.


"Sssttt.. ternyata.. ternyata kamu memang Aira.."


"Saya memang Aira tuan.."


"Kenapa.. kenapa kamu tidak tersenyum padaku.." tanya Haiden sambil mencubit pipi Aira. "Ingat Aira bibir ini hanya boleh tersenyum padaku.. hanya boleh berbicara denganku.." ucap Haiden sambil menaruh telunjuknya di bibir Aira. Sedangkan Aira mengangguk - angguk.


"Bagus.. it's my girls.." ucap Haiden sambil ******* habis bibir Aira.


Hhhmmpphhhh.. hhhmmmpphhh... hanya itu suara yang keluar dari Aira. Tangannya berusaha mendorong tubuh Haiden. Dan akhirnya usahanya membuahkan hasil. Dengan napas terengah - engah "Tuan.. tuan.. apa yang tuan lakukan..?" Aira menatap tajam mata Haiden.


"Kamu milikku Aira.." ucap Haiden dan melakukan aksinya kembali. Ciumannya kali ini sangat lembut. Awalnya Aira yang berusaha menolaknya akhirnya menikmati semua tindakan yang dilakukan Haiden padanya.


Tangan Haiden memeluknya tanpa menghentikan ciuman itu sedetik pun. Mengelus punggungnya dengan lembut dan terkadang menarik pinggangnya agar tidak ada jarak diantara mereka.


Napas mereka berdua terengah - engah. Ciuman itu berhenti sejenak. Kening mereka saling beradu. Tangan Haiden memegang tengkuk Aira.


"Aira.."


"Ya tuan.."


"Panggil namaku.."


"El.." ucap Aira lirih


Haiden mencium keningnya "Lagi.."


"El.."


Haiden kembali mencium hidungnya "Lagi.."


"El.."


Mendengar itu Haiden mulai mencium bibir Aira dengan panas. Kedua tangannya mengunci tengkuk Aira agar ia ciuman itu semakin mendalam. Aira semakin menikmati bibir tuannya karena ini terasa sangat lembut. Tangan Haiden mulai tidak bisa di kondisikan. Tangan itu mulai masuk kedalam baju Aira dan.. "Aaaaccchhh..!" teriak Aira.


☘☘☘☘☘