My Desire

My Desire
Mulai Tahu Segalanya



Hmm.. dasar bayi besar masih tidak berubah batin Aira.


"Maafkan kelancangan saya tuan.. saya hanya melakukan yang terbaik untuk tuan.."


"Tapi kamu harus tahu batasan.. kamu disini cuma pelayan baru.. ingat itu.."


"Baik tuan.."


"Aku akan sarapan disini.."


"Tuan ingin sarapan apa..?"


"Terserah.."


Haiden berbaring di tempat tidurnya lagi. Mengurus bayi besar ini memang butuh ekstra kesabaran. Tapi itu tidak menyurutkan tekad Aira untuk membuat Haiden bangkit.


"Nyonya.. nyonya Aira.." panggil Noah.


"Hei.. sudah aku katakan jangan panggil aku seperti itu.. membuatku ingin tertawa.."


"Bagaimana suasana hati tuan pagi ini..?"


"Hmm awalnya lumayan baik, tapi tadi sempat marah sebentar.." jawab Aira. " Kenapa..? kau ingin laporan mengenai perusahaan.."


"Dari mana anda tahu..?"


"Tuh berkas di tanganmu.."


"Oh.."


"Nanti saja setelah sarapan, kau berikan padanya.."


"Baik.."


"Aku ke kamar dulu.. bayi besarku memanggil.."


Aira segera membawa nampan berisi sarapan dan segelas susu hangat.


"Kenapa lama sekali..?"


"Maaf tuan hari ini saya berusaha membuat sarapan istimewa untuk tuan.." jawab aira sambil meletakkan nampan di meja. "Mari tuan.." Aira membantu Haiden duduk untuk sarapan.


"Parfum apa yang kau gunakan..?"


"Oh ini parfum baby milik Rafael.." jawab Aira. "Tuan tidak terganggu dengan aromanya bukan..?'


"Tidak.."


"Hari ini menu sarapan ada kentang tumbuk, Bazlama dan segelas susu hangat.."


"Ternyata Eda sudah memberitahu semuanya padamu.."


"Iya tuan.." jawab Aira. Bukan sudah diberitahu tapi karena sejak awal aku sudah tahu kau suka makan itu batin Aira sambil membantu Haiden makan. Sambil makan Aira terus mengajaknya mengobrol hingga tanpa terasa makanan itu habis tanpa tersisa. "Apa tuan menginginkan buah..?'


"Tidak perlu.."


"Baiklah kalau begitu.." ucap Aira. "Maaf ada Noah menunggu di luar.." lapornya.


"Suruh dia masuk.."


"Baik tuan.. kalau begitu saya permisi.."


Aira segera keluar dan Noah segera masuk.


"Apa yang ingin kau sampaikan..?"


"Ada beberapa hal yang ingin saya laporkan tuan.."


"Duduk.." perintah Haiden. "Mulailah.."


"Baik tuan.. jadi yang pertama masalah perusahaan, saya sudah menemukan orang yang berkhianat yang telah banyak memberikan informasi ke perusahaan David sehingga dengan mudah David dapat mencuri proyek dan klien kita.."


"Pecat dia..!"


"Baik tuan.." jawab Noah. "Sekarang perusahaan Baskara sudah diambil alih oleh David.."


"Brengsek..! mereka memanfaatkan kebutaanku.. bagaimana kondisi perusahaannya sekarang..?"


"Sudah mulai berkembang.. tapi saya menemukan hal yang janggal disini.."


"Apa maksudmu..?"


"Sebenarnya kepemilikan perusahaan adalah atas nama Denaira Kamania Abimana.."


"Milik Aira..?"


"Iya tuan.. di surat kepemilikan saham tertulis seperti itu. Semua saham akan diserahkan kepada Denaira ketika ia berusia delapan belas tahun. Surat pemegang saham milik Baskara itu hanya bersifat sementara.."


"Gila.. keluarga itu memang gila..!" ucap Haiden. " Apa Aira tahu tentang ini..?"


"Belum tuan.. sepertinya ia tidak begitu peduli dengan semua itu.. yang dia pedulikan adalah hidup sederhana dengan tenang dan bahagia.."


"Hah.. aku masih merasa bersalah dengannya.." gumam Haiden sambil bersandar pada sofa. "Apalagi yang ingin kau sampaikan..?"


"Saya sudah menemukan seorang saksi atas penembakan itu tuan.."


"Benarkah..?"


"Iya tuan.. dia sudah memberikan sketsa wajah pada pihak kepolisian.. dan ternyata itu memang benar Roberto.. saat ini pihak kepolisan sudah menyebarkan foto Roberto sebagai DPO dan itu akan mempersempit ruang geraknya.."


"Kerja yang bagus Noah.." puji Haiden.


"Terma kasih tuan.."


"Sudah kau tanyakan pada pihak rumah sakit kapan donor mataku siap.."


"Sudah tuan.."


"Apa kata mereka..?"


"Mereka sudah mendapatkan pendonor yang mungkin cocok dengan tuan. Mereka mendapatkan dari bank mata di Turki.."


"Bagus.. aku akan segera melihat lagi.." ucap Haiden. "Kau boleh keluar.."


"Baik tuan saya permisi.."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kamu kenapa Iv..? wajahmu pucat..?"


"Aku tidak tahu ma.. badanku lemas dan perut bagian bawahku ini nyeri sekali.."


"Apa mungkin kau datang bulan..?"


"Tidak ma.. akhir - akhir ini datang bulanku tidak teratur.."


"Kau tidak mungkin hamil dengan David kan..?"


"Tidak mungkin ma.. sudah satu bulan lebih aku tidak berhubungan dengan nya.."


"Pria lain..?"


"Oh common ma.. aku tidak murahan seperti itu.." jawab Ivanka marah.


"Ayo aku antar periksa.."


"Baiklah aku bersiap dulu.."


Tak berapa lama mereka berdua siap pergi ke dokter. Mereka pergi ke dokter kandungan.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu.."


"Begini dokter, anak saya mengeluhkan badannya terasa lemas dan perut bagian bawahnya terasa sakit.."


"Oh.. maaf putri ibu sudah menikah..?"


"Belum dokter.."


"Baiklah nona Ivanka ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terkait kondisi tubuh nona.. apa Haid anda teratur..?"


"Hmm sudah satu tahun ini tidak teratur dokter.."


"Maaf.. apa anda sering keputihan..?"


"Iiya dokter.."


"Baiklah.. mari saya USG terlebih dahulu.." ucap dokter. "Silahkan.."


Dokter itu melakukan pemeriksaan terhadap Ivanka.


"Maaf apa berat badan anda akhir - akhir ini menurun..?"


"Ya dokter padahal saya tidak diet.. tapi itu keuntungan buat saya.." jelas Ivanka sambil tersenyum. "Bukankah itu idaman setiap wanita yaitu memiliki tubuh yang kurus..?"


"Iya betul.. tapi harus sehat.."


"Maksud dokter..?"


"Kalau berat badan kita turun secara drastis padahal kita tetap makan banyak dan tidak melakukan diet itu artinya ada beberapa indikasi kita terkena suatu penyakit.."


"Menurut dokter apa penyakit saya..?"


"Belum bisa saya pastikan.. harus melalui beberapa tes laboratorium juga.." jawab dokter. "Anda sering berganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual..?"


"Dokter bertanya terlalu pribadi.." jawab Ivanka dengan nada meninggi.


"Ini harus saya tanyakan karena jika benar maka saya akan rujuk anda ke dokter spesialis kulit dan kelamin.."


"Maksud dokter saya sakit kelamin..?"


"Itu hanya dugaan saya.. untuk memastikannya anda harus mau bekerja sama.."


"Saya memang beberapa kali berganti pasangan dok.."


"Aktif melakukan hubungan.."


"Iya dokter.. itu karena saya terkadang tidak sadar karena pengaruh alkohol.."


"Sakit ketika melakukannya..?"


"Baru akhir - akhir ini dokter.."


"Baiklah nona Ivanka.. saya minta anda berhenti untuk melakukan hubungan suami istri secara bebas.. ini akan saya berikan beberapa obat dan vitamin.."


"Terima kasih dokter.."


Mereka berdua kembali ke ruang konsultasi.


"Ini saya buatkan surat rujukan ke dokter spesialis kulit dan kelamin.."


"Anak saya sakit apa dok..?" tanya nungki


"Butuh beberapa tes ibu.. jadi saya tidak bisa memastikan.. semua keterangan nona Ivanka mengarah ke suatu penyakit yang cukup serius.."


"Pe..pe..penyakit serius dok.."


"Untuk itu kita butuh beberapa tes laboratorium.. mudah - mudahan saja dugaan saya salah.." jelas dokter panjang lebar. "Dan juga saya mohon ibu selalu memantau nona Ivanka dalam pergaulannya.. untuk sementara ini saya menyarankan agar tidak melakukan hubungan suami istri apalagi tanpa pelindung.."


"Dokter kalau boleh saya tahu.. apa dugaan dokter tentang penyakit anak saya..?"


"Kanker Serviks ibu.. mudah - mudahan saja bukan.." jawab dokter. "Ini suratnya dan ini resepnya.."


"Tidak dok.. itu tidak mungkin..!" teriak Ivanka histeris.


"Tenang nona Ivanka.. ini hanya dugaan oleh karena itu perlu pemeriksaan lebih lanjut.."


"Dokter pasti sengajakan.."


"Maaf nona Ivanka.. kami di sumpah untuk menjalankan tugas kami dengan cara terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat.. tidak mungkin kami memberi diagnosis palsu.. tolong jaga sikap anda nona.."


"Dasar brengsek..!" Ivanka meninggalkan ruangan dokter itu dengan emosi.


"Maafkan anak saya dok.."


"Tidak apa - apa bu.."


"Kalau begitu saya permisi.." Nungki mengambil resep itu dengan tangan gemetar. Ia tidak percaya dengan apa yang menimpa putri kesayangannya itu. Ini pasti karena Aira, sejak ada anak itu, hidup kami selalu tidak tenang batin Nungki sambil menggenggam kertas itu dengan kuat.


🌸🌸🌸🌸🌸


..."Aira sayang.." bisikan seseorang di telinganya telah membangunkan tidur Aira....


..."Tuan.."...


..."Iya.. aku sayang.."...


..."Tuan sudah bisa melihat..?"...


..."Hmm.." jawab Haiden sambil mengangguk. "Kenapa memanggilku tuan..? panggil aku El.."...


..."El.."...


..."Iya sayang.. aku sangat merindukanmu.." ucapnya lirih. Aroma mint dari mulutnya menyeruak masuk ke dalam hidung Aira. Haiden mulai mencium bibir Aira. Memberikan ciuman yang mendalam tapi tidak kasar, ciuman yang menuntut tapi tidak memaksa. Ada bujukan dan rayuan dalam setiap ciuman yang diberikan Haiden. Memberikan kecupan dan juga jilatan yang membuat Aira selalu menginginkannya....


...Apalagi ketika puncak bukit kembarnya bergesakan dengan dada bidang milik Haiden membuat suara kenikmatan keluar dari mulutnya....


..."Kau menikmatinya sayang..?" tanya Haiden ketika melepas ciumannya....


..."Ya El.."...


..."Aku menginginkan lebih.."...


...Mulut Haiden kini telah berpindah di atas dadanya setelah bosan mencicipi bibir dan lehernya. Mulai bermain - main dengan bukit kembarnya menghisap tanpa ampun. "Ohhh.." suara itu keluar dari bibir mungilnya. Mengerang dan mendekap kepala Haiden lebih erat....


...Tubuh Haiden bergerak ke bawah. Mulai membuka kedua paha milik Aira dan mendekatkan wajahnya kesana. Tubuh Aira bergetar saat lidah Haiden memisahkan bibir - bibir basahnya dan bermain di sepanjang belahannya....


..."Oohh.. aaahhh.. El.." teriaknya. kedua tangannya memegang kepala Haiden membenamkan wajahnya agar lebih dalam. Tangan Haiden dengan kuat menahan kedua pahanya. Lidahnya mulai menghisap kuat tonjolan kenikmatan milik Aira....


..."Oohh El.. yes.. yes.. di sana sayang..!" teriaknya berulang kali....


Tiba - tiba "Oek.. oek.. oek.." suara tangisan Rafael membangunkan dari mimpi basahnya yang indah.


Dengan cepat ia menghampiri bayinya "Rafael sayang.. kau haus nak.." ucapnya masih dengan napas memburu. Mimpinya itu betul - betul indah dan terasa nyata. Aira menggendong Rafael sambil menyusuinya. Aira melirik jam dinding, waktu menunjukkan jam empat pagi. Setelah menyusui Rafael. Ia bergegas menyiapkan perlengkapan bayi kecilnya sebelum nanti mengurus bayi besar.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kau tahu aku sebentar lagi akan operasi.."


"Iya tuan.. saya ucapkan selamat.."


"Kau yakin operasinya akan berhasil..?"


"Saya yakin tuan.. dan berharap anda bisa melihat lagi.."


Haiden diam mendengar ucapan Aira. " Bawa aku keluar.."


"Tu..tu..tuan mau jalan - jalan.."


"Yah.. bawa juga Rafael anakmu.."


"Oh.. baiklah tuan.. tunggu sebentar.." Aira tampak gugup karena terlalu senang dan bersemangat. Ia segera membawa Rafael dan meletakkan di stroller bayi. "Kita akan jalan - jalan dengan ayah.. jangan rewel ya.." ucap Aira sambil mendorong bayinya.


"Sudah tuan.."


"Mana bayi mu..?"


"Ini tuan.." jawab Aira sambil meraih tangan Haiden dan mengarahkan ke Rafael.


Haiden tersenyum sambil terus mengelus perut Rafael "Hmm.. kau tambah gemuk rupanya.." ucap Haiden. "Ia makan banyak..?"


"Hanya minum ASI tuan.. umurnya baru enam minggu jadi hanya ASI saja yang boleh masuk.."


"Oh.." jawab Haiden sambil tertunduk. Mungkin saja ia malu mendengar jawaban Aira.


"Kita jalan - jalan sekarang tuan.."


"Ayo.." jawab Haiden.


Aira menaruh tangan kiri Haiden di pundaknya sedangkan tangan kanan Haiden memegang tongkat. Kedua tangan Aira mendorong troller bayi. Mereka berdua mulai jalan - jalan, sepanjang perjalanan Aira terus menjelaskan suasana yang ia lihat dengan sangat jelas. Jadi walaupun Haiden tidak bisa melihat ia bisa merasakan suasana yang digambarkan oleh Aira.


Tak terasa sudah hampir satu jam mereka berada di taman samping. "Tuan bagaimana kalau kita masuk..? anginnya agak kencang.."


"Baiklah.. ayo kita masuk.."


"Tuan kedinginan..?"


"Tidak apa - apa.."


"Hmm.. sebentar.." ucap Aira sambil membenarkan kancing baju Haiden agar bisa menutupi lehernya. "Nah kalau begini lebih hangat.."


"Terima kasih.."


"Mari tuan kita masuk ke dalam.."


Mereka masuk ke dalam rumah. Ada Harika dan Azka yang sedang berada di ruang keluarga.


"El sayang.." sapa Harika


"Ibu.."


"Aku senang kau mau jalan - jalan.." ucap Harika sambil memeluk Haiden.


"Besok aku akan mencoba sarapan di ruang makan.."


"Benarkah..? oh ibu bahagia sekali mendengarnya nak.." pekik Harika.


"Aku senang kau mau berubah El.." ucap Azkara


"Satu minggu lagi aku akan operasi.. aku minta maaf jika selama ini membuat ibu cemas dan membuatmu sibuk Azka.."


"Yah.. kau harus membayar mahal untuk itu.." jawab Azkara.


Setelah berbincang sebentar Haiden memutuskan pergi ke kamar.


"Maaf tuan saya akan mengembalikan Rafael dulu di kamar.."


"Hmm.." jawab Haiden.


Aira segera membawa Rafael ke kamar.


Sementara itu Haiden duduk di sofa. Dari wajahnya tampak lebih segar. Ia berpikir untuk meminta bantuan pelayan barunya itu bercukur. Ia berdiri dan berjalan pelan dengan bantuan tongkatnya menuju connecting door.


"Ka....." panggilannnya terhenti ketika ia mendengar sesuatu.


"Hmm.. kau senang bayi kecilku sudah jalan - jalan dengan ayah.." ucap Aira ke Rafael sambil menganti baju dan pampers nya. "Ibu tinggal dulu.. jangan rewel ya.. sebentar lagi bu Eda datang oke.." pamit Aira sambil mencium pipi gembul Rafael berkali - kali.


Haiden yang mendengar itu semua memegang tongkatnya dengan tangan gemetar. Antara kaget, marah, senang dan bingung.


Mereka semua telah berani membohongiku di saat aku buta batin Haiden geram. Ia segera kembali ke sofanya. Tak berapa lama kemudian Aira kembali.


"Maaf tuan saya terlalu lama.. saya harus mengganti baju Rafael dulu.."


Haiden hanya diam "Panggilkan Noah kemari..! suruh dia ke ruang kerjaku..!"


"Baik tuan.." Aira segera memgambil handphonenya dan melakukan panggilan dengan Noah. "Sudah tuan.. sebentar lagi Noah akan kemari.."


"Bawa aku ke ruang kerjaku.."


"Baik tuan.."


Aira segera membawa Haiden ke ruang kerjanya. Ruangan yang dulu selalu rutin dia bersihkan. Tak lama kemudian Noah datang.


"Tinggalkan kami sendiri.."


"Baik tuan saya permisi.." pamit Aira.


Setelah kepergian Aira. Haiden hanya diam, tapi tangannya gemetar menahan emosi jika saat ini ia tidak buta sudah di pastikan Noah akan babak belur karena sudah berani membohonginya.


"Aku tunggu kau bercerita.."


"Maaf cerita apa tuan..?"


"Tentang kebohonganmu.."


"Maaf maksud tuan apa..?"


Braakkk..!!! "Jangan pura - pura bodoh Noah..! mentang - mentang aku buta..!" teriak Haiden. Noah langsung bisa membaca situasinya.


"Maafkan saya sebelumnya tuan.."


"Kau orangku Noah.. seharusnya kau setia padaku.."


"Saya mengerti tuan.. tapi saya mohon dengarkan alasan saya melakukan itu.."


"Baik aku beri satu kesempatan.. jelaskan semua.."


"Baik tuan.. sebelum saya terkena luka tembak sebenarnya saya ingin memberitahu kalau ternyata Aira hamil walaupun saat itu nona Azka dan nyonya Harika mencegahnya.."


"Apa..! ibu dan Azka tahu kalau Aira hamil..?"


"Benar tuan.. setelah saya sadar dari koma mereka menemui saya menceritakan alasan kenapa mereka menyembunyikan ini dari tuan.. semua permintaan Aira karena ia takut jika tuan tahu bahwa telah memperkosanya, tuan akan menganggap ini jebakan darinya.. mengingat ia masih punya hutang.. awalnya ia tidak tahu kalau hal itu akan membuatnya hamil dan setelah tahu ia memilih untuk pergi.."


"Siapa yang menyembunyikannya..?"


"Nona Azka tuan.. jadi Ujang itu orang yang menjaga Aira selama ia hamil.."


"Sialan.. bocah kecil itu berhasil mengerjaiku..! tunggu saja nanti..!" Haiden geram.


"Aira tidak tahu kecelakaan yang menimpa tuan, hingga akhirnya ia tahu dan shock sehingga melahirkan sebelum waktunya.." ucap Noah.


"Kenapa dia melakukan itu..? kenapa semuanya menipuku..?"


"Karena saat itu tuan menolak bertemu Aira. Tuan terpuruk dalam kebutaan. Tapi Aira bertekad merawat tuan diam - diam dan mengganti namanya menjadi Kania.." jelas Noah. "Semuanya ingin tuan bangkit dan tidak terpuruk lagi.. dan perlu tuan tahu bahwa Aira sangat mencintai tuan.."


"Apa yang membuatmu yakin kalau dia mencintaiku.. toh dia sudah menipuku.."


"Selama kehamilannya dia selalu meminta nona Azkara untuk membuat video tentang tuan.. tidak menggugurkan bayinya.. memberi nama bayinya dengan perpaduan nama tuan dan namanya.. itu semua karena Aira mencintai tuan. Ia berpikir hanya dia saja yang mencintai tuan.. ia malu karena seorang pelayan menyukai tuannya.."


Haiden diam mendengarkan penjelasan Noah. Ia mencoba berpikir dengan tenang tanpa emosi. "Kau sebenarnya tahu bagaimana perasaanku padanya..?"


"Iya tuan.."


"Kalau aku tidak mencintainya tidak mungkin aku mencarinya seperti orang gila..tidakkah ia tahu dan merasakan itu.." ucap Haiden.


"Maaf selama ini tuan tidak pernah berterus terang, terkadang wanita butuh kepastian. jawab Noah


"Noah aku ingin operasiku di percepat.."


"Baik tuan.."


"Kemarilah.." perintah Haiden. "Mendekatlah padaku.."


"Baik tuan.." jawab Noah sambil maju persis di hadapan Haiden.


Kemudian Haiden memegang pipi Noah dan plaakkk..!!! "Ini tamparan karena kau sudah membohongiku.."


Noah meringis


"Beruntung aku buta.. jika tidak kau sudah ada di rumah sakit.."


"Terima kasih atas kebaikan tuan.."


"Bawa aku ke kamar dan tetaplah berpura - pura kalau aku tidak tahu apa - apa sampai nanti operasiku tiba.."


"Baik tuan.."


Noah segppera mengantarkan Haiden masuk ke kamarnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Selamat pagi tuan.."


"Pagi Kania.. bantu aku bercukur.."


"Baik tuan.." jawab Aira. Ia segera mempersiapkan segala sesuatunya. Pisau cukur, krim, handuk dan air hangat. "Mari tuan.." Aira mulai mencukur, awalnya tangannya gemetar karena harus berdekatan dengan tuannya bahkan hanya berjarak tipis. Napas Haiden terasa berhembus hangat di wajahnya.


"Kau biasa mencukur suamimu..?"


"Ii..ii..iiya tuan.. kadang - kadang.."


"Gugup..?"


"Iiya karena ini pertama kali saya mencukur seorang laki - laki.." jawabnya


"Katanya pernah mencukur suamimu..?" tanya Haiden sambil tersenyum. Kau terjebak Aira batinnya.


"Oh.. iya.. maksud saya laki - laki lain tuan.."


"Oh.." Haiden mengangguk - angguk. "Sepertinya ini masih ada bulunya..kurang bersih.." ucap Haiden sambil meraba pipinya.


"Benarkah..? yang mana tuan..?"


"Ini.."


"Sepertinya sudah bersih semua tuan.."


"Lihat lagi lebih dekat.. tanganku masih merasa ada yang kasar.."


"Baik tuan.." Aira melihat dari dekat bahkan sangat dekat hanya berjarak beberapa centi saja. Ia membuka matanya lebar - lebar. Dan dengan tiba - tiba Haiden memalingkan wajahnya ke arahnya. Terjadilah quickie kiss, ciuman yang singkat.


"Maaf tuan.." Aira gugup langsung mundur dan menjatuhkan pisau cukurnya. Dengan segera ia mengambilnya.


"Tidak apa - apa.." jawab Haiden, di wajahnya terlihat suatu kepuasan.


"Sa..sa..saya akan mengambil pisau yang baru tuan.." ucap Aira.


"Ya.." jawab Haiden. Ia sengaja memajukan kakinya sedikit, akhirnya Aira tersandung


"Aacchh..!" teriaknya. Ia duduk di atas pangkuan Haiden. "Maaf tuan.." ucap Aira berusaha berdiri tapi tangan kekar milik Haiden menahannya.


"Sepertinya kau rindu suamimu..?" bisiknya lirih di telinga Aira. Hal itu membuatnya tengkuk Aira terasa geli.


"Ii..iiya tuan.." jawab Aira sambil berdiri lagi dan berhasil. Ia segera pergi karena takut debaran jantungnya akan di dengar Haiden. Kau tambah berisi Aira batin Haiden dan aku menyukainya.


Setelah drama cukur jenggot terjadi Aira segera mempersiapkan beberapa pakaian dan peralatan yang harus di bawa untuk tuannya operasi mata di rumah sakit. Ia bersyukur karena Haiden akan bisa melihat lagi. Tapi ia juga sedih bagaimana jika Haiden tahu tentang dirinya. Apakah ia akan menerima kondisinya yang sekarang.


"Kania.."


"Ya tuan.."


"Bisakah aku menggendong Rafael..? aku tiba - tiba ingin menggendongnya.."


"Baik tuan sebentar.." Aira segera mengambil Rafael dan meletakkannya di pangkuan Haiden.


"Hmm.. tambah gemuk saja kau Rafael.. itu artinya kau minum ASI dengan sangat baik.." ucap Haiden. Sekarang Aira menjadi malu mendengarnya bahkan ketika ia teringat dengan mimpi nakalnya.


Aira sempat mengabadikan momen itu, ia takut jika tuannya tidak mau menerima kehadirannya dan Rafael.


Sebentar lagi aku akan melihatmu Rafael anakku batin Haiden.


🌸🌸🌸🌸🌸