
Drrrtt..Drrrtt..Drrrt..
"Siapa sih ini.." gumam Azkara kesal. "Ya halo.."
"Nona.. ini saya Tama.." Tama menelepon dengan suara gemetar.
"Ada apa Tama..?"
"Tuan nona.. tuan.."
"Ada apa dengan EL.. cepat katakan.."
"Tuan kecelakaan.."
"Apa..!!! kecelakaan.."
"Iya non.. ini saya sudah di rumah sakit.."
"Oke.. bagus.. tunggu aku.. aku akan kesana setelah urusanku di sini selesai.."
"Baik non.."
"Kau suruh Abdul dan Mustofa datang ke Bandung.. alamatnya akan ku kirim.."
"Baik non.."
"Jelaskan ke mereka, Abdul nanti akan menjemput ibu dan Mustofa akan aku tinggal di rumah sakit karena Noah terkena tembakan.."
"Baik non.."
Panggilan berakhir setelah Azkara memastikan semua berjalan sesuai arahannya.
Ya tuhan cobaan apalagi ini. Kasihan El, aku mohon setelah ini berilah dia kebahagian, bisa membentuk sebuah keluarga bersama dengan orang yang dia cintai.
Setelah sampai di rumah sakit di daerah Bandung, Noah segera di bawa ke dalam ruang IGD dan segera mendapatkan penanganan.
Azkara segera mengambil handphone dan mencoba menghubungi ibu.
" Halo Azka.. bagaimana keadaan Noah..?"
"Sudah masuk ruang operasi.." jawab Azkara. "Ibu aku mohon menjauhlah dari Aira kalau saat ini ibu sedang di dekatnya.."
"Kenapa..? ada apa..?"
"Aku mohon ibu.."
"Baiklah.." ucap Harika sambil agak menjauh dari Aira. "Aku sudah menjauh.. bicaralah.."
"Ibu aku mohon, ibu kuat mendengar berita ini.."
"Jangan bermain teka teki dengan ibu.."
"Ibu.. Haiden kecelakaan.."
"Ya tuhan.." pekik Harika. "kenapa bisa terjadi Azka..? bagaimana keadaan kakakmu..?" seluruh tubuh Harika lemas, tangannya gemetar dan air matanya mulai berjatuhan.
"Aku belum tahu ibu.. Abdul dan Mustofa baru menjemput kita.. aku mohon jangan sampai Aira tahu.. bersikaplah seperti biasa ibu.. aku tidak mau berita ini berpengaruh pada bayinya.."
"Iya.. iya.. ibu mengerti.."
Panggilan di akhiri. Harika masih menitikkan Air mata. Ia mengambil napas dalam - dalam dan memghembuskannya pelan - pelan. Kemudian dengan perlahan ia mengusap air matanya.
"Ada apa ibu..? semuanya baik - baik saja kan..?"
"Iya semuanya baik - baik saja.. aku hanya merasa kasihan dengan Noah.. dia sudah lama ikut dengan kami dan juga yatim piatu sepertimu.."
"Semuanya pasti akan baik - baik saja bu.." ucap Aira sambil memeluk lembut Harika.
"Oya kami akan pulang.. ada Mustofa yang akan menjaga Noah.."
"Baiklah.. aku bantu ibu berkemas.."
"Terima kasih Aira.." ucap Harika yang membelai lembut pipinya.
☘☘☘☘☘
Setelah sampai di Jakarta
"Bagaimana kondisi anak saya dokter..?" tanya Harika.
"Saya harus mengatakan semuanya pada nyonya Harika dan saya harap anda kuat mendengarnya.."
"Kami siap dok.." jawab Azkara.
"Jadi kondisi tubuh tuan Haiden hanya mengalami patah tulang di tangan, beberapa jahitan karena robek, itu di bagian kaki dan pelipis.. semuanya sudah bisa kami atasi.. hanya saja...."
"Hanya saja apa dok..?" tanya Harika panik.
"Kedua mata tuan Haiden terkena pecahan kaca, membuat korneanya menjadi rusak.."
"Ya tuhan..!" pekik Harika. "Apa Haiden akan buta dok..?"
"Iya nyonya Harika.."
Harika terduduk lemas mendengar apa yang terjadi dengan putra kesayangan nya. Ia tidak akan bisa melihat lagi, dunianya akan gelap. Bagaimana dengan kondisinya nanti jika ia tahu tidak akan bisa melihat lagi..
"Ibu tenanglah.." ucap Azkara berusaha menenangkan. "Maaf dokter apa bisa di tangani dengan donor mata..?"
"Bisa.. tapi harus mencari mata yang cocok dengan tuan Haiden.. dan itu bisa membutuhkan waktu yang cukup lama.."
"Saya mohon dokter.. kami akan membayar berapa pun asal kakak saya bisa melihat lagi.."
"Saya tahu.. tapi prosedur pencangkokkan mata ini butuh proses.. tidak instan begitu saja.. jadi saya mohon kita semua berdoa semoga segera menemukan pendonor mata.."
"Kami juga akan mencari dok.."
"Baiklah.. kalau begitu saya permisi dulu.."
"Terima kasih dokter.." ucap Azkara. "Ibu ayo kita duduk di sana.." Azkara membantu Hatika berdiri dan duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana nasib kakakmu nanti.. ia pasti akan shock.."
"Awalnya pasti seperti itu.. tapi aku yakin El akan bisa bangkit dari semua ini.. ibu tenang saja aku akan mendampinginya.."
"Lantas bagaimana dengan Aira.."
"Biarkan ia melahirkan dulu ibu.. aku takut kalau dia tahu berita ini akan membuat shock dan bisa mempengaruhi janinnya.."
"Bagaimana dengan perusahaan..? aku sudah tua Azka.. apalagi Noah saat ini masih belum sadarkan diri.."
"Sementara ini biar aku yang memegangnya ibu.."
"Bagaimana kalau Kemal..? ia tahu soal bisnis.. toh ini sifatnya hanya sementara saja.."
"Jangan ibu.. aku mohon.. El bisa murka jika mengetahui hal ini.. biar aku saja.." ucap Azkara. "Sementara ini kita jangan menambahi beban pikirannya.. biarkan ia sembuh dulu.."
"Tapi kau belum pernah memimpin suatu perusahaan.. apalagi kau kuliah di jurusan seni.."
"Ibu tenang saja.. aku bisa belajar.. Eda akan membantuku.."
Azkara dan Harika setia berada di rumah sakit sampai menunggu Haiden sadar. Hampir delapan jam mereka menunggu dan akhirnya Haiden sadar.
"Aira.. Aira.." gumamnya pelan
"El sayang kau sudah sadar.. oh syukurlah.." Harika mendekat dan membelai lembut pipinya.
"El.. minum dulu.." ucap Azkara.
Haiden meminum sedikit air pemberian Azkara.
"Mana Aira..?"
"Hmm.. Aira apa..? ibu tidak mengerti.."
"Mana Noah bu..?"
"Noah.. Noah.." ucap Harika gugup.
"El.. kamu jangan banyak bicara dulu.. aku akan panggil dokter untuk memeriksa keadaanmu oke.."
"Ibu, Azka kenapa gelap..? kenapa mataku ditutup..? apa yang terjadi sebenarnya..?"
"El sayang kamu tenang dulu nak.." Harika berusaha menenangkan Haiden sambil terisak.
"Apa yang terjadi..?! Azka cepat katakan..!!!" Haiden mulai berteriak - teriak histeris.
Azkara dan Harika sampai kewalahan karena Haiden ingin turun dari tempat tidur hingga akhirnya dokter dan beberapa perawat datang dan memberinya obat penenang.
"Terima kasih dokter.."
"Saya mohon pihak keluarga menyampaikan kondisi pasien secara pelan - pelan agar tidak shock seperti ini tadi.."
"Baik dokter.."
"Baiklah saya tinggal dulu bila ada sesuatu bisa memanggil saya.. permisi.."
Harika duduk di sebelah haiden sambil terus menggenggam tangannya.
"Ibu istrahat saja dulu.. biar aku yang jaga El.."
"Ibu tidak apa - apa Azka.. ibu khawatir dengan kondisi El.."
"Aku yakin El akan bisa menerima semuanya bu.. dan aku akan segera mungkin menemukan pendonor mata untuknya.."
Selang beberapa jam Haiden kembali sadar kali ini ia lebih tenang.
"Apa yang terjadi dengan mataku..?"
"Matamu rusak terkena pecahan kaca El.. semuanya bisa di atasi dengan donor mata tapi untuk saat ini belum ada pendonor.. tenanglah kami akan terus berusaha mencarinya.."
Haiden hanya diam mendengar penjelasan Azkara. Tapi Harika tahu kalau putra kesayangannya itu shock mendengarnya. Sudah menjadi kebiasaan Haiden ia akan diam jika memendam masalah.
"El, ibu harap kau bersabar menunggu sampai donor mata itu ada.. tenang nak kami akan selalu ada di sampingmu.."
"Bagaimana dngan Noah..?"
"Ia tertembak El, peluru itu mengenai dadanya.. tapi syukurlah bisa di keluarkan dengan operasi.. akan tetapi sampai saat ini ia belum sadarkan diri.."
"Aku yakin ada yang sengaja melakukan ini padaku.."
"Maksudmu El..?"
"Rem mobil yang aku kendarai blong sama persis seperti kecelakaan yang menimpa orang tua Aira.. dan kebetulan Roberto juga melarikan diri dari penjara.."
"Jadi kau curiga kalau Roberto dalang di balik ini semua.." ucap Harika
"Kamu tenang saja.. pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini.. kamu konsentrasi saja untuk penyembuhan.." Azkara mencoba menenangkan.
"Kalian tenang saja aku tidak apa - apa.. aku tidak apa - apa.. aku akan segera pulih.." Haiden berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"El.. ibu tahu kamu sulit menerima keadaan ini.. tapi ibu mohon kamu harus survive.."
"Kurang selangkah lagi aku akan menemui Aira bu.. dan aku akan minta maaf padanya.. tapi melihat mataku buta terus terang saja aku malu.. mungkin ini karma atas apa yang aku lakukan kepadanya.."
"Apa maksudmu nak..?" tanya Harika. Azkara dan Harika saling berpandangan.
"Aku merusak masa depannya ibu.."
"Merusak bagaimana ibu semakin tidak mengerti..?"
"Malam saat Ivanka memberikan aku obat perangsang, tanpa sadar aku telah memperkosanya bu.. mungkin itu salah satu alasan ia pergi dari rumah kita.."
Azkara dan Harika sempat terkejut karena secepat itu Haiden menyadarinya. Azkara memberi isyarat kepada Harika agar tidak melanjutkan pembicaraan.
"Tenanglah El.. aku akan mencari cara untuk menemuinya.. dan menjelaskan keadaanmu yang sesunguhnya.." ucap Azkara.
"Tidak.. kau tidak perlu lakukan itu.. biar saja ia pergi.. aku malu dengan kondisiku yang sekarang buta.. aku bukan lagi Haiden yang punya kekuasaan tapi aku adalah Haiden yang buta.."
"Baiklah kalau itu maumu.. aku turuti saja.. yang penting kamu pulihkan kondisimu dulu.."
"Iya betul nak.. kami akan selalu berada disampingmu.."
"Terima kasih ibu, Azka.."
☘☘☘☘☘
Sudah hampir lebih dari satu bulan Harika dan Azkara tidak datang menjenguk Aira. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja. Saat Aira menanyakan bagaimana kabar Haiden mereka hanya menjawab baik - baik saja dan langsung mengalihkan pembicaraan. Setiap kali Aira meminta rekaman video tentang aktivitas Haiden, Azkara hanya mengirimkan video lama dengan alasan jika sering merekam Haiden akan menimbulkan kecurigaan.
Pagi ini Aira tiba - tiba ingin memetik sayur yang ada di belakang rumah. Ia sudah bersiap dan berjalan pelan - pelan karena kandungannya sudah besar. Ia menuju ke belakang untuk mengambil keranjang bambu. Tapi akhirnya ia mencuri dengar pembicaraan Ujang dengan Asih karena nama Haiden di sebut.
"Kang aku kasihan sama non Aira.. sudah hamil besar tapi tuan Haidennya malah kecelakaan.."
"Asih.. kita ini cuma pembantu.. jangan ikut campur urusan majikan.."
"Bukan begitu kang aku cuma kasihan saja.. mana sekarang kata non Azkara, tuan Haiden buta.."
"Ssssttt.. jangan keras - keras.. ingat pesan non Azkara, jangan sampai non Aira tahu.."
"Iya.. iya kang.."
"Sudah diem saja.. ayo kembali kerja.."
Apa..!!! tuan El buta.. ya tuhan apa yang terjadi batin Aira. Airmatanya deras mengalir. Aku harus segera kerumah sakit pikir Aira. Karena terburu - buru dan tidak memperhatikan langkahnya ia akhirnya terpeleset. "Bik Asih.. bik Asih.. bik Asih..!!!" pangginya berulang - ulang. Ia kesulitan berdiri dan perutnya merasakan sakit.
"Ya non.." jawab Asih dari dapur. Ia segera menghampiri Aira. "Ya tuhan.. kenapa bisa jatuh begini non..?" teriak Asih, ia berusaha membantu Aira berdiri tapi tidak bisa.
"Sakit bik.." rintih Aira sambil memegangi perutnya.
"Loh kenapa ada air..?" Asih terkejut lagi. "I.. i.. ini air ketuban non..! kang.. kang.. kang ujang.. tolong..!!!"
"Ada apa Asih..?" tanya Ujang
"Non Aira jatuh, air ketubannya pecah.. ayo kita bawa ke rumah sakit.."
"Ii..ii..iiya.. iya.." jawab Ujang gugup. Ia mengeluarkan mobil dan membantu Asih membawa Aira ke rumah sakit. Setelah semuanya siap. Asih segera menghubungi Azkara menceritakan kondisi Aira.
Tak memakan waktu yang lama mereka sampai ke rumah sakit. Aira langsung mendapat penanganan. Karena kondisi yang sangat mendesak ia segera masuk ke ruang operasi. Dengan sangat terpaksa Asih menandatangani prosedur pengambilan tindakan operasi.
☘☘☘☘☘
"Apa yang terjadi Azka..?"
"Aira jatuh ibu.. sekarang ia sedang berada di rumah sakit bersiap untuk bersalin.."
"Ya tuhan selamatkan Aira dan cucuku.. ibu akan ikut denganmu.."
"Tidak bu.. ibu disini saja menemani Haiden.. aku akan berangkat sendiri.."
"Baiklah setelah sampai sana tolong telepon ibu.."
"Baik bu.. kalau ada apa - apa dengan El segera telepon aku.."
"Itu pasti.. hati - hati di jalan.."
Drrrttt.. drrrttt.. drrrttt handphone Azkara berbunyi
"Ya Halo.."
"Dengan nona Azkara.."
"Ya benar.."
"Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan kalau pasien atas nama tuan Noah sudah sadar.."
"Oh syukurlah.. baiklah saya akan kesana.."
Panggilan diakhiri.
"Siapa Azka..?"
"Dari rumah sakit bu.. Noah sudah sadar.."
"Oh syukurlah.. satu persatu masalah sudah mulai teratasi.."
"Setelah bertemu dan memastikan keadaan Aira aku akan menjenguk Noah.. mungkin aku akan pulang besok pagi bu.."
Azkara berangkat ke Bandung tanpa sopir ia takut kepergiannya menemui Aira dan keponakannya akan bocor. Apalagi penembak Noah sampai sekarang belum tertangkap. Bisa dipastikan oleh pihak kepolisian bahwa pelaku penembakan dan penyabotase mobil Haiden adalah satu komplotan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan Azkara akhirnya tiba di rumah sakit bersalin dimana Aira di rawat. Kebetulan rumah sakit Noah letaknya juga tidak jauh dari sana.
"Bagaimana keadaan Aira, bik Asih..?"
"Non Aira sudah dibawa ke ruang rawat Inap tapi bayinya masih di inkubator non.."
"Baiklah.. jaga terus dia, aku akan bertemu dokter sebentar.."
"Baik non.."
Azkara segera bertemu dengan dokter yang menangani Aira.
"Selamat siang dokter.. saya adik dari ibu Aira.."
"Oh.. keluarga ibu Aira.. mari silahkan duduk.."
"Terima kasih dokter.. Bagaimana kondisi kakak saya dan bayinya..?"
"Kondisi ibu Aira pasca operasi baik - baik saja.. tapi untuk sementara babynya harus masuk inkubator dulu karena lahir diusia kandungan tiga puluh minggu dan beratnya hanya dua koma dua kilogram saja.."
"Berapa lama baby nya harus di inkubator dok.."
"Hmm mungkin sekitar tiga mingguan.. setiap saat akan selalu kami pantau organ - organ tubuhnya seperti jantung, napasnya dan juga minum asinya.."
"Baik dok terima kasih bantuannya.. saya akan menemui kakak saya dulu.. saya permisi.."
Azkara segera pamit, sebelum menuju ke ruang rawat Aira, ia menyempatkan untuk melihat keponakannya. Azkara melihat keponakannya yang sangat mirip dengan El. Ia sempat mengambil fotonya dan mengirimkannya ke Harika.
"Hey.. " sapa Azkara
"Azka.. kapan kamu datang..?"
"Baru saja.. tadi aku ke ruang dokter dulu.."
"Sudah kau lihat bayinya..?"
"Sudah.. bayi yang sangat tampat.. selamat ya.."
"Terima kasih.." ucap Aira. "Bagaimana keadaan kakakmu..?"
"Baik.. semuanya baik - baik saja.." jawab Azkara berusaha menyembunyikan kesedihannya setiap ada yang menanyakan keadaan kakaknya
"Azka jangan bohong.. kakakmu tidak baik - baik saja kan.. bagaimana dengan matanya..?"
"Kau.. kau sudah tahu.." Azka terkejut dengan pertanyaan Aira.
"Ya.. aku tidak sengaja mendengar percakapan bik Asih dengan mang Ujang.."
Azkara memandang ke arah Asih dan Asih hanya menunduk saja..
"Baiklah aku akan cerita.. percuma saja aku menyembunyikannya padamu..." ucap Azkara. "Jadi sewaktu Noah terkena tembakan dalam waktu hampir bersamaan El mengalami kecelakaan dan persis seperti apa yang dialami orang tuamu.. polisi curiga itu dilakukan oleh komplotan yang sama. Syukurlah tubuh El hanya mengalami patah tulang dan robek saja, tapi matanya rusak karena terkena pecahan kaca.."
"Ya tuhan.. tuan El past sangat shock.."
"Itu pasti.. lama kelamaan dia bisa menerima kenyataan kalau kalau untuk sementara ia hidup dalam kegelapan sampai nanti ada donor yang cocok untuk matanya.."
"Apa sudah ada kabar dari rumah sakit..?"
"Semua rumah sakit sudah berupaya mencarikan pendonor yang cocok tapi ternyata belum ada.."
"Lantas bagaimana ia melanjutkan hidupnya.. pekerjaannya.. hobinya.."
"Selama hampir satu bulan ini ia lebih suka berada dikamar.. walaupun ia mengatakan tidak apa - apa sejatinya hatinya sangat terluka. El sudah terbiasa memendam semuanya sendiri.. oya Aira, El sudah tahu tentang peristiwa malam itu..tapi sepertinya ia belum tahu kalau kamu hamil.."
"Bbbagaimana ia bisa tahu..?"
"Entahlah.. El terlalu cerdik.. tapi setelah matanya buta aku tidak tahu lagi.. entahlah.." ucap Azkara. "Aira.. sebenarnya sebelum sempat tertembak Noah sudah memberitahukan keberadanmu pada El.. ingin dia menemuimu tapi ketika ia tahu bahwa sekarang ia buta, ia malu bertemu denganmu.. ia menganggap ini sebagai sebuah karma atas apa yang telah dia lakukan padamu.."
"Tidak Azka.. aku sudah lama memaafkannya.. apalagi kehadiran malaikat kecil itu membuat aku sangat bahagia.. aku tidak sendiri lagi di dunia ini.."
"Itu menurutmu tapi tidak dengan El.. ia merasa rendah diri dan sebagai laki - laki tak berguna karena ia buta.. dulu ia sangat sukses, tampan, kaya, banyak digandrungi wanita, ditakuti lawan - lawan bisnisnya tapi sekarang ia takut dipandang sebelah mata.."
"Aku akan kembali ke rumahmu Azka.."
"Apa..! benarkah yang kau katakan itu.." pekik Azkara senang. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya
"Iya aku akan membantumu dan ibu merawat tuan El.."
"Aku sangat senang mendengarnya.."
"Nanti setelah bayiku bisa keluar aku akan segera pulang.. tapi ada satu permintaanku.."
"Apa itu..?"
"Aku ingin kalian merahasiakan keberadaanku, aku akan memainkan peran sebagai pelayan biasa sampai tuan El bisa melihat lagi nanti.."
"Apa alasanmu..?"
"Tuan El pasti malu dengan kondisinya.. apalagi rasa bersalahnya terhadapku membuatnya tidak mau bertemu denganku.. kau tahu Azka, aku sangat mencintai kakakmu.. aku tidak ingin ia terpuruk terus dalam kegelapan.."
"Baiklah kalau itu maumu.. ibu pasti akan senang mendengan berita ini.. apalagi ia akan segera bertemu dengan cucunya.. terima kasih Aira.. kau sudah mau kembali.."
"Iya aku tidak akan berpisah lagi dengan kakakmu, dengan orang - orang yang mencintaiku.."
"Oya akan kau beri nama apa baby mu.."
"Bagaimana kalau Rafael..?"
"Hmm.. perpaduan nama kalian.. bagus aku setuju.. biar nama tengahnya nanti ibu yang memberinya.."
"Iya.. aku setuju.."
Azkara memeluk Aira, ia sangat senang dengan keputusannya mau kembali ke rumah. Tapi ada tugas berat untuknya yaitu mengkondisikan agar Haiden tidak tahu kalau itu adalah Aira.
☘☘☘☘☘
Setelah dari rumah sakit bersalin menjenguk Aira dan keponakannya, Azkara melanjutkan ke rumah sakit swasta di Bandung untuk menjenguk keadaan Noah.
Noah itu nasibnya hampir sama dengan Aira, ia sudah tidak mempunyai siapa - siapa. Orang tuanya meninggal karena sakit. Sedangkan keluarganya yang lain tinggal di Medan.
Tak berapa lama Azkara sampai di rumah sakit, ia segera menuju ke ruang rawat inap karena Noah sudah dipindahkan kesana.
"Hey Noah.."
"Selamat malam nona.."
"Bagaimana keadaanmu..?"
"Sangat baik.. hanya masih terasa kaku saja.."
"Yah itu karena kau tak sadarkan diri terlalu lama.. tapi kata dokter dengan beberapa kali terapi semuanya akan baik - baik saja.."
"Terima kasih atas kebaikan keluarga tuan dan nona kepada saya.."
"Itu karena kau setia pada kami.." ucap Azkara sambil tersenyum. "Oya ada yang perlu kamu ketahui Noah.. kakakku mengalami kecelakaan hampir bersamaan denganmu tertembak dan sekarang ia buta.."
"Tuan buta nona..?"
"Yah benar.. aku harap kau cepat pulih dan segera berada disampingnya seperti dulu.."
"Iya nona saya akan berusaha untuk segera keluar dari rumah sakit.."
"Aira sudah melahirkan, ia melahirkan bayi yang sangat tampan.. sangat mirip dengan El waktu kecil.. tapi karena belum waktunya ia harus di inkubator.."
"Bagaimana dengan Aira..?"
"Ia baik - baik saja.. dan berencana mau kembali ke rumah demi penyembuhan mental El.."
"Syukurlah kalau dia mau kembali.. tuan mencarinya berbulan - bulan.."
"Tapi Aira tidak ingin El tahu kalau dia ingin merawatnya, karena setelah El tahu kalau dia buta ia jadi tidak mau bertemu dengan Aira karena malu dengan kondisinya.."
"Tapi.. saya yakin tuan pasti mau menemuinya.."
"Kau belum tahu kondisi kakakku yang sekarang, dia murung dan selalu di dalam kamar. Padahal kau tahu perusahaan sangat membutuhkannya. Aku tidak bisa menanganinya sendiri Noah.. aku mohon rahasiakan, ini demi kesembuhan El."
Noah tampak berpikir, selama ini dia setia dengan tuannya ia sama sekali tidak pernah berbohong. Tapi jika ini menyangkut kesembuhannya maka ia harus bersedia.
"Baiklah nona saya bersedia.."
"Bagus.. kembalilah kerumah bersama Aira dan bayinya.. oya El belum tahu kalau Aira hamil dan sekarang melahirkan.."
"Baik nona saya akan merahasiakannya.."
"Aku pergi dulu Noah.. aku sudah menyuruh orang untuk menjagamu disini.. karena pelaku penembakanmu belum tertangkap.."
"Apa tidak ada saksi..?"
"Tidak ada...penduduk sekitar yang tahu juga kurang jelas dengan wajahnya.."
"Baik nona.. terima kasih.."
Azkara segera keluar dari ruang rawat inap Noah. Ia memutuskan menginap di hotel satu hari setelah itu pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan dan masalah yang banyak membuatnya sangat lelah. Tapi ia bersyukur orang - orang yang sangat mencintai dan setia pada kakaknya mau kembali lagi ke sisi Haiden. Dan ia berharap orang - orang yang mencelakai keluarganya akan segera tertangkap. Dan masuk ke dalam penjara..
☘☘☘☘☘