
"Tuan.. bisakah saya ijin keluar sabtu depan.."
"Menemui kekasihmu..?"
"Bukan tuan.."
"Kau tahu.. kau kuberi ijin keluar tapi harus ada pencapaian dalam kinerjamu.."
"Hmm.. kalau pelayan seperti saya pencapaiannya apa tuan..?"
"Ya coba kamu pikir sendiri.."
"Kalau melayani tuan sesuai jadwal saya selalu tepat waktu.. terus untuk ke kantor saya selalu mengikuti tuan.."
"Inovasi baru kamu dalam melayaniku.. coba kamu pikir lagi.." pancing Haiden.
Aira berpikir keras.. kira - kira apa kebiasaan tuan yang baru, bisa juga ia minta untuk menjadi kegiatan rutin.
"Hmm.. apa tuan mau minum susu tiap malam..? saya bisa membuatkan susu tiap malam.. oya saya juga bisa menggantinya menjadi susu almond yang rendah kalori.."
"Bukan.. itu terlalu biasa.."
"Olah raga berkuda tiap pagi..? saya bisa mempersiapkannya untuk tuan.."
"Bukan.."
"Mengirimkan ucapan salam ke Ivanka tiap pagi..?" ucap Aira lirih dan ragu - ragu
"Hmm menarik.. betulkah kau mau melakukannya..?" pancing Haiden.
Aira menunduk.. kenapa aku mengusulkan sesuatu yang membuat perasaanku tidak tenang.
"Bagaimana..? kau setuju menyampaikan salamku untuk Ivanka..?"
"Tidak tuan.." jawab Aira lirih hampir tak terdengar.
"Apa..! aku tidak mendengarnya.." ucap Haiden sambil tersenyum.
"Tidak tuan...karena saya tahu dia tidak tulus.. tapi kalau tuan memaksa ingin saya akan menyampaikannya maka akan saya lakukan.."
"Baiklah.. coba kau pikirkan lagi.."
"Yang dipikiran saya masih satu ide tuan.."
"Apa itu..?"
"Akhir - akhir ini tuan susah tidur.. bagaimana kalau tiap malam sebelum tidur saya memijat tuan..?"
"Oke.. aku setuju.. tapi sampai tidur.."
"Baiklah mulai nanti malam saya akan mulai memijat tuan.."
Haiden mengangguk "Siapa yang ingin kau temui di hari Sabtu nanti..?"
"Om Baskara.."
"Tumben.."
"Katanya ia ingin melunasi hutangnya ke tuan.."
Haiden menghentikan pekerjaannya sebentar, ia menatap tajam ke arah Aira "Benarkah..?"
"Benar tuan.. om saya sendiri yang mengatakan itu di telepon.." ucap Aira yakin. Ia sendiri merasa senang karena ada harapan untuk bisa hidup bebas.
Aneh.. kenapa berbalik dengan apa yang dikatakan Ivanka. Ada rencana apa di balik ini semua pikir Haiden.
"Baiklah.. itu hak mu untuk bertemu keluarga mu.. tapi ingat tidak aku ijinkan kau menginap.."
"Siap tuan.. saya akan bekerja sebaik - baiknya untuk bisa membalas kebaikan yang tuan berikan.."
"Bagus kalau kamu ingat.." ucap Haiden. "Hari ini aku makan siang di rumah.. bersiaplah untuk pulang.."
"Baik tuan.."
☘☘☘☘☘
"Siang bu.."
"Siang El.." balas Harika. "Oya El pelayan baru pengganti Bella sudah datang.."
"Noah suruh dia menemuiku di ruangan.."
"Baik tuan.."
"Ibu aku tinggal sebentar ke ruang kerja.."
"Baiklah makan siang segera siap El.." ucap Ibu. "Abi tolong kau bantu Eda.."
"Baik nyonya.." ucap Aira sambil meninggalkan Harika menuju ke dapur.
Sementara itu di ruang kerja Haiden
"Selamat siang tuan.."
"Duduk.."
"Terima kasih tuan.."
"Noah sudah memberitahumu tentang apa saja pekerjaanmu.."
"Sudah tuan.. saya melayani semua kebutuhan nyonya Harika.."
"Dan satu lagi.. jangan sampai Abi tahu kalau aku sudah tahu bahwa dia sebenarnya adalah seorang wanita.."
"Baik tuan.."
"Berpura - puralah.. aku menaruh kepercayaan padamu.. dan ingat jangan sampai kau berkhianat padaku.."
"Tidak tuan.. saya justri senang sudah keluar dari tempat saya yang lama.. dan tuan mau menerima saya bekerja.."
"Baiklah kau boleh keluar.."
"Saya permisi tuan.."
Haiden hanya menganggukkan kepala. Lama ia memandang pelayan baru pengganti Bella.
"Noah.. sudah kau siapkan data yang aku minta.."
"Ini tuan.."
Haiden segera membaca dokumen yang di bawa oleh Noah. Itu data pribadi pelayan yang baru pengganti Bella.
"Sepertinya tidak ada yang perlu aku khawatirkan tentang dia.."
"Betul tuan.."
"Kau boleh istirahat sebentar.. aku akan makan siang bersama ibu dan Azka.."
Haiden keluar dari ruangan dan menuju meja makan.
"Sudah selesai El..? aku kira akan lama dan tidak ada waktu lagi buat kami.." ucap Azkara.
"Yang sopan dengan kakakmu.." Harika memperingatkan. "Hargailah dia.. dia seperti ini juga buat kita dan orang banyak.."
"Dengarkan itu.. ibu pasti akan membelaku.. itu tandanya dia lebih sayang padaku.." ejek Haiden
"Oh begitu rupanya..! ibu benarkah kau lebih sayang El..?"
"El jangan kau goda adikmu.." ucap Harika. "Ibu sayang kalian berdua.. sudah ayo kita makan.."
Abi, Eda dan Mustofa ikut bahagia dengan suasana yang hidup sejak kedatangan Azkara.
"Tunggu aku akan memberitahu pada kalian semua.." ucap Haiden. "Akan aku perkenalkan pelayan baru kita.. dia akan menggantikan posisi Bella.." ucap Haiden. "Sumi.. masuklah.." panggil Haiden.
Sumi berjalan masuk menuju ruang meja makan.
"Bik Sumi..!" teriak Aira kaget.
"Non.. eh Abi.." sapa Sumi lirih
"Ini Sumi.. dia akan menjadi pelayan pribadimu bu.."
"Terima kasih El.." ucap Harika. "Oya kamu kenal dengan Abi..?"
"Saya kenal nyonya.. karena dulu saya bekerja di tuan Baskara om nya non eh Abi.."
"Oh baguslah kalau sudah saling mengenal.. Abi jadi ada temannya dan tidak kesepian lagi.."
"Eh iya nyonya.." jawab Aira
"El kau membawa Sumi kerja disini bukan karena ingin mengorek informasi tentang Ivanka kan..?"
Aira kaget mendengar pertanyaan Harika. Ia tidak berpikir sampai kesitu. Benarkah Haiden memperkerjakan Sumi untuk mengorek hal pribadi tentang Ivanka. Mengapa hanya mendengar pertanyaan nyonya Harika saja sudah membuat dadaku sesak dan sakit batin Aira dalam diam.
"Ivanka..? siapa dia El..? kekasihmu..?"
"Diam jangan ikut campur kau masih kecil.."
"Tidak..! bukan untuk itu bu.. ibu tenang saja.." jawab Haiden sambil melirik Aira.
Aira yang menunduk karena sedih tidak melihat tatapan sekilas Haiden. Hah leganya mendengar jawaban tuan, dadaku langsung terasa lega batin Aira.
"Jadi Sumi kau bisa bekerja sama dengan mereka.. ingat Ibu adalah prioritas utama mu.."
"Baik tuan.." jawab Sumi
"Sudah.. sudah kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja.. sekarang kita makan dulu.." ucap Harika. "Eda kau bisa menghidangkan makanannya.."
"Baik nyonya.." jawab Eda
Mereka bertiga makan dengan di sertai ocehan dari Azkara.
"Kau jangan kembali ke kantor.."
"Oh common Az.. aku banyak kerjaan.."
"Biar saja kan ada Noah.. nanti sore aku mau berkuda denganmu..?" pinta Azkara.
"Aku sibuk.." jawab Haiden
"Kalau kau sibuk Abi bisa menemaniku.."
"Ssaya nona..? tttapi saya.."
"Jangan Abi nanti aku temani.. ia belum bisa berkuda.." jawab Haiden tenang
"Oke deal.. kau temani aku berkuda.." ucap Azkara puas. Ia sepertinya sudah menemukan kartu untuk menaklukkan kakaknya. Yah cukup dengan menyebut Aira saja ia sudah tidak bisa berkutik.
Mereka melanjutkan makan siang sampai selesai.
"Abi kau temui Abdul.. katakan kalau aku dan Azkara mau berkuda.."
"Baik tuan.."
Aira keluar menuju kandang kuda dimana Abdul bekerja. Ia menyampaikan apa yang di katakan Haiden. Setelah itu ia kembali untuk menemui Sumi.
"Bik Sumi kenapa bisa bekerja disini..?"
"Saya keluar dari rumah tuan Baskara non.."
"Ya.. tapi kenapa..?"
"Terus terang saya sudah tidak betah kerja di sana.. nyonya Nungki sering memukul kalau keliru non.."
"Bik.. jangan panggil non.. aku disini juga pelayan.. panggil saya Abi.." pinta Aira. "Bik sumi bisa bekerja disini dari siapa..?"
"Tuan Noah.. dia itu teman sekolahnya keponakan saya.."
"Oh.."
"Tapi kenapa non Aira.. bisa menyamar menjadi laki - laki sih..?"
"Atas perintah om Baskara bik.. aku tidak bisa menolaknya.."
"Yang sabar non.." ucap Sumi. "Saya sangat bersyukur bisa keluar dari rumah itu.. dulu saya bertahan juga demi non Aira.. sekarang non Aira tidak ada disana lagi.. jadi saya memutuskan keluar.."
"Terima kasih bik.. oya bagaimana dengan pak Iwan..?"
"Masih bekerja di sana non.. dia kan sopirnya tuan Baskara.. jadi sering keluar rumah.. tidak pernah kena marah nyonya Nungki atau non Ivanka.."
"Ya sudah.. tolong bik Sumi rahasiakan penyamaranku ini jangan sampai ada yang tahu terutama tuan Haiden.."
"Ya non.. akan saya jaga.."
"Terima kasih bik.."
☘☘☘☘☘
Setelah menghabiskan sepanjang sore yang cerah dengan berkuda bersama Azkara. Haiden segera mandi dan makan malam bersama ibu dan adik semata wayangnya itu.
"Abi.. nanti kau temani aku sebentar ya..?"
"Baik nona.." jawab Aira
"Tidak bisa.. Abi ada pekerjaan dariku.."
"Bukankah jam kerja Abi hanya sampai jam makan malam saja.. setelah itu dia bebas kan..?"
"Dia sendiri yang minta tambahan jam kerja.." ucap Haiden sambil memandang ke arah Aira
"Benarkah yang di katakan El..?"
"Bbenar nona.. saya hampir saja lupa.."
"Tidak bisakah kau mengalah untuk adikmu yang cantik ini.. malam ini saja.. aku mohon.." rayu Azkara.
"Tidak bisa dan tidak ada lain kali.." jawab Haiden tegas
"El..! kau benar - benar jahat.."
"Azka.. Abi itu pelayan pribadinya kakakmu.. mungkin saja ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan dan membutuhkan bantuan Abi.."
"Kau bisa masuk penjara El.. karena memperkerjakan orang dua puluh empat jam tanpa istirahat.."
"Diam kau..! anak kecil tidak tahu apa - apa..!" jawab Haiden. "Kalau kau ingin pelayan pribadi.. akan aku carikan.."
"Tidak mau.."
"Ya sudah.. aku sudah menawarkan seorang pelayan untukmu.. jadi jika butuh apa - apa jangan kau ganggu pelayanku.."
"Dasar posesif.. aku bisa mandiri.." ucap Azkara sambil menjulurkan lidahnya. Ia kembali meneruskan makannya.
"Aku sudah selesai.. ayo Abi ikut aku.." perintah Haiden
"Baik tuan.."
"Eh tunggu.."
"Apalagi Az..? kau benar - benar menguji kesabaranku.."
Azkara berjalan mendekati kakaknya dan membisikkan sesuatu di telinga Haiden "Dasar bucin.."
Haiden memandang tajam ke Azkara.
"Aku benar kan kakakku sayang..?" goda Azkara sambil mengerlingkan mata. "Selamat malam.. selamat istirahat.. tidur yang nyenyak El.." Haiden hanya diam tanpa menghiraukan sindiran Azkara dan naik ke atas di ikuti Abi.
Setelah sampai di kamar Haiden duduk di balkon sambil menikmati malam. Aira hanya berdiri di sampingnya..
"Duduk.."
"Saya berdiri saja tuan.."
"Baiklah kalau itu maumu.." ucap Haiden. "Abi..
"Ya tuan.."
"Apa yang membuatmu paling bahagia di dunia ini..?"
"Maksud tuan apa yang saya inginkan dan bisa membuat saya bahagia..?"
"Yah begitulah kira - kira.."
"Hmm.. mungkin melihat kedua orang tua saya masih hidup.. sehingga nasib saya tidak seperti ini.. tapi akhirnya saya tahu kenapa hal itu menimpa saya.."
"Kenapa..?"
"Saya menjadi lebih kuat dalam menghadapi cobaan apa pun.." jelas Aira. "Tapi kalau tuan ingin tahu apa kebahagian saya saat ini.. saya bisa menjawab kebahagiaan saya saat ini adalah bisa bekerja dengan tuan.."
"Benarkah..?"
"Benar tuan.. saya bahagia disini.." ucap Aira sambil tersenyum
"Baiklah.. ayo kita mulai.."
"Mulai apa tuan..?"
"Memijat tentu saja.. aku sudah mulai mengantuk.."
"Baik tuan.."
Haiden segera naik ke atas tempat tidur. Aira mulai memijat bagian kaki Haiden kemudian naik ke punggung. Bukan Haiden yang merasa mengantuk justru Aira yang tak kuasa menahan kantuknya. Haiden tersenyum melihat Aira yang sudah tertidur. Ia segera memindahkan tubuh kecil itu di sebelahnya dan memeluk erat.
"Kehadiranmu juga kebahagiaan untukku Aira.." bisik Haiden lirih di telinganya. "Sejak kau hadir.. entah kenapa aku selalu bahagia.."
"Tuan El.." Aira mengigau
"Hmm.."
"Terima kasih.."
Haiden tersenyum mendengar Aira mengigau dalam tidurnya. Sebuah kecupan manis dan hangat mendarat di bibir mungilnya.
☘☘☘☘☘