
"Kau yang melakukan nya..?" tiba - tiba Ivanka masuk begitu saja ke dalam ruang kerja David dengan wajah penuh amarah.
"Melakukan apa..? aku tidak mengerti.. apa maksudmu Ivanka..?" tanya David di kantornya, ia sedang bersama dengan sekretarisnya.
"Kecelakaan yang menimpa Haiden.." jawab Ivanka. "Kamu kan yang melakukannya..?"
David memberikan isyarat pada sekretarisnya untuk keluar.
"Kenapa diam saja..? jawab David..!" paksa Ivanka.
David berdiri menghampiri Ivanka, dengan wajah dingin dan tatapan tajam David mencekik leher Ivanka.
"Aku tidak suka di paksa, apalagi oleh wanita murahan sepertimu.. ingat kita tidak memiliki hubungan yang istimewa.. cam kan itu..!" teriak David sambil melepaskan cekikannya.
Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Ivanka terduduk lemas dilantai, dia berusaha mengambil oksigen sebanyak - banyaknya.
David kembali duduk di kursinya "Aku tidak tahu menahu tentang kecelakaan itu, tapi aku berhutang terima kasih pada orang yang sudah melakukannya.. walaupun Haiden tidak mati tapi setidaknya dia buta.. hahahahhh.."
Uhuk.. uhuk.. uhuk "Haiden buta..?"
"Hmm benar.. tinggal selangkah lagi aku akan menjadi orang nomor satu di dunia bisnis.."
"Aku ucapkan selamat kalau ambisimu sudah tercapai.."
"Thank's.."
Ivanka berdiri dan duduk di kursi depan David "David.. bantulah papaku.."
"Hahahahhh.. kedua orang tuamu adalah orang yang tidak tahu diri.. sudah berapa kali aku menolongnya.. sampai mereka membiarkan kau menjual tubuhmu padaku.."
"Ini yang terakhir kali oke.. aku janji akan memberikan pelayanan ektra padamu.."
"Hehehehhh.. kau terlalu menjijikkan Iv.. sebagai wanita dimana harga dirimu.."
"Tega kau lakukan itu padaku setelah apa yang sudah kita lalui bersama.."
"Ingat sudah berali - kali aku katakan.. kita tidak ada hubungan spesial apapun.. hubungan kita hanya sebatas partner kerja, siombiosis mutualisme.."
"Brengsek kamu David..!"
"Sudah berali - kali aku katakan.. jangan gunakan hati dalam setiap urusan.. kau akan menjadi manusia yang lemah.."
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Maaf pak.. rapat akan dimulai sepuluh menit lagi.."
"Baik.."
Sekretaris tadi langsung keluar dari ruangan David.
"Keluarlah Iv.. sebentar lagi aku ada rapat.."
Dengan wajah geram Ivanka pergi meninggalkan ruangan David.
David melihat punggung Ivanka "Sepertinya aku sudah tidak membutuhkanmu lagi Ivanka.." gumamnya sambil tersenyum licik.
🌸🌸🌸🌸🌸
Tidak terasa waktu yang telah di tentukan tiba. Sudah saatnya Aira dan bayinya pulang kembali ke kediaman Lukashenko. Beberapa hari ini Aira menyiapkan mental untuk bertemu lagi dengan ayah dari bayinya dengan kondisi yang berbeda. Dalam kondisi normal, Haiden adalah pria yang dingin, apalagi sekarang kondisinya buta pasti butuh ekstra kesabaran.
Azkara sudah mengatur dan mengkondisikan semuanya. Karena kondisi Haiden yang sekarang buta. Ia tinggal di lantai bawah, beberapa ruangan dijadikan satu menjadi kamarnya dan kamar penjaga Haiden.
"El sayang ibu mau bicara.."
"Bicaralah bu.." ucap Haiden yang berbaring di atas tempat tidur.
"Kau kan tahu Eda sudah terlalu tua untuk mengurusmu.." ucap Harika, ia berhenti sejenak untuk mengatur strategi agar Haiden tidak marah. "Jadi ibu memutuskan untuk mengganti pelayan untukmu.."
"Eda yang meminta..?"
"Bukan Eda yang meminta.. ibu hanya kasihan saja melihat dia mengurusmu.. mulai dari mandi, makan, pekerjaan perusahaan, mendorongmu dengan kursi roda sampai dengan kamu tidur.. dia sudah tua nak.."
"Aku tahu.. aku buta dan hanya menyusahkan saja.."
"Tidak.. jangan berkata seperti itu.. kau sama sekali tidak menyusahkan kami.. ibu mohon jangan salah paham.."
"Sebenarnya aku juga kasihan dengan Eda.. tapi saat ini hanya ia pelayan yang aku percaya.."
"Kau tahu kan Noah sudah sembuh dan ak11an kembali bekerja besok.."
"Ya aku tahu.."
"Hmm.. dia membawa saudaranya kemari.. ia membutuhkan pekerjaan.."
"Noah yatim piatu bu.. jangan bohong padaku.."
"Ia memang yatim piatu.. tapi masih memiliki saudara yang tinggal di Medan.." Harika menjelaskan. "Jadi saudaranya ini butuh uang karena suaminya sakit.."
Haiden diam mendengarkan penjelasan ibunya. Ia berusaha mempertimbangkan usul Harika untuk mengganti pelayan. Jika dipikir - pikir Eda terlalu tua.
"Baiklah.. aku akan coba.."
"Oh.. syukurlah kalau kau mau.." Harika senang mendengarnya. "Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui.."
"Apa itu ibu..?"
"Ia memiliki bayi yang juga akan tinggal disini.."
"Bagaimana bisa ia bekerja dengan maksimal jika ada bayi ibu..?"
"Ibu kasihan melihatnya El.. dan juga kau tahu kan ibu sangat menginginkan cucu.."
"Tapi bagaimana jika bayinya menangis.. tentu saja akan merepotkan.."
"Ia janji itu tidak akan terjadi El.. ia dengan Eda akan saling membantu untuk melayanimu.."
Haiden terdiam lagi, ia sangat tidak tega menolak keinginan ibunya itu.
"Baiklah.. kita lihat nanti.. jika aku tidak cocok maka aku akan memecatnya.."
"Baiklah sayang.."
"Sudah ada kabar dari rumah sakit..?"
"Belum ada El.." ucap Harika sedih
"Tidak apa - apa bu.. kita tunggu saja.." ucap Haiden berusaha tegar di depan ibunya.
"Kalau begitu ibu keluar dulu.. nanti sore pelayan barumu akan datang bersama dengan Noah.."
"Aku senang Noah sudah bisa belerja lagi denganku.."
Harika segera keluar dari kamar Haiden. Ia segera mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Aira dan cucunya. Semua peralatan bayi sudah di belinya.
Waktu yang telah ditunggu tiba. Aira bersama bayinya dan Noah datang.
"Aira sayang.." sambut Harika dengan pelukan hangat.
"Ibu.." ucapnya lirih. Ia menyambut pelukan Harika.
"Wah cucu oma tampan sekali.." ucap Harika senang. Kebahagiaan meliputi wajahnya. "Sini biar oma gendong.." Aira segera menyerahkan bayinya ke Harika.."
"Hmm.. Rafael cucu oma.." Harika menimang - nimang Rafael yang masih tidur. "Eda lihat ini.. sangat mirip dengan El ketika kecil.."
"Iya nyonya.." jawab Eda yang tanpa sengaja menitikkan air mata. "Aku senang kau mau kembali Aira.."
"Iya bu Eda.. maafkan aku pergi tanpa pamit.."
"Tidak apa - apa.. kau pasti kesulitan hidup sendiri di luar sana.."
"Tidak bu.. ada Azka yang selalu membantuku.." jawab Aira sambil melirik ke Azkara.
"Aku ini adik ipar yang bisa diandalkan Eda.."
"Hahahahhh.." semua tertawa mendengarnya.
Aira kemudian menghampiri Sumi "Bik Sumi.."
"Non Aira.. selamat datang kembali.."
"Iya bik.."
Mereka semua menyambut kedatangan Aira dengan bahagia. Sementara itu Noah bertemu dengan Haiden di kamarnya.
"Tuan.."
"Noah.. kau sudah pulih.."
"Sudah tuan.. semua berkat kebaikan keluarga Lukashenko.."
"Bagaimana penembakan itu bisa terjadi..?"
"Maaf tuan saat itu saya kurang waspada.. sebenarnya bukan saya targetnya.."
"Apa maksudmu..?"
"Kilatan dari kaca pengintai pada senjata tidak mengarah pada saya melainkan Aira tuan.. dan saya pastikan memang itu perbuatan Roberto tapi saksi belum ada yang bisa menggambarkan wajah pelaku.."
"Aira.." gumam Haiden lirih. "Bagaimana keadaannya..?"
"Dia.. dia baik - baik saja tuan.." Noah sempat gugup dengan pertanyaan Haiden karena sejatinya ia berada di dekat tuannya. Maafkan saya terpaksa berbohong tuan.. ini demi kesembuhan tuan batin Noah.
"Aku malu jika bertemu dengannya Noah.. kau tahu kan sekarang aku bukan pria sempurna seperti dulu.. aku sekarang hanya orang cacat yang mengandalkan bantuan orang lain.."
"Baru kali ini saya melihat tuan tidak percaya diri seperti sebelumnya.." ucap Noah. "Tuan belum mencoba bertemu dengannya siapa tahu Aira bisa menerima permintaan maaf tuan.."
"Tidak dengan kondisiku saat ini.." jawab Haiden. "Oya kau perketat penjagaan pada Aira.. sampai saat ini pelaku penembakan yang sebenarnya belum tertangkap.. aku khawatir dengannya.."
"Baik tuan.."
"Kau segeralah kembali ke perusahaan bantu Azkara menanganinya.. karena aku dengar David sudah mengambil beberapa proyek klien kita dengan cara licik.. Azkara masih sangat baru dalam dunia bisnis tapi kepercayaan dirinya sangat aku hargai.."
"Baik tuan saya akan segera kembali ke perusahaan.."
"Tadi ibu mengatakan padaku saudaramu akan membantu Eda merawatku.. benarkah itu..?"
"Iya tuan.. saya harap tuan akan cocok dengan pelayanannya.."
"Suruh dia menemuiku sekarang.."
"Baik tuan kalau begitu saya permisi.."
Noah segera keluar menemui Aira yang saat ini sedang bernostalgia bersama Harika, Azkara, Eda dan Sumi.
"Nyonya Aira, tuan Haiden ingin bertemu dengan anda.."
"Hahahahh.. kau memanggilku nyonya dan itu terasa aneh di telingaku.." Aira dan yang lainnya tertawa. "Panggil seperti biasa saja.. aku malah merasa aneh.."
"Sudah tidak apa - apa.. bisa jadi hiburan untuk kita.. hahahahhh.." ucap Azkara.
"Baiklah ibu, Azka aku akan ke kamar Haiden dulu.." pamit Aira. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan.
"Semoga berhasil kakak ipar.."
"Hei.. aku tidak menikah dengan kakakmu.."
"Aku rasa sebentar lagi.."
"Sudah.. sudah.. kita semua berdoa semoga Aira tidak menemui kendala apa - apa.." doa Harika
"Sebentar Noah.. ternyata aku masih gugup bertemu dengan tuan.." Aira menarik napas dalam - dalam, mengendurkan ototnya yang tiba - tiba saja terasa kaku..
"Bagaimana..?" Noah memastikan.
"Heeehhh.. sudah.. ayo kita masuk.."
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
Oh.. suara itu yang beberapa bulan ini selalu aku rindukan batin Aira.
"Saya tuan.."
"Noah.. sudah kau bawa saudaramu kemari.."
"Sudah tuan.."
"Perkenalkan dirimu.." perintah Noah.
"Selamat sore tuan.."
"Aira.. kau Aira..!" teriak Haiden. Aira tampak gemetar takut penyamarannya terbongkar.
"Bukan tuan.. saudara saya bukan Aira.." bantu Noah
"Jangan bohong Noah.. itu suara Aira.."
"Maaf tuan.. saya tidak mengerti.. saya bukan Aira tapi Kania.. nama saya Kania.."
"Bohong.. kalian membohongiku.. mentang - mentang aku buta..!"
"Tidak tuan.. percayalah pada saya.. saya tidak pernah membohongi tuan.." ucap Noah.
Haiden tampak diam termenung. Memang selama ini ia akui kalau Noah tidak pernah membohonginya. Ia selalu setia padanya
Maafkan saya kali ini tuan, saya terpaksa.. tapi suatu saat saya pasti akan memberitahu kebenarannya pada tuan batin Noah.
"Mendekatlah kemari.."
"Baik tuan.." jawab Aira. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Haiden yang masih berbaring di tepi tempat tidur. Mata Aira berkaca - kaca melihat kondisi Haiden yang sekarang. Tampak agak kurus, kucel karena tidak bercukur, dingin dan duduk tak berdaya.
Tiba - tiba Haiden berdiri
"Mendekatlah persis di depanku.."
"Baik tuan.." jawab Aira. Tercium bau parfum khas tuannya yang pernah ia curi agar tidak merindukan kehadirannya. "Sudah tuan.."
Tangan Haiden menjulur ke depan berusaha meraih tubuh Aira. Dengan cepat ditariknya ke pelukannya.
Aroma tubuhnya tidak khas vanila seperti Aira. Ini lebih tercium seperti aroma bayi. Walaupun tinggi badannya sama tapi tubuhnya lebih berisi apalagi bukit kembar dan bokongnya batin Haiden ketika memegang bokong Aira.
"Maaf.. apa yang tuan lakukan.." pekik Aira berusaha melepaskan pelukan Haiden.
Haiden melepaskan pelukannya "Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu bukan orang yang aku maksud.."
"Tentu saja bukan tuan.. bukankah sudah saya katakan dari awal.." jelas Aira. Untung semuanya sudah di kondisikan oleh Azkara. Haiden tahu betul aroma tubuh Aira. Di dukung dengan tubuh Aira yang sekarang lebih berisi karena habis melahirkan, tentu saja akan membuat Haiden agak sulit mengenalinya sebagai sosok Aira.
"Baiklah kau boleh bekerja mulai besok.. bagaimana dengan bayimu..?"
"Bayi saya sangat tenang tuan.. saya pastikan tidak akan memgganggu ketenangan tuan.."
"Siapa namanya..?"
"Rafael, tuan.."
"Nama yang indah.."
"Terima kasih tuan.."
"Eda akan menjelaskan semua pekerjaanmu nanti.."
"Baik tuan.."
"Kau boleh keluar.."
"Baik tuan saya permisi.." Aira segera keluar dari kamar Haiden dan bernapas dengan lega. Walaupun awalnya Haiden sempat curiga tapi semua berjalan sesuai rencana.
"Bagaimana Aira..? tanya Harika.
"Awalnya tuan sempat curiga tapi kemudian tidak apa - apa.."
"Syukurlah.."
"Oya bu Eda.. apa jadwal tuan masih seperti biasanya.."
"Tidak Aira.. agak sedikit berbeda.. setelah mandi tuan akan berada di kamar. Tuan makan di dalam kamar.. kalau kau bisa membawanya keluar jalan - jalan akan sangat bagus untuk kesehatannya.. tuan tetap bekerja melalui nona Azkara.."
"Iya.. ternyata sudah banyak berubah.." gumam Aira.
"Jadi untuk mempermudah bila tuan membutuhkan bantuan ruanganmu nanti ada di sebelah kamar tuan.. ada connecting door.."
"Terima kasih bu Eda.. kalau begitu aku akan ke kamar dulu.. sepertinya Rafael sudah kelaparan.." pamit Aira yang melihat bayinya mulai tidak tenang. "Hmm.. anak ibu laparnya.." ucapnya sambil menggendong Rafael dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Mudah - mudahan kau berhasil membuat tuan El bangkit lagi Aira doa Eda..
🌸🌸🌸🌸🌸
Aira bangun pagi seperti biasa. Setelah memandikan Rafael dan menyusuinya. Aira pumping Asi sebentar. Tujuannya ketika melayani Haiden dan Rafael butuh susu ia tidak perlu repot. Ia menciumi Rafael sebelum di tinggal dengan Eda.
"Rafael sayang ibu tinggal dulu dengan ayahmu.. jangan rewel oke.." ucap Aira sambil menggendong sebentar sebelum di serahkan pada Eda.
"Bu Eda titip sebentar ya..?"
"Iya.. pergilah.."
Aira segera masuk ke kamar Haiden lewat connecting door dengan kamarnya. Ia mulai menyiapkan air panas untuk mandi sebelum membangunkan tuannya.
"Selamat pagi tuan Haiden.."
"Hmmm.." jawab Haiden.
"Air panas sudah saya siapkan tuan.. mau mandi sekarang atau nanti.."
"Sekarang.."
"Baik tuan.. mari saya bantu.."
Aira memegang tangan Haiden dan membantunya turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
"Sampai sini saja.. kau boleh keluar.."
"Baik tuan.. akan saya buat teh hangat.." ucap Aira kemudian keluar untuk membersihkan tempat tidur, menyiapkan pakaian, membuka tirai dan jendela. Aira keluar menuju ke dapur membuatkan secangkit teh hangat dengan daun mint kemudian kembali lagi ke kamar.
Setelah meletakkan teh itu di meja, ia duduk di sofa sebentar sambil menunggu Haiden keluar.
"Kania.. Kania.." panggil Haiden.
"Ya tuan sebentar.." jawab Aira dan masuk ke dalam kamar mandi. Terpampanglah sebuah keindahan yang selama ini selalu hadir dalam mimpi - mimpi nya. Walaupun tuan agak sedikit kurus tapi sama sekali tidak menurunkan kejantanannya. Masih sama seperti malam itu. Aira memandangi kejantanan Haiden sambil menelan ludah.
"Kania.." panggil Haiden. "Kau di situ.."
"Eh ya tuan.. saya baru mengambil handuk.." Aira langsung menutupi milik Haiden yang seolah - olah menari - nari mengajak untuk mencicipinya. Ini harus segera ditutupi, sangat menggoda iman batin Aira. "Mari tuan lewat sini.."
"Kau sepertinya tidak kaget.."
"Kaget soal apa tuan..?"
"Kaget melihat aku tidak memgenakan apa - apa.."
"Oh.. sssoal itu.. kan sama dengan punya suami saya tuan.." jawab Aira. Tidak kaget bagaimana aku justru malah hampir saja khilaf tuan batin Aira sambil menghela napas.
Oh.. ternyata dia memang ingin bekerja denganku tanpa ada maksud yang lain batin Haiden. Dan ternyata tadi adalah suatu tes yang sengaja di lakukannya untuk mengetahui apakah ada niat terselubung dari pelayan barunya itu.
Setelah mengenakan baju lengkap Haiden duduk di sofa "Tuan ini teh hangatnya.." Aira menyodorkan secangkir teh di depan Haiden
"Terima kasih.." ucap Haiden sambil menyeruput teh hangat. "Hmm.. enak dari mana kau tahu kalau aku suka teh mint.."
"Dari bu Eda tuan.." jawab Aira. "Apa kegiatan tuan hari ini.. saya akan menemani.."
"Di kamar.."
"Atau tuan mau saya bacakan buku..?"
"Tidak perlu.."
"Tuan mau sarapan sekarang..?" tanya Aira lagi. Ia terua mencoba agar Haiden mau melakukan kegiatan dan tidak berdiam diri di kamar.
"Aku tidak lapar.."
"Hmm bagaimana kalau kita jalan - jalan keluar.. sepertinya udara pagi ini sangat segar.."
"Percuma.. aku tidak bisa melihat.."
"Oh baiklah.." Aira terus memutar otaknya bagaimana caranya menggerakkan hati Haiden agar mau keluar.
"Oya tuan.. bagaimana kalau tuan mengenal bayi saya.."
"Rafael maksudmu..?"
"Iya benar.. tunggu sebentar akan saya ambil.."
Tanpa menunggu persetujuan Haiden. Aira masuk ke dalam kamarnya lewat connecting door. Aira melihat Rafael sedang tidur karena kenyang habis menyusu. "Ayo Rafael sayang kita ketemu dengan ayah.." gumam Aira sambil menggendong bayinya. Tak lama kemudian dia kembali ke kamar Haiden.
"Tuan kenalkan ini Rafael.." ucap Aira sambil mendekatkan bayinya agar Haiden mudah untuk menyentuhnya.
"Dia sangat kecil.." ucap Haiden sambil membelai tangan Rafael.
"Iya.. saya melahirkan prematur tuan.."
"Kenapa..?"
"Karena saya jatuh.." jawab Aira. "Tuan mau menggendongnya..?"
"Apakah tidak apa - apa..?"
"Tidak apa - apa tuan.. dia sedang tidur pulas.."
Aira meletakkan Rafael di pangkuan Haiden. Sambil membenarkan letak tangannya. Rafael tetap tertidur sepertinya ia nyaman dalam dekapan ayahnya. Aira berkaca - kaca melihat momen itu.
"Kania.. kania.." panggil Haiden.
Panggilan itu membuyarkan lamunannya "Eh ya tuan.."
"Kembalikan dia di tempat tidur, aku takut gendonganku tidak nyaman untuknya.."
"Baiklah tuan.. kalau begitu saya kembalikan dulu Rafael.." pamit Aira dan mengambil bayinya.
Setelah mengembalikan bayinya Aira masih terus berusaha membujuk Haiden untuk keluar.
"Tuan mau sarapan di taman.."
"Kau tidak mendengar kata - kataku..! aku ini buta..! percuma makan di taman, karena yang aku lihat hanya kegelapan..!!! teriak Haiden, ia membuang semua yang ada di meja. Aira hanya diam toh ini bukan pertama kalinya ia di bentak seperti itu oleh Haiden.
"Maafkan saya tuan.."
"Ingat itu Kania.. jangan berusaha merubah hidupku.. kau tidak akan bisa..!!!"
🌸🌸🌸🌸🌸