
Hari berganti dengan hari. Tak terasa sudah satu bulan sejak malam babak baru dalam kehidupan Aira. Aira mencoba untuk melupakan kejadian di malam itu. Mulai beradaptasi dengan Haiden, mengurangi rasa takut, gugup dan canggung. Ia sudah beraktifitas seperti biasa, bahkan sudah mulai ikut Haiden ke kantor. Banyak karyawan yang tertarik dengannya tapi tidak sedikit juga banyak karyawan wanita yang iri karena ia bisa berdekatan dengan Haiden setiap hari
"Hari ini aku ada rapat dengan klien.. kau tinggal saja di kantor dan kerjakan berkas ini.."
"Baik tuan.."
"Ayo Noah.." ajak Haiden. Mereka berdua lalu keluar.
Aira tinggal sendiri di dalam ruangan, ia sudah terbiasa seperti itu. Melakukan segala tugas yang diberikan Haiden. Ia justru suka dengan ketenangan. Tapi yang cukup mengherankan kenapa tuannya itu tidak memberinya meja kerja di luar ruangan. Justru ia bekerja di ruangan Haiden.
Hampir dua jam ia menyelesaikan berkas yang diberikan oleh Haiden tadi. Perutnya sudah keroncongan. Ia memutuskan turun ke bawah untuk makan siang tanpa menunggu Haiden.
"Aira.." panggil seseorang.
"Loh.. pak Gilang..? kok bisa ada disini..?"
"Aku ada janji ketemu sama teman.. kebetulan dia bekerja disini.."
"Oh.. kalau begitu saya tinggal dulu.."
"Eh.. Aira tunggu..!"
"Ya pak.." jawab Aira sambil menghentikan langkahnya.
"Kamu mau makan siang..?"
"Iya.. perut saya sudah keroncongan.."
"Kalau begitu sama - sama saja.."
"Loh bagaimana teman bapak nanti..?"
"Pekerjaannya masih belum selesai.. mungkin sebentar lagi turun.."
"Oh.. baiklah.. mari.."
Mereka berjalan berdua menuju kafetaria untuk karyawan.
"Kamu senang kerja disini..?"
"Senang pak.. jadi banyak pengalamannya.."
"Jangan panggil pak.. aku kan sudah bukan atasanmu lagi.. anggap saja seperti teman.."
"Waduh.. sudah terbiasa.." ucap Aira sambil makan nasi Rames pesanannya.
"Hahahahhh.. aku jadi kelihatan tua.." ucap Gilang. "Panggil mas atau namaku saja.. toh umur kita hampir bersamaan.."
"Yah.. terlanjur terbiasa panggil pak.."
"Ya sudahlah.. kalau itu buatmu nyaman.."
"Pak Gilang tidak jadi makan..? katanya lapar.."
"Hmm.. lihat kamu saja aku sudah kenyang.."
Ada mata yang sedang mengawasi mereka. Dengan pandangan tidak suka dan berjalan menghampiri mereka.
"Sudah selesai pekerjaanmu..?"
"Tuan El..? E.. e.. su..sudah tuan.." jawab Aira.
"Kalau sudah selesai makan kembali ke ruangan.."
"Baik tuan.." jawab Aira. Ia segera minum air putih di depannya dengan cepat "Eh pak Gilang aku tinggal kerja dulu.."
"Oke.. kapan - kapan aku akan mengunjungimu dan Azkara.."
Aira setengah berlari mengikuti Haiden dari belakang. Langkahnya yang lebar dan cepat terkadang menyulitkan Aira mengimbanginya. Apalagi sekarang ia memakai rok tidak celana seperti dulu.
"Kenapa dia ada disini..?" tanya Haiden setelah sampai lift.
"Maksud tuan, pak Gilang..?"
"Ya dia.. siapa lagi.."
"Tadi saya bertemu tidak sengaja tuan.. dia ada janji dengan temannya yang kebetulan bekerja disini.." jelas Aira.
"Kenapa kau makan siang duluan..?"
"Perut saya lapar tuan.. dan saya pikir tuan sudah makan siang bersama klien seperti biasanya.."
"Aku belum makan.."
"Jam segini tuan belum makan..? saya pesankan di bawah..?"
"Tidak perlu.. biar Noah saja.."
"Oh.." jawab Aira singkat. Ia jadi merasa bersalah dengan Haiden.
Ting... pintu lift terbuka.. Ada seseorang yang sudah menunggu kedatangannya.
"Akhirnya kau datang juga..!"
"Paman..? ayo kita bicara di dalam.." ajak Haiden.
Kemal mengikuti Haiden masuk ke ruang kerjanya. Tampak wajahnya sangat marah.
"Silahkan duduk paman.."
"Tidak perlu..! aku hanya ingin tahu kenapa kau tutup pabrik minumanku..! heh..! kenapa..!"
Haiden tersenyum "Tenang dulu paman.. mari kita bicara baik - baik.."
Braakkk..!!! Kemal menggebrak meja "Aku cukup bersabar ketika kau memenjarakan Roberto..!!! tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam..!!!"
Aira kaget mendengar keributan yang ada di dalam. Ia khawatir jika Kemal berbuat nekat terhadap Haiden.
"Ternyata kau tidak bisa melihat maksud baikku paman.. Roberto itu bukan orang baik, dia seorang pembunuh kenapa harus kau pertahankan.." jelas Haiden. "Atau jangan - jangan kau dalang dari ini semua..?"
"Brengsek kau..!!! keponakan tidak tahu diuntung.. ayahmu tidak akan bisa memiliki ini semua tanpa campur tangan dariku..! ingat itu Haiden..!"
Tiba - tiba Aira masuk membawa minuman untuk mereka. Sebenarnya itu ia lakukan karena terlalu mengkhawatirkan Haiden..
"Maaf tuan ini minumannya.."
Melihat Aira, Kemal tersenyum licik. Ia segera menarik tangan Aira, mendekatkan ke dirinya dan mencekik lehernya.
"Uugghhh.. uugghhh.." Aira berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman Kemal sangat kuat.
"Lepaskan dia..!!!" teriak Haiden dengan mata berapi - api.
"Hehehehhhh.. ini hanya peringatan untukmu keponakanku.. belajarlah untuk tidak mencampuri urusan orang.." ancam Kemal. Wajah Aira mulai terlihat pucat ia masih meronta - ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu.
Aira masih ingat apa yang di ajarkan Haiden untuk melepaskan diri jika di sekap dari belakang oleh penjahat.
Aira mulai menginjak kaki Kemal dengan tenaga yang tersisa kemudian meninju perut Kemal dengan sikunya.
"Aaauuww..!!!" teriak Kemal.
Aira berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Kemal. "Uhuk.. uhuk.. uhuk.." ia terbatuk - batuk dan berusaha menghirup oksigen sebanyak - banyaknya.
Haiden berlari menghampiri Aira yang terduduk lemas di lantai. Dan itu dipergunakan Kemal untuk melarikan diri.
"Kamu tidak apa - apa..?"
Aira hanya menggeleng - gelengkan kepala, napasnya masih terengah - engah. Haiden membopongnya dan membawanya ke sofa.
"Apa masih sakit..?" tanya Haiden sambil memeriksa leher Aira.
"Aku ambil obat dulu.. ada yang luka.. mungkin terkena kukunya Kemal.." ucap Haiden. Ia bergegas mengambil kotak obat yang berada di ruangannya. Ia kemudian mulai membersihkan luka Aira "Sakit..?"
"Tidak tuan.."
Setelah memastikan lukanya bersih Haiden segera mengambil obat dan mulai mengoleskannya ke leher Aira. "Aaauuww sakitt.. perih tuan.."
"Oh.. sorry.. sorry.. aku akan lebih hati - hati.." ucap Haiden sambil meniup - niup luka Aira.
Haiden terdiam kenapa setiap Aira menjerit kesakitan suaranya tidak asing di telinga. Ia seperti pernah mendengarnya. Tapi entah di mana..
"Sudah selesai.. berbaringlah sebentar disini.."
"Tidak perlu tuan.." tolak Aira halus. "Apa ada pekerjaan yang perlu saya kerjakan lagi..?"
"Oke kalau itu mau mu.." ucap Haiden menyerah. "Kau tata saja berkas - berkas itu di almari.."
"Baik tuan.."
Dengan cekatan Aira menata berkas - berkas itu di almari sesuai perintah Haiden.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.."
"Maaf tuan saya dari bagian keuangan memberikan laporan yang tuan minta.."
"Siapa namamu..?"
"Saya Dewi tuan.."
"Duduk dulu.. aku akan memeriksa laporannya.."
"Baik tuan.. ini berkas dan ini soft copynya.."
Dewi duduk berhadapan dengan Haiden. Dengan serius Haiden memeriksa laporan keuangan itu. Mencocokkan antara laporan dengan yang ada di soft copy nya.
Karena penasaran dengan siapa yang datang, Aira menyempatkan diri menengok ke arah Dewi. Dan terkejutlah dengan apa yang dilihatnya. Dewi mengenakan pakaian yang begitu ketat dan benar - benar menggoda. Dua bukit kembar miliknya yang besar membuat semua pria akan terpana melihatnya.
Dewi tahu jika ia di perhatikan oleh Aira. Dengan tatapan yang menantang ia kembali menatap Aira sambil menyilangkan kakinya.
"Dewi.. untuk yang neraca sepertinya ada sedikit kesalahan.."
"Oh.. maaf tuan akan segera saya perbaiki.."
"Ini.. yang kolom sebelah sini.." tunjuk Haiden.
"Maaf tuan yang sebelah mana..?" tanyanya sambil sedikit mendekat.
"Yang ini.." tunjuk Haiden lagi.
Ia berdiri dan melangkah ke samping laptop Haiden agar lebih jelas letak kesalahannya dimana. Sambil menunduk Dewi berkata "Oh.. yang ini tuan.."
"Angka yang dimasukkan salah.. kamu perbaiki sekarang.. aku tunggu.."
"Baik tuan.." jawab Dewi. Ia mengambil berkas di meja Haiden dan tiba - tiba..
"Aauuww.." ia terjatuh di pangkuan Haiden. "Maaf tuan.. saya tersandung.."
Haiden diam, ia sama sekali tidak bereaksi. Hal seperti ini sudah biasa terjadi dengannya.
Aira melotot melihat adegan itu. Ia tidak terima melihat reaksi tuannya yang diam saja seperti menikmatinya. Oh mentang - mentang bukitnya besar jadi tuan bisa enak - enakkan menikmatinya batin Aira geram. Ia melirik kedua bukitnya dan menghela napas. "Heh memang tidak sebesar kepunyaannya dia, tapi tuan juga pernah menikmatinya bukan.. dasar laki - laki buaya.." gerutu Aira.
"Bangun..!"
"Maaf tuan.."
"Jangan ulangi lagi, jika kamu masih ingin bekerja di sini.."
"Maafkan saya tuan.. ini benar - benar tidak di sengaja.." ucap Dewi gematar ketakutan
"Keluar..! kerjakan tugasmu dan segera bawa ke sini.."
"Baik tuan saya permisi.." Dewi segera keluar ruangan.
Aira yang mendengar sedikit bahwa wanita itu akan kembali ke ruangan ini lagi segera bersiap untuk keluar. Dari pada melihat pemandangan yang membuatnya sakit hati lebih baik aku pergi pikirnya.
"Mau kemana..?"
"Keluar tuan.. pekerjaan saya sudah selesai.. siapa tahu Noah membutuhkan bantuan saya.."
"Tunggu sebentar.. kau berbicara denganku dengan nada tinggi..? kau marah..?"
"Tidak tuan.. saya tidak berani.. saya hanya takut mengganggu.."
"Mengganggu apa..?"
"Menganggu kesenangan tuan.."
"Kesenangan apa..?"
"Kesenangan menikmati wanita seksi, dengan bukit kembar yang besar dan dua bokong yang menggoda.."
"Hahahahahhh...!!!" Haiden tertawa terbahak - bahak. Ia berjalan mendekati Aira dan berdiri saling berhadapan. "Aku tidak murahan.. kau jangan beranggapan seperti itu Aira.. aku tidak menyukainya.." ucap Haiden meyakinkan.
Yes.. yes.. dalam hati Aira bersorak kegirangan, tapi buru - buru ia sembunyikan "Oh.." jawab Aira
"Sini aku lihat lukamu.."
"Luka saya tidak apa - apa tuan.."
"Lihat sebentar.." Haiden memaksa.
Aira tidak mau berdebat, ia menyibakkan rambutnya agar Haiden lebih mudah melihatnya.
"Masih perih..?"
"Sudah tidak tuan..."
Tiba - tiba Haiden mencium singkat leher Aira. Walaupun singkat cukup membuat Aira merasakan sedikit rangsangan. Kemudian Haiden memeluknya.
"Apa yang tuan lakukan..? tolong lepaskan tuan..?"
"Sebentar saja Aira.." pinta Haiden. "Maaf sudah banyak membuatmu menderita.. aku berjanji akan melindungimu.. tidak akan ada orang yang menyakitimu lagi.."
Mata Aira berkaca - kaca. Kau juga pernah menyakitiku tuan batin Aira. Tapi semua itu sudah dia maafkan karena itu bukan suatu kesengajaan.
"Terima kasih tuan.."
Haiden melepas pelukannya. Untuk beberapa waktu terjadi kecanggungan.
"Saya akan buatkan tuan minum.." ucap Aira untuk menetralisir keadaan.
"Aku tidak haus.."
"Oh siapa tahu setelah melihat bukit kembar yang besar tuan jadi haus.." goda Aira sambil tersenyum.
"Hei.. jaga kata - katamu.."
"Saya hanya bercanda tuan.."
"Buatkan aku teh hangat saja.." perintah Haiden akhirnya.
"Baik tuan.. saya permisi.."
Haiden melihat Aira keluar dari ruangannya. Aku lebih menginginkan menikmati dua bukit kembar milikmu Aira, karena menurutku itu lebih menggoda, lebih menggairahkan. Jika kau mengijinkannya akan aku lakukan sekarang batin Haiden sambil tersenyum smirk..
☘☘☘☘☘