My Desire

My Desire
Namaku Aira



"Abi.. Abiii...!!!"


"Noah.. cepat telepon pihak rumah sakit untuk mempersiapkan semuanya.." perintah Haiden.


"Baik tuan.." jawab Noah dan segera menelepon pihak rumah sakit.


"Mana Tama..? kenapa dia lama sekali..?"


"Itu dia tuan.." tunjuk Noah.


"Cepat buka pintunya..!"


Noah dengan segera membuka pintu mobil.


"Loh Abi.. kenapa penuh darah..?"


"Sudah diam.. cepat ke rumah sakit.. kalau sampai nyawanya terancam karena kamu lelet, nyawamu sebagai gantinya.."


"Bbaik tuan.. saya akan ngebut.."


Dengan segera mereka membawa Aira ke rumah sakit. Sampai di depan IGD brankar sudah tersedia dan langsung membawa Aira di ruang perawatan. Aira masih tidak sadarkan diri. Wajahnya memucat.


Haiden sangat tegang dan gugup. Ia berjalan mondar mandir.


"Maaf tuan.."


"Apa..!"


"Nona Azkara menelepon.."


"Sini.." ucap Haiden sambil meminta handphone Noah. "Halo.."


"Aku datang ke kantormu tapi kenapa sejak pagi kau tidak ke kantor El..?"


"Aku di rumah sakit.."


"Siapa yang sakit..?"


"Abi tertembak.."


"Apa..! tertembak.. aku segera kesana.."


Panggilan telepon langsung terputus. Haiden memberikan handphone ke Noah dan terduduk lemas. Ia cemas menunggu hasil tindakan dari dokter. Tak berapa lama kemudian salah satu dokter keluar.


"Pihak keluarga korban..?"


"Saya dok.."


"Oh tuan Haiden..? maaf saya tidak tahu.." ucap dokter tadi. "Saya dokter Agung.. kami akan segera mengoperasi pasien.. untunglah segera di bawa kemari sebelum pasien kehabisan darah.."


"Lakukan yang terbaik dok.."


"Baik tuan Haiden.. anda tenang saja kebetulan letak pelurunya tidak terlalu dalam sehingga tidak mengenai organ vital. Hanya saja pasien dalam keadaan lemah. Banyak darah yang keluar.."


"Ambil saja darah saya dokter.."


"Tenang tuan Haiden.. kami akan melihat persedian darah yang tersedia terlebih dahulu... serahkan semuanya kepada kami.. kami akan melakukan yang terbaik.. permisi.."


Haiden kembali duduk di ruang tunggu. Tampak Harika, Azkara dan Eda setengah berlari menghampirinya.


"El.. bagaimana Abi..?" tanya Harika


"Baru mulai di operasi bu.."


"Sabar El.. kami akan menemanimu disini.."


"Apa yang terjadi El..? kenapa bisa seperti ini.."


"Dia tertembak karena melindungiku Az.. aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa - apa dengannya.."


"Tenang.. kau harus tenang.." ucap Azkara berusaha menenangkan Haiden. "Hei.. kau menangis El.. sejak kapan Kafael Haiden Lukashenko menangis.." goda Azkara berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang saat menunggu Aira operasi.


"Sudah jangan kau goda kakakmu.." ucap Harika.


"Aku hanya heran bu.. kenapa gadis - gadis menyukainya padahal dia cengeng.."


"Hmm.. El ada yang ingin ibu bicarakan..?"


"Apa bu..?"


"Soal Abi.. aku tidak ingin kau bertambah kaget ataupun syok setelah mendengar dan melihatnya.."


"Melihat apa bu..?"


"Melihat siapa dia.."


"Maksud ibu apa..? aku tidak mengerti.."


"Sebenarnya Abi itu seorang wanita..namanya Denaira kamania Abimana.." ucap Harika dengan wajah cemas takut akan membuat Haiden murka. Ia tahu Haiden adalah tipe orang yang tidak suka dengan kebohongan.


"Aku tahu ibu.."


"Apa..! jadi kamu sudah tahu..?"


"Iya aku dan Azkara sudah tahu.."


"Kau tidak marah..?"


"Tidak ibu.. aku bisa menerima alasan kenapa ia melakukan itu.. walaupun sejatinya aku tidak suka kebohongan.."


"Oh syukurlah El.. awalnya ibu merahasiakan ini karena takut kamu marah dan akhirnya memecat Abi.."


"Mana mungkin El marah bu.." ucap Azkara sambil melirik kakaknya yang masih cemas dengan kondisi Aira.


"Dari mana ibu tahu..?"


"Kau ingat waktu Aira pipinya merah di tampar oleh Ivanka.. aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.. terus terang aku merasa kasihan dengan anak itu.. dan juga hanya dia yang bisa membuatmu tidak waspada, bahagia dan hidupmu lebih berwarna.." ucap Harika. "Banyak sekali perubahan yang lebih baik dalam hidupmu El.. jadi ibu memutuskan untuk tidak mengatakan identitas Aira yang sebenarnya.." jelas Harika panjang lebar.


"Maaf tuan sebenarnya saya juga sudah tahu sejak lama.." ucap Eda


"Jjadi kamu sudah tahu lama Eda.. kenapa tidak cerita..?"


"Awalnya saya pikir dia tidak akan bertahan lama di rumah besar tuan dan akan segera keluar.." ucap Eda. "Tapi kenyataannya kerjanya bagus dan terus terang saya teringat anak perempuan saya.. seandainya dia masih ada pasti seperti Aira.."


"Heh.. oke.. ternyata aku termasuk paling lambat menyadari kalau dia perempuan.." ucap Haiden. "Ibu, Eda aku akan membuat perhitungan setelah Aira sadar nanti.."


"Oh come on El.. jangan perhitungan denganku.."


"Aku seperti orang bodoh.." ucap Haiden. "Sebenarnya kita semua tahu siapa dia tapi berusaha menutupinya.."


"Ya bodoh karena kau merasa jatuh cinta dengan pria bukan.." goda Azkara. "Aku yakin dalam hatimu pasti kau mengira dirimu menyimpang.. apa kata dunia jika penggemarmu tahu kau penyuka pria.. hahahahh.." Azkara tertawa geli.


"Awas kau anak kecil..!"


"Sudah.. sudah.. ini di rumah sakit.. ayo kita berdoa agar operasinya lancar.."


Mereka terdiam sejenak sampai seorang perawat datang memberitahu sesuatu.


"Maaf dengan keluarga korban..?"


"Ya kami keluarganya.."


"Pasien membutuhkan donor darah untuk golongan darah B.. apakah ada..?"


"Saya B.. bisa ambil darah saya.." ucap Haiden.


"Baiklah ikuti saya karena ada serangkaian prosedur pemeriksaan yang harus dijalani.."


"Baik.." ucap Haiden. "Ibu aku tinggal dulu.."


"Baik El.."


"Azka.. jaga ibu.."


"Siap kakakku.."


Haiden masuk ke dalam ruang operasi. Ia melalui beberapa rangkaian pemeriksaan darah. Setelah di nilai sehat dan tidak ada penyakit bawaan apa - apa mereka segera mengambil darah Haiden untuk di donorkan ke Aira.


"Maaf tuan Haiden.. silahkan berbaring dulu.. karena darah yang kami ambil cukup banyak.." ucap seorang perawat. "Apa anda merasa pusing..?"


"Tidak.. itu tandanya anda dalam kondisi sehat.. ini susu yang harus anda minum.."


"Terima kasih.." ucap Haiden. "Hmm.. kapan operasinya selesai..?"


"Sebentar lagi.. tinggal menutup luka setelah operasi.."


"Baik.. saya akan keluar dulu.." ucap Haiden.


Begitu keluar ia disambut oleh ibu dan Azka.


"Duduklah dulu di sini El.. kamu lemas nak..?"


Tak berapa lama operasi selesai. Dokter yang bertanggung jawab segera keluar.


"Bagaimana dok..?"


"Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar.. peluru berhasil dikeluarkan dan pasien juga dalam kondisi baik.. hanya tinggal menunggu sadar dari pengaruh obat bius saja.."


"Oh syukurlah.." ucap Haiden lega. "Mana Aira..? bisa kami melihatnya.."


"Kami akan mengganti pakaiannya dulu dan memindahkan ke ruangan perawatan.. tunggu sebentar lagi.."


"Baik.. terima kasih.."


"Kalau begitu saya permisi dulu.."


Dokter segera pergi. Mereka masih menunggu Aira untuk keluar.


"Noah.. berikan kamar yang terbaik untuk Aira.."


"Baik tuan.."


☘☘☘☘☘


"Ayah.. Bunda.. kenapa kalian ada disini..?"


"Kami memang ada disini sayang.. ini tempat kami yang sekarang.. indah dan penuh kedamaian.."


"Kalau begitu biarkan aku ikut tinggal disini bersama kalian.."


"Tidak Aira sayang.. saat ini tempatmu tidak disini nak.. banyak sekali orang yang menunggumu di sana.."


"Tapi Ayah.. aku ingin bersama kalian selamanya.."


"Nanti.. jika saatnya tiba kau akan bersama dengan kami selamanya.."


Tiba - tiba ada seberkas cahaya yang menarik Aira menjauh dari kedua orang tuanya.


"Tuan.. tuan.. haus.. minum.."


"Aira kau sudah bangun.." ucap Haiden pelan


Aira membuka matanya perlahan. Dilihatnya Haiden duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. "Tuan El.. anda selamat.. syukurlah.."


"Tidak justru aku yang bersyukur Aira.."


"Aira..? ttuan memanggil saya Aira..? bbagaimana tuan bisa.."


"Sssstt.. jangan banyak bicara.. istirahatlah.." ucap Haiden


Aira cemas, mungkin saat ini tuannya itu tidak marah atau menghukumnya karena saat ini ia baru sakit. Bagaimana nasibnya nanti jika sudah sembuh. Sudah pasti ia akan di pecat dan perusahaan akan bangkrut.


"Ttuan El.. maafkan saya.."


"Aku tahu.. sembuhkan dulu dirimu setelah itu kau jelaskan padaku.."


Aira mengangguk dan tersenyum. Ia sedikit lega melihat reaksi Haiden yang tidak marah dan masih mau bertemu dengannya.


"Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu.." pamit Haiden keluar.


Tak berapa lama dokter masuk bersama dengan Haiden, Harika, Azkara dan Eda. Dokter segera memeriksa kondisi Aira pasca operasi.


"Hai warior.." sapa dokter


Aira tersenyum "Kenapa memanggil saya seperti itu dok..?"


"Well karena kamu betul - betul berjuang untuk hidup.. kau sudah kehilangan banyak darah tapi bisa sadar dengan cepat.." ucap dokter


"Terima kasih dok.." ucap Aira lirih


"Bagaimana kondisinya dok..?"


"Hmm sepertinya tidak ada masalah apa - apa tuan Haiden.. anda tidak perlu cemas.. tinggal pemulihan luka saja.. ingat jangan sampai lukanya terkena air sampai kering nanti.. kira - kira tiga hari lagi sudah boleh pulang.."


"Terima kasih dokter.." ucap Harika.


"Kalau begitu saya permisi dulu.."


"Silahkan dok.."


Harika dan Azkara menghampiri Aira yang masih terbaring lemah.


"Nyonya maafkan saya.."


"Tidak ada yang perlu di maafkan Aira.. aku sudah tahu sejak lama.."


"Bu Eda maafkan saya.."


"Tidak apa - apa Aira.."


"Malam ini aku akan menemanimu Aira.." ucap Azkara


"Terima kasih nona.."


"Istirahatlah.."


Aira kembali memejamkan mata. Kali ini tiada lagi beban di hatinya. Sepertinya semua keluarga Lukashenko bisa memaafkan atas kebohongannya.


☘☘☘☘☘


"Noah sudah kau hancurkan usaha Leo di Jepang..?" tanya Haiden kepada Noah.


"Sudah tuan.. sesuai perintah.."


"Biarkan dia membusuk di dalam penjara..!" ucap Haiden geram. "Baiklah.. kau boleh pulang.."


"Baik tuan.. saya permisi.." pamit Noah dan segera keluar dari ruang rawat Aira


"Siapa El..?" tanya Azkara


"Noah.." jawab Haiden. "Aira sudah tidur..?" tanya Haiden pelan


"Sudah.." jawab Azkara. "Oya.. aku sangat ingin tahu.. bagaimana Aira bisa tertembak..?" tanya Azkara sambil duduk di sofa. Ia mengupas buah Apel untuk kakaknya.


"Ingat Leo.."


"Tua bangka itu..?"


Haiden mengangguk "Ia dalang dari semua ini.."


"Kurang ajar..!!! tua bangka tidak tahu diri..!!!" ucap Azkara geram sambil mengibas - ibaskan pisau ditangannya.


"Hei hati - hati.. aku bukan tua bangka itu.."


"Terus..?" tanya Azkara sambil kembali mengulas Apel.


"Awalnya mereka ingin menculik Aira, tapi berhasil kita lumpuhkan. Akhirnya mereka mengancam nyawaku. Saat itu aku dan Noah lengah, hanya Aira yang tahu tembakan itu ditujukan untukku dan menghalaunya.."


"Sudah kau tangkap Leo dan anak buahnya..?"


"Sudah.. bahkan usahanya yang di Jepang sudah aku musnahkan.."


"Bagus.. kerja yang bagus kakakku.." puji Azkara sambil meletakkan irisan Apel di depan Haiden. "Kau pulanglah El.. kau pasti lelah.. biar aku malam ini yang menemani Aira.. apalagi ada Eda.."


"Aku masih ingin di sini Az.." jawab Haiden sambil menyandarkan kepalanya pada sofa.


"Kenapa..?"


"Entahlah.. aku masih tidak percaya dengan kejadian ini.. dia seorang wanita lemah rela mengorbankan nyawanya untukku.. padahal dia tahu aku sering sekali marah, membentak, menyuruhnya.."


"Itu karena dia tulus padamu tanpa syarat El.." ucap Azkara. "Sulit sekarang mencari wanita seperti itu.. bagaimana dengan hatimu..?"


"Entahlah.. aku tidak tahu.. aku belum menemukan jawabannya.."


"Ayolah El.. don't stupid.." ucap Azkara jengkel. "Apalagi yang kau cari..?"


"Perasaanku.. aku harus meyakinkannya lagi.. aku tidak mau terburu - buru.."


"Oke jika itu mau mi.." ucap Azkara. "Jika suatu saat Aira menemukan kebahagiannya sendiri aku tidak akan mencegahnya.. karena aku pikir terlalu lama menunggumu.. ia berhak bahagia.."


"Aku masih bingung Az...please.. tolong mengerti aku.."


"Ah terserah.." ucap Azkara sambil pergi ke kamar mandi.


Aira yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan itu menjadi sedikit kecewa setelah mengetahui jawaban dari Haiden. Tapi jika dipikir kembali untuk apa dia kecewa. Ini hanya hubungan tuan dan pelayan, tidak lebih.


Ah aku sepertinya harus benar - benar mengubur perasaanku.. hatimu sulit aku gapai tuan batin Aira.


☘☘☘☘☘