My Desire

My Desire
Bermain dan terus bermain



"Siapa sayang..?"


"Lihat saja sendiri.. nich.." Haiden menunjukkan siapa yang di gendongnya.


"Oh.. Rafael sayang.. ibu kangen.."


Haiden menidurkan Rafael di sebelah Aira yang tubuhnya masih ditutupi dengan selimut. Rafael tampak senang melihat Aira. Tangan dan kakinya bergerak - gerak. "Oya kenapa dia disusulkan ke sini.. bukankah kita mau pulang..?"


"Hehh...ini pasti perbuatan ibu untuk menggangguku.." jawab Haiden sambil ikut berbaring di sebelah Aira.


"Ibu..?"


"Yah dia yang menyuruh Noah datang kesini membawa Rafael.. katanya menangis terus.. ah menurutku itu hanya akal - akalan ibu dan Azkara.."


"Tidak mungkin ibu seperti itu.."


"Tentu saja mungkin.. mereka pasti masih marah denganku karena tidak menjelaskan apa - apa ke mereka tentang kita dan tentang mataku.."


"Ya sudah.. nanti setelah kita pulang, kita jelaskan ke mereka.." ucap Aira sambil menyusui Rafael. Bayi itu tampak tenang dalam dekapan Aira.


"Aku kan baru sebentar bermain denganmu.." protes Haiden. "Sudah di rebut sama si kecil ini.." ucap Haiden gemas dan mencubit sedikit pipi Rafael.


"El.. jangan begitu sayang.. kau kan masih punya banyak waktu denganku.."


Haiden memeluk Aira dari belakang , menaruh kepalanya di ceruk leher belakang Aira "Aku belum puas saat ini.." ucap Haiden sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh Aira.


"El.. apa yang kamu lakukan..?" pekik Aira.


Tangan dan bibir Haiden sudah tidak bisa di kondisikan.


"El.. aaahhh..! hentikan..!" Aira merintih ketika tangan Haiden memijat bokongnya.


"Please Aira.. biarkan aku memasukimu lagi.."


"Bagaimana dengan Rafael..?"


"Sssttt.. dia begitu tenang sedang menyusu.. kau nikmati saja permainanku.." kedua tangan Haiden sudah menyusup meraba inti kewanitaannya.


"Aaahh..! El..! Ooohhh..!"


"Kau menikmatinya sayang..?" bisik Haiden sambil lidahnya menjilat belakang telinganya dan terkadang memberi gigitan kecil di sana.


"Hmmm.. teruskan sayang.." mohon Aira


Jari jemari Haiden mulai membelah bibir bawah Aira keluar masuk sehingga memberikan sensasi geli dan nikmat disana.


"Aahh.! haahh..! El..!" tubuh Aira bergetar hebat. Puncak kenikmatannya telah keluar.


"Sekarang giliranku.." Haiden mengangkat salah satu kaki Aira ke atas sehingga ia leluasa menyatukan kejantanannya dengan kewanitaan milik Aira. Ia seperti tak pernah bosan untuk terus berhubungan dengan istri kecilnya itu.


Rafael sudah tertidur karena kekeyangngan sedangkan Haiden dan Aira tertidur karena kelelahan dan kenikmatan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Aira terbangun dari tidurnya. Ia melihat Rafael yang masih tertidur pulas. Ia ingin bangun akan tetapi sebuah lengan yang kokoh dan kuat melingkar di pinggangnya. Pelan - pelan ia singkirkan tangan itu.


Ia melihat sekilas wajah Haiden ketika tertidur. Begitu tenang dan tampan. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, bulu - bulu halus yang tumbuh di sekitar bibir dan dagunya menambah kesan macho. Aira tidak menyangka ia bisa menaklukkan pria yang banyak digandrungi kaum hawa itu. Setelah puas melihat suaminya tidur. Ia segera mandi karena tubuhnya yang terasa lengket.


Ia turun berlahan - lahan takut membangunkan dua arjunanya. "Aaauuww..!!!" pekik Aira sambil menutup mulutnya. Ternyata bagian bawahnya terasa sakit. Kenapa bisa pikirnya.. bukankah tadi ketika berhubungan baik - baik saja. Atau mungkinkah ukuran suaminya itu yang berbeda. Dengan sedikit tertatih dan berpenggangan pada dinding Aira berjalan menuju ke kamar mandi.


Ia sudah mempersiapkan air hangat untuk berendam dengan di campur sedikit aroma terapi untuk relaksasi. Hmm rasanya sangat nyaman..


Sementara itu Haiden mencari - cari seseorang di sebelahnya. Tapi ia hanya menemukan Rafael yang tertidur pulas "Aira.. sayang.." panggilnya. Ia menyibakkan selimutnya dan memutuskan untuk turun dari tempat tidur mencari istrinya.


Ia mendengar suara gemericik air. Kemudian ia tersenyum. Dengan berlahan ia membuka pintu kamar mandi.


Tampak Aira membilas tubuhnya sehabis berendam. Sepertinya Aira tidak tahu akan kedatangan suaminya, ia tampak konsentrasi membasahi rambutnya. Haiden memeluknya dari belakang.


"El.." ucap Aira. "Kau mengejutkanku sayang.."


"Aku mencarimu kemana - mana.." balas Haiden manja.


"Aku sedang mandi.. tubuhku lengket.."


"Kenapa kau tidak pamit padaku..?"


"Maaf sayang.. kau tadi tidur pulas.." jawab Aira. "Kau lepaskan dulu pelukanmu aku akan keluar oke.."


"Tidak mau.."


"El.. jangan bercanda ah.."


"Kau harus di hukum.." tangan Haiden mulai tidak bisa di kendalikan lagi.


"El.. please.. bagian bawahku masih sakit.."


"Itu karena kamu belum terbiasa.. maka dari itu kita harus sering - sering melakukannya.."


Ah modus El ada - ada saja batin Aira "Nanti kalau Rafael bangun bagaimana..?" ia beralasan lagi.


"Sssttt.." Haiden membalikkan tubuh Aira dengan sekali angkat ia menggendongnya seperti koala. Sedangkan kaki Aira mengait di pinggangnya. Haiden berjalan ke dinding, sehingga punggung Aira menempel pada dinding kamar mandi. Dengan sekali hentakan dimulailah penyatuan diantara mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kamu capek..?"


"Tentu saja.. kau tidak memberiku waktu beristirahat, bahkan berpakaian sekalipun.."


"Itu untuk memudahkanmu menyusui Rafael.." balas Haiden dengan polosnya.


"Memudahkan Rafael atau memudahkanmu..?"


"Dua - duanya sayang.. bayimu kan ada dua.."


"Umurku masih dua puluh dua tahun tahun El.."


"Terus..?"


"Yah.. maksudku aku masih kecil dan butuh penyesuaian untuk melayani mu.."


"Tapi kau suka kan.. kau selalu berteriak dan memintaku untuk terus.. tidak berhenti sedetik pun.."


"Kau sudah berpengalaman dengan beberapa wanita.." ucap Aira cemberut.


"Hei.. kau cemburu..?"


"Tidak.." jawab Aira ketus.


"Hahahahh.. aku suka wajahmu kalau cemburu.." Haiden menarik Aira ke dalam dekapannya. "Tidak Aira sayang.. memang banyak wanita berada di sekitarku.. hanya denganmu aku melakukan hubungan badan.. itu sebabnya aku selalu menginginkannya.."


"Benarkah..?"


"Tentu saja benar.. suatu kehormatan untukmu nyonya Kafael Haiden Lukashenko.."


"Terima kasih El.."


"Hmm.. kalau begitu sekali lagi oke.."


"El..! jangan..!"


"Sebentar sayang.." pinta Haiden tanpa mempedulikannya. Yang terjadi kemudian hanyalah erangan dan teriakan penuh kenikmatan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi ini Aira merasa tubuhnya sangat lelah. Apalagi Rafael semalam tidurnya terlalu malam. Aira bangun dan mempersiapkan peralatan mandi untuk bayi kecilnya. Dia mengambil baju dan menyadari kalau popok yang di bawakan Noah sudah habis.


"El.. bangun.. El.."


"Aku keluar sebentar.. popok Rafael habis.."


"Oahaamm.." Haiden menguap. "Oke.. aku mandi dulu.."


"Biar aku saja yang keluar, nanti kalau ada yang tahu kamu bisa melihat bagaimana.. bisa gagalkan rencanamu.."


"Kalau begitu suruh Noah yang beli.." ucap Haiden masih memejamkan mata.


"Ah.. dia tidak tahu ukuran, merk dan tipenya.. biar aku saja yang beli.. sepertinya depan hotel ada supermaket.."


Haiden bangun "Kamu tidak apa - apa beli sendiri.."


"Tidak apa - apa.. dekat kok.." ucap Aira sambil tersenyum. "Titip Rafael oke.." pamitnya sambil mengecup kening Haiden.


Aira keluar dari kamar. Walaupun tubuhnya terasa lelah ia tetap harus mengurus Rafael. Hanya dengan berjalan kaki saja sudah sampai di supermaket. Ia melewati sebuah cafe, aroma roti panggang dan kopi membuat perutnya keroncongan. Ia memutuskan mampir ke cafe dulu sebelum membeli popok. Setelah memesan croisan dan vanilla latte, ia duduk di sebuah bangku kecil. Hmm.. nikmatnya.


"Aira.."


Yang di panggil menoleh ke sumber suara.


"Dave.." balas Aira. "Kamu dengan siapa..?" tanya Aira dengan wajah menegang.


"Tenang.. aku tidak bersama mama.." jawab Dave seperti tahu isi pikiran Aira.


"Ooh.."


"Aku bersama seorang teman.. kau pasti ingat dengan tuan David kan..?"


Aira menoleh ke seseorang yang ada sebelah Dave. "Oh.. ya aku ingat.. silahkan duduk.."


Mereka bertiga duduk bersama.


"Bagaimana kabarmu..?"


"Aku baik Dave.. papa dan mama mu tidak ikut..?"


"Mama masih terus bersedih dengan kepergian Ivanka.."


"Maafkan aku atas keributan yang kemarin.."


"Bukan salahmu Aira.." balas Dave.


"Nona Aira sendirian..?" tanya David


"Ya.. saya sendirian.."


"Sungguh di sayangkan wanita secantik nona harus sendirian disini.."


"Jangan seperti itu tuan David.."


"Hei.. hei.. bukankah kita sudah sepakat untuk menghilangkan keformalan.."


"Oh.. maaf maksud saya David.."


"Begitu lebih enak di dengar.."


"Oya Aira.. David ini sekarang yang mengelola perusahaan papa.."


"Perusahaan om Baskara..? kok bisa..?"


"Maaf Aira.. perusahaan tuan Baskara sudah aku beli dan sekarang di bawah kendaliku perusahaan itu menjadi maju.. Hmm kau tidak ingin bekerja di sana..?"


"Belum terpikirkan oleh ku David.." jawab Aira. "Tapi Dave bagaimana dengan hutang om Baskara pada tuan Haiden.."


"Kamu tenanh saja Aira, David akan membayarnya.."


"Yah benar aku akan membayarnya dan tentu saja kau akan segera terbebas dari penjara Haiden yang kejam itu.."


Kamu yang kejam batin Aira sambil memandang David. Yang kau bilang kejam itu sekarang suamiku. "Dave.. kau cerita dengannya soal perjanjian itu..?"


"Yah tentu saja.. dia sekarang pemilik perusahaan dan kami adalah bawahannya...tapi karena kebaikan hati David keluarga kita masih bisa bekerja di sana.."


Kebaikan hati apa, dia itu orang jahat yang menindas kaum yang lemah batin Aira geram. "Oh.. terima kasih atas kebaikanmu David.." ucap Aira. "Oya Dave aku harus pergi.. aku sudah keluar cukup lama.." pamit Aira.


"Baiklah.." balas Dave.


"Bisakah kita bertemu lagi..?" pinta David.


"Entahlah.. aku masih bekerja pada tuan Haiden.."


"Aku akan segera membayar kebebasanmu.. aku janji.." ucap David.


Aira hanya tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Ia bergegas membeli beberapa popok dan kembali ke hotel. Ia sudah cukup lama keluar, suaminya yang manja itu pasti akan mencarinya.


Ceklek.. Aira masuk ke dalam kamar.


"Kenapa lama..?"


"Maaf sayang aku mampir sebentar di cafe.. perutku lapar.. bagaimana dengan Rafael..?" tanya Aira sambil melihat bayinya yang sudah bangun.


"Sudah bangun tapi tidak rewel.."


"Oh syukurlah.." Aira bernapas lega. Ia takut jika Rafael rewel akan menyusahkan Haiden. "Terima kasih sayang sudah menjaganya untukku.." Aira mencium bibir Haiden sekilas.


"Kau tahu aku lapar.." Haiden merajuk.


"Kalau begitu aku pesankan makanan.. kau mau makan apa..?"


"Aku mau makan dirimu.."


"Oh common El.. aku serius.."


"Aku lebih serius.." Haiden menarik Aira duduk dipangkuannya.


"El tunggu aku mau cerita.." cegah Aira sebelum suaminya macam - macam.


"Cerita saja.." ucap Haiden. Tangannya sudah membuka kancing baju Aira satu persatu.


"Aku tadi bertemu David dan Dave di cafe.."


Haiden berhenti sejenak, ia menggigit kecil - kecil bukit kembar Aira sebagai tanda kepemilikan "Teruskan.." perintahnya.


"Aauuww.. pelan - pelan sayang.." pinta Aira. "Jadi ia tidak tahu kalau aku dulu adalah Abi, yang dia tahu aku bekerja padamu sebagai jaminan.. aaahhh..!" Aira merintih ketika tangan Haiden menelusup masuk pada bra yang menutupi bukit kembar nya.


"Ayo teruskan.."


"David sekarang pemilik perusahaan om Baskara dan dia ingin membayar hutangnya padamu agar aku bebas.. aaahhh..!" teriak Aira ketika tangan Haiden berpindah menelusup ke dalam celananya.


"Jadi kau lama karena bertemu dengan dua orang lelaki.."


"Aaahh.. sssayang.. itu tidak sengaja.. oohh..!" Aira terus mengerang ketika jari jemari Haiden bermain disana.


"Aku tidak suka kau bertemu dengan laki - laki lain tanpa ijinku.."


"Ya sssayang.. aaahhh..! aku tidak akan melakukannya lagi.. ma..ma..maafkan aku.. aaahh..!" Aira menjerit ketika Haiden mengangkatnya dan membaringkannya di sofa. Ia sudah menanggalkan semua pakaian istrinya.


"Aku sangat mencintaimu Aira.. Aku menginginkanmu.." ucap Haiden dengan suara parau. Dan aku percaya padamu batin Haiden.


Aira tersenyum, ia suka melihat Haiden cemburu. Seperti anak kecil yang menggemaskan. Ia kemudian menarik tangan Haiden hingga tubuhnya berada di atas tubuh Aira. Kedua tangannya mengalung pada leher Aira.


"Aku lebih mencintaimu El suamiku.." ucap Aira yang kemudian mencium Haiden dengan panas. Ia telah banyak belajar dari suaminya dan sekarang semakin pintar. Entah berapa permainan lagi yang mereka mainkan tanpa bosan.


🌸🌸🌸🌸🌸