
"Abi.."
"Ya tuan.."
"Sudah kau siapkan air mandi untukku..?"
"Sudah tuan.. seperti biasanya.." jawab Aira sambil membereskan alat gym yang sudah dipakai oleh tuannya itu.
"Bagus.. kau bantu aku menggosok punggungku.."
"Baik.. eh tunggu dulu.. apa tadi yang tuan perintahkan..?"
"Bantu aku menggosok punggungku.." ucap Haiden mengulang perintahnya
"Ttuunggu tuan.. kalau tuan mau perawatan spa saya bisa panggilkan.."
"Terlalu ribet Abi.. ini hanya menggosok punggung toh kamu juga sudah pernah melakukannya.."
"Ttapi tuan.."
"Kenapa..? kau menolak perintahku..?" ucap Haiden. Ada senyuman di sudut bibirnya. Rasakan batinnya.
"Tidak tuan El.. saya tidak berani.."
"Bagus.. aku tunggu.."
Aira menghela napas. Ini sebenarnya yang sulit dari penyamaran ini. Matanya selalu ternoda dengan benda - benda pribadi milik tuannya itu. Padahal kalau wanita - wanita diluar sana tahu pekerjaan seperti ini aku jamin akan antri jadi pelayannya tuan.
Setelah selesai membereskan semua, dengan langkah lunglai Aira menuju kamar Haiden. Di dalam sana Haiden sudah siap dengan hanya mengenakan bathrobe.
"Lama sekali kamu.."
"Maaf tuan.."
"Ayo masuk.." perintah Haiden sambil membuka bathrobe nya.
"Ttuaan.. bisakah tuan masuk ke dalam bathtube dulu.." ucap Aira sambil memalingkan muka.
"Memang kenapa..? kita sama - sama pria.. barang kita pun sama bentuknya.. apa yang perlu di khawatirkan..?"
"Tuan tidak malu..?"
"Tidak.. kecuali kalau kamu wanita maka aku akan pikir - pikir memperlihatkan milik pribadiku ini kepadamu.." pancing Haiden.
Ya.. ya.. kamu menang banyak tuan El.. aku hanya pelayanmu yang tidak punya kuasa yang selalu kamu tindas yang selalu kamu bully. Ayo Aira kamu pasti bisa..
"Silahkan masuk dalam bathtube tuan.. saya akan mulai menggosok punggung tuan.."
Haiden tanpa malu membuka bathrobe nya dan masuk ke dalam bathtube.
Ya tuhan.. badan tuan sangat gagah sekali tanpa cacat di kulitnya yang ditumbuhi dengan bulu - bulu halus. Bokongnya juga sangat seksi batin Aira. Imajinasi liar yang dulu tidak pernah ada dalam pikirannya sekarang menari - nari di pelupuk mata menggodanya..
"Sampai kapan kau akan bengong di situ..?"
"Eh maaf tuan.. saya sedang berpikir.."
"Berpikir apa..?
"Mau menggosok punggung tuan dulu atau bokong.." ucapnya tanpa sadar
"Bokong..?" tanya Haiden sambil mengernyitkan alisnya.
"Eh maksud saya dada.. ya bagian dada tuan.." jawab Aira gugup. Aduh kenapa aku bilang bokong.. mulut dan pikiranku tidak sinkron batin Aira.
"Ayo kemari.. lakukan sesukamu.. mau punggung, dada atau bokong sekalipun aku tidak keberatan.." pancing Haiden.
"Iiya.. baik tuan.. akan saya mulai.."
Aira mengambil sponge lembut mengoleskan lotion dan mulai menggosok punggung Haiden. Haiden menikmati setiap sentuhan yang diberikan Aira. Hingga tanpa sadar telah selesai.
"Tuan sudah selesai.."
"Oh.. lanjutkan saja.."
"Mana lagi tuan..?"
"Terserah.. mau dada atau bokong..?" ucap Haiden tersenyum penuh arti.
"Bbukan bokong tapi dada tuan..!" tegas Aira. Ia merasa jengkel dengan perkataan tuannya yang selalu mengatakan bokong, bokong dan bokong.
Aira pindah posisi menjadi di depan Haiden. Dengan tatapan menunduk ia mulai menggosok bagian dada dan sekitarnya. Ia asal saja menggosok dan sama sekali tidak berani menatap tuannya itu. Tangannya gemetar apalagi bersentuhan langsung dengan bulu halus yang tumbuh di dada tuannya itu.
Kalau pekerjaan ini dia lelang dengan harga yang mahal ia bisa kaya mendadak, pasti banyak wanita kaya yang mau membayar mahal batin Aira sambil tersenyum.
Tiba - tiba ia merasakan sesuatu yang aneh pada tangannya. Kenapa dada tuan ada tahi lalatnya ya pikir Aira. Di memencet - mencet benda itu karena masih penasaran bahkan ia memilin - milin benda itu. Apa sih ini kok aneh, perasaan badan tuan sangat mulus dan halus kenapa ada bisul di dadanya.
"Abi.."
"Ya tuan.." jawabnya masih sambil menunduk.
"Apa yang kamu lakukan..?"
"Menggosok tuan.."
"Lihat yang benar.. apa yang kamu gosok..? kau mencoba menggodaku..? mencoba merangsangku..?"
Apa..! menggoda..? merangsang..? apa maksud tuan..? memangnya apa yang aku pegang..? pikir Aira tidak mengerti. Akhirnya agarntidak timbul salah paham ia memusatkan pandangannya pada bagian depan tubuh Haiden. Ia terhenyak kaget terduduk kebelakang setelah melihat apa yang tadi dia pegang. Yang awalnya ia kira tahi lalat ternyata itu adalah ****** tuan Haiden.
"Ya tuhan..! maaf El.. eh maksud saya maaf tuan El.. saya.. saya tidak ada maksud ke arah itu.." ucap Aira gemetar.
"Kamu sengaja kan..?"
"Tidak tuan.. saya berani sumpah.. saya sama sekali tidak tertarik dengan hal yang begituan.."
"Oh.. berarti kamu menganggap aku tidak menarik.."
"Bukan.. bukan itu maksud saya.. aduh.. bagaimana ini menjelaskannya.."
"Sudah.. sudah.. keluarlah.. kau membuatku telat sarapan dan kerja.."
"Maaf tuan.." ucap Aira. "Kalau begitu saya permisi dulu..". Aira bergegas keluar kamar mandi. Perasaannya sangat lega. Tidak seperti tadi jantungnya berdegup tak karuan. Ia segera bersiap diri untuk ikut ke perusahaan. Hari ini tuan banyak sekali meeting bersama dengan klien. Jadi keberadaannya sangat membantu.
☘☘☘☘☘
Siang ini Abi menunggu tuan Haiden rapat laporan keuangan yang sudah berjalan cukup lama. Agar tidak bosan ia pergi sebentar di cafe bawah yang memang diperuntukan bagi karyawan.
"Hai.. boleh saya duduk di sini bro..?" sapa seorang pria muda.
"Boleh.. silahkan.."
"Sendirian..?"
"Eh ya.." jawabnya dengan anggukan.
"Kamu kerja di bagian apa..?"
"Aku.. pelayan pribadinya tuan.."
"Aku Abi.."
"Eh kamu sering dong cuci mata.."
"Maksud kamu..?"
"Ah pura - pura tidak tahu kamu.."
"Bukannya pura - pura.. tapi memang aku tidak tahu.."
"Tuan Haiden itu banyak teman wanitanya, tiap malam pergi ke klub dan suka melakukan one night stand.. iya kan..?"
"Tidak.. tuan tidak seperti itu.. dia pergi ke klub kalau ada janji dengan klien saja.."
"Kliennya itu pasti perempuan.."
"Setahuku tidak.. tuan itu pria yang baik - baik.."
"Kamu di bohongi.."
"Maaf sepertinya aku harus kembali ke ruangan tuan.. kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini lagi.. selamat siang.."
"Huh..! dasar sombong..!"
Aira segera pergi keluar dari cafe. Tapi baru beberapa langkah ia terpaksa menghentikannya karena suatu panggilan
"Hei bocah tengik..!"
Aira menengok kebelakang. Ternyata itu suara Revina bersama dua orang pria bertubuh besar.
"Ya nona.."
"Pegangi dia..! bawa ke belakang.." perintah Revina pada kedua pria itu. Keduanya bergegas melaksanakan apa yang diperintah Revina.
"Hei.. apa yang kalian lakukan.. lepas..! lepaskan aku..!" teriak Aira berusaha melepaskan diri dari pegangan pria itu. Semua usahanya gagal karena tenaga mereka jauh lebih besar.
"Percuma kamu teriak - teriak.. tidak akan ada yang menolongmu karena mereka semua tahu siapa aku.."
"Apa salahku..?!"
"Banyak sekali bodoh..! kau yang telah menjauhkanku dari Haiden.."
"Tidak.. aku tidak melakukan itu.."
"Dasar pembohong..!" plak...!!! Revina menampar pipi Aira dengan keras. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. "Kau saudara Ivanka bukan..? gara - gara dia Haiden mengabaikanku.. pasti kamu selalu membantu saudaramu itu untuk mendapatkan Haiden. Dasar pelayan kampungan..!" teriak Revina. Ia mengangkat tangannya untuk melakukan tamparan lagi. Akan tetapi...
"Tunggu..! apa yang kalian lakukan..!"
"Noah.." ucap Aira lirih. "Noah..! tolong aku..!" teriak Aira sambil meronta - ronta.
"Jangan ikut campur Noah.. aku harus memberikan pelajaran pada pelayan kampungan ini..!"
"Hentikan Revina..! aku sudah memanggil beberapa awak media.. kalau kamu tidak mau reputasimu berakhir silahkan saja lanjutkan aksi mu itu..!" ucap Noah dengan tegas.
Revina tampak berpikir. Apa yang disampaikan Noah masuk akal juga. Dan akhirnya..
"Lepaskan dia.. ayo kita pergi.." perintah Revina pada dua pria itu. "Ini belum selesai bocah tengik..!" ancam Revina. "Ini hanya permulaan saja..!" Revina meninggalkan mereka.
Aira bernapas lega. Badannya terasa lemas, tenaganya terkuras.
"Terima kasih Noah.."
"Sama - sama.."
"Dari mana kamu tahu kalau aku disini..?"
"Resepsionis yang bilang kebetulan ia tahu kamu dibawa Revina.." jawab Noah. "Rapat tuan hampir selesai dan kamu tidak ada ditempat.. kamu pasti akan dimarahi tuan.. jadi aku mencarimu.." jelas Noah. Padahal tuan akan marah padaku jika tahu kamu tidak ada batin Noah.
"Baiklah ayo kita ke atas.. pipiku ini sudah sakit dan aku tidak sanggup menahan sakit jika tuan juga memarahiku.." ucap Aira lirih
Mereka berdua bergegas naik ke atas sebelum Haiden keluar dari ruangan rapat. Tapi terlambat, tampak seorang pria tampan dengan wajah dingin dan tatapan yang tajam menunggu kedatangan mereka.
"Dari mana kalian..?"
"Maaf tuan saya dari cafe di bawah.." jawab Aira.
"Tunggu kenapa bibirmu berdarah..?"
Aira hanya diam tertunduk. "Noah jelaskan padaku..?"
"Baik tuan.. jadi saat saya mencari Abi, ia sedang ditampar oleh Revina.."
"Kamu tidak melawan..?" Haiden bertanya sambil memandang ke arah Aira. Aira hanya diam saja tetap tidak menjawab. Matanya sudah berkaca - kaca. Tuan jangan marahi aku.. pipiku ini rasanya kebas dan sudut bibirku terasa perih batin Aira.
"Maaf tuan.. Abi tidak bisa bergerak karena di pegangi oleh bodyguard Revina.."
"Brengsek..!!!" teriak Haiden sambil menendang Noah. "Kemana saja kamu..? kenapa ini bisa terjadi..?"
"Maaf tuan.." ucap Noah sambil meringis.
"Bereskan semua kekacauan ini.. kamu pasti tahu dengan apa yang kumaksud.."
"Siap tuan.. saya permisi.."
Noah segera pergi untuk membereskan semua masalah yang ada. Haiden mengajak Aira untuk masuk kedalam ruangannya.
"Duduk.."
"Baik tuan.." jawab Aira. Haiden mengambil sesuatu dari laci mejanya. Dan itu sebuah kotak obat. Ia segera duduk di sebelah Aira, sambil mengambil antiseptik untuk luka. Dengan perlahan dan lembut ia mengoleskan ke sudut bibir Aira yang terluka.
"Tuan.. saya bisa sendiri.." ucap Aira sambil meringis menahan perih. Matanya mulai berkaca - kaca lagi.
"Sudah diam.." perintah Haiden dan terus melanjutkan aksinya.
"Tuan El.." panggilnya lirih
"Hmmm.."
"Terima kasih tuan.. sudah memperhatikan dan membela saya.." ucapnya dengan mulut bergetar.
"Sakit..?"
"Tidak tuan.."
Haiden menghentikan aksinya. Ia menatap tajam ke wajah Aira dan tiba - tiba.. cup.. sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Aira.
"Tuan.. apa yang tuan El lakukan..?" tanya Aira kaget membelalakkan mata.
"Ini stempel ciuman keakraban seorang sahabat.. ingat hal ini yang biasa kamu lakukan ke dua orang sahabatmu itu bukan.. bukankah kita dekat dan akrab jadi itu alasanku membelamu.." ucap Haiden.
Yah ini mirip seperti modus..
☘☘☘☘☘