
"Iya tidur di kamarku.."
"Saya wanita tuan.."
"Ya terus kenapa..?"
"Tidak pantas rasanya kalau dilihat orang.."
"Terus yang dulu kamu lakukan di kamar ku itu apa..? saat itu kamu juga wanita.. tapi kamu santai saja keluar masuk kamarku.."
"Saat itu saya masih menjadi pria tuan.."
"Apa bedanya..?"
"Beda tuan.. pokoknya beda.. lebih baik saya tidur dengan bu Eda atau bik Sumi.."
"Mereka capek Aira.. seharian sudah mengurus ibu.. kamu tidak kasihan..?"
Aira diam sejenak, ia tampak memikirkan apa kata tuannya itu ada benarnya juga. Tapi apa tidak ada kamar yang lain. Kenapa harus kamar tuan..
"Baiklah.. tapi nanti saya tidur di sofa atau bawah saja tuan.."
"Tentu saja.. atau kamu berharap tidur di kasurku..?"
"Tidak tuan.. saya tidak kepikiran sampai kesana.."
"Baiklah aku ijinkan kau tidur malam ini di kamarku.."
What.. begini lagi.. benar - benar menyebalkan. Siapa yang memaksa dan siapa yang dipaksa. Aira hanya diam saja ia malas berdebat malam - malam dengan tuannya. Ia sudah tidak memiliki sisa tenaga karena habis untuk berlari menghindari hantu jadi - jadian.
Aira mengikuti Haiden dari belakang. Sesampainya di depan pintu Haiden berhenti. "Apa aku juga yang harus membukakan pintu untukmu..?"
"Oh maaf tuan.. akan saya buka.." ucap Aira dan segera membukakan pintu. Memang menghadapi tuannya itu harus ekstra sabar.
"Duduklah aku akan melihat lukamu.."
"Waduh jangan tuan.."
"Apa maksudmu..? kau kira aku akan berbuat hal yang tidak senonoh.."
"Bbukan itu.. aduh saya bingung tuan.." ucap Aira. "Silahkan lihat lukanya tuan.."
Sebenarnya Aira malu kalau Haiden harus memperlihatkan lagi punggungnya. Apalagi hanya berdua di dalam kamar. Tapi apa boleh buat dari pada berdebat malam - malam.. toh itu juga hanya mengecek lukanya.
Haiden melihat luka Aira. "Hmm.. agak berdarah sedikit.. tunggu aku bersihkan dulu.." ucap Haiden. Dengan cekatan ia segera membersihkan dan memberi obat pada luka Aira. "Untung jahitannya tidak kenapa - kenapa.. besok pagi kau periksakan saja ke dokter.."
"Baik tuan.."
"Nah sudah selesai.. tidurlah.." perintah Haiden. "Kamu tenang saja besok pagi kita sudah akan tahu siapa hantu itu.."
"Oh.. syukurlah kalau begitu.. terima kasih tuan.." ucap Aira. Ia segera menata bantal di sofa. Untuk sementara ia tidur dengan posisi miring menghadap tempat tidur Haiden, tujuannya untuk menghindari lukanya dari tekanan. "Selamat malam tuan El.."
"Hmm.." jawab Haiden dan segera mematikan lampu.
☘☘☘☘☘
Hingar bingar musik di sebuah kelab malam mewah masih setia menemani pelanggannya. Para gadis asyik menari mengikuti alunan musik.
"Hei apa yang sedang kau pikirkan sayang..?" pria itu mulai menciumi leher dan tangannya menjalar kemana - mana.
"David aku sedang malas.. please stopped..!"
"Oh.. kau berani membentakku sekarang..!" ucap David sambil mencengkeram rahang Ivanka.
"Aauuww sakit.. kau menyakitiku David..!"
"Ingat.. kau bonekaku jadi jangan ngelunjak.. mengerti..!" ucap David sambil melepaskan cengkeramannya. Ia kemudian meneguk minuman dengan kasar.
"Sorry.. aku baru banyak pikiran.."
"Hahahahhh.." David tertawa. "Sejak kapan kau berpikir.. karena kau sama sekali tidak ada otak.. kau wanita yang bodoh.."
"Brengsek.. apa maksudmu berkata seperti itu..? bukankah aku pintar di ranjang.." balas Ivanka dengan wajah bangga.
"Justru itu.. karena keahlianmu hanya di ranjang kau tidak akan menjadi wanita berkelas.. kau terlalu murah.. aku menikmati kebersamaan denganmu.. tapi untuk menjadikanmu istri aku akan berpikir seribu kali.."
"Kau..!!!"
Tiba - tiba dari arah belakang, seseorang tampak memotong perdebatan mereka "Selamat malam semuanya.."
"Tuan Kemal.." sapa David.
"Maaf sepertinya saya mengganggu keasyikan anda berdua.."
"Oh tentu saja tidak tuan Kemal.. silahkan bergabung dengan kami.."
"Terima kasih ini suatu kehormatan untuk saya.."
"Ah.. kita ini kan teman jangan terlalu sungkan.."
"Oh...baik - baik.." jawab Kemal dan kemudian bergabung bersama David dan Ivanka.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama sambil menikmati musik dan minuman.
"Hmm.. sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan dengan Ivanka.."
"Aira.."
Wajah Ivanka langsung berubah begitu mendengar nama Aira.
"Tenang.. tidak perlu tegang.. aku sudah tahu kalau Aira itu adalah Abi.."
"Apa..?! kenapa kau tidak cerita padaku Iv..?" tanya David
"Tunggu.. maksud tuan Kemal apa..? membicarakan gadis itu disini.." ucap Ivanka tanpa memperdulikan pertanyaan David
"Ivanka..! kau tidak menghiraukan pertanyaanku..!"
"Sebentar David.. aku akan menjelaskannya padamu.."
"Tenang - tenang kita tidak perlu tegang.." ucap Kemal. "Ini semua bukan kesalahan Ivanka tuan David mari kita dengarkan penjelasannya.."
Wajah David berubah menjadi lebih tenang dari pada tadi yang tampak sangat Emosi. Ia bisa tidak tahu tentang informasi ini.
"Oke.. aku akan bercerita.." ucap Ivanka. "Kau ingat Aira sepupuku yang waktu itu kita ketemu di mall..?.
"Oh.. gadis cantik itu.." jawab David berusaha mengingat wajah polos dan mata bening milik Aira.
"Yah benar.. dia dijadikan jaminan oleh orang tuaku di rumah Haiden. Di sana ia bekerja menjadi pelayan sampai hutang orang tuaku lunas.."
"Kenapa menjadi pria..?" tanya David.
"Papaku khawatir dengan keselamatannya.. takut jika nanti dia akan di lecehkan.. entahlah aku juga tidak mengerti jalan pikirannya.. semua itu sebagai wujud rasa bersalah pada orang tua Aira yang kebetulan kakaknya.."
"Tunggu.." sela Kemal. "Orang tua Aira kakak dari papamu.."
"Ya benar.."
"Jadi orang tua Aira itu Abimana.."
"Ya.. dari mana anda tahu nama orang tua Aira..?"
"E..e.. saat itu Abimana orang yang cukup terkenal di dunia bisnis.." jawab Kemal gugup. Ternyata anak Abimana selamat dari kecelakaan itu. Pantas saja ia mengejar Roberto. Jangan - jangan ia sudah tahu semuanya batin Kemal tidak tenang.
"Jadi keluarga Lukashenko sekarang sudah tahu semua kalau aira seorang wanita..?"
"Yah benar.."
"Hah.. sekarang semua sudah tahu.. apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Haiden.. hancur sudah impianku.."
"Pantas Haiden selalu melindungi Abi.. ternyata ia seorang wanita.. menarik.. menarik sekali.. seorang mafia bisnis seperti Haiden begitu melindungi pelayannya.." ucap David sambil tersenyum.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan tuan David.. karena temanku Leo sudah menjadi korban Haiden gara - gara pelayan itu.."
"Tenang tuan Kemal.. dalam hal ini kita harus tenang.. Haiden bukan lawan yang mudah.."
"Kalian ini benar - benar egois.. bagaimana denganku..? dengan cara apalagi aku harus menaklukkan hati Haiden..?"
"Hmm.. calm down Iv.." ucap David. Ia kemudian membisikkan sesuatu ditelinga Ivanka. Tampak terpancar rona bahagia pada wajah Ivanka. Sepertinya ide yang diberikan oleh David sangat cemerlang.
☘☘☘☘☘
Aira tiba - tiba terbangun.. ia baru saja tertidur tapi harus bangun karena ingin buang air kecil. Semua itu karena hantu jadi - jadian yang berusaha mencelakainya. Dengan mata setengah terpejam ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera menurunkan celananya dan duduk di closet untuk menuntaskan buang air kecil nya. Semua itu di lakukan dengan mata masih terpejam. Tiba - tiba terdengar suara gemericik air.
Hah.. leganya ucapnya lirih. Eh tunggu kenapa ada suara gemericik air ya.. atau mungkin kran nya bocor batin nya. Ia kemudian berusaha membuka matanya. Tampak pemandangan seorang pria yang sangat tampan, memiliki badan yang kekar sedang mandi di bawah shower. Menggosok tubuhnya dengan sabun. Wow.. sangat tampan dan seksi batin Aira.
Eits tunggu sejak kapan di kamarku ada seorang pria. Aira berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia menepuk nepuk pipinya agar setengah nyawanya yang hilang bisa kembali..
Tunggu kenapa aku seperti mengenalnya.. tidak.. tidak.. itu tuan sedang mandi tanpa sehelai benang pun.. dan aku menikmati pemandangan itu.
"Aaaccchhh..!!!" teriaknya. "Apa yang tuan lakukan dikamar saya..?!" tanyanya sambil menutup mukanya. Ia masih duduk di atas closet.
"Aira..!!!" teriak Haiden kaget. "Keluar.. ayo kamu keluar..!" perintahnya sambil berusaha meraih handuk yang letaknya dekat dengan closet dimana Aira duduk
"Tuan yang keluar..!" teriak Aira tidak mau kalah. "Ini kamar saya.."
"Hei.. lihat dulu.. kamar mandi sebagus ini apakah milikmu.."
Aira terdiam.. benar juga, kalau di pikir - pikir kamar mandi ini sangat luas.. Ia kemudian membuka matanya dan mengedarkan pandangan di sekelilingnya, closet dan showernya terpisah oleh penyekat dari kaca transparan.. ada bathtube nya.. tidak mungkin kamar mandi pelayan seperti ini.. berarti ini benar kamar mandi milik tuan pikir Aira.. Oh iya ia baru menyadari kalau semalam ia tidur di kamar tuan..
Aira menepuk jidatnya karena menyadari kekeliruannya. "Ma.. maaf tttuu.. aaacchhh.. apa itu..!!!" teriaknya lagi sambil menutup mukanya. Aira dengan jelas melihat barang pribadi milik tuannya. Tegak, besar dan menjulang
"Ayo keluar.. kenapa masih di situ..!!!"
"Bagaimana saya bisa keluar.. celana saya belum beres tuan.. tuan yang keluar dulu.."
"Oke..! oke..! tetap tutup mata.. aku akan mengambil handuk di dekatmu.."
"Bbaik.. bbaik tuan.." jawab Aira gugup, jantungnya berdegup keras, tangannya gemetar. Baru kali ini ia melihat dengan jelas barang itu.
Dengan perlahan dan hati - hati Haiden mengambil handuk yang ia letakkan dekat closet. Sial baru saja aku mandi untuk menenangkan hasratku. ini sudah di buat bangun lagi. Semalam kau begitu menggodaku Aira, kau begitu menggairahkan ketika tidur, sehingga aku harus mandi dengan air dingin batinnya.
Hampir saja ia meraih handuk itu jika saja konsentrasinya tidak terganggu. Oh syiittt.. apalagi ini batinnya. Ia melihat paha Aira dan celananya yang turun setengah. Otomatis itu membuat gairahnya muncul. Tangan bergetar meraih handuk dan gubraaakkk..
Haiden terpeleset dan tubuhnya jatuh di atas tubuh Aira.
"Tuuaannn..!!!"
☘☘☘☘☘