
"Noah.. apa kau melihat Aira..? dari tadi aku tidak melihatnya.."
"Maaf nona, Aira baru saja pergi.."
"Pergi..? kemana..?" tanya Azkara lagi.
"Rumah temannya, dia sudah diberi ijin oleh nyonya Harika.."
"Ibu..? dimana Haiden..? kenapa tidak ijin kakakku.."
"Tuan Haiden masih tidur di kamar.."
"Tumben sekali dia terlambat bangun.. tidak biasanya dia seperti itu.." ucap Azkara. "Apa terjadi sesuatu..?"
"Tidak ada nona.." jawab Noah. Ia tidak bisa memberitahukannya sebelum mendapat ijin dari Haiden.
"Aku akan membangunkannya.."
Azkara pergi meninggalkan Noah sendiri. Ia naik ke atas menuju kamar Haiden.
"El.. el.. bangun.. ayo bangun.." ucap Azkara setengah teriak. Ia membuka gorden agar cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Haiden hanya diam saja tak bergerak sama sekali.
"El.. el.. aku guyur pakai air..!!!" teriak Azkara lagi sambil menepuk - nepuk bahu Haiden.
"Oh common Az.. kepalaku pusing.." gumam Haiden sambil pindah posisi menjadi miring ke kiri.
"Kamu mabuk..? pesta dengan siapa..? semalam pulang jam berapa..?!" berondong Azkara dengan berbagai pertanyaan.
"Ivanka.."
"Wanita ular itu..!!!" teriak Azkara tidak percaya. "Oh my god El.. ternyata kakakku ini bodoh sekali.. kenapa kau menerima ajakan wanita ular itu..? aku tidak mau dia menjadi kakak iparku.. aku tidak sudi..!"
"Stopped..! kamu berisik..! keluarlah.. aku akan istirahat lagi.. kepalaku masih pusing.."
"Oh.. berani sekarang kau mengusirku.."
"Hmm.. ini kamarku mengerti.."
"Oke.. oke.. aku akan keluar.." ucap Azkara ia malas berdebat dengan kakaknya. Pagi ini mood nya menurun setelah mendengar cerita kalau Haiden semalam berpesta dengan Ivanka.
"Tunggu.."
"Apalagi..?"
"Panggilkan Aira kesini.. bilang saja kepalaku sakit.."
"Aira pergi keluar pagi tadi.."
"Apa..! siapa yang berani mengijinkan..?" ucap Haiden kaget. Ia kemudian mencoba bangun "Aauuww..!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.
"Kau tidak apa - apa El..?" tanya Azkara panik begitu Haiden merasa kesakitan.
"Jawab pertanyaanku dulu.."
"Ibu yang mengijinkan.."
"Untuk apa dia pergi pagi - pagi.. apa ia tidak tahu kalau aku sakit.."
"Tanya saja ke ibu.. dia yang memberi ijin, kenapa kau marah padaku.." ucap Azkara kesal sambil keluar dari kamar Haiden.
Haiden duduk sebentar sambil bersandar di tempat tidur. Ia merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak emosi. Reaksi obat perangsang itu benar - benar sangat kuat. Tunggu siapa yang menolongku batinnya. Ia mengambil handphone di atas nakas. Ditemukannya sebuah pesan pada secarik kertas kecil.
"Apa ini.." gumamnya sambil membaca tulisan itu.
...'Tuan, maaf hari ini saya mohon ijin keluar karena sahabat saya Nayla membutuhkan bantuan. Saya sudah ijin dengan nyonya Harika. Peralatan mandi, air hangat dan pakaian sudah saya siapkan. Apabila pagi ini tuan merasa sakit kepala ada air madu hangat di atas meja kerja'...
Haiden melihat di atas meja kerjanya ada secangkir air madu. Ia kemudian meremas kertas itu dan membuangnya di sembarang tempat karena kesal. Berani - beraninya kamu keluar tanpa ijin dariku. Tunggu hukuman saat kamu pulang nanti batin Haiden.
Haiden segera menelepon Noah untuk segera ke kamarnya, ia yakin Noah sudah datang. Karena ini sudah terlalu siang. Semuanya gara - gara Ivanka wanita sialan.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.."
"Selamat pagi tuan.."
"Pagi.." jawab Haiden. "Ambilkan air madu di atas meja itu.."
"Baik tuan.." Noah segera mengambil air madu dan menyerahkan pada Haiden.
Haiden menyeruput sedikit kemudian meletakkannya di atas nakas.
"Sudah kau dapatkan informasi mengenai kejadian kemarin.."
"Sudah tuan.." jawab Noah. "Jadi nona Ivanka mendapatkan obat itu dari salah satu dokter kenalannya. Setelah saya selidiki dokter itu sudah dikeluarkan dan di cabut ijin prakteknya dari rumah sakit tempat dia bekerja. Sudah dua tahun dokter itu tidak bekerja. Dia sekarang menjual obat - obat keras yang dilarang beredar di Indonesia.."
"Apa David tidak ikut campur tangan dalam masalah ini..?"
"Sama sekali tidak ada tuan.. semua murni tindakan Ivanka.."
"Tapi tidak mungkin orang seperti Ivanka bisa memiliki ide seperti ini untuk menjebakku.. aku yakin David di balik ini semua.."
"Kalau kita bisa menemukan bukti chat atau rekaman mungkin kita menjadikan bukti atas keterlibatan tuan David.."
"Kita harus berhati - hati.. David tidak bisa dianggap remeh.. di bermain dengan sangat rapi dan terencana.."
"Ya tuan.. saya akan tetap mencari informasi yang dalam mengenai keterlibatan David.."
"Hmm.. satu lagi.."
"Ya tuan.."
"Siapa yang menolongku..? obat yang disuntikkan Ivanka dosisnya sangat tinggi.. sampai sekarang aku masih merasakan efeknya.."
"Aira tuan.."
"Bagaimana cara dia menolongku..? wanita kecil seperti dia bisa mengendalikan gairahku.."
"Katanya dia merendam tuan dengan air dingin.."
"Hanya itu..?"
"Iya tuan, hanya itu.." jawab Noah.
Haiden diam ia merasa ada yang aneh. Karena saat itu Haiden merasa telah melakukan penyatuan bahkan mencapai ******* sehingga pengaruh obat itu berkurang. Tapi kenapa ketika terbangun semuanya terlihat baik - baik saja dan tidak terjadi apa - apa. Atau ini semua karena pengaruh obat sehingga ia berhalusinasi.
Aira adalah kuncinya. Nanti ketika dia pulang aku harus bertanya padanya..
☘☘☘☘☘
Aira melangkahkan kakinya masuk dalam pemakaman umum. Dia duduk di depan makam kedua orang tuanya. Kali ini ia benar - benar merindukan kehadiran orang tuanya. Ia butuh sebuah sandaran atas apa yang selama ini dia alami. Air mata nya tak terbendung lagi, ia menangis sejadi - jadinya. Seandainya saat ini ayah dan ibunya masih ada tentu saja ia tidak akan mengalami ini semua.
"Aira.."
Aira menoleh ke sumber suara sambil menghapus air mata nya. "Nayla.." ucapnya lirih.
"Hei.. apa yang terjadi..? kenapa menangis disini..?" tanya Nayla sambil merengkuh pundaknya.
Aira semakin bersedih. Ia menangis di pundak sahabatnya itu.
"Terkadang air mata adalah satu - satunya cara bagaimana ketika bibir tak dapat menjelaskan apa yang membuat kita terluka.. menangislah Aira itu tidak akan membuatmu tampak lemah.."
Aira terus menangis meluapkan semua kesedihan, semua luka, semua beban penderitaan pada sahabatnya.
"Kalau kamu belum siap bercerita tidak apa - apa Aira. Yang terpenting perasaanmu bisa lega dan aku akan mendukung semua keputusanmu.." ucap Nayla.
Aira mengusap airmatanya "Nay.. bolehkah malam ini aku tidur di rumahmu..?"
"Boleh.." jawab Nayla tanpa banyak bertanya. "Ayo ini sudah sore.. kamu sudah makan..?"
Aira menggelengkan kepala.
"Tidak perlu.."
"Oke kalau begitu kita langsung ke rumahku saja.."
Nayla membantu Aira berdiri. Mereka keluar dari pemakaman umum. Dengan naik motor mereka menuju rumah Nayla. Orang tua Nayla adalah seorang pegawai golongan kecil. Walaupun sederhana mereka hidup sangat bahagia.
Aira ingin kehidupan seperti itu. Kehidupan yang sederhana tapi dipenuhi dengan kebahagian. Oleh sebab itu jika ia sudah bisa melepaskan diri dari keluarga Lukashenko ia ingin tinggal dan memiliki kehidupan sendiri. Tapi dengan kejadian tadi malam tentu saja memporak porandakan semua harapannya.
"Masuklah ke kamar ku.. istirahatlah.."
"Dimana orang tuamu..?"
"Orang tuaku cuti dua hari.. nenekku yang di Semarang sedang sakit.."
"Nay, aku istirahat dulu yah.."
"Hmmm..."
Aira masuk ke dalam kamar Nayla. Ia berbaring sambil melihat langit - langit rumah Nayla. Lama - lama matanya berat dan akhirnya tertidur.
..."Aku tidak mungkin berbuat itu padamu, kamu hanya seorang pelayan..!!! dasar pembohong..!!!" teriak Haiden....
..."Saya mengatakan yang sebenarnya tuan.. saya bukan pembohong.."...
..."Hahahhahhh.. dasar pembohong..!!!"...
..."Tidak tuan.. tidak tuan.. tuan El..!!!" teriak Aira sekuat - kuatnya...
"Aira.. aira.. bangun.. bangun.. kamu mimpi..!" ucap Nayla sambil membangunkan Aira.
"Ya tuhan.." ucap Aira. Napasnya tampak terengah - engah. Keningnya penuh keringat dingin.
"Ini minum dulu biar tenang.." ucap Nayla sambil memberikan segelas air putih. Aira langsung meminumnya hingga ludes tanpa tersisa. "Mau tidur lagi..?" tanya Nayla.
"Tidak.." jawab Aira. "Nay aku mau cerita.."
"Oke.. aku akan dengarkan.. tapi jika kau belum siap aku tidak memaksa.."
"Aku tidak apa - apa.." jawab Aira. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan sebelum mulai bercerita. "Aku bekerja sebagai pelayan di keluarga Lukashenko sebagai jaminan atas hutang om Baskara pada tuan Haiden.."
"Apa..! jadi selama ini kamu tidak bekerja di perusahaan om kamu tapi di rumah Kafael Haiden Lukashenko.. tapi kenapa waktu kita bertemu kalian tidak saling mengenal..?"
"Di sana aku menyamar menjadi laki - laki.."
"Apa..! jadi laki - laki... ya tuhan tega banget keluarga om kamu itu.." ucap Nayla sambil memeluk Aira.
"Lambat laun penyamaranku terbongkar tapi syukurlah keluarga Lukashenko tidak marah atau memberi hukuman padaku.. justru mereka sangat baik kepadaku.." cerita Aira. "Kamu tahu kan Ivanka sangat menyukai tuan Haiden..?"
Nayla mengangguk - angguk..
"Jadi dia mengundang tuan Haiden secara pribadi di pesta kelulusannya. Entah bagaimana waktu di sana ia berhasil memberikan tuan Haiden obat perangsang dosis tinggi.."
"Gila..! saudara sepupumu itu benar - benar gila.."
"Tapi syukurlah tuan bisa lepas dari Ivanka dan bisa pulang kerumah. Saat itu aku tidak tahu jika tuan dalam pengaruh obat. Aku membantunya masuk ke dalam kamar. Tuan Haiden awalnya sudah mengusirku keluar tapi aku bersikukuh membantunya. Hingga.. hingga.." ucap Aira yang tak sanggup meneruskan ceritanya.
"Hingga apa Aira..?"
"Hingga dia melampiaskannya padaku.." jawab Aira lirih dan menunduk.
"Jadi.. jadi.. kamu diperkosa oleh tuanmu..?!" tanya Nayla.
Aira mengangguk - angguk, air matanya sudah jatuh membasahi pipi. Bibirnya bergetar karena menahan semua emosi dalam hatinya.
"Aku kotor Nay.."
"Tidak.. kamu tidak kotor Aira.." ucap Nayla dengan tegas. "Kamu tidak menjual diri jadi jangan menganggap dirimu kotor.. ini semua karena keadaan dan terpaksa.. yang patut di salahkan di sini adalah saudara sepupumu itu.."
"Tapi seharusnya aku.. aku bisa lebih menolak tuan.. menolak dengan sekuat tenaga.. aku.. aku takut Nay.." Aira kembali menangis. Dengan lembut Nayla memeluknya.
"Tuan Haiden tahu kalau dia melakukan ini padamu..?"
"Tidak.."
"Kenapa tidak cerita dengannya..?"
"Ayolah Nay.. aku cuma seorang pelayan.. bagaimana kalau dia menganggapku seorang pembohong yang sengaja menjebak dan menggodanya untuk mendapatkan hartanya.."
"Tapi dia harus tahu soal ini.." ucap Nayla. "Tunggu.. apa kamu menyukai tuan Haiden..?" tanya Nayla sambil menatap tajam pada Aira.
Aira mengangguk pelan.
"Ya tuhan Aira.. kenapa perjalanan hidupmu begini.." ucap Nayla yang kembali memeluk Aira. "Oke.. kita cari jalan keluarnya.. aku pasti akan membantu dan mendukungmu.."
"Setelah bercerita denganmu, beban yang ada di hatiku sedikit berkurang.. aku senang memiliki sahabat sepertimu.." ucap Aira sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Terima kasih Aira.."
"Nayla.. tolong jangan beritahu siapapun soal ini.. tuan Haiden juga tidak sadar dengan apa yang dilakukan karena pengaruh obat.."
"Sekarang apa yang akan kau lakukan..?"
"Aku akan bersikap seperti tidak terjadi apa - apa.. nanti kalau hutang om Baskara sudah lunas.. aku akan pergi dari rumah itu dan memulai kehidupanku yang baru.."
"Oke.. aku menghargai semua keputusanmu.. aku akan merahasiakan hal ini.. semuanya demi kamu Aira.." ucap Nayla. "Jika membutuhkan apa - apa kau bisa menemuiku.."
"Terima kasih Nay.."
"Sekarang tidurlah dengan tenang.. aku akan selalu ada untukmu Aira.. besok aku akan mengantarmu pulang.."
Aira kembali berbaring di atas tempat tidur. Beban itu sedikit berkurang. Ia bersyukur memiliki sahabat yang selalu mendukungnya.
☘☘☘☘☘
"Tuan.. semua bukti - bukti yang memberatkan Roberto sudah saya kirimkan ke pihak yang berwajib.."
"Bagus.. Roberto akan mendekam cukup lama di penjara karena pembunuhan berencana.." ucap Haiden puas. "Aira pasti senang mendengarnya.."
"Ya tuan.."
"Orang kepercayaan Kemal berhasil aku lumpuhkan.. akan aku lihat sampai mana Kemal berani melawanku.."
"Maaf tuan.. sepertinya saat ini tuan Kemal sedang bekerja sama dengan tuan David.."
"David..? ah biarkan saja mereka semua bukan lawanku.." jawab Haiden. "Aku ingin kita tetap waspada Noah.. karena David orang yang sangat memperhitungkan semua langkah - langkah ya.."
"Siap tuan.."
"Ya sudah kau boleh keluar.."
"Saya permisi.." pamit Noah yang kemudian keluar dari kamar Haiden.
Seharian ini Haiden tidak berangkat bekerja dan berada di dalam kamar. Tubuhnya masih belum kembali seperti semua. Ia beristirahat di rumah.
Haiden mengambil secangkir teh hangat yang disediakan oleh Eda. Ia berjalan menuju balkon pikirannya selalu tertuju pada Aira. Entah kenapa ia begitu merindukannya.
"Aauuww.. apa ini.." gumam Haiden. Ia mengambil sesuatu yang telah terinjak oleh kakinya. Kancing.. kancing baju siapa ini.. ini bukan milikku.. aneh sekali kamar ku selalu bersih kenapa bisa ada kancing baju tercecer di sini batinnya keheranan.
Haiden segera keluar kamar dan memanggil Eda.
"Perintah tuan.."
"Kau tahu ini kancing apa..? kancing bajuku tidak ada yang seperti ini.." tanya Haiden sambil menyerahkan kancing yang dia temukan ke Eda.
Eda melihat dengan seksama "Maaf tuan ini sepertinya kancing baju milik pelayan.. karena memiliki kualitas yang biasa saja.."
Pelayan..? milik Aira kah..? kenapa kancing bajunya lepas dan ada di kamarku..?
☘☘☘☘☘