My Desire

My Desire
Kepulangan Azkara



"Yang keras Abi.. mana kekuatanmu..?"


"Ini mijatnya juga sudah maksimal tuan.."


"Tidak terasa sama sekali.."


"Itu karena badan tuan keras kayak tembok.." gumam Aira.


"Jangan menggerutu di belakangku.. pijat saja terus sampai aku tidur.."


"Baik tuan.."


Dengan susah payah Aira memijat tangan, badan dan kaki Haiden hingga tertidur. Aira melihat sudah tidak ada pergerakan dari tuannya.


"Tuan.. tuan.. tuan.." panggilnya lirih. Tidak ada jawaban dari Haiden. "Yes.. sudah tidur aku akan kembali ke kamar.." Aira kegirangan. Dengan perlahan ia turun dari atas tempat tidur.


"Mau kemana..?" tanya Haiden tiba - tiba dengan suara parau.


"Tuan belum tidur..? pura - pura tidur ya..?"


"Aku tidak akan mempermudah hukumanmu.. aku jamin semalaman kau akan memijatku.."


"Hmm.. saya permisi mau ambil minum tuan.."


"Cepat kembali.."


"Baik tuan.." jawab Aira. Padahal seluruh tangan dan jarinya sudah terasa pegal dan kebas. Haiden ini badannya besar dan keras. Akibat latihan gym yang selalu rutin dia lakukan.


"Abi.."


"Iya.. iya tuan.. ini baru jalan.."


"Cepat.."


Aira segera naik lagi ke atas tempat tidur dan mulai memijat lagi.


"Hmm.. lebih baik tuan menikmati saja pijatan saya.. sehingga badan lebih rileks.." saran Aira


"O..o.. berani mengatur sekarang.. kau menyuruhku diam dan tidak bicara agar aku cepat tidur.. itu kan maksudmu..?"


"Bbukan tuan.. saya tidak berani.."


"Bagus kalau kau sadar diri.."


Suasana hening sejenak tanpa obrolan dari Haiden dan Aira. Hampir saja Aira tertidur, matanya itu hampir tidak bisa dikondisikan


"Abi.."


"Eh ya tuan.."


"Kau mengantuk..?"


"Tidak tuan.."


"Jangan bohong.. kekuatan memijatmu berkurang.."


"Oh.." Aira kembali menambah kekuatan memijatnya.


"Sudah berapa lama kau pacaran dengan Aira..?"


"Hmm.. sudah dua bulan tuan.." jawab Aira berbohong. Ia jadi geli karena berpacaran dengan dirinya sendiri.


"Bagaimana kalian kenal..?"


"Dia tinggal di sebelah rumah nona Ivanka tuan.." jawab Aira. Terbersit rasa penasaran di hati Aira mengenai suatu hal. "Menurut tuan kekasih saya cantik atau tidak..?"


"Kalau menurutmu dia pasti cantik.."


"Yang saya tanya pendapat tuan.."


"Kau begitu peduli dengan pendapatku..?"


"Ya kalau tuan keberatan tidak apa - apa.."


"Kalau aku bilang cantik apakah kau bersedia memberikannya padaku..?"


"Kekasih saya bukan barang tuan.." jawab Aira. Tuan pasti mau mengatakan aku jelek. Yah orang kaya seleranya pasti tinggi tidak mungkin mengatakan orang miskin seperti aku cantik. Sabar.. sabar.. nanti kalau aku sudah tidak menjadi jaminan aku akan pergi dan membuat diriku sendiri bahagia batin Aira.


"Kenapa diam..?"


"Tidak apa - apa tuan.. saya konsentrasi memijat badan tuan.." jawab Aira. Ia sebenarnya lebih ke arah kecewa dengan jawaban Haiden. Karena ketika melihat aslinya siapa dia Haiden tidak mengatakan dia cantik.


Suasana hening kembali sampai hampir setengah jam. Entah bagaimana ceritanya rasa kantuk melanda Aira. Berkali - kali ia memejamkan mata kemudian tersadar kembali.


Aduh kenapa rasanya ngantuk sekali. Mata ku sudah tidak bisa dikondisikan lagi batin Aira. Tiba - tiba ia jatuh tertidur di atas punggung Haiden.


"Abi.." panggil Haiden. "Hei.. kamu tidur ya.." ucap Haiden sambil menggoyangkan tubuhnya. "Abi.. " panggilnya lagi tapi tidak ada jawaban. Yang terdengar adalah dengkuran lembut. Haiden kemudian membalikkan badannya pelan - pelan. Ia hanya tersenyum melihat Aira sudah tertidur pulas.


Haiden memindahkan posisi Aira menjadi tidur disampingnya. Dipandangi wajah Aira yang damai ketika tidur. Dibelainya dengan lembut pipi Aira.


"Kamu cantik Aira.. sangat cantik.." ucapnya lirih. Kemudian dengan lembut diciumnya bibir mungil yang sudah menjadi candu untuknya berulang kali.


"Tuan El.." Aira mengigau. Haiden menghentikan kegiatannya takut ketahuan. "Pijatnya sudah.. tangan saya capek.." igaunya lagi.


Haiden yang mendengar tersenyum.


Tanpa sadar Aira bergerak memeluk Haiden seperti guling, kepalanya menempel di dada. "Hmm.. nyamannya.." tingkah Aira seperti seekor kucing yang manis..


"Kau mau menggodaku Aira.. menggemaskan.." bisik Haiden di telinga Aira. Kemudian membalasnya dengan pelukan hangat dan tertidur di samping Aira..


☘☘☘☘☘


"Oahhamm.." Aira menggeliat meregangkan otot - ototnya. Semalam tidurku nyaman sekali batin Aira. Tunggu ini bulunya siapa.. Aroma ini sepertinya aku kenal batin Aira.


Ia kemudian mendongakkan kepala.. "Hah tuan.." ucapnya lirih.. Ia kemudian menutup mulutnya takut akan membangunkannya. Diangkat kakinya yang membelit tubuh tuannya itu pelan - pelan dengan tahan napas. Setelah berhasil lepas ia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit ke pinggir tempat tidur kemudian turun.


Aduh kenapa sih aku bisa ketiduran.. mana sambil memeluk dan tuan nggak pakai baju lagi.. kira - kira penyamaranku terbongkar tidak ya batin Aira. Sambil berjingkat - jingkat ia segera keluar dari kamar Haiden dan menarik napas lega. Aira segera menuju ke kamarnya sendiri untuk segera mandi.


Haiden yang sebenarnya sudah terbangun hanya tersenyum melihat tingkah pelayan pribadinya itu. Setelah lama ia mengetahui penyamaran Aira ia sama sekali tidak menemukan niat jahat yang ditujukan untuk dirinya maupun keluarganya. Dan sepertinya penyamaran ini bukan karena keinginannya. Tapi lebih karena terpaksa. Saat ini Haiden hanya memikirkan nasib Aira karena tidak tahu kalau Baskara sudah menyatakan tidak sanggup untuk membayar hutang jadi dengan kata lain menjadi jaminan seumur hidup.


Deerrttt.. Deerrtt.. suara handphone Haiden bergetar..


"Halo bu.."


"El sayang.. kapan kamu pulang.."


"Bagus.. nanti sekalian kamu jemput Azkara.."


"Azkara..? ia mau pulang..?"


"Iya.."


"Baiklah nanti aku jemput bu.."


"Terima kasih sayang..." ucap Harika dan menutup panggilannya..


Haiden turun dari tempat tidurnya dan memandang ke arah jendela. Azkara pulang, aku takut penyamaran Abi akan terbongkar batin Haiden.


"Noah jadwal untuk hari ini masih ada..?"


"Tidak ada tuan.. hanya.."


"Hanya apa..?"


"Makan malam bersama nona Shiena.. sepertinya ia sangat berharap dapat makan malam bersama tuan.."


"Batalkan saja.. kirimkan bunga atau hadiah apalah yang menurutmu bagus.."


"Baik tuan.."


"Oya suruh Abi berkemas.. setelah sarapan kita pulang ke Jakarta.. hari ini Azkara pulang.."


"Nona Azkara pulang tuan..? seharusnya tuan senang kenapa terlihat ada yang dipikirkan.."


"Iya.. aku takut ia akan mengetahui penyamaran Abi.."


"Bukankah bagus jadi Abi tidak perlu repot berpakaian pria tuan.."


"Kau tahu.. ada beberapa hal yang masih mengganjal perasaanku.. selain memang dia disuruh Baskara pasti ada motif lain yang membuatnya bertahan bekerja di rumahku.."


"Jadi tuan ingin tahu motif terselubung Abi..?"


"Yah begitulah.." ucap Haiden sambil menghela napas. "Kau boleh keluar laksanakan semua yang aku perintahkan tadi.."


"Baik tuan.."


"Oya.. apakah pelayan ibu yang baru sudah mulai bekerja..?"


"Sudah tuan.. mulai hari ini.."


"Bagus.."


"Kalau begitu saya permisi tuan.."


Noah segera keluar kamar melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Haiden.


☘☘☘☘☘


"Hari ini nona Azkara pulang tuan..?" tanya Aira berhati - hati


"Iya.."


Kok tumben tuan jawabannya cuma singkat. Apa tuan masih marah karena aku tertidur semalam. Mudah - mudahan tuan tidak ingat apa yang terjadi semalam batin Aira.


"Abi.."


"Ya tuan.."


"Kenapa setelah kamu pijat badanku tambah pegal - pegal..?"


"Benarkah..? mana yang pegal tuan..?"


"Lenganku ini ketika bangun kesemutan.." jawab Haiden. Waduh itu pasti karena semalam tertindih kepalaku batin Aira.


"Pinggang dan kakiku juga terasa pegal.." ucap Haiden lagi. Gawat.. gawat itu karena tertimpa kakiku batin Aira cemas. "Dan juga dadaku, pagi tadi juga terasa sesak.."


"Uhuk..uhuk..uhuk.." Aira terbatuk - batuk.


"Kenapa..?"


"Tidak apa - apa tuan.. tenggorokan saya agak gatal.."


"Kamu semalam tidak salah memijat kan..?"


"Tidak.. tidak tuan.. saya mana berani berbuat seperti itu.." jawab Aira gugup.


"Mungkin semalam mimpi tertindih Gorila.." ucap Haiden sambil tersenyum.


Apa aku disamakan dengan Gorila.. untung tampan kalau tidak sudah aku pukul kepalanya batin Aira setengah geram.


Haiden yang melihat reaksinya jadi tersenyum sendiri.


"Kenapa sewot..?"


"Tidak sewot tuan.. siapa tahu tuan bermimpi dengan bidadari bukan Gorila.."


"Tidak mungkin.. kalau dengan bidadari yang ada akan aku ajak bercinta.. dan pastinya badanku akan lebih segar.."


"Iya.. iya Gorila.. Gorila yang besar tuan.. mungkin King Kong.."


"Hahahahh.. kamu benar.." Haiden tertawa terbahak - bahak sedangkan Aira hanya memayunkan bibirnya saja sambil memandang keluar jendela.


Tak berapa lama mereka sampai ke Bandara, dengan menaiki pesawat pribadi perjalanan mereka tidak perlu memakan waktu lama. Dan akhirnya sudah sampai ke Jakarta.


"Kita jemput Azkara dulu.."


"Baik tuan.." jawab Aira dan Noah bersamaan.


Aku jadi penasaran bagaimana wajah nona Azkara ini. Karena tuan sangat menyayanginya batin Aira.


Setelah menunggu selama setengah jam akhirnya tampak dari kejauhan seorang gadis muda ia berlari ke arah Haiden. Dan memeluknya erat..


"El.." teriaknya


"Selamat datang Azka.."


☘☘☘☘☘