My Desire

My Desire
Sidang Dave



"Perutmu tidak apa - apa sayang..?" tanya Haiden sambil menyelimuti tubuh istrinya.


"It's oke.. aku menyukainya.."


Haiden tersenyum ia memeluk Aira dari belakang dan membelai perutnya dengan lembut "Sudah mulai besar.."


"Iya.. hamil kali ini beda dengan Rafael.."


"Benarkah..?"


"Aku tidak merasakan mual ataupun muntah.. apa karena ada kau disisiku..?"


"Hmm.. mungkin saja.." jawab Haiden seadanya. Ia mulai menciumi dan tangannya yang sudah tidak bisa di kondisikan. Meraba ke bagian sensitif milik istrinya.


"Kau ingin El..?"


"Hmm.. kalau boleh.."


"Tentu saja sayang.. aku menyukainya.."


Tidak perlu menunggu komando untuk kedua kalinya, dengan cepat Haiden kembali melakukan hal - hal panas dan menggelitik yang sangat di sukai oleh Aira. Ia tidak pernah bosan dengan apa yang di berikan oleh suaminya itu.


Setelah melakukan permainan panas mereka untuk yang kedua kalinya. Aira tertidur dengan sangat pulas. Haiden membenarkan letak selimut istrinya dan kemudian turun dari tempat tidur. Ia melakukan panggilan dengan seseorang.


"Kau hubungi pengacara yang menangani Dave.. kita bicara bertiga lewat VC saja, istriku baru tidur.." Haiden segera membuka laptop.


"Baik tuan.." jawab Noah.


Tak perlu memakan waktu yang cukup lama mereka melakukan diskusi untuk kasus Dave.


"Bagaimana perkembangannya..? laporkan padaku.."


"Maaf tuan kami sudah berusaha membantu untuk meringankan hukuman yang di jatuhkan oleh pengadilan.."


"Maksudmu..?"


"Ternyata hukuman untuk pengedar narkoba yang tidak bisa mendapat keringanan.. beruntunglah Dave baru sebentar melakukan pekerjaan itu.."


"Aku sebenarnya sudah bisa memperkirakan hasilnya akan seperti ini.. tapi kalian tahu kan.. dia orang yang sudah menyelamatkan istriku.."


"Maafkan saya sekali lagi tuan.."


"Berapa kira - kira hukuman yang akan di jalan oleh Dave..?"


"Sepuluh tahun tuan.."


Haiden diam dan tampak berpikir "Aku menghargai jerih payah kalian.. aku rasa pengurangan hukumannya dari awal sudah cukup banyak.." ucap Haiden. "Noah segera kau lakukan semua yang dibutuhkan untuk sidang akhir.."


"Baik tuan.." jawab Noah


"Terima kasih tuan.." jawab pengacara


Tiba - tiba


"Bicara dengan siapa El..?"


"Aku sudahi dulu.. istriku sedang mencariku.." ucap Haiden sambil menutup laptop. "Dengan Noah sayang.." jawab Haiden. "Apakah tidurmu tidak nyaman..?"


"Tidak.. aku hanya merasa haus.."


"Sebentar aku ambilkan minum.." Haiden menuangkan air ke dalam gelas dan memberikan ke istrinya.


"Terima kasih.." Aira meminumnya dan kembali meletakkan nya di nakas. "Kau berbicara masalah Dave..?"


"Ya.. kau dengar..?"


"Maaf aku tidak sengaja sayang.."


"Tidak apa - apa.. justru aku yang minta maaf padamu.. Dave masih harus mendapat hukuman.."


"Bukan salahmu El.. kau sudah mengerahkan semua kemampuanmu.. menjadi pengedar adalah suatu hal yang fatal walaupun ia lakukan dengan terpaksa.. seharusnya ia tidak merusak generasi muda.."


"Kau tidak tahu kalau Dave pengedar..?"


"Tidak.. aku tidak tahu.. aku hampir tidak pernah bertemu dengannya sejak bekerja di rumah ini.. tapi dulu waktu tinggal bersama ia orang yang tidak pernah menindasku.. ia lebih banyak diam dengan apa yang di perbuat tante Nungki dan Ivanka.."


"Aira.."


"Ya.."


"Aku ingin setelah anak kita lahir, kita sekeluarga tinggal di Turki untuk sementara waktu.. aku ingin mengenalkanmu pada tempat kelahiranku.."


"Bagaimana dengan perusahaan..?"


"Ada Azka yang mengurusnya.."


"Aaa.. aku jadi tahu kenapa kau menyuruhnya belajar.."


"Iya mungkin satu atau dua tahun aku akan cuti sementara dari dunia bisnis.. aku akan fokus padamu dan anak - anak kita.."


"Kau tidak apa - apa meninggalkan dunia yang telah membesarkan namamu..?"


"Tidak apa - apa.. toh hanya sementara.."


"Kalau memang itu yang kamu inginkan aku akan dengan suka cita menerimanya.. aku senang kau memperhatikan aku dan anak - anak.." ucap Aira sambil mengelus perutnya yang tampak mulai membuncit. "Oya.. kenapa harus Noah yang menjadi pembimbing Azkara..?"


"Karena hanya dia yang mampu menghadapi Azkara yang keras kepala dan bertingkah seperti anak kecil.."


"Benarkah Noah sesabar itu..?"


"Kau lihat.. dia sabar melayaniku hampir sepuluh tahun.. dia tidak pernah mengecewakan dan setia padaku.."


"Yah mudah - mudahan Noah berhasil menghadapi Azkara.."


"Hmm.. kita tidur.. kau pasti masih capek.."


"Jangan tinggalkan aku sendiri.."


"Tidak sayang.. aku akan tidur bersamamu.." ucap Haiden sambil memeluk Aira dari belakang.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Eda buatkan aku teh mint.."


"Baik nyonya.."


"Oya kau lihat Azka..? seharian ini ia tidak ke kamarku.."


"Nona Azka sedang belajar bersama Noah.."


"Hmm.. tumben dia patuh pada Noah.."


"Mungkin nona sudah mulai dewasa nyonya.."


"Hahahahhh.. mungkin saja.."


"Bukan mungkin tetapi sudah, ibu.." sela Azkara tiba - tiba dari belakang. Azkara kemudian mencium pipi Harika. "Aku sudah dewasa ibu.."


"Iya.. iya ibu percaya.."


"Akan ku buktikan pada El kalau aku bukan anak kecil lagi.."


"Tapi di mata ibu kau tetap putri kecilku yang manja.."


"Ini tehnya nyonya.." Eda menyerahkan teh mint permintaan Harika.


"Terima kasih Eda.." ucap Harika sambil meminumnya.


Tok.. tok.. tok.. tok..


Eda membuka pintu kamar Harika.


"Maaf ada Noah nyonya.." lapor Eda.


"Sepertinya kau harus belajar lagi.." Harika tersenyum melihat mimik putri kesayangannya itu langsung berubah ketika mendengar nama Noah. "Eda.. suruh Noah masuk.. aku akan bicara padanya.."


"Baik nyonya.." Eda segera mempersilahkan Noah masuk.


"Duduklah Noah.."


"Baik nyonya.."


"Bagaimana perkembangan putriku dalam berbisnis..?"


"Sangat baik nyonya.. hanya saja...." Noah tidak melajutkan perkataannya.


"Hanya saja apa..?"


"Nona Azkara kurang disiplin.."


"Hei.. hei.. jangan kau beri laporan palsu ya pada ibuku.."


"Azka diamlah sebentar.. biarkan Noah menyampaikan pendapatnya.." ucap Harika. "Lanjutkan Noah.."


"Untuk bisnis sendiri nona Azka sebenarnya sudah memiliki dasar.. hanya perlu tambahan pengalaman saja dan mau terus belajar.."


Hmm.. menjelek - jelekkan aku di depan ibu.. tunggu saja pembalasan dariku batin Azkara sambil tersenyum smirk. "Ah ibu.. jangan bertanya - tanya lagi pada Noah.. ibu harus percaya kalau aku bisa.."


"Ayo kita belajar lagi.." ajak Azkara tiba - tiba. "Ibu aku permisi dulu.."


Azkara dan Noah keluar dari kamar Harika. Azkara berjalan di depan Noah dan berjalan ke dapur.


"Maaf nona ruang baca ada di sebelah sana.." tunjuk Noah


"Hmm.. aku lapar.."


"Baiklah.."


Azkara mulai melihat - lihat isi almari pendingin dan beberapa almari persedian bahan makanan.


"Akan saya panggilkan Mustofa.."


"Tidak perlu.." tolak Azkara. "Oya kau ingin aku belajar serius dan lebih disiplin kan..?"


"Betul nona.."


"Oke.. aku ada satu syarat.."


"Apa itu..?"


"Kau tahu kan aku kurang pandai memasak.. karena hari ini aku sangat ingin membuat kue jadi aku mohon kau jadi pencicip kue buatanku yang pertama.. bagaimana..?"


"Baiklah.. tapi nona berjanji.." tegas Noah


"Of course.."


Azkara mulai membuat kue Muffin coklat. Sebenarnya jika dilihat ia cukup mahir membuat kue. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama kue Muffin coklat ini sudah selesai di panggang dengan sempurna.


"Ayo silahkan di coba.."


"Jika melihat cara dan hasilnya sepertinya nona cukup mahir di dapur.."


"Ah jangan berkata seperti itu.. coba dulu setelah itu baru kau beri penilaian.."


"Baik nona.."


Noah mulai mencicipi kue Muffin coklat buatan Azkara.


"Bagaimana..?"


"Enak nona.."


"Berapa nilai..? harus jujur.."


"Delapan.."


"Yes.. aku berhasil.." teriak Azkara kegirangan. "Kalau begitu ayo kita belajar lagi.."


"Baik nona.."


Mereka berdua berjalan menuju ruang baca untuk kembali belajar bisnis sesuai dengan perintah Haiden.


Azkara membaca beberapa berkas yang di berikan oleh Noah untuk dipelajari. Ia harus terbiasa dengan berbagai macam penawaran atau tender dari perusahaan - perusahaan termasuk kontrak kerja.


Baru beberapa menit mereka mulai belajar, tampak Noah yang berkeringat dan gelisah. Ia berjalan mondar mandir.


"Kenapa..?"


"Tidak apa - apa.."


"O.. o.. jangan bergerak - gerak aku tidak bisa konsentrasi.."


"Baik nona.." jawab Noah. Sial kenapa perutku sakit sekali batin Noah, jangan - jangan nona memasukkan sesuatu ke dalam adonan roti tadi.


"Noah.."


"Yyya nona.." jawab Noah terbata - bata karena menahan perutnya yang sakit.


"Aku tadi lupa bilang padamu.."


"Soal apa nona..?"


"Adonan Muffin tadi aku campur dengan garam inggris.. jadi kalau saat ini kau ingin ke belakang bilang saja tidak usah malu.." ucap Azkara dengan nada santai dan terus membaca berkas.


Sial..! aku kecolongan batin Noah sambil mengepalkan tangannya.


"Lain kali.. lapor ke ibu hal - hal yang baik saja.. oke.." ucap Azkara. "Selamat bolak balik ke kamar mandi ya.. hati - hati.." Azkara mengerlingkan matanya sambil tersenyum bahagia pada Noah.


Noah hanya diam dan memandang tajam ke Azkara. Keringatnya bercucuran dan wajahnya memerah. Tak lama kemudian ia segera keluar dari ruang baca dan tidak kembali lagi.


"Aku akan menaklukanmu nona.." gumam Noah di dalam kamar kecil.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Dave.."


"Aira.. tuan Haiden.."


"Kau tidak apa - apa..?"


"Aku baik - baik saja.." ucap Dave. "Terima kasih sudah mau datang.."


"Dave maafkan aku dan suamiku karena tidak bisa banyak membantumu.."


"It's oke Aira.. ini adalah hukuman yang pantas buatku.. setelah apa yang aku lakukan sama sekali tidak membawa kebaikan untuk diriku.."


"Sekarang om Baskara sudah banyak perhatian denganmu.."


"Yah benar.. papa selalu menemaniku dan ini merupakan motivasi buatku selama menjalani masa rehabilitasi.."


"Aku harap setelah menjalani masa hukuman ini.. kau bisa merencanakan hidupmu menjadi lebih baik.." ucap Aira


Ada dua petugas dengan seragam datang mendekat ke sel Dave


"Maaf.. saudara Dave akan segera kami bawa ke persidangan.."


"Silahkan.." jawab Aira.


Ini merupakan sidang terakhir dari kasus Dave. Hari ini akan di bacakan keputusan hakim mengenai berapa tahun Dave harus menjalani hukuman atas perbuatannya.


Semua yang hadir dalam kondisi tenang termasuk Dave yang memang sudah ikhlas menerima semua ini.


Aira, Haiden dan Baskara duduk bersama di dalam persidangan untuk mendengar keputusan hakim.


"Tersangka saudara Dave berdasarkan saksi - saksi dan bukti.. telah melakukan penyalahgunaan obat - obat terlarang dan juga menghilangkan nyawa seseorang karena membela diri maka akan kami jatuhi hukuman sepuluh tahun penjara dengan rehabilitasi dari ketergantungan obat.."


Walaupun dari awal Aira sudah tahu hukuman yang akan di jatuhkan pada Dave, tapi raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Apalagi Baskara yang menitikkan air mata.


Berbeda dengan Aira dan Baskara. Justru Dave tampak tegar mendengar keputusan dari hakim. Ia sudah menjadi pria dewasa.


"Terima kasih Aira.. pa.. tuan Haiden.."


"Kami akan sering menjengukmu Dave..dan jaga kesehatanmu di dalam sana.." ucap Aira.


"Kau juga.. kapan keponakanku ini akan lahir..?"


"Mungkin lima bulan lagi.." jawab Aira.


"Aku turut bahagia melihat kehidupanmu yang sekarang.. tuan Haiden sangat beruntung.."


"Yah kau benar.." Haiden membenarkan ucapan Dave.


"Pa.. jaga kesehatanmu.. aku pergi dulu.."


Dave memeluk Baskara dengan erat. Dengan tegar Baskara melepas putra kesayangannya itu masuk ke dalam penjara. Sepeninggal Dave, Aira berbincang sebentar dengan Baskara.


"Om ada yang ingin di sampaikan suamiku.."


"Oh.. silahkan tuan.."


"Jadi begini tuan Baskara.. aku akan mengembalikan perusahaan mu kembali.."


"Maksud tuan.. saya bisa bekerja lagi..?"


"Bukan hanya bekerja akan tetapi menjadi pemilik yang sah dari perusahaan yang selama ini anda kelola.. aku harap anda bisa lebih serius menjalankan perusahaan.."


"Terima kasih tuan Haiden.. terima kasih Aira.." rona bahagia tersirat dalam wajah Baskara.


"Kalau begitu kami permisi dulu om.." pamit Aira.


Mereka berdua berjalan keluar dari kantor pengadilan negeri.


"Kau tidak apa - apa jika perusahaan yang seharusnya milikmu menjadi milik Baskara..?"


"Aku tidak apa - apa El sayang.. Aku sudah sangat bahagia dengan memilikimu seutuhnya.. aku tidak membutuhkan apa - apa lagi.." ucap Aira. "Terima kasih sayang selalu ada untukku.."


"Hmm.. i love you Aira.."


"I love you too El.."


"Ayo kita pulang.. aku rindu dengan anakku.." ucap Haiden sambil mengecup kening Aira.


🌸🌸🌸🌸🌸