
"Tuan El jangan tinggalkan saya.."
"Abi.. syukurlah kamu tidak apa - apa.." ucap Haiden lega. "Ayo kita berteduh dulu.. kalau hujan sudah agak reda kita pulang.."
"Baik tuan.."
Mereka kembali ke dalam goa untuk berteduh sebentar.
"Dingin..?"
"Tidak tuan.. kan saya pria yang kuat.."
"Hmmm.. siapa bilang kamu kuat..? buktinya wajahmu pucat.."
"Ini karena terkena air tuan.."
Waduh.. bajuku basah.. jangan - jangan dalamanku juga kelihatan.. kenapa tadi aku pakai kaos tipis warna putih.. mudah - mudahan tuan tidak menyadarinya doa Aira.
"Abi sepertinya hujan sudah reda.. ayo kita pulang.."
"Baik tuan.."
Mereka berdua keluar dari goa. Karena takut ketahuan Aira berjalan di belakang Haiden.
"Kenapa jalan dibelakangku..?"
"Hmm.. itu tuan.. kan saya pelayan tuan jadi saya menjaga dari belakang.."
"Bodoh.. tidak ada pelayan jalan di belakang tuannya.. yang ada justru mereka di depan.."
"Tapi saya kan tidak tahu arah pulang tuan.."
"Ya sudah kali ini aku mentolilernya.. dan tidak ada lain kali.."
"Siap tuan.." jawab Aira senang
Aku tahu kamu takut kalau penyamaranmu terbongkar gara - gara tubuhmu yang basah batin Haiden.
Setelah menempuh perjalanan hampir lima belas menit akhirnya mereka sampai pada tepi pantai.
"Loh kok cuma sebentar sudah sampai pantai.." Aira keheranan.
"Itu karena kamu bodoh.."
"Tuan jangan menghina lagi.. dalam acara kemah ini saya yang paling menderita.."
"Maksudmu..?"
"Kemarin saya pingsan seharian, terus hari ini saya kesasar.. kapan saya bisa bersenang - senang seperti yang lainnya..?"
"Oke.. kalau itu maumu.. aku akan memberimu waktu untuk bersenang - senang.."
"Benarkah..?" ucap Aira dengan mata berbinar
Haiden mengangguk "Tapi cuma sebentar karena besok sore kita harus sudah sampai di Jakarta.."
"Siap bos.."
"Hahahhahhh.. kau lucu sekali.." Haiden tertawa terbahak - bahak. "Apa yang ingin kau beli..?"
"Oh disini ada juga souvenir tuan..?" tanya Aira tak percaya.
"Ada.. beberapa penduduk desa di pulau seberang menghasilkan beberapa barang kerajinan laut, karena ibu menyukai mutiara jadi mereka sering mengirimnya kesini.."
"Mutiara...pasti harganya mahal.."
"Macam - macam.. tergantung kualitas.."
"Oh.. kalau begitu saya akan beli yang murah.."
"Untuk siapa..? pacarmu..? sahabatmu..?"
"Hmm.. untuk.." jawab Aira ragu - ragu. Karena sebenarnya dari dulu ia ingin perhiasan dari mutiara. Tapi tidak mungkin saat ini ia mengaku kalau menginginkan mutiara karena ia seorang pria.
"Untuk pacar kamu tentunya.." pancing Haiden.
"Eh.. iya tuan.." jawab Aira gugup. "Oya tuan saya masuk kedalam dulu.." pamit Aira untuk mengalihkan pembicaraan.
Haiden hanya tersenyum melihat gelagat pelayan pribadinya itu.
"Sepertinya kamu menikmati momen - momen bersama pelayan kecilmu itu keponakanku.." ucap Kemal yang tiba - tiba sudah berada di belakangnya.
"Paman..? apa yang kamu lakukan disini..?"
"Ibu mu yang mengundangku.."
"Tidak mungkin.. ini liburan keluarga kami.. tidak mungkin ibu mengundangmu ke sini tanpa ijin dariku.."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak.. kau bisa menanyakan sendiri padanya.."
"Aku minta paman segera pulang..!"
"Hmm.. tidak mungkin aku pulang sekarang.. kau pasti tidak mau melihat ibumu sedih bukan.."
Kurang ajar.. dia berani - beraninya menggunakan ibu sebagai tameng batin Haiden geram.
"Oya satu lagi.. pelayan kecilmu itu lama - lama semakin menarik.. membuatku penasaran.." ucap Kemal dengan senyuman licik.
"Jangan kau sentuh orangku..! berani kau menyentuhnya aku pastikan tamat riwayatmu..!" ancam Haiden sambil pergi meninggalkan Kemal.
Ia menuju ke kamar ibunya untuk meminta penjelasan.
"Ibu.."
"Ada apa El..? kau ingin bertanya kenapa aku mengundang Kemal dan Olif..?"
"Iya.. aku ingin penjelasan.. kenapa ibu mengambil keputusan tanpa persetujuanku dulu..?"
"Duduklah dulu.. akan ibu jelaskan.."
Masih dengan wajah penuh emosi Haiden akhirnya menuruti perintah Harika.
"Ibu teringat pesan almarhum ayahmu.. agar menjaga keutuhan keluarga besar Lukashenko.. dan kau tahu Kemal itu siapa..? dia adik dari ayahmu.."
"Aku tahu itu.. dia keluarga kita.. tapi apa ibu tahu kejahatan yang telah dia lakukan.. terutama denganku.."
"Tapi sampai saat ini kau belum bisa membuktikan kalau dia pelaku dibalik semua kejadian yang menimpamu.. kita tidak bisa menuduh tanpa bukti El.."
"Baiklah.. akan aku buktikan ke ibu siapa sebenarnya Kemal.."
"Terserah bagaimana langkahmu.. untuk sementara ini yang aku tahu dia baik dan keluarga kita.."
"Tunggu saja bu.. tapi aku ingin setelah aku bisa membuktikan itu semua.. aku harap ibu bisa menjauh darinya.. aku mohon.."
"Baiklah El aku turuti permintaanmu.."
"Kalau begitu aku permisi ibu.."
Haiden segera keluar dari kamar Harika dengan wajah kesal. Ia penuh dengan kemarahan. Kemudian ia bergegas ke kamarnya ia takut kalau apa yang dikatakan Kemal akan jadi kenyataan.
"Abi.. Abi.. Abi.. kamu dimana..?!" teriaknya. Haiden mencari ke segala penjuru ternyata orang dicari tidak ada. "Sial..! kemana anak itu..! aagghhh..!" teriaknya. Ia keluar untuk memanggil Eda.
"Eda.. Eda.. Eda..!"
"Maaf tuan tadi saya melihat Eda pergi dengan Abi.."
"Kemana mereka pergi..?"
"Tadi Abi ingin melihat kerajinan penduduk sini.." jawab salah satu bodyguard.
"Mereka hanya pergi berdua..?"
"Ya tuan.."
"Kalian ini bodoh..! kenapa kalian tidak ikut.."
"Maaf tuan.. tidak ada perintah.."
"Kalau terjadi apa - apa dengan mereka kalian akan menerima akibatnya.." ucap Haiden sambil pergi mencari Noah.
"Tuan kenapa sih.. mereka berdua kan cuma pelayan.."
"Benarkah..? wah kalau memang terjadi apa - apa dengan mereka kita pasti terima hukumannya.."
"Itu pasti.. mengingat bu Eda pernah kecelakaan.."
"Ah sudahlah.. kalau salah kita siap terima hukumamnya.."
☘☘☘☘☘
"Wah bagus - bagus semua bu Eda.."
"Iya ini semua kerajinan asli penduduk sini.." ucap Eda. "Apa ada yang kamu suka..?"
"Jelas ada donk bu.." jawab Aira mantab, sadar akan kekeliruannya "Eh maksud saya untuk pacar saya.."
"Kamu punya pacar..? sejak kapan..? yang ku tahu kamu punya dua orang sahabat.."
"E.. e.. e.."
"Mungkin baru pendekatan Eda.." sahut Haiden tiba - tiba.
"Eh tuan.." ucap Aira dan Eda. Haiden mendekati Eda dan mengajaknya ke etalase.
"Kau ingin membeli apa Eda..? apa ada yang kau suka..?"
"Ada tuan.. saya suka denga bros ini.." tunjuk Eda pada sebuah bros dari mutiara dan sedikit batu giok berwarna hijau.
"Hmm.. bagus aku belikan untukmu.."
"Terima kasih tuan.."
Haiden melirik sekilas ke arah Aira yang sedang memilih sebuah kalung perpaduan antara mutiara hitam dengan batu safir.
Duh indahnya pasti harganya sangat mahal. Yah akhirnya aku hanya bisa memegang saja batin Aira terus menatap. Ia membelai sejenak kalung itu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membeli tiga buah penjepit rambut.
"Beli apa..?"
"Eh tuan.. kaget saya.." ucap Aira. "Ini penjepit rambut.."
"Tidak ingin membeli sesuatu yang istimewa untuk kekasihmu..?"
"Tidak tuan.. ini sudah cukup untuk oleh - oleh teman saya.."
"Oya bagaimana menurut pendapatmu tentang kalung ini..?" tanya Haiden. Ia menunjukkan kalung yang tadi sempat ia pandang lama dan kagumi.
"Bagus tuan.. sangat bagus.."
"Apakah Ivanka akan suka..?"
"Ivanka..?" tanya Aira, wajahnya berubah kecewa.
"Iya saudara sepupumu itu.. apakah ia akan menyukai kalung ini..?"
Ternyata dia ikut kesini karena juga akan membelikan perhiasan untuk Ivanka. Aku pikir karena tuan mencariku. Kenapa aku jadi sedikit sedih dan kecewa dengan apa yang tuan lakukan. Aku sangat menyukai kalung itu. Tapi apa daya sekarang aku menyamar sebagai seorang pria. Dan tuan akan memberikan itu untuk Ivanka.
"Ivanka suka perhiasan, ia pasti akan senang dengan kalung itu.."
"Baiklah kalau begitu.. aku akan membelinya.."
"Silahkan tuan.. kalau begitu saya permisi karena besok kita sudah kembali ke Jakarta.."
"Hei.. hei.. tidak menungguku dulu.."
"Bukankah sudah ada Noah.. saya akan pulang dengan bu Eda.." jawab Aira. "Mari bu.."
Mereka berdua meninggalkan Haiden dan Noaj sendiri disana.
"Kau lihat Noah.. sikapnya dingin padaku.."
"Sepertinya Abi marah tuan.."
"Atas dasar apa dia marah padaku..?"
"Maaf tuan saya tidak tahu.."
Sementara itu Aira dan Eda berjalan - jalan sebentar di tepi pantai.
"Kenapa wajahmu murung Abi..?"
"Aku hanya tidak habis pikir bu.."
"Soal apa..?"
"Tuan kan tahu Ivanka bukan gadis yang baik.. tapi kenapa tuan masih saja mengejarnya.."
"Darimana kamu tahu tuan masih mengejarnya..?"
"Tadi tuan bertanya padaku bu apakah Ivanka menyukai perhiasan dari mutiara.. itu tandanya tuan perhatian dan peduli.. buktinya pergi sejauh ini dia tetap ingat Ivanka.."
"Kenapa kamu tidak suka..?"
"Aku tidak ingin tuan mendapatkan pendamping hidup yang sama sekali tidak tulus mencintainya.. rela bersama - sama disaat sulit, saat bahagia dan saling menguatkan.."
"Yah.. kau benar.. tuan harusnya mendapatkan sosok pendamping seperti itu.. apalagi tuan dari kecil sudah menderita.. apa yang memotivasi kamu agar tuan mendapat pendamping yang baik.."
"Karena selama aku tinggal di keluarga Lukashenko hanya tuan, nyonya dan kamu bu Eda yang selalu melindungi dan menjagaku.."
"Sudahlah.. jangan bersedih.. tuan pasti mendapatkan pendamping yang hebat.."
Semoga tuhan mengabulkan doa mu bu Eda batin Aira.
"Oya apa rencana untuk masa depanmu..?"
"Entahlah bu Eda.. dulu sebelum aku bekerja untuk tuan, aku selalu bekerja untuk mengumpulkan uang agar aku bisa terlepas dari om dan tante.. tapi sepertinya keinginan itu harus aku pendam untuk sementara waktu.."
"Kau ingin pergi meninggalkan tuan..?"
"Bukan meninggalkan tuan bu Eda, tapi memang harus pergi karena jika hutang om baskara sudah lunas bukankah aku sudah tidak menjadi jaminan lagi.. dan pasti tuan akan menyuruhku pergi.. apalagi kalau tuan sudah menikah pasti tuan sudah tidak membutuhkan aku lagi.. bukankah seperti itu bu Eda.."
"Kau akan pergi kemana..?"
"Hmm.. mungkin aku pergi ke kota kelahiran ibuku.. kemudian aku akan membeli rumah yang kecil tapi penuh kehangatan.. bagaimana menurut bu Eda.."
"Menyenangkan.. aku harap kau bisa bahagia Abi.."
"Terima kasih bu Eda.."
"Ayo kita kembali ke kamar.. kita bersiap karena besok kita sudah kembali ke Jakarta.."
☘☘☘☘☘
"Mana tas tuan..? saya akan membawanya ke pesawat.."
"Disana.." tunjuk Haiden sambil mengancingkan kemejanya.
Aira bergegas mengambilnya dan membawanya keluar kamar.
"Bawaanmu banyak sekali Abi.."
"Tttidak banyak kok tuan Kemal.."
"Sini aku bantu.."
"Tttidak perlu tuan.. saya masih kuat.. permisi.."
"Tunggu.. ayolah Abi jangan tolak bantuanku.."
"Bbukan seperti itu tuan.. saya adalah pelayan dan hal seperti ini adalah tugas saya.."
"Sudah tidak apa - apa.. ini perintah.." ucap Kemal sedikit memaksa. Bahkan ia dengan berani mengambil tas punggung Aira dan menentengnya. Dari kejauhan sepasang mata dengan tatapan dingin dan tajam memperhatikan interaksi mereka. Melihat Abi yang sudah menolak tapi masih dipaksa membuat Haiden tambah geram
"Dia tidak akan melakukan perintahmu paman..! dia orangku dan hanya aku yang boleh memerintahkannya..! jauhi dia..!" teriak Haiden.
"Oh rileks keponakanku.. kau pasti sudah tahu dengan orientasi seksualku bukan.. dan aku menyukai pria lemah gemulai seperti Abi.. dan aku pasti akan merebutnya darimu.. hahahahahhhh.."
ancam Kemal.
☘☘☘☘☘