My Desire

My Desire
Dia Milikku



Aira membuka matanya, ia melirik sekilas jam digital yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Matanya terbelalak tidak percaya bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Aduh kenapa aku bangun terlambat.." ia segera bangun, eh tunggu di mana Rafael bukankah semalam ia di sebelahku. Aira mencari kebingungan, loh kenapa bisa ada di box bayi, perasaan semalam dia menyusu sambil tidur di sampingku pikir Aira bingung. Ah masa bodoh, mumpung dia masih tidur aku harus segera mandi. Aira bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Baru beberapa menit ia mandi terdengar Rafael menangis. "Iya.. iya sebentar sayang.. ibu baru mandi.. tunggu sebentar ya.." teriaknya dari dalam kamar mandi, Aira berusaha mempercepat proses mandi, tapi suara tangisan Rafael semakin keras. Mau tidak mau ia harus keluar melihat Rafael kenapa menangis "Iya.. iya.. ini ibu keluar.." dengan cepat Aira meraih handuk dan membelitkan pada tubuhnya dan segera keluar.


Tapi begitu membuka pintu kamar mandi terkejutlah ia dengan siapa yang sudah ada di depan box bayi Rafael. Ttu.. ttu.. ttuan.. apa yang tuan lakukan disini..?"


"Aku mendengar Rafael menangis jadi memutuskan kesini.." jawabnya. "Tadi kamu juga aku panggil - panggil tapi tidak ada jawaban.."


"Maaf.. saya baru mandi tuan.."


"Teruskan saja.. biar Rafael aku jaga sebentar.."


Aira tampak terdiam mengintip dari balik pintu, ia tampak malu keluar dari kamar mandi karena hanya mengenakan handuk saja. Tapi bagaimana ini tangisan Rafael tambah keras. Eh tunggu dulu bukankah tuan buta, buat apa aku malu toh dia tidak bisa melihat tubuhku, mau pakai handuk, mau telanjang aku rasa aman pikir Aira sambil tersenyum. Sepertinya tuan buta ada gunanya.


Aira kemudian keluar tanpa malu. "Saya sudah selesai mandi tuan.. anda tenang saja.."


"Oh ya sudah.." jawab Haiden. Ia senang bisa melihat tubuh Aira yang sekarang berisi hanya mengenakan handuk saja. Hmm seksi batin Haiden tersenyum nakal.. apalagi jika mengingat kejadian semalam yang membuat tidurnya lelap.


"Kenapa dia menangis..?"


"Sepertinya haus tuan.." jawab Aira. Bukankah kamu semalam minumnya banyak Rafael batin Aira keheranan. Aira mulai menggendong Rafael dan menaruh di pangkuannya setelah di rasa nyaman ia segera mengeluarkan salah satu bukit kembar yang merupakan senjata paling ampuh di kala Rafael rewel. Mungkin bukan hanya berlaku untuk Rafael tapi juga senjata ampuh Haiden agar tertidur lelap.


"Aauuww sakit.." teriak Aira ketika Rafael mulai menyusu.


"Kenapa..?" tanya Haiden.


"Maaf tuan.. tidak ada apa - apa.." jawab Aira. Aneh kenapa terasa sakit ya.. padahal Rafael belum keluar giginya. Apa karena efek terlalu lama menyusu semalam. Coba besok aku konsultasikan ke dokter pikir Aira.


Akhirnya Rafael sudah tidak menangis lagi dan lebih tenang. Aira segera mengganti baju dan mengelap tubuh bayinya dengan air hangat.


"Kania.."


"Ya tuan.."


"Buat aku sarapan.."


"Baik tuan.. tuan mau sarapan apa..?


Aku maunya sarapan dirimu batin Haiden membayangkan betapa nikmatnya jika itu terjadi.


"Tuan.. tuan.." panggil Aira karena tidak ada jawaban.


"Eh.. roti dengan omelet saja.."


"Baik.." jawab Aira. "Tuan mau teh hangat atau susu.."


Hah susu..? semalam aku sudah terlalu banyak lamun Haiden. "Teh mint saja.."


"Baik.. tunggu sebentar tuan.." Setelah menaruh Rafael dalam box bayi. Aira segera berganti pakaian, mengingat tadi hanya mengenakan handuk saja. Dengan santai ia berganti pakaian di depan Haiden, karena buta dan tidak akan melihatnya.


Sial.. kenapa berganti pakaian di depanku. Sesuatu di bawah sana kembali berdiri tegak dan berdenyut. Dia pikir aku buta batin Haiden. Mungkin dia lupa kalau memang saat ini dia pura - pura buta. Haiden segera kembali ke kamarnya dan menuju kamar mandi untuk menidurkan kembali sesuatu yang telah bangun. Mungkin saat - saat ini tangannya akan berguna.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Mari kita bersulang tuan David.."


"Untuk apa..? apakah ada berita yang menyenangkan tuan Kemal..?"


"Operasi donor mata keponakanku yang tercinta telah gagal.."


"Hahahhahhh.. ini baru berita yang benar - benar menyenangkan.."


"Yah.. baru kali ini aku bisa bergerak dengan bebas tanpa diawasi.."


"Dari mana tuan Kemal tahu..?"


"Salah satu penjaga di rumah itu adalah orangku.. ia melihat Haiden masih menggunakan tongkat dan bantuan orang lain untuk berjalan.."


"Bagus.. aku harap dia bisa buta selamanya.."


"Hmm...tuan David.."


"Ya.." jawab David sambil menegak segelas sampanye.


"Tidak bisakah tuan memberikan salah satu proyek anda untuk saya..?"


"Bukankah usaha tuan Kemal sudah banyak dan bertambah maju..?"


"Iya tapi terus terang saya ingin bisa menguasai perusahaan Lukashenko.. tentu saja itu tidak mudah dan murah.. saya butuh uang banyak untuk menyuap beberapa pengacara dan direksi yang lain.."


"Hmm.. tuan Kemal ini rupanya orang yang tidak pernah puas.."


"Tentu saja.. why not.."


"Benar.. sedikit tamak memang tidak apa - apa tuan.. tapi kalau terlalu, ingat anda justru tidak akan mendapatkan apa - apa.."


"Bukankah tuan David juga seperti itu..?" Kemal bertanya sambil menghisap cerutunya dalam - dalam.


"Yah benar saya orang yang haus kekuasaan tapi saya memakai irama tuan Kemal.. itulah kenapa sampai sekarang saya bisa menikmati hidup.."


Ditengah - tengah pembicaraan mereka datang dua wanita seksi membawakan sebotol wine dan beberapa camilan. Salah satu dari wanita itu telah menggoda mata Kemal. David yang melihatnya hanya tersenyum.


"Tenang tuan Kemal.. dua - duanya bisa anda nikmati.."


"Terima kasih atas kebaikan tuan.."


"Tapi sebelumnya saya ingin menanyakan sesuatu dengan anda.."


"Apa itu tuan David..?"


"Bagaimana kabar Ivanka..?"


"Dia masih di ruang ICU.. lukanya cukup parah dan ditambah dengan penyakit yang di deritanya.."


"Penyakit..? penyakit apa itu tuan Kemal..?"


"Kanker Serviks.. itu yang menyebabkan kondisinya terus menurun.."


David diam mendengar penjelasan dari Kemal


"Tuan tidak ingin menjenguknya..?" tanya Kemal.


"Tidak.."


"Bukankah hubungan kalian sangat dekat..?.


"Hubungan kita hanya simbiosis mutualisme.. dia sudah banyak mendapatkan uang dan kenikmatan dunia dari saya.. menurutku itu sudah cukup.."


"Hati anda terlalu dingin.."


"Hahahahhahh.. sama dengan anda tuan Kemal.. hahahhahhh.." David tertawa terbahak - bahak. "Seumur hidup saya tidak pernah mencintai seseorang, sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya mencintai.." David kembali meneguk segelas wine di tangannya. "Saya punya kejutan untuk anda..?"


"Untuk saya..?"


"Yah untuk anda.." jawab David. "Bawa dia masuk.." perintahnya.


Beberapa bodyguard David membawa seseorang untuk bergabung bersama mereka.


"Roberto..?" Kemal tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah Roberto orang kepercayaan dan sekaligus orang yang telah menganiaya Ivanka putrinya. Sudah lama ia mencarinya.


"Tuan Kemal.." ucap Roberto.


"Anda tentu senang bukan melihat Roberto ada disini bersama saya. Selama dia menjadi DPO saya yang telah menampungnya.."


"Oh.. terima kasih atas kebaikan tuan.."


"Sama - sama tuan Kemal.."


"Ijinkan saya membawa anak buah saya sebentar.." pinta Kemal datar.


"Oh.. silahkan saja tuan Kemal.. tapi bagaimana dengan dua gadis yang butuh kehangatan dari tuan..?"


"Sepertinya bernostalgia dengan Roberto lebih menyenangkan daripada itu semua.."


"Baiklah.. saya serahkan Roberto pada anda.."


Roberto dilepaskan. Ia mengikuti Kemal dari belakang menuju mobil.


"Biar saya yang menyetir tuan.."


"Tidak perlu Roberto.. aku saja.. kau tentu sangat capek bukan.. menjadi buronan tidaklah mengenakkan.."


"Terima kasih atas kebaikan tuan Kemal.."


Mereka hanya berdua kemudian menuju tempat dimana hanya Kemal dan Roberto yang tahu. Kemal memgemudi dengan kecepatan tinggi. Tak membutuhkan waktu yang lama mereka akhirnya sampai di sebuah pondok kayu di pinggir kota, jauh dari keramaian dan penduduk.


Kemal dan Roberto turun kemudian masuk ke dalam pondok. Pondok kayu itu ukurannya tidak terlalu besar, kira kira hanya dua ratus meter persegi. Pondok itu tidak berpenghuni tapi terawat dengan baik. Kemal dan Roberto sering menggunakannya kalau mereka sedang menyusun rencana.


"Duduk.."


"Baik tuan.." Roberto duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Kemal pergi ke dapur membawakan Roberto minuman.


"Terima kasih tuan.." sambil meminum habis air pemberian Kemal. "Saya senang bisa bersama dan melayani tuan lagi.."


Kemal tersenyum mendengar perkataan Roberto "Bagus kau memang anak buahku yang paling bisa diandalkan..". Kemal kemudian duduk di atas meja kayu saling berhadapan dengan Roberto. "Apa yang kau lakukan dengan Ivanka..?"


"Maaf tuan.. saya terpaksa melakukannya.. dia sudah menghina harga diri saya.."


"Menghina harga dirimu..?"


"Benar tuan.. mulutnya sangat tajam dan suka merendahkan orang.."


"O..o.."


Tiba - tiba Roberto merasakan tenggorokannya terasa terbakar. Kedua tangannya memegang lehernya yang memerah. Keringatnya mulai membasahi dahinya, matanya melotot. "Kkkkfffhhh.. kkkkffhhh.." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa Roberto..? hahahhaahhh.. lucu.. lucu sekali melihatmu menggelepar seperti ikan kekurangan air.."


Roberto mencoba berdiri tapi akhirnya terjatuh. "Orang yang kau siksa karena menghina harga dirimu itu adalah anakku..!" ucap Kemal lirih tapi penuh penekanan. "Setelah belasan tahun aku mendambakan kehadiran seorang anak dan setelah tahu bahwa ada darah dagingku di sana dengan brutal kau menyiksanya dan sekarang membuatnya tak berdaya..!!!" bugh.. bugh.. bugh.. kemal menendang Roberto dengan brutal.


"Racun itu bekerja sangat cepat, sama seperti ketika aku memberikannya pada kakakku yang tidak tahu balas budi.. dan sekarang anaknya juga menjadi musuh besarku..!!!" Kemal berteriak - teriak seperti orang frustasi. Ia mengeluarkan sebuah senjata api.


Mulut Roberto sudah mengeluarkan busa, tubuhnya kejang - kejang "Kau tersiksa bukan..? baiklah karena jasamu padaku, aku akan membuat penderitaanmu, kesakitanmu dan tentu saja kematianmu menjadi lebih cepat.. kau akan tenang dan tidak merasakan apa - apa.. selamat tinggal Roberto.." door.. door.. door.. door.. empat peluru telah bersarang di kepala dan dada Roberto mengantarkan kematiannya yang mengenaskan.


Lama Kemal memandang jasad Roberto.. Ivanka anakku, aku telah membalas orang yang telah membuatmu menderita.. kau bisa tenang sekarang sayang batin Kemal dan segera keluar dari pondok itu meninggalkan jasad Roberto.


Sementara itu di ruang kerja David. Tampak rona bahagia menyelimutinya, ia menikmati alunan musik orkestra dari piringan hitam. Sesekali ia menghisap cerutunya. Hah aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membunuh manusia yang tidak berguna sepertimu.. semoga kau tenang di alam baka Roberto, terima kasih sudah membuat Haiden buta batin David sambil memejamkan mata dan tersenyum penuh kemenangan.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Besok aku akan mencoba kembali ke kantor lagi.."


"Oh syukurlah.. aku senang mendengarnya El.." peluk Azkara.


"Tapi kau harus tetap berada di sampingku.."


"Itu pasti kakakku sayang.."


"Ibu juga senang mendengarnya.." ucap Harika. "Kamu sudah kembali bersemangat seperti dulu.."


"Aku hanya mencoba berdamai dengan keadaan.."


Semua keluarga mendukung jika Haiden kembali lagi ke kantor. Sebenarnya ada tujuan terselubung di balik ini semua.Tujuannya agar semua orang percaya bahwa ia masih buta. Membuat semua lawannya lengah bagai berjalan di atas angin. Sehingga memudahkan dia untuk bertindak.


Hari yang telah di tentukan tiba. Aira membantu Haiden bersiap.


"Air panas sudah siap tuan.."


"Bantu aku mandi.. aku ingin terlihat tampan waktu ke kantor nanti walaupun aku buta.."


Heh.. pasti mau memburu cewek - cewek cantik.. dasar buaya tidak tahu apa kalau sudah punya anak batin Aira cemberut bibirnya manyun ke depan. Haiden tersenyum melihatnya.


Tanpa malu Haiden membuka semua pakaiannya. Mata Aira melotot tidak berkedip. Ia menelan ludahnya berkali - kali. Tubuh tuan semakin bagus, ototnya semakin berisi dan keras batin Aira. Ia mulai menggosok tubuh Haiden sambil membayangkan bagaimana jika lengan kekar itu memeluknya, menggendongnya. Dan tangan ini memberikan sentuhan, belaian dan rangsangan di titik - titik tertentu batin Aira. Air liurnya hampir saja menetes. Haiden tersenyum melihat ekspresi wajah ibu dari Rafael itu. Dasar wajah mesum batin Haiden.


"Kenapa tuan tersenyum..?"


"Oh.. aku hanya senang kembali ke kantor.."


"Oh.. ini sudah selesai tuan.. mari.." Aira menuntun Haiden keluar dari bathtube kemudian mengelap tubuhnya dengan handuk. Semua ia lakukan tanpa napas. Ah kejantanan ini yang membuat Rafael ada, yang memporak porandakan dirinya ketika mimpi basah batin Aira.


Setelah melalui proses yang penuh drama dua puluh satu tahun ke atas akhirnya selesai juga. Aira bagai merawat bayi besar karena manjanya melebihi Rafael. Haiden siap pergi ke perusahaan di dampingi oleh Azkara dan Noah membuat dia lebih percaya diri.


Tak berapa lama mereka sampai. Banyak media yang meliput kembalinya Haiden ke perusahaan setelah beberapa bulan vakum dari kegiatan bisnis. Dengan penampilannya yang sekarang semua percaya jika ia buta


Kegiatan pertama adalah melakukan meeting dengan beberapa direksi. Walaupun ia vakum beberapa bulan tidak mengurangi kepintarannya dalam mengatur strategi bisnis. Berbekal informasi dari Azkara dan Noah, ia berhasil mengetahui siapa saja direksi yang menjalin kerjasama diam - diam dengan perusahaan pesaing.


"Bagus El.. aku bangga denganmu.." puji Azkara.


"Tentu saja kau harus bangga padaku.." Haiden menyombongkan diri. "Dunia ini sudah aku geluti sejak umur lima belas tahun.."


"Huh sombong tapi sayang sekali kau belum punya istri.. jadi kehebatanmu belum sempurna.."


"Kau tahu kan kenapa aku belum punya istri.." pancing Haiden.


"Hmm.. bagaimana kalau kita suruh Aira kembali..?" Azkara balik memancing pendapat Haiden.


"Apakah ia mau..?"


"Tentu saja mau.."


"Apakah ia mau merawat aku yang tidak sempurna ini..?"


"Tentu saja mau.." jawab Azkara. Padahal selama ini yang merawat dengan sabar itu Aira batin Azkara. Maafkan kami El telah membohongimu. Seandainya saat itu kau mau menerima Aira tentu tidak akan seperti ini ceritanya. "Ayolah El.. kau coba ketemu dulu dengan Aira.."


"Bagaimana kalau ia tidak mencintaiku..?"


"Lantas bagaimana dengan dirimu.. apa kau mencintainya..?"


"Kau pasti sudah tahu isi hatiku Azka.. hidupku tidak pernah kacau seperti ini sejak Aira masuk dalam kehidupanku.. kau tahu bagaimana aku berusaha mencarinya.."


"Iya.. iya aku tahu.. sampaikan itu ketika kalian bertemu nanti.."


"Akan aku pikirkan kembali.."


"Ayolah El.." rengek Azkara.


"Sudahlah.. panggil Kania kemari.. suruh dia bawakan aku makan siang.."


"Aku pesankan saja di cafe bawah.."


"Azka.. aku ini sekarang buta aku tidak mau makan sembarang tempat, siapa tahu ada yang meracuniku.." ucap Haiden. Padahal sebenarnya itu hanya alasan karena ia sudah rindu dengan Aira. Sebenarnya tidak masalah makan di mana saja toh dia sudah bisa melihat.


"Ah benar juga.. baiklah akan aku telepon dia.."


Azkara segera mengambil handphone dan melakukan panggilan dengan Aira.


"Sudah aku teleponkan.. sebentar lagi dia kesini.."


"Thank's.."


"Kalau begitu aku ke cafe bawah dulu.. bye kakakku sayang.." Azkara segera meninggalkan Haiden sendiri di kantor.


Sementara itu di kediaman Lukashenko


"Bu Eda bisa jaga Rafael sebentar.. tuan menyuruhku mengantar makan siang ke kantor.."


"Pergilah.. tinggalkan anakmu bersamaku.."


"Terima kasih bu.. oya aku tadi sudah pumping.. susunya aku taruh di sana.. aku perginya cuma sebentar.."


"Ya.. hati - hatilah di jalan.."


Setelah mencium Rafael berulang kali Aira segera pergi ke kantor Haiden menggunakan sopir Harika.


🌸🌸🌸🌸🌸


Aku harus memastikan sendiri kalau Haiden benar - benar buta, dan ini kesempatanku untuk kembali mendekatinya batin Revina. Ivanka sudah bukan musuhku lagi, ia sudah terkapar tak berdaya dan aku harap ia segera lenyap dari bumi ini..


Dengan mengenakan baju seksi Revina mendatangi kantor. Semua mata memandang ke arahnya. Ia langsung menuju ke ruang atas dengan bantuan temannya yang bekerja di perusahaan milik Haiden.


Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke dalam ruangan Haiden. Hal itu sontak membuat Haiden terkejut dengan kedatangannya tapi demi memainkan peran yang baik ia pura - pura tidak tahu.


"Siapa..?"


"Haiden sayang.. ini aku Revina.." jawabnya sambil pura - pura menangis. "Apa yang terjadi dengan dirimu..? aku benar - benar sedih sayang.." ucap Revina sambil memeluk Haiden. Ia duduk di pangkuan Haiden sambil mengalungkan tangan di leher Haiden. Dan tiba - tiba ceklek.. (pintu terbuka)


"Tuan ini ma......" Aira terkejut melihat pemandangan itu sampai tidak meneruskan kata - katanya. Ia mengepalkan tangannya dan geram. Wanita ular itu kembali lagi, tidak ada kapoknya ia mengganggu lelakiku batinnya. Ia menaruh makan siang itu di atas meja kemudian dengan langkah cepat ia menghampiri Revina, menarik dengan kuat tubuhnya menjauh dari Haiden dan plaaakk...!!! Aira menampar Revina.


"Hei apa yang kau lakukan..?" Revina dengan marah mengangkat tangannya ingin membalas tamparan Aira. Dengan tangkas Aira menahan serangan Revina. Tangannya mencengkeram kuat lengan Revina.


"Ada apa..? apa yang terjadi..?" tanya Haiden yang sebenarnya sudah tahu kejadiannya.


"Maaf tuan ada orang asing yang datang kemari, dengan kukunya yang panjang saya takut itu akan melukai tuan.." jawab Aira dengan menatap tajam Revina. Wanita kalau sudah terbakar api cemburu tenaganya melebihi singa.


"Aku bukan orang asing..!" teriak Revina sambil berusaha lepas dari cengkeraman Aira. "Hei lepas..!"


"Menurut saya anda orang asing, apalagi dengan kondisi tuan yang sekarang ini...tidak bisa sembarang orang masuk ke ruangannya.. jadi silahkan keluar..!" dengan cepat Aira menyeret Revina keluar dari ruangan Haiden.


Haiden tersenyum melihat itu semua. Ia senang Aira terbakar api cemburu. "Good.. that's my girl.." gumamnya.


Begitu sampai di luar Aira melepaskan cengkeramannya.


"Jangan mendekati El lagi.. karena dia milikku ingat itu.." ucap Aira lirih dengan nada penuh penekanan.


"Awas kau..! kita lihat saja nanti.." ancam Revina dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Heh.. aku tidak peduli.." gumam Aira sambil tersenyum mengejek dan mengacungkan jari tengahnya


Walaupun ucapan Aira terdengar lirih tapi Haiden masih bisa mendengarnya. Rona bahagia dan bangga memancar dari wajahnya. Ibumu seperti singa betina yang sedang mengamuk Rafael.. tapi aku suka.. nanti malam kau akan mendapat hadiah dariku batin Haiden tersenyum nakal.


🌸🌸🌸🌸🌸