
"Aira.. Aira.." panggil Haiden berulang kali. "Kau masih mandi..?" tanya Haiden yang sedang menggendong Rafael.
Tidak ada jawaban sama sekali.
"Sebentar boy, ayah lihat ibu dulu.. jangan rewel oke.." Haiden meletakkan Rafael di atas tempat tidur. Kemudian ia melangkah ke kamar mandi.
Tok.. tok.. tok.. "Aku masuk sayang.." ceklek.. Haiden membuka pintu. Ia tampak sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya "Aira..!"
Aira terbaring di lantai kamar mandi. Dengan cepat Haiden membawanya ke atas tempat tidur. Mengeringkan tubuhnya dan kemudian mengenakan bajunya.
Haiden segera menelepon Noah "Noah segera ke hotel.. bawa juga Eda.."
Setelah panggilan terputus, Haiden memeluk Aira yang saat itu tubuhnya sedikit demam. "Kamu kenapa sayang..?" gumamnya sambil terus menggosok tangan Aira yang dingin. Wajahnya sangat pucat tak bertenaga. Beruntung saat itu Rafael tidak rewel.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Noah sampai ke hotel bersama Eda. Eda tampak sedikit terkejut dengan kondisi Aira yang pingsan. Tapi ia urungkan niatnya untuk bertanya dan segera mengurus Rafael.
"Eda kau langsung pulang.."
"Baik tuan.."
"Stok ASI masih ada..?"
"Masih tuan.."
"Bagus.. kami ke rumah sakit dulu.."
Rumah sakit letaknya tidak begitu jauh dari hotel. Aira segera mendapatkan perawatan. Dan sekarang sudah di bawa ke ruang perawatan. Harika dan Azkara datang ke rumah sakit begitu mengetahui Aira masuk rumah sakit. Apalagi sudah tiga hari mereka tidak mendapat kabar.
"Bagaimana kondisi Aira..?"
"Dokter masih memeriksa di dalam bu.."
Dokter sudah selesai memeriksa Aira dan menghampiri Haiden.
"Maaf suami bu Aira ya mana..?"
"Saya dok.. Haiden.."
"Oh.. tuan Haiden.. maaf sebelumnya saya perlu menanyakan beberapa hal yang sifatnya pribadi.."
"Silahkan dok.. ini ibu dan adik saya.."
"Baiklah kalau begitu.. jadi begini tuan Haiden, apakah anda pengantin baru..?"
"Iya dok.."
Dokter itu tersenyum mendengar jawaban Haiden.
"Jadi apa penyakit menantu saya dok..?" tanya Harika
"Jadi begini.. saya mengerti anda adalah pasutri baru.. tapi melihat usia ibu Aira masih muda alangkah baiknya jika berhubungan anda memberinya kesempatan untuk beristirahat.."
"Jadi Aira tidak kenapa - kenapa dok.."
"Tidak pak...hanya pingsan karena kecapekan.. jadi hanya saya beri vitamin saja.."
"Baiklah terima kasih dok.."
"Kalau begitu saya permisi.."
Dokter segera meninggalkan ruangan. Pecahlah tawa Azkara. "Hahahahhhh..!!!"
"Kenapa kau tertawa anak kecil..?"
"Hahahahhh..!!! apakah hal ini tidak membuatmu malu.. dokter itu pasti mengira kau seorang maniak atau pedofil.. hahahahhhh..!!!"
"Aku bukan orang seperti itu.."
"Lantas ini apa..? istri mu kau kurung tiga hari di hotel sampai pingsan.. aku bisa membayangkan betapa liarnya dirimu hanya dengan lihat jejakmu di sekujur tubuhnya.."
"Diam..! kau belum cukup umur.."
"Untuk tahu apa perbuatanmu tidak perlu cukup umur.. dasar maniak.." goda Azkara sambil menjulurkan lidahnya.
"Kamu.....!"
"Sudah.. sudah.. kasihan Aira terganggu dengan kalian.."
Haiden dan Azkara diam.
"Ibu senang kau bahagia El.. tapi perhatikan juga kesehatan Aira.."
"Maafkan aku bu.."
"Kau berhutang penjelasan pada kamu bersua El.."
"Baik akan aku jelaskan.." balas Haiden. "Ayo kita duduk di sana.."
Haiden menceritakan semuanya dari awal ia tahu kalau Kania itu Aira, tujuan pura - pura buta sampai dengan akhirnya mereka menikah.
Harika terdiam mendengarkan penjelasan putra kesayangannya itu. Akhirnya ia mengerti alasan kenapa Haiden membohonginya. Dan sekarang bisa pun harus mau menerima dan ikut dalam permainan Haiden.
Harika dan Azkara memutuskan pulang tanpa menunggu Aira terbangun. Karena sebenarnya ia hanya kelelahan saja dan butuh istirahat. Mereka akan menjaga Rafael untuk sementara waktu.
Haiden kembali duduk di sebelah istrinya yang terbaring.
"Hmmm.." Aira bergerak dan membuka matanya perlahan.
"Kau sudah bangun sayang..?"
"Dimana ini..?"
"Rumah sakit.."
"Aku kenapa..?"
"Kamu pingsan karena kecapekan.. maafkan aku.."
"Hei kenapa kau meminta maaf padaku.."
"Karena sudah membuatmu kelelahan dan kau jarang tidur.."
"Jangan berkata seperti itu.. kau tidak salah El.. karena pada dasarnya aku juga sangat menginginkanmu.."
"Benarkah..?" Haiden menggenggam tangan Aira dan menciumnya.
"Tentu saja.. aku tidak pernah bosan dengan permainanmu.. aku justru menginginkan sentuhanmu.."
"Terima kasih sayang.."
"Justru aku yang minta maaf padamu El sudah membuatmu cemas.."
Haiden mencium bibir Aira sekilas "Sssttt.. istirahatlah.. aku tunggu disini.."
"Tidurlah di sebelahku El.. aku rindu padamu.."
"Baiklah.."
Haiden naik ke atas tempat tidur Aira. Ia memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang.."
"Hmm.."
"Kau sedang ingin.."
"Dari mana kau tahu..?"
"Milikmu mengeras.. bokongku bisa merasakannya.."
"Aira please.. aku sedang menahannya.." Haiden memohon. Hanya dengan mencium aromanya saja ia pasti sudah menginginkan istrinya.
"Iya.. iya sayang aku tahu.. tapi jika kau memaksa kita bisa melakukannya disini.."
"Oh syiitt..!" Haiden segera bangun dari tidurnya dan berpindah ke sofa.
"Sayang.." panggil Aira manja menggoda.
"Aira please atau aku akan menghukummu besok setelah keluar dari rumah sakit.."
🌸🌸🌸🌸🌸
Keesokan harinya Aira sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Kita kemana lagi El..?"
"Ke hotel sebentar.. kau tahukan betapa aku merindukanmu.
"Ibu pasti sudah menunggu.. beberapa hari ini kita tidak pulang.." balas Aira. "Aku juga merindukan Rafael.."
"Heh.. baiklah.." ucap Haiden mengalah. "Tunggu.. bagaimana kalau disini..?"
"Sssttt jangan keras - keras ada Noah dan Tama.."
"Mereka tidak dengar.. walaupun mendengar mereka tidak akan berani protes.." ucap Haiden dengan tangan yang sudah tidak bisa di kendalikan. Ia mulai menciumi Aira.
"Hmmphh.. sayang tunggu.." Aira sedikit mendorong dada Haiden. "Tunggu dulu.."
"Kau tidak menginginkanku..?"
"Bukan.. bukan seperti itu.. aku sangat.. sangat menginginkanmu El sayang.. tapi lihatlah mereka berdua.." tunjuk Aira ke arah Noah dan Tama. Mereka terlihat diam, malu dan salah tingkah.
"Menepi.."
"Baik tuan.." jawab Tama.
Ia segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
"Keluarlah kalian.. pulanglah naik taksi.."
"Baik tuan.." jawab Noah dan Tama bersamaan. Mereka bersua memaklumi jika tuannya sedang kasmaran.
"Kita aman sayang.. ayo kita lanjutkan.."
Mereka meluapkan kerinduan akan keinginan penyatuan yang tiada hentinya. Apalagi Haiden sangat pintar memanjakan istri kecilnya itu. Hingga Aira menjerit, merintih dan mengerang karena permainan panasnya.
Setelah melalui pergulatan cinta yang cukup lama, Aira segera mengenakan pakaiannya kembali. Merapikan rambut dan memperbaiki riasan wajahnya. Haiden yang melihat istrinya kembali mendekat "Sayang.. satu lagi.."
"El sayang.. ibu pasti sudah menunggu kita.. ayo pulang.."
"Please.. please.. aku ingin sayang.."
"El.. nanti kalau sampai rumah.. oke.."
"Janji..?"
"Iya janji.." ucap Aira meyakinkan.
Mereka akhirnya akhirnya pulang. Dalam waktu tiga puluh menit mereka sampai. Haiden masih menggunakan kacamata dan tongkat karena yang tahu ia sudah bisa melihat lagi hanya keluarganyanya saja.
"Syukurlah kau sudah boleh pulang Aira.."
"Iya bu.. aku merasa sangat sehat.."
"Kakak ipar jika El memperdayamu seperti kemarin beritahu saja kami.."
"Hahahah.. iya.. iya.. itu pasti Azka.." Aira tertawa mendengar ucapan Azkara.
"El.. tidakkah kau ingin mengadakan pesta yang mewah..?"
"Aku ingin ibu.. akan tetapi musuh - musuhku masih dimana - mana.. aku tidak mau mereka nantinya akan mengincar keluargaku..
"Iya bu.. aku setuju dengan El.. aku juga khawatir dengan keselamatan Rafael.."
"Apa rencana kalian ke depannya..? kalian akan bulan madu..? atau akan membeli rumah..? ibu dan Azka akan membantunya.."
"Ehem.. ehem.."
"Ada apa sayang..? kau haus..?" tanya Aira. Ia akan menjawab pertanyaan ibu tapi terpaksa teralihkan karena Haiden seperti serak.
"Tidak.. tenggorokanku gatal.."
"Tumben.." balas Harika. "Sumi.. ambilkan minum untuk tuan.."
"Tidak usah.. tidak perlu.." jawab Haiden dengan ketus.
Aira sepertinya tahu maksud dari sikap Haiden bayi besarnya yang merajuk itu. Ia tersenyum sejenak sebelum berkata "Ibu.. Azka.. aku pamit dulu.. mungkin Haiden rindu dengan teh mint buatanku.. benar kan sayang..?"
"Baiklah.. uruslah suamimu yang manja itu.."
"Eh tunggu dulu.." cegah Azkara. "Ingat jangan banyak - banyak.." goda Azkara yang sepertinya tahu maksdud Haiden berdehem.
"Diam kau bocah kecil..!"
Aira masuk ke dalam, Haiden langsung menariknya keatas.
"Sayang.. jangan cepat - cepat.. aku lihat Rafael dulu.."
"Oh common Aira dari kemarin aku sudah menunggu.. ingat janjimu di mobil.." Haiden langsung membopong tubuh Aira dan membawanya ke dalam kamar. Melakukan penyatuan demi penyatuan untuk yang kedua kali atau mungkin lebih.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Siapa yang akan kau bunuh..?"
"Azkara.."
"Adik Kandung Haiden..?"
"Yah benar.. aku akan membuat Haiden tambah menderita.."
"Menurutku membunuhnya adalah hal yang sangat mudah.. aku punya cara yang lebih menarik.."
"Apa itu.."
"Kita culik kemudian kita suntik dengan obat terlarang terbaru milik kita.. itu akan membuatnya kecanduan.. aku yakin Haiden pasti akan lebih sedih dari pada kehilangannya.."
"Hmm.. idemu sangat menarik.." David mengangguk - angguk. "Kerja yang bagus dave.."
"Baiklah jika kau percayakan masalah ini padaku.. aku berani menjamin pasti berhasil.."
Dave segera keluar dari ruangan David. Muncullah seorang wanita tanpa sehelai benang pun datang dari arah belakang.
"Kenapa lama sayang..?"
"Jika kau ingin mendapatkan sesuatu bersabarlah.. mengerti.."
"Tapi aku sangat menginginkanmu sayang.."
"Revina aku sedang tidak tertarik.."
"Lihatlah David tidakkah aku menarik.."
"Kau menarik.. sangat menarik.. tapi....." David tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa..?"
"Aromamu busuk.."
"Kau berani menghinaku.. dasar brengsek..!!!" Revina sangat emosi mendengar jawaban David. "Sekarang ini semua wanita berbau busuk, tapi hanya satu wanita yang sangat wangi.."
"Siapa..?!!" teriak Revina.
"Aira.."
"Aira..? pelayannya Haiden..? hahahahahhhh..!!" Revina tertawa terbahak - bahak. "Wanita licik itu kau bilang wangi..? oke.. oke.. it's no probleme.. akan aku buat dia jatuh miskin.. hingga bersimpuh mencium kakiku.. hahahhahahh..!"
David berdiri dan kemudian memegang leher Revina dan membenturkannya di tembok..
"Sakit..?"
Revina hanya mengangguk - angguk, Air matanya mulai sudah keluar.
"Jangan sekali - kali kau mengganggu wanita itu jika kau tidak ingin menjadi mayat.. mengerti..!" ucap David dengan mata menyala. "Sekarang keluar..!!!"
Revina segera memakai baju dan keluar dari ruangan David. Tangannya menggenggam kuat menahan amarah dan emosi..
🌸🌸🌸🌸🌸