My Desire

My Desire
Perang di Mulai 2



"Azka.. Azka.. bangun.." ucap Aira


"Hmm.. aduh kepalaku.."


"Sssttt.. jangan keras - keras.." Aira memberi peringatan.


"Kita dimana ini..?"


"Entahlah.. ini seperti gudang tua.." jawab Aira. Mereka di masukkan ke sebuah bangunan berukuran empat kali empat. Bangunan itu memiliki satu pintu dan satu jendela yang tertutup rapat. Sangat kotor, penuh dengan karung bekas, beberapa rak dan alat dorong. Mirip seperti gudang yang tidak terpakai.


"Aduh.. aku tidak bisa bergerak.."


"Ssstt.. tenanglah.." bisik Aira. "Aku juga tidak bisa bergerak.. tangan dan kaki kita terikat.."


"Kau benar kakak ipar.." ucap Azkara. "Ya tuhan kepalamu berdarah.."


"Ssstt.. aku tidak apa - apa.. mereka memukulku terlalu keras.."


"Kau pusing..?"


"Ya sedikit.."


Aira dan Azkara diikat tangannya ke belakang dan juga kedua kakinya. Mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa. Dengan sekuat tenaga Azkara berusaha untuk duduk seperti Aira yang lebih dulu sadar dari pingsannya.


Braakk..! braakk..! praang..! praang..!


"Suara apa itu..? berisik sekali di luar.." tanya Azkara.


"Kalau mencium aroma seperti ini sudah bisa di pastikan kita ada di pengepul barang rongsokan.." ucap Aira.


"Hmm.. baunya menyengat sekali.."


"Ini bau sampah Azka.."


"Kau yakin..?"


"Yah.. aku dulu pernah bekerja di kafe.. setiap seminggu sekali sampah plastik kita kumpulkan kemudian kita jual di pengepul barang rongsokan.. walaupun tidak sering kesana tapi aku hapal baunya.."


"Kira - kira siapa yang menculik kita..?"


"Musuh kakakmu banyak.. aku tidak tahu.."


"Kita harus keluar dari sini.. tunggu.." Azkara berusaha mencari - cari benda tajam yang bisa digunakan untuk melepas ikatannya. "Sial tidak ada yang berguna di sini.."


"Hei.. berbaliklah.." perintah Aira.


"Buat apa..?"


"Sudah lakukan saja.. aku akan pakai gigiku untuk melepaskan ikatanmu.."


"Baiklah kakak ipar.."


Azkara mulai membalikkan badannya, sedangkan Aira bergeser sedikit agar mulutnya bisa dengan mudah menggigit tali Azkara. Ia berhenti sejenak untuk melihat simpul tali itu. Setelah tahu ia mulai beraksi dengan menggunakan giginya melepas simpul tali yang mengikat tangan Azkara. Agak lama Aira melakukannya, bahkan bibirnya juga lecet.


Tanpa putus asa Aira terus melakukannya dan akhirnya membuahkan hasil. Simpul tali itu bisa dilepas.


"Kau berhasil kak.." pekik Azkara kegirangan.


"Sssttt.. jangan keras - keras.. aku takut mereka akan mendengar kita.."


"Oke.."


Dengan cepat Azkara melepas tali yang mengikat kakinya. Kemudian membantu Aira melepas ikatan di tangan dan kakinya.


"Apa rencana kita..?" tanya Aira.


"Tunggu.. kau lihat jam ini..?"


"Seperti punya El.."


"Ini milik Noah.. aku memintanya dengan paksa karena bentuknya bagus. Apalagi setelah tahu fungsinya.."


"Apa fungsinya..?"


"Ini semacam alarm peringatan tanda bahaya, bisa untuk mengirim sinyal dimana posisi kita.. kau ingat waktu El di suntik obat perangsang oleh Ivanka..?"


"Ah.. ya aku ingat.."


"Nah.. dengan jam ini Noah datang tepat waktu dan menyelamatkannya dari jebakan perempuan itu.."


"Syukurlah.. kita bisa segera bebas dari sini.."


Azkara mulai mengirim sinyal..


"Ah sial..!"


"Kenapa..?"


"Belum bisa.. apa mungkin karena kita di daerah terpencil..? kita harus keluar dari sini.."


"Tunggu aku coba buka pintunya.." Aira berjalan berhati - hati menuju pintu. Mereka berdua sudah tidak beralaskan kaki. Mungkin tujuan penjahat itu agar mereka tidak mudah melarikan diri. "Terkunci.."


"Coba jendelanya.."


Aira bergeser ke arah jendala. Jendela itu terdapat engsel yang sudah berkarat. "Azka ayo bantu aku.."


"Oke.." ucap Azkara yang semula masih sibuk mencari sinyal.


Mereka berdua berusaha membuka bersama - sama. Karena sudah berkarat jadi agak susah membukanya.


Ceklek.. "Berhasil.." ucap mereka bersamaan. Dengan perlahan Azkara membukanya. Ia melihat di sekitar lokasi penculikan mereka.


"Kau benar kakak ipar.. kita ada di tempat pengepul barang bekas.."


"Apa ada penjaganya..?"


"Ada.. hmm tunggu sebentar.." Azkara agak melebarkan jendela agar ia leluasa menghitung berapa jumlah orang yang ada di luar. "Ada tiga orang pria dan satu anjing jenis Herder.."


"Apa kita bisa keluar sekarang..?"


"Tunggu sebentar.. mereka sepertinya mau makan.. aku akan coba keluar dulu.."


Azkara membuka jendela pelan - pelan. Ia kemudian berusaha melompat dan berhasil. Setelah berhasil ia membantu Aira keluar. "Ayo kak.."


"Oke.. tunggu sebentar.." Aira bergegas melompat keluar dari jendela. Setelah berhasil mereka berdua berjalan pelan - pelan keluar dari tempat itu.


"Kakak ipar kita sembunyi dulu disini.. aku akan coba kirim sinyal lagi.." ucap Azkara. Mereka bersembunyi di balik tumpukan plastik yang menggunung.


"Baiklah.."


Azkara mencoba mengirim sinyal "Yes.. berhasil.."


"Syukurlah.. kita tunggu di sini sampai kakakmu datang.."


Tiba - tiba dari arah belakang


"Hei..!!! siapa itu..!!!"


"Gawat.. kita ketahuan.."


"Ayo lari..!!!" teriak Aira.


"Hei kalian..!!! tahanan kita melarikan diri..!!! dasar bodoh..!!!" teriak pria itu. Tak lama kemudian tiga pria yang sedang asyik makan langsung beranjak dan melepaskan anjing jenis Herder. Mereka mengejar Aira dan Azkara yang terlebih dahulu berlari.


"Ayo Aira.."


"Kakiku sakit dan perih Azka.. kau lari saja dulu.. jangan hiraukan aku..!"


"Tidak bisa.. aku tidak akan meninggalkanmu.."


Azkara memapah Aira dan berlari bersama. Kaki Aira memang sudah berdarah. Tetapi dengan langkah tertatih ia berusaha untuk berlari.


Anjing Herder yang memang memiliki sifat pelacak dan pemburu dengan cepat dapat mengejar mereka. Dengan cepat anjing itu menggigit kaki Aira.


"Aaauuww...!!!" teriaknya dan jatuh tersungkur.


"Airaaa..!!!" teriak Azkara. Anjing itu terus menggigit kaki Aira. Aira berusaha meronta - ronta melepaskan diri dari gigitan anjing itu. Azkara kebingungan, ia mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata untuk menghalau anjing itu.


Ia menemukan sebuah besi tua dan dengan gerakan cepat ia berhasil menusuk anjing itu hingga mati.


"Ayo Aira.." Azkara berusaha membantu Aira berdiri.


"Hei..! jangan lari..!" teriak pria - pria itu.


"Azkara dengarkan aku.. lari lah dan cari bantuan.."


"Tapi Aira.. bagaimana dengan dirimu..?" Azkara mulai terisak.


"Biar aku disini.. aku yakin El akan segera datang.. kau tidak akan menyia - nyiakan perjuangan kita keluar dari sini bukan..?"


"Tta.. ttapi...."


"Sudah jangan membantah..! cepat lari..! mereka sudah semakin dekat..!"


"Hei..! mau kemana kalian..!" teriak pria itu semakin dekat.


"Maafkan aku.. aku janji akan menyelamatkanmu Aira.." ucap Azkara. "Bawalah ini.." Azkara meninggalkan jam itu pada Aira.


Aira mengangguk mantab, ia segera menyimpan jam itu di sakunya sebelum para penculik itu kembali menangkapnya. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Harus ada yang di korbankan. Ia tidak akan sanggup melihat suaminya sedih karena harus kehilangan Azkara.


Dua pria itu kembali mengikat tangan Aira.


"Bagaimana dengan lukanya..?"


"Biarkan saja.."


"Tapi darahnya keluar banyak.."


"Biarkan saja..! dia juga sudah membunuh anjing kesayanganku.."


"Kalau di marahi bos.."


"Aaahh..! masa bodoh..!"


Tiba - tiba pintu terbuka.


"Dia berhasil melarikan diri.." lapor pria yang mengejar Azkara.


"Dasar bodoh..!"


"Hei.. jangan menyalahkan kami.. gadis itu larinya sangat cepat.."


Drrt.. drrt.. suara handphone berdering.


"Bos menelepon.. bagaimana ini..?"


"Sudah angkat saja.. yang penting satu bisa tertangkap.."


Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang mereka memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


"Halo bos.."


"Aku dengan bos besar akan kesana.."


"Bba.. bbaik bos.. akan kami tunggu.." jawabnya gugup. Dan panggilan diakhiri.


"Ayo kita keluar.. kita biarkan dia disini.. toh dia juga tidak bisa lari kemana - mana.."


Mereka berempat segera keluar dari gudang dan meninggalkan Aira sendiri disana.


Ada kelegaan di hatinya karena Azkara berhasil lolos dari kejaran penculik itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


Azkara terus berlari tanpa henti. Beberapa kali ia terjatuh tapi berhasil bangkit lagi. Tempat penculikan sangat jauh dari pemukiman penduduk. Karena itu adalah tempat untuk pembuangan barang bekas.


Setelah berlari hampir tiga puluh menit, ia melihat ada sebuah pemukiman penduduk. Melihat itu tenaganya seperti pulih kembali. Dengan kekuatan penuh ia menambah kecepatan berlari. Ia melihat beberapa pria sedang duduk di gardu poskampling.


"Tolong..! tolong..!" teriaknya.


Beberapa pria setengah baya itu mendengar teriakannya dan segera menghampirinya. Mereka sangat prihatin dengan kondisi Azkara. Pakaian yang lusuh, tubuh yang lebam dan juga kakinya berdarah karena harus berlari tanpa alas.


"Apa yang terjadi mbak..?"


"Tolong.. tolong saya pak.. saya di culik.." ucap Azkara terengah - engah dan terjatuh karena kelelahan.


"Kita bawa saja ke pak RT bagaimana..?"


"Ayo.."


Azkara yang sudah lemas di bawa ke rumah RT setempat dengan naik motor. Setibanya di sana ia di bawa ke ruang tamu dan diberikan minuman hangat. Dengan terbata - bata ia meminta pak RT untuk menelepon keluarganya. Ia memberikan sebuah nomor telepon. Setelah tersambung pak RT memberikan handphone itu pada Azkara


"Halo El.."


"Azka..! kamu dimana.."


"Aku tidak tahu.."


"Aira..?"


"Dia masih di sana.. aku sudah mengirim sinyal padamu dengan jam tangan Noah.." ucap Azkara sebelum ia jatuh pingsan.


"Halo Azka..! halo..!"


"Eh tolong dulu mbaknya ini, bawa ke kamar dan panggilkan bidan.." perintah pak RT. Ia mengambil alih handphone miliknya dan meneruskan pembicaraan dengan Haiden.


"Halo.. maaf pak.. nama saya pak Tejo.. saya RT di sini.."


"Mana adik saya..?"


"Itu.. mbaknya pingsan.. mungkin kecapekan.. karena tadi warga melihatnya berlari terus.."


"Pak Tejo ada di mana..? ini saya akan kesana.."


"Ini desa Buanajaya kecamatan Tanjungsari Bogor pak.."


"Baik saya akan kesana.. terima kasih pak Tejo.. tolong jaga adik saya.." ucap Haiden. Ia mengakhiri panggilan telepon untuk mempercepat pancarian.


"Noah.."


"Ya tuan.."


"Ambilkam jam yang sama yang pernah aku berikan padamu di kamarku.. kau memberikan jam itu pada Azkara..?"


"Maaf.. nona yang memaksa saya tuan.."


"Kali ini aku tidak marah padamu.. ternyata itu membawa keuntungan buat kita.." ucap Haiden. "Cepat lacak.. Azkara sudah mengirim sinyal dimana Aira berada.."


"Baik tuan.."


Dengan cepat Noah mengambil jam itu dan segera melakukan pelacakan lokasi dimana Aira di culik.


Sayang.. aku harap kau baik - baik saja.. aku akan segera menemukanmu batin Haiden cemas.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Sselamat datang bos.." sapa salah satu penculik itu pada pria yang memiliki codet di pipinya.


"Ini bos besar.. beliau ingin bertemu dengan wanita itu.."


"Baik akan saya antarkan.. silahkan.."


Mereka bertiga berjalan menuju gudang dimana Aira di sekap. Dengan tangan gugup pria itu membuka gembok pintu. Setelah terbuka ia mempersilahkan bosnya untuk masuk.


"Kenapa cuma satu..?!"


"Mmaaf bos.. yang satu berhasil kabur.."


"Dasar bodoh..!!! kenapa tidak laporan..!!!" teriak bos nya. Plaak..! plaak..! bugh..! bugh..! pria itu di hajar habis - habisan oleh bos nya.


"Maaf tuan.. maafkan kegagalan anak buah saya.." ucap pria bercodet yang berstatus bos dari penculik itu.


"Siapa yang masih tertangkap..?"


"Silahkan masuk tuan.. mari kita lihat.."


Bos besar yang dipanggil tuan tadi masuk kedalam dan melihat hasil tangkapannya.


"Aira.." ucapnya.


Aira yang duduk bersandar di pojokan karena lemas kehilangan banyak darah pelan - pelan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"David.." ucapnya lirih.


"Siapa yang melakukan ini..?" tanya David dengan nada penuh penekanan.


"Hei.. jawab bos besar bertanya padamu.."


"Mereka melarikan diri tuan.. jadi saya gunakan anjing untuk mengejar mereka.." jawab pria itu gugup.


"Anjing..? jadi dia digigit anjing..?"


"Bbe.. bbenar tuan.."


"Anjing siapa..?"


"Milik saya tuan.."


Dengan cepat David mengeluarkan senjata dari balik jas nya dan door..! door..! door..! dia menembak pria itu di kepalanya sebanyak tiga kali.


"Singkirkan mayatnya.." perintah David.


"Baik tuan.." jawab pria bercodet. "Hei kalian.. cepat singkirkan mayatnya.." perintahnya pada salah satu anak buahnya yang tersisa.


"Siapkan mobil.."


"Baik tuan.."


David segera melepaskan ikatan Aira. Dengan perlahan ia membopong Aira menuju mobil.


"David.. tolong lepaskan aku.." gumam Aira lirih.


"Tidak akan Aira.. aku tidak akan melepasmu.. kau akan segera menjadi milikku.."


🌸🌸🌸🌸🌸