My Desire

My Desire
Cemburu Buta



"Heh lihat itu.. bukankah itu gadis yang ada di foto ini.."


"Benar itu Azkara.."


"Bagaimana ini.. kita kerjakan sekarang..?"


"Jangan..! belum ada perintah dari bos.."


"Ah.. kepalang tanggung..! kita kerjakan sekarang saja.."


"Dasar bodoh..!" ucap pria berkacamata hitam dengan luka sayat di pipinya. Ia memukul kepala temannya itu. "Ingat kita harus sesuai dengan intruksi bos..! mengerti..! ayo pergi kita laporkan ke bos.."


Mereka berdua pergi meninggalkan lokasi dengan menggunakan sepeda motor .


Sementara itu tampak Azkara sedang berjalan bersama Aira masuk ke pusat perbelanjaan.


"Aira.. kau ingin kado apa dariku..?"


"Tumben kau memberiku kado.."


"Ini kado pernikahan untuk kalian.."


"Ah.. aku jadi bingung.."


"Hmm.. atau aku pilihkan saja bagaimana..?"


"Baiklah.."


"Ayo kita kesana.."


Mereka berdua menuju counter baju tidur. Aira sempat tertegun dengan berbagai macam baju tidur dari yang seperti jaring - jaring hingga di penuhi bulu - bulu.


"Kau yakin memberikanku ini.."


"Aku yakin seribu persen.. dan aku pastikan El tidak akan berpaling darimu.."


Azkara memilihkan lingerie dengan berbagai macam warna dan model.


"Buang baju tidurmu.. pakai ini setiap malam.. aku jamin Rafael akan cepat punya adik.." goda Azkara.


"Rafael masih kecil Azka.."


"Kalian pakai pengaman..?"


"Tidak.."


"Heh.. kakak iparku yang polos kalau tidak pakai pengaman aku pastikan adiknya Rafael akan hadir sebentar lagi.."


"Ah.. ngaco kamu.." balas Aira. "Kakakmu tidak suka.."


Azkara tertawa melihat Aira yang wajahnya memerah karena malu. Melihat wajahnya yang imut memang akan membuat laki - laki yang melihatnya menjadi gemas.


Setelah selesai memilih dan membayar mereka keluar menuju ke sebuah cafe hanya sekedar minum kopi dan makan beberapa camilan.


"Aira.." sapa seseorang


"David.." balas Aira sedikit terkejut. Kenapa sekarang dia selalu ada ketika aku keluar dari rumah pikir Aira. Sebenarnya ia takut jika suaminya tahu dan pasti akan marah seperti kejadian kemarin waktu di hotel.


"Sedang belanja..?" tanya David.


"Eh ya...saya mengantar nona Azkara.." jawab Aira.


Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Azkara terkejut mendengar jawaban Aira, ia sampai tersedak kopi.


Aira memberi Azkara tisu untuk mengelap bibitnya. "Oya David ini nona Azkara adiknya tuan Haiden.."


"David.." ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Azkara.." sambutnya. "Silahkan duduk.."


"Terima kasih.." balas David. "Saya sudah sering mendengar nama nona Azkara ini sebagai adik dari pemilik bisnis terbesar.. dan saya dengar beberapa waktu lalu menggantikan posisi tuan Haiden yang sedang sakit.."


"Sementara.. itu hanya sementara.." jawab Azkara singkat.


"Ah.. ya benar.. hmm bagaimana kabar kakak anda masih buta..?"


Azkara menggenggam tangannya sendiri untuk menaham emosi. "Masih.. tapi saya yakin ia akan segera melihat.. tuan David tidak perlu mengkhawatirkannya.."


"Mungkin anda tidak tahu kalau selama ini saya menjadi rival anda dalam perebutan beberapa proyek.."


"Oya.."


"Ya benar.. karena ini hanya proyek kecil jadi asisten saya yang mengurus.. saya tidak perlu turun tangan sendiri.." balasnya menyombongkan diri.


"Sepertinya saya bisa berguru dengan anda.."


"Tentu saja.. suatu kehotmatan untuk saya jika anda mau belajar dengan saya.. dan kau juga bisa ikut belajar Aira.."


"Eh.. maaf saya kurang tertarik dalam urusan bisnis.." balas Aira


"Aku bisa mengajarimu kalau kau mau.. setelah hutang om kamu aku bayar.. kau akan segera bebas.."


"Dari mana anda tahu tentang hutang keluarga Aira.."


"Tentu saja saya tahu.. perusahaan itu telah menjadi milikku.."


Azkara mendengarnya dengan terkejut. Ia sangat tidak suka dengan David.


"Aira ayo kita pergi dari sini.. kehadiran orang asing membuat perutku mual.." Azkara berdiri sambil meninggalkan beberapa lembar uang di meja.


"Eh permisi.." dengan segera Aira menyusul Azkara pergi.


"Kamu tidak apa - apa Azka.."


"I'm oke Aira.. cuma aku tidak suka melihatnya berusaha merayumu.."


"Merayu.. aku rasa tidak mungkin dia tertarik denganku.."


"Kamu tidak merasakannya tapi aku tahu kalau dia menyukaimu.. lihat saja pandangan matanya.. tidak berkedip melihatmu.."


"Hmmm.." Aira manggut - manggut.


"Dari nada bicaranya seperti ingin menguasaimu.."


"Pantas saja kakakmu marah ketika tanpa sengaja bertemu dengannya.."


"Kenapa kau tidak terus terang kau sekarang istrinya El..?"


"Aku tidak mau menghancurkan rencana kakakmu yang sudah tersusun rapi.."


"Ah kau benar juga.." Azkara membenarkan. "Aku rasa ini bulan suatu kebetulan.. ia pasti sudah mengintaimu.."


"Jangan menakutiku.."


"Aku tidak menakutimu, hanya menyuruhmu waspada saja.."


Mereka berdua segera keluar dari pusat perbelanjaan menuju parkir mobil.


Sementara itu David tampak sedang menelepon seseorang. "Lakukan rencanamu besok pagi.. aku tidak mau tahu, gadis sombong itu harus menderita.."


🌸🌸🌸🌸🌸


Hari ini Haiden seperti malas ia agak emosi ketika Azkara memberitahu bahwa tadi mereka bertemu David di pusat perbelanjaan. Bahkan dengan beraninya ia mendekati istrinya.


"Noah.. aku tidak mau tahu, kamu harus menyelidiki apa niat terselubung David pada istriku.."


"Maksud tuan.. tuan David mengincar nyonya Aira..?"


"Yah.. sepertinya seperti itu.." Haiden menghela napas. "Dua kali mereka bertemu dan menurutku itu bukan kesengajaan lagi.."


"Baik tuan akan segera saya selidiki.." balas Noah. "Mobil sudah siap tuan.."


"Aku masih jengkel dengan sikap David.. berani - beraninya mendekati istriku.."


"Anda sedang cemburu tuan..?"


"Cemburu..? heh untuk apa aku cemburu.. aku lebih berkuasa, lebih tampan, lebih perkasa.."


"Tapi tuan David lebih muda.."


"Diam kau Noah.. jangan memanas - manasiku.."


"Aku rasa Aira tidak akan berpaling dariku.."


"Tentu saja tidak tuan.."


"Heh.. baiklah aku akan pulang.."


"Baik tuan.."


Sementara itu Aira sudah mengenakan lingerie atau baju dinas istri. Dengan gelisah ia menunggu suaminya pulang. Tidak biasanya El pulang telat, apa karena cerita Azkara ia jadi marah padaku batin Aira cemas. Ia melihat Rafael telah tidur lelap. Sesekali ia memandang ke arah jendela, siapa tahu suaminya pulang.


Tak berapa lama terdengar suara mobil masuk. Aira bergegas memastikan apakah itu mobil suaminya atau bukan. Setelah melihat dan itu benar mobil Haiden ia segera bersiap menyambutnya seperti biasa. Terus terang ia agak gugup, bagaimana jika nanti ia ditolak atau Haiden jijik ia mengenakan baju nakal seperti itu.


Aira mengambil piyama dan mengenakannya. Ia menarik napas panjang dan kemudian segera keluar menyambut Haiden.


"Sayang.." sapanya sambil mencium pipi Haiden. Tidak ada jawaban dari Haiden. Aira kemudian membawakan tasnya dan mengikutinya dari belakang.


"Kau sudah makan malam El..?"


"Sudah.."


"Oh kalau begitu akan aku suruh Mustofa membereskannya.."


Haiden hanya diam dan kemudian naik ke atas menuju kamarnya. Aira sedikit berlari mengikutinya karena langkah kaki Haiden yang lebar.


Sesampainya di dalam kamar Haiden segera mandi dan mengenakan pakaian. Ia melihat Rafael sebentar kemudian menciumnya. Aira hanya dia memandangnya. Ia bingung dengan sikap Haiden yang tidak biasanya. Apa yang salah denganku pikir Aira.


Haiden duduk di sofa sambil meneliti laporan yang terkirim di Ipad nya.


"Kau capek sayang..? mau aku pijat..?"


"Tidak usah.."


"Apa kau marah padaku..?"


"Tidak.. istirahatlah dulu.. aku masih banyak pekerjaan.."


Mata Aira berkaca - kaca, itu penolakan secara halus yang mengatakan suaminya tidak menginginkannya. Tidak.. tidak.. aku harus sabar dan lebih berusaha lagi tekad Aira. Ia menarik napas dalam - dalam. "Sayang hari ini aku belanja dengan Azkara.. kau tidak ingin melihat aku belanja apa..?"


"Belanja saja yang kamu suka.."


"Yah.. aku belanja ini untukmu El sayang.." ucap Aira sambil berdiri di depan suaminya yang sama sekali tidak melihatnya. Pelan - pelan ia melepas piyamanya dan melemparnya ke bawah.


Haiden masih mengutak atik Ipadnya. Perlahan Aira mendekatinya. "El.. lihatlah aku sebentar.." mohon Aira.


Haiden yang mendengar Aira memohon seperti itu menjadikannya merasa bersalah. Ia marah drngan dirinya sendiri kenapa istrinya yang menjadi pelampiasan. Haiden mendongakkan kepalanya. Matanya melotot terkejut dengan apa yang digunakan istrinya.


"Aira.." gumamnya. Air liurnya hampir menetes. Ia menelan ludah beberapa kali. Aira mengenakan G-String warna hitam, tanpa bra dan dibalut dengan dress sangat tipis. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat seksi.


Aira berputar beberapa kali "Bagaimana sayang.. kau suka..?" Haiden diam dan hanya melotot saja. Pikirannya melayang kemana - mana. "Sayang.. kau suka..?" Aira mengulangi pertanyaannya.


"Eh.. iiya suka.." dalam hati ia sangat menyesal bersikap dingin pada istrinya itu cuma gengsi mengakui.


Aira perlahan terus mendekati Haiden dan duduk di atas pangkuan suaminya itu. Mereka saling berhadapan, Aira kemudian mengalungkan tangan ke leher Haiden.


"Jadi kau membeli ini.."


Aira mengangguk - angguk sambil tersenyum.


"Kau bertemu David..?"


Aira mengangguk lagi sambil tersenyum "Orang tidak penting, yang ada di pikiranku segera pulang mengenakan lingerie ini dan bercinta denganmu.."


"Benarkah itu yang ada di dalam pikiranmu..?"


"Tentu saja.. siapa lagi yang ada dipikiranku, yang selalu membuat aku rindu kalau bukan di dirimu suamiku.." Aira mencium hidung Haiden karena gemas, kemudian berlanjut ke bibirnya. "Kau cemburu dengannya..?" Aira terus menggoda dengan menggesek - gesekkan bukit kembarnya di dada Haiden yang kokoh dan liat.


"Aku.. aku.. ya aku cemburu.."


"Buat apa cemburu.. dia tidak ada apa - apa nya di banding denganmu.." bisik Aira sambil lidahnya menari di telinga Haiden.


"Aira aku.. aaacchh.." Haiden mulai mengerang.


"Ssssttt.. aku menginginkanmu sayang.." ucap Aira. Ia mulai mencium bibir Haiden, lidahnya menelusup ke dalam, menyapu lidah dan gigi Haiden. Gerakannya sangat memburu bahkan tidak memberi kesempatan Haiden untuk membalasnya. Kali ini Aira yang mengendalikan permainan.


Aira menarik kaos Haiden ke atas dan melempar ke sembarang arah. Lidahnya menari dengan liarnya seperti kucing. Haiden mengerang, merintih menikmati permainan istrinya. Haiden tidak mau kalah dua bukit kembar di hadapannya segera dia lahap tanpa ampun. Mereka melakukan penyatuan di sofa dengan posisi Aira di atas memegang kendali.


Ia bermain dengan lincahnya. Bukit kembarnya yang naik turun menggoda Haiden. Kedua tangan kekar milik Haiden mulai aktif memelintir pucuknya dan memijat membuat Aira terus mengerang. Peluhnya membasahi dahinya, tubuhnya mulai bergetar tanda ia mencapai puncaknya untuk yang pertama kali. Ia menekan kepala Haiden lebih dalam ke bukit kembarnya.


"Kau menikmatinya sayang..?" tanya Haiden dengan suara serak. Ia membiarkan istrinya bermain - main di atasnya. Aira mengangguk dengan wajahnya yang merah karena malu. Betapa liarnya ia malam ini.


"Sekarang giliranku.." bisik Haiden. Ia membawa Aira ke atas tempat tidur tanpa melepas penyatuan mereka. Haiden memulai gerakan maju mundur dengan perlahan. "Sayang jangan tinggalkan aku.." bisiknya lirih di sela - sela permainan mereka.


Aira memandang suaminya dengan tatapan kabur "Hanya kau satu - satunya pria yang aku cintai El.. bagaimana mungkin aku meninggalkanmu.. Aaacchh..! ooohh..!"


Mendengar jawaban itu Haiden terus memompa dengan cepat. Walaupun cepat tapi di rasa Aira sangat lembut. Itu yang selalu ia inginkan dari Haiden tanpa bosan.


Malam ini mereka melakukan penyatuan demi penyatuan hingga kelelahan..


🌸🌸🌸🌸🌸


"Bu.. hari ini aku tidak ke kantor.."


"Kau akan pergi..?"


"Ya.. temanku ada yang menikah.."


"Azka.. kakakmu sudah menikah.. kapan kau juga akan menikah..? ibu perhatikan kau hanya bermain terus.."


"Ibu tenang saja.. aku memiliki standar nilai tersendiri terhadap pria.."


"Selalu seperti itu jawabanmu.."


"Hehehehh.. kalau begitu aku berangkat dulu.." pamit Azkara sambil mencium kening Harika.


Kali ini Azkara naik mobil sendiri. Ketika hidup diluar negeri ia sudah tetbiasa mandiri. Teman SMP nya menikah di Bogor. Kali ini berangkat awal agar santai di perjalanan.


Tiba - tiba ada sepeda motor yang terus mengikutinya. Tampak dua orang pria mengenakan pakaian hitam terus mengikutinya. Azkara langsung waspada ia terpaksa merubah rute perjalanan untuk mengetahui apakah pria itu masih mengikutinya. Dan ternyata benar dugaannya dua prua itu masih mengikutinya.


"Apa yang mereka mau.." gumamnya.


Azkara melewati jalanan yang cukup sepi. Tiba - tiba saja sepeda motor itu melaju kencang menyalipnya dan kemudian menghadangnya


Ciiittt...!!! Azkara mengerem mendadak.


"Sial..!!!" teriak Aira. "Apa sih mau mereka..!"


Dua pria tadi turun dari melototnya dan menghampiri mobil Azkara. Pria itu membawa tongkat baseball.


"Sial..!!! mau cari gara - gara rupanya.." Azkara membuka pintu dan turun dari mobil.


"Nona Azkara..?!"


"Ya.."


"Harap ikut kami dan jangan melawan..!"


"Kau siapaku..? berani - berani memrintahku.."


"Jangan melawan nona.. kami tidak akan segan.." ucap pria itu berusaha meraih tangan Azkara.


Bugh.. Azkara menendang pria itu.


"Berani kamu ya..!"


"Maju saja kalian.." tantang Azkara.


Semua keluarga Lukashenko bisa tehnik bela diri dan mempergunakan beberapa senjata. Jadi hanya melawan dua orang bukanlah hal yang sulit buat Azkara.


Tampak salah satu dari pria itu mengeluarkan pisau lipat dan bersiap menyerangnya dari belakang. Saat itu Azkara tampak lengah dan "Awas nona..!!!" teriak seseorang.


Azkara langsung membalik dan dengan gerakan cepat menangkis serangan itu. Akan tetapi tangannya sempat tergores sedikit. Dua pria itu berhasil di lumpuhkan.


Tampak seorang pria yang berlari - lari menghampitinya "Nona tidak apa - apa..?" tanya seseorang


"Noah.." Azkara keheranan melihat Noah berada di sini. "Apa yang kau lakukan disini..?"


🌸🌸🌸🌸🌸