My Desire

My Desire
Panggil Aku El



"Aduh sudah jam enam sore.. mana antrinya banyak lagi.. kira - kira sebelum jam makan malam aku bisa sampai dirumah tidak ya.." gumam Aira cemas..


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit akhirnya martabak pesanannya sudah jadi.


"Ayo bang cepat sedikit.." teriaknya ke ojol.


"Sabar neng.." ucap tukang ojol. "Ini langsung pulang.."


"E.. nggak bang ke pom bensin terdekat saja.."


"Kenapa..? nggak sesuai titik lo.."


"Hmm saya ada janji sama orang disana.." jelas Aira. "Nanti saya bayar penuh deh.."


"Ya sudah ayo neng.."


Aira segera naik ke atas motor, hanya memakan waktu sepuluh menit mereka sampai di tujuan. Setelah membayar ojol tadi ia berjalan menuju toilet pom bensin.


"Apa yang dia lakukan Noah..?"


"Mungkin berganti pakaian tuan.."


"Ah ya benar katamu.."


Dan tak beberapa lama Aira keluar sudah mengenakan kemeja dan celana panjang dengan rambut pendeknya. Ia memesan ojol lagi untuk mengantarnya pulang..


Waduh.. aku pasti kena marah tuan.. ini sudah jam makan malam. Hanya keajaiban saja yang bisa menolongku batin Aira cemas.


"Noah kita lewat jalan pintas.. aku ingin sudah di rumah sebelum ia sampai.."


"Baik tuan.."


Hampir memakan waktu dua puluh menit akhirnya Aira sampai di kediaman Lukashenko.


Untung telat nya tidak begitu lama.


"Selamat malam nyonya, tuan.." sapanya


"Malam Abi.. bagaimana liburanmu..?"


"Hehehhh.. menyenangkan nyonya.."


"Apakah kau keluar bersama pacarmu..?"


"Bbbuukan nyonya.. saya belum punya pacar.."


"Benarkah.. kenapa bibirmu merah..?"


Waduh aku lupa menghapus make up yang aku coba tadi waktu beli accesories, bagaimana ini batin Aira panik..


"Apa kamu ciuman dengan pacarmu sehingga lipstiknya menempel di bibirmu..?" tanya Haiden


"Bbukan pacar tuan.."


"Berarti sahabatmu..?"


"Yah betul tuan.. ciuman dari sahabat.. maklum kami lama tidak jumpa.." jawab Aira.


"Hmmm.. anak muda jaman sekarang suka aneh - aneh.." ucap Harika.


Aira berusaha mengusap bibirnya dengan bajunya. Ia melakukan itu agar tidak ada pertanyaan lagi.


"Kenapa terlambat..?"


"Maaf tuan.."


"Sudah jangan di marahi El.. terlambatnya kan cuma sebentar.."


"Tapi itu sama saja dia tidak disiplin.. aku tidak suka bekerja dengan orang seperti itu.."


"Maaf tuan.." ucap Aira lirih sambil menunduk. Ia meremas plastik bungkusan yang ada ditangannya. Matanya berkaca - kaca.


"Apa itu..?"


"Oh.. ini martabak mesir buat tuan.."


"Kamu terlambat karena membeli ini..?"


"Bukan tuan.. saya terlambat karena saya memang tidak disiplin.. maaf.."


"El sayang.. sudahlah kan juga baru pertama ini dia terlambat.."


"Tapi tetap saja tidak disiplin.."


"Eh bukankah martabak mesir kesukaanmu dari kecil.." ucap Harika berusaha mengalihkan pembicaraan agar Haiden tidak marah. "Itu tandanya dimana pun Abi berada ia selalu ingat dengan kita.. apa ada juga buatku.."


"Ada nyonya..?"


"Benarkah..? apa itu..?"


"Buku.. saya perhatikan akhir - akhir ini nyonya baru suka baca buku.." ucapnya sambil menyerahkan sebuah buku untuk Harika.


"Oh Abi.. terima kasih sudah mengerti aku.."


"Tapi maaf nyonya buku yang saya beli murah.."


"Tidak apa - apa Abi.. yang penting bentuk perhatiannya.. akan aku baca nanti malam.."


"Iya nyonya.. itu bentuk terima kasih karena nyonya dan tuan sudah menjaga saya selama saya bekerja disini.. dan juga sudah memberi saya waktu untuk berlibur.."


"Aku senang hadiah liburan ini bisa membuatmu bahagia Abi.."


"Iya nyonya.."


Haiden hanya diam saja. Ia menikmati sepotong puding dan mendengarkan apa yang dibicarakan ibunya dengan Abi.


"Abi.."


"Ya tuan.."


"Kau ikut aku ke kamar.. aku mau istirahat.."


"Baik tuan.."


"El.." panggil Harika.


"Iya ibu aku tahu.. aku tidak akan marah dengannya.."


Bella yang melihat keakraban antara Abi dan Harika menjadi tidak senang. Ia harus menjadi orang kepercayaan Harika lagi. Akan aku singkirkan kau Abi batin Bella geram.


Haiden naik ke atas menuju kamarnya, Aira mengikutinya dari belakang.


Haiden duduk di sofa sambil menyalakan televisi, sedangkan Aira tetap berdiri tidak jauh dari Haiden.


"Aku tidak suka kamu bohongi.."


"Saya bohong soal apa tuan..?"


"Soal lipstik tadi.."


"Saya tidak bohong tuan.. itu memang lipstik sahabat saya.."


"Oh jadi kamu berciuman bibir dengan sahabatmu begitu.. dan itu kamu anggap biasa..?"


Waduh gawat.. aku harus jawab apa.. tuan terus mendesakku.. memang benar kata orang sekali berbohong akan menutupi sembilan puluh sembilan kebenaran.. tapi mau bagaimana lagi aku terpaksa melakukannya demi pekerja di perusahaan om Baskara.. kasian kalau sampai terjadi PHK besar - besaran batin Aira.


"Kenapa diam..?"


"O..o.. masuk akal juga.."


"Ya tuan.." jawab Aira menghela napas lega.


"Bagaimana denganku..? apakah kita dekat..?"


"Hmm.. yah kita dekat sebagai tuan dan pelayan.."


"Jadi maksudmu kita tidak dekat sebagai teman..? padahal aku banyak menolongmu dan perusahaan om mu.."


"Ehmm maksud saya iya akrab tuan.. layaknya seorang teman dan juga atasan.."


"Bagus.." ucap Haiden tersenyum


"Hehehehh.. iya tuan.." Aira ikut tersenyum tapi harap - harap cemas.. tidak tahu apalagi yang akan menimpanya nanti..


"Karena menurut kamu kita akrab.. aku juga bisa melakukan apa yang kamu lakukan dengan sahabatmu itu.."


"Hah...maksud tuan ciuman..?"


"Yah.. bukankah itu hal biasa menurutmu.."


"Tttaapi tuan.." Aira tidak meneruskan kata - katanya karena bingung harus menjelaskan seperti apa. Tuannya itu pintar memutar balikkan kata.


"Kamu berarti bohong padaku..?" tanya Haiden sambil menatap tajam Aira


Wah bagaimana ini.. aku termakan omonganku sendiri.. sudahlah diijinkan saja dari pada tambah panjang urusannya..


"Saya tidak bohong tuan.." jawab Aira gugup. "Iya tuan karena kita juga akrab tidak ada salahnya jika kita berciuman.. eh maksud saya ciuman tanda persahabatan.." jelas Aira. Yah ciuman pertamaku kenapa bisa tuan sih yang mendapatkannya batin Aira.


Tiba - tiba Haiden berdiri, ia berjalan mendekat ke arah Aira.


"Apa yang tuan lakukan..?"


"Ingin stempel tanda bahwa kita akrab.."


"Mmaksud tuan kita ciuman.."


"Hmm bisa dibilang begitu.."


"Kita ini dua orang pria tuan.."


"Tapi antara kamu dengan sahabatmu tidak ada masalah kan.. toh ini juga bukan karena nafsu tapi karena kita akrab.."


Aira menarik napas panjang. Seluruh badannya menjadi lemas.


Rasakan.. itu akibat kau berbohong kepadaku.. Heh ini sangat menarik batin Haiden.


"Apakah seperti ini ciumannya..?" tiba - tiba dengan gerakan cepat Haiden mencium bibir Aira.


"Ttuaann..!" teriak Aira kaget.


"Oh bukan ya.. atau seperti ini.." Haiden kembali mencium Aira tapi kali ini dengan sedikit gigitan di bibirnya


"Aauuww..! sakit tuan.." teriak Aira sambil memegangi bibirnya yang digigit Haiden


"Oh salah lagi ya.. kalau begitu tunjukkan padaku bagaimana kamu berciuman dengan sahabatmu sebagai tanda keakraban diantara kalian.."


"Hmmm.. yang tadi sudah betul tidak perlu saya tunjukkan lagi kan tuan.." elak Aira.


"Yang mana.. bukankah tadi kau mengatakan salah semua.."


"Tidak.. tidak..! saya tidak mengatakan apa - apa tuan.." ucap Aira dengan nada tinggi.


"Oh kau berani membentakku.. kau bohong kepadaku..? ekpresi wajahmu yang mengatakan ciumanku tadi salah semua.."


Ya tuhan ingin aku jitak kepalamu tuan Haiden.. batin Aira geram.. kenapa tiba - tiba kau jadi bodoh perihal ciuman.. bukankah bibirmu itu sering berciuman dengan wanita - wanita cantik..


"Baiklah saya tunjukkan.." Aira akhirnya menyerah. Ia maju mendekat ke arah Haiden. Dengan sedikit berjinjit ia berusaha meraih bibir tuannya. Tapi apa daya karena tuannya sangat tinggi dan wajahnya juga tidak mau menunduk, ia menjadi gagal mencium. "Tuan bisakah anda menunduk sebentar, saya tidak bisa meraihnya.."


"Baiklah kalau itu maumu.." Haiden menundukkan wajah dan sedikit membungkuk. Dengan cepat Aira segera mencium bibir tuannya itu.


"Oh begitu caramu.." Haiden manggut - manggut.


Degub jantung Aira berdetak sangat cepat. Baru kali ini ia mencium seorang pria. Ia menunduk dan menggigit bibirnya.


Menggemaskan batin Haiden. Bibirmu terasa manis.. aku tunggu sampai dimana kamu bisa bertahan dengan penyamaranmu itu..


"Oke.. aku terima stempel tanda kita akrab.." ucap Haiden. "Karena kita sudah akrab kau bisa memanggilku Kafael atau El.."


"Kafael.. El.." ucap Aira. Bukankah tidak sembarang orang boleh memanggilnya dengan nama El.. hanya orang - orang yang tuannya ijinkan.


Gila..! suaranya ketika memanggil namaku membuat hasratku muncul.. sangat seksi batin Haiden menelan ludah.


"Ehem.. yang sopan kamu.."


"Eh maaf tuan.. maksud saya tuan El ya kan.." ucap Aira sambil tersenyum.


"Panggil lagi.."


"Tuan El.."


"Bagus.. kembalilah ke kamarmu.."


"Baik tuan saya permisi.." pamit Aira dan ia bisa bernapas lega. Kembali ke kamarnya dan beristirahat.


☘☘☘☘☘


"Bagaimana nasib Alex.."


"Betul betul bodoh dia..! melakukan hal sepele saja tidak becus.."


"Sabar sayang.. aku tahu kali ini kita tidak berhasil.. tapi aku jamin tidak akan ada lagi lain kali.."


"Varrel bisakah aku memegang kata - katamu..?"


"Tentu saja Revina.. percayalah padaku.." ucap Varrel. "Bukankah aku juga yang membuatmu berada di puncak keartisan seperti sekarang ini.."


"Aku sakit hati dengan penolakannya.. aku ingin memberinya pelajaran.."


"Sabar sayang.. kita masih banyak waktu.." jawab Varrel. "Aku rasa dia adalah pria terbodoh karena telah menyia - nyiakan seorang gadis cantik sepertimu.."


"Aku juga bingung... sudah berbagai cara aku tempuh untuk mendapatkan perhatiannya tapi semua gagal.." ucap Revina sambil meneguk minuman.


"Aku dengar saat ini dia dekat dengan Ivanka.."


"Yah.. aku dengar juga seperti itu.." ucap Revina. "Tapi dari mana ia bisa kenal dengan Ivanka.."


"Aku dengar saudara sepupu Ivanka ada yang bekerja sebagai pelayan pribadi Haiden.."


"Pelayan..? siapa..?"


"Abi.."


"Oh ya aku ingat.. ternyata pria kecil itu saudara sepupu Ivanka.. itu artinya dia juga yang membuat aku menjadi jauh dari Haiden.." ucap Revina geram. "Aku harus memberinya sedikit pelajaran.."


"Itu harus sayang.. biar dia tahu posisi mu dan siapa Revina itu.."


"Hahahahhhh...." mereka tertawa bersama..


Tunggu pembalasanku Abi..


☘☘☘☘☘