My Desire

My Desire
Jaminan Seumur Hidup



"Apa yang terjadi El..? kenapa kau memecat Bella..?"


"Ibu aku punya alasan sendiri dan aku mohon ibu menghargai keputusanku.."


"Aku sangat menghargai keputusanmu.. tapi aku perlu penjelasan karena ia pelayan pribadi ku.."


"Dia seorang pengkhianat bu.. dia sudah berani masuk ke dalam ruang kerjaku dengan menggunakan kunci duplikat.."


"Ya tuhan.. aku tidak menyangka dia akan berani melakukan itu.." ucap Harika tidak percaya. "Aku harus segera memberitahu Kemal.."


"Paman..? apa hubungannya dengan paman..?" tanya Haiden.


Harika diam sejenak. Dia menyadari kesalahannya yang tidak menceritakan dari mana Bella.


"Aku menunggu penjelasan ibu.."


"Maafkan aku El.. aku tidak menceritakan dari awal.." ucap Harika menyesal. "Baiklah aku akan berterus terang.. sebenarnya yang merekomendasikan Bella untuk bekerja disini adalah Kemal.. dia anak dari saudara jauh Kemal.. dari keterangan Kemal, Bella itu anak yatim, ayahnya meninggal karena sakit paru - paru.. kondisi ekonominya sangat minim.. aku kasihan mendengar cerita hidupnya jadi aku memutuskan untuk menerimanya kerja disini.."


"Jadi saat ibu mengatakan kalau dia anak sahabat ibu, ibu berbohong padaku..?"


"Maafkan ibu El.. aku benar - benar kasihan dengan hidupnya yang serba pas - pasan.."


"Aku tidak akan pernah keberatan jika itu ibu yang meminta tapi tolong jangan bohongi aku.."


"Aku benar - benar menyesal El.."


"Aku tahu.. aku memaafkanmu ibu.."


Haiden memeluk Harika dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan ke kantor bu.. nanti akan aku carikan pengganti Bella.."


"Baiklah.. hati - hati.."


☘☘☘☘☘


"Abi.."


"Abi.." panggil Haiden sekali lagi dengan suara agak keras.


"Eh ya tuan.. ada perintah..?"


"Aku perhatikan dari tadi kamu melamun.."


"Tidak tuan.. saya tidak melamun.. memangnya saya tampak melamun..? tuan punya bukti..?"


"Sini.."


Abi berjalan mendekat ke meja kerja Haiden..


"Lihat ini.." Haiden menunjukkan handphone pada Aira.


"Yah jelek sekali foto saya tuan.." ucap Aira kesal.


"Hahahahhh.." Haiden tertawa. "Sudah.. sudah.. kamu kerjakan saja ini.." ucap Haiden sambil menyerahkan beberapa berkas.


Aira menerimanya. Memang tak dapat dipungkiri ia tadi sempat melamun. Pikirannya kembali pada kejadian tadi pagi. Ia baru menebak kira - kira siapa yang berani masuk dalam ruangan tuannya. Ah sudahlah kata bu Eda aku tidak boleh penasaran dengan apa yang terjadi di rumah itu pikir Aira.


Tok..tok..tok..


"Masuk.."


Noah membuka pintu dan masuk menemui Haiden.


"Maaf tuan ada nona Ivanka.."


"Ya sudah suruh dia masuk.."


Ivanka ngapain dia kesini. Oh jangan - jangan tuan mau memberikan kalung yang waktu itu dibeli di Maldives. Aduh kenapa sakit sekali dadaku. Atau lebih baik aku keluar saja pikir Aira. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan mau berjalan keluar.


"Mau kemana..?"


"Mau keluar tuan.."


"Pekerjaanmu sudah selesai..?"


"Belum.. kurang sedikit tuan.."


"Duduk dan selesaikan.." perintah Haiden.


"Tapi tuan ada tamu.."


"Tidak masalah toh kamu kenal dengan tamuku.."


Aira menghela napas panjang. "Baik tuan.." ia kembali ke tempat duduknya.


Ivanka masuk ke dalam ruangan. Kali ini ia memakai baju tipis warna floral dan rok pendek.


"Hai Haiden.. aku tidak mengganggukan..?"


"Tidak.. duduklah.." Haiden mempersilahkan Ivanka duduk.


"Maaf aku datang tanpa memberitahu mu dulu.."


"It's okey.." jawab Haiden enteng. "Ada yang bisa aku bantu..?"


Tiba - tiba Ivanka tertunduk dan diam. Airmatanya pelan - pelan turun ke pipinya. Haiden menyerahkan tisu untuk menyeka air matanya.


"Terima kasih.. maaf aku terbawa suasana.."


Aira melirik tajam ke arah Ivanka. Sandiwara apa lagi yang sedang kau mainkan Iv. Aku tahu dalam hidupmu kau jarang menangis kecuali kekurangan uang batin Aira kesal.


Haiden melirik ke arah Aira yang tampak kesal dengan kedatangan Ivanka. Ia kemudian tersenyum nakal penuh arti.


"Aira buatkan saudaramu teh hangat agar ia lebih tenang.."


Apa aku disuruh buat minuman untuk air mata buayanya. Aku campur garam baru tahu rasa. "Baik tuan.." akhirnya itulah kata - kata yang keluar dari mulutnya.


Aira keluar ruangan dan menuju pantry, tidak memakan waktu lama ia kembali lagi ke ruangan Haiden. Tapi apa yang dilihatnya Ivanka sudah berganti posisi menjadi duduk diatas pangkuan Haiden. Aira kaget melihat pemandangan di depannya. Hampir saja cangkir di tangannya jatuh jika ia tidak memegangnya dengan erat.


Kenapa melihat pemandangan ini dadaku sesak, aku sulit bernapas, mataku panas hingga hampir saja air mataku keluar batin Aira sedih.


"Eh Abi.. maaf ya kami tidak tahu kedatanganmu.."


"Maaf.. saya mengganggu, kalau begitu saya keluar dulu.." ucap Aira. "Ini tehnya, silahkan di minum.." setelah meletakkan secangkir teh di atas meja Aira langsung bergegas keluar. Haiden hanya diam dan menatap tajam kepergiannya.


"Turun..!" perintah Haiden.


"Maaf Haiden aku tadi tidak sengaja terjatuh.." ucap Ivanka sambil turun dari pangkuan Haiden. Membenarkan letak pakaiannya kemudian duduk kembali di sofa.


"Baiklah.." ucap Ivanka sambil menyeruput teh buatan Aira. "Haiden aku mohon pertimbangkan permintaanku oke.."


"Jadi kau ingin terus menggunakan Abi sebagai jaminan.. seumur hidupnya.."


"Iya Haiden karena aku tahu orang tuaku tidak akan sanggup membayar hutang itu.. kau tahu papa ku masih suka berjudi.. dan aku lihat Abi orang yang sangat setia.. aku yakin itu akan menguntungkanmu.."


"Bagaimana jika ia ingin menikah..?"


"Tidak.. itu tidak mungkin.. Abi tidak punya pacar.. aku yakin ia akan tetap bekerja denganmu tanpa menikah.."


"Kau gila.. bagaimana jika ia ingin bebas..?"


"Haiden aku sudah mengatakan padamu, Abi akan menuruti keinginan dari papa ku tanpa berani menolak.. tolong lupakanlah hutang papaku oke..?"


"Akan aku pertimbangkan.. pulanglah, sebentar lagi aku ada rapat.."


"Baiklah.. aku permisi.."


Ivanka segera keluar ruangan. Haiden menatap tajam kepergiannya. Ia tidak habis pikir ada keluarga yang begitu kejam, rela menjual saudaranya yang anak yatim piatu hanya untuk kepentingan pribadinya.


"Noah.."


"Ya tuan.."


"Mana Abi..?"


"Di atap gedung tuan.."


"Aku akan kesana.. siapkan mobil aku mau pulang.."


"Baik tuan.."


Noah membawa tas Haiden ke mobil sedangkan Haiden menuju atap gedung. Ia melihat Aira yang duduk menatap ke awan.


"Abi.."


"Eh tuan.."


"Kamu sedang apa..?"


"Hmm.. tidak sedang apa - apa tuan.. maaf tadi saya mengganggu tuan.."


"Aku tidak merasa terganggu.. atau justru kamu yang terganggu..?"


"Saya..? terganggu..? oh tidak tuan.. tuan berhak bersama wanita mana saja.. itu hak pribadi tuan.." ucap Aira sambil memalingkan muka. Ia takut jika Haiden melihat sorot matanya yang berbohong.


"Baiklah.. jika itu saran dari mu.. nanti malam aku akan ke klub.. aku yakin banyak wanita yang akan memohon untuk bisa dekat denganku.."


"Tuan tidak mempertimbangkan perasaan Ivanka..?"


"Apa hubungannya..?"


"Tuan sudah berpacaran dengannya kan.. terbukti tadi dia duduk di pangkuan tuan.. apalagi kalung pemberian tuan sebagai buktinya.."


"Pacaran..? kalung..? kalung apa aku tidak mengerti.."


"Kalung yang di Maldives.."


"Hahahhah.. aku tidak membeli kalung itu Abi.. aku hanya menggodamu saja.." jelas Haiden.


"Jjadi kalung itu masih disana..?" tanya Aira memastikan. Haiden menganggukkan kepala.


"Dan lagi.. tadi Ivanka tersandung sehingga tidak sengaja jatuh kepangkuanku.. kenapa pikiranmu sangat sempit.."


"Tidak.. saya tidak berpikiran sempit.."


"Tentu saja sempit dan juga kotor.. hahahahhh.." ucap Haiden. Aira yang mendapat tuduhan itu melotot ke arah tuannya. Haiden terus tertawa melihat muka Aira "Kalau misalnya tiba - tiba kamu aku gendong seperti ini berarti kita pacaran..?" tanya Haiden yang langsung menggendong Aira


"Tuan.. turunkan saya.. nanti kalau ada yang lihat.. kita ini dua pria.."


"Hahahhah.. ya..ya.. kita ini dua pria.." ucap Haiden sambil menurunkan Aira. "Kalau misal kita melakukan stempel persahabatan seperti ini apa itu juga di katakan pacaran..?" tanya Haiden lagi sambil mencium bibir Aira sekilas.


"Tuan..! tuan mengerjai saya.." ucap Aira sambil memukul dada tuannya.


"Oh.. sekarang sudah mulai berani ya.."


"Ampun tuan.. saya kelepasan.." ucap Aira sambil lari kabur dari Haiden.


"Hei tunggu..! kamu harus dapat pelajaran.." teriak Haiden sambil mengejar Aira.


☘☘☘☘☘


"El.. kamu sudah dapat pengganti Bella..?"


"Belum ibu.."


"Bagaimana kalau Abi..?"


"Ibu.. dia pria.. tidak mungkin dia melayani ibu.."


"Ah ya.. ibu lupa.."


"Noah sedang mencarinya.. besok aku pastikan ia sudah dapat.."


"Baiklah ibu tunggu kabar baiknya.."


"Kalau begitu aku tidur dulu ibu.. selamat malam.."


"Selamat malam.."


Haiden keluar dari ruang keluarga menuju ke kamarnya. Aira sudah mempersiapkan semua perlengkapan tidurnya.


"Abi.. istirahatlah.. aku mau tidur.."


"Baik tuan.. permisi.."


Aira keluar dari kamar Haiden. Sementara itu di dalam Haiden sudah mengganti pakaiannya dengan piyama warna biru tua. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lama ia berusaha memejamkan matanya tapi gagal. Sial kenapa pikiranku ada pada bibir Abi.. benar - benar membuatku ketagihan. Apakah dia sudah tidur pikir Haiden.


Ia kemudian mengambil sebuah ipad dan melihat kamera yang ia pasang di kamar Aira. Disana terlihat Aira yang telah habis mandi, terlihat segar dengan rambut aslinya. Sepertinya ia bersiap untuk tidur. Haiden memandangnya dengan tersenyum. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit ia segera bangun, mengambil sebuah kunci dan keluar dari kamarnya.


Saat - saat seperti ini semua pelayan sudah istirahat hanya penjaga malam dan bodyguard saja yang masih terjaga. Haiden berjalan menuju kamar Aira. Ia buka pintunya dengan kunci.


Terlihat pemandangan dari wanita yang setiap malam ia rindukan. Haiden berjalan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Cantik.. sangat cantik.." ucapnya lirih sambil membelai pipi Aira. Dengan perlahan ia mulai mencium kening dan bibir Aira. "Selamat istirahat Aira cantik.." Haiden kembali mencium bibir Aira dan kemudian keluar kamar untuk kembali ke kamarnya. Sepertinya malam ini ia akan tidur nyenyak.. sangat nyenyak


☘☘☘☘☘