My Desire

My Desire
Permintaan Maaf Ivanka



Hmm.. tidurku nyaman sekali batin Aira.


"Sudah bangun..?"


Suara itu.. suara tuan.. Aira membuka matanya.. Heh kenapa aku bisa diatas tempat tidur.. perasaan kemarin aku duduk di bawah pikir Aira. Ia segera bangun dan turun dari tempat tidur.


"Maaf tuan saya bangun terlambat.."


"Tidak apa - apa kamu pasti capek semalaman mengurusku.."


"Eh.. iya tuan.. ttapi bagaimana saya bisa ada diatas tempat tidur..?"


"Mana aku tahu.. mungkin karena kamu terbiasa nyaman di tempat tidurku.."


"Bbukan.. ttidak.. saya tidak berani lancang tuan.."


"It's okay.. aku maafkan.."


"Tuan sudah sembuh..?"


"Ehem.. ehem.. uhuk.. uhuk.. tenggorokan ku masih sedikit sakit.." jawab Haiden berbohong.


"Akan saya siapkan obat setelah sarapan nanti.."


"Hmm.."


"Kalau begitu saya permisi tuan.."


Aira segera keluar dari kamar Haiden. Ia bersiap melakukan aktivitas seperti biasa tapi kali ini ia lebih banyak diam tidak ceria seperti biasa.


"Kamu kenapa Abi..? sakit..?" tanya Harika saat sarapan bersama.


"Tidak nyonya.."


"Tumben banyak diam.." ucap Harika. "Atau jangan - jangan kamu kecapekan karena ngurus El..?" tanya Harika. "Kamu tuh El.. Abi jangan disuruh kerja terus.. kasih dia liburan bersama keluarga dan teman - temannya.."


"Tidak perlu nyonya.. saya tidak capek dan saya baik - baik saja.."


"Mungkin kecapen karena semalam bergadang ngurus El.." sela Azkara.


"Memangnya kamu kenapa El..? lembur..? ada tender baru..?" tanya Harika.


"El kan sakit bu.." ucap Azkara enteng sambil tetap menikmati sarapannya


"Kamu sakit..? kok ibu tidak tahu..? kapan..?"


"Cuma flu biasa bu.." jawab Haiden. Matanya memandang tajam ke Azkara. Yang dipandang malah menjulurkan lidahnya.


"Ibu panggil dokter saja.."


"Tidak usah bu.. sudah agak mendingan.. tanya saja sama Abi..?"


"Iya nyonya.. tuan sudah tidak batuk seperti tadi malam.."


"Kamu harus mengganti vitaminmu dan pola makanmu dijaga.. hari ini di rumah saja tidak usah ke kantor.. ibu akan tetap meminta resep ke dokter.."


Heh.. malah panjang urusannya batin Haiden.


☘☘☘☘☘


"Iv.. hari ini kamu harus ke rumah Haiden.. rayu dia bagaimanapun caranya.."


"Kenapa lagi sih ma..? kesalahan apa yang sudah mama perbuat..?"


"Mama gagal menjual Aira.."


"Kok bisa..?"


"Entahlah.. saat transaksi berlangsung tiba - tiba ada seorang gadis muda datang.. ia tahu kalau Aira jadi jaminan di keluarganya. Itu tandanya dia masih ada hubungan dengan keluarga Lukashenko.."


"Hmm..seorang gadis muda..? tunggu sebentar.." ucap Ivanka sambil mengambil handphone dan membuka nya. "Apakah ini orangnya..?"


"Ya benar.."


"Aduh kenapa mama berurusan dengan dia.."


"Mana mama tahu.. memangnya dia siapa..?"


"Dia adiknya Haiden ma.. dia adik kesayangannya.."


"Tunggu.. kemarin dia melihat Aira memakai baju perempuan.. itu tandanya ia tahu kalau Abi itu Aira.."


"Itu pasti ma.."


"Bagaimana kalau dia mengadu pada Haiden.."


"Menurutku belum.. kalau ia sudah mengadu pasti Haiden akan memanggil kita sekeluarga.. mungkin Aira yang memintanya untuk merahasiakan identitasnya.."


"Maka dari itu kita harus segera mengambil langkah.."


"Aku akan coba bertemu dengan Aira.. kalau aku harus datang menemui Haiden itu hanya akan menimbulkan pertanyaan saja. Ingat Haiden tipikal orang yang tidak mudah percaya.."


"Mama menuruti saja apa yang kamu lakukan.."


"Aku akan menelepon Aira.."


Ivanka segera melakukan panggilan dengan Aira.


"Halo.."


"Ya Iv.."


"Besok kita ketemu di cafe Larizza.."


"Aku ijin tuan dulu.."


"Aku ingin minta maaf.."


"Benarkah..?"


"Benar Aira..oleh sebab itu aku ingin bertemu denganmu.."


"Baiklah.." panggilan pun di tutup.


"Bagaimana..?"


"Ijin Haiden dulu ma.."


"Yah terserahlah.. yang penting Haiden tidak marah.. tapi bagaimana dengan tuan Leo..? dia sudah terlanjur suka dengan Aira.."


"Heh.. dasar pedofil.. mama sama papa urus sendiri.." ucap Ivanka sambil pergi ke kamarnya meninggalkan Nungki berpikir sendiri.


☘☘☘☘☘


"Siapa Ai yang telepon.."


"Eh.. itu Ivanka non.."


"Sssttt.. tidak ada orang.. jangan panggil nona.."


"Itu Ivanka saudaraku Az.."


"Anak nenek sihir itu..?"


"Hahahh.. yah betul.. dan perlu kamu tahu Ivanka itu wanita yang disukai oleh kakakmu.."


"Benarkah kakakku memiliki selera rendahan seperti itu..?"


"Eh.. kau belum tahu Ivanka.. dia itu wanita yang sangat cantik.."


"Ah.. cantik bukan jaminan.." ucap Azkara. "Jadi sekarang kakakku pacaran dengannya.


"Entahlah.. tapi yang aku tahu dulu tuan sangat suka dengan Ivanka.."


"Siapa yang aku suka..?" tanya Haiden dari arah belakang datang tiba - tiba.


"Ah kau mengagetkanku saja El.." ucap Azkara.


"Siapa yang sangat aku suka..?" Haiden mengulangi pertanyaannya.


"Maaf tuan. . itu nona Ivanka.."


"El.. aku tidak suka kau dekat dengan wanita itu.." ucap Azkara.


"Itu urusanku.." jawab Haiden sambil melirik Aira. Sedangkan Aira hanya tertunduk saja.


"Maaf nona.. sebenarnya Ivanka itu wanita yang baik.."


"Dasar keras kepala..!"


"Hmm tuan.."


"Ya Abi.."


"Hari ini saya bisa ijin keluar lagi..?" ijin Aira sambil meremas tangannya. Takut jika tidak diijinkan keluar oleh Haiden.


"Untuk apa..?"


"Ivanka mengajak saya bertemu.."


"Tidak boleh.. kau tidak boleh keluar ketemu wanita itu..!" sela Azkara dengan nada tinggi.


"Ivanka..? suruh saja dia datang ke sini.. kenapa kamu yang repot menemuinya.." ucap Haiden. Ia sebenarnya ketakutan jika Aira pergi menemui Ivanka. Tapi tidak mungkin ia tunjukkan, karena Aira akan tahu jika Haiden sudah tahu kejadian yang menimpanya


Heh pasti tuan juga ingin bertemu dengannya kan.. dari wajahnya sudah kelihatan sekali batin Aira. Hatinya selalu tidak tenang jika Haiden berurusan dengan wanita lain


"Saya tidak tahu dia mau atau tidak tuan.. mungkin dia malu untuk datang kesini.."


"Tuh.. kau dengar sendiri kan El.. dia tidak mau datang kesini.. sudah jauhi saja wanita itu.." ucap Azkara. "Tapi kenapa dia mau bertemu kamu Abi..?"


"Untuk minta maaf nona.."


"Minta maaf..? untuk apa..?" tanya Haiden


Seperti tersadar dari kesalahannya Aira langsung berpikir cepat agar Haiden tidak tahu apa yang menimpanya kemarin "Hmm.. itu.. itu.. karena kemarin waktu saya datang kesana ia tidak ada.." jawabnya sambil memandang Azkara penuh arti.


"Aku akan menemanimu Abi.. boleh kan El..? sekalian aku mau jalan - jalan.."


"Baiklah tapi hanya sebentar.. sore kau sudah di rumah.."


"Oh.. terima kasih kakakku yang baik dan tampan sedunia.."


"Berisik..!" ucap Haiden yang kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Aira aku takut jika dia akan menjualmu lagi.."


"Tidak Azka.. Ivanka otaknya pintar tidak mungkin ia menggunakan cara yang sama untuk menyakitiku.. ia mau minta maaf.."


"Jangan kau maafkan dia..!"


"Aku tidak bisa.. walau bagaimanapun dia tetap keluargaku.. tuhan saja memaafkan umatnya kenapa kita tidak.."


"Ah.. kau terlalu baik.. harusnya terkadang kau harus berbuat jahat juga.."


"Hahahah.. kapan - kapan akan aku coba.." ucap Aira.


"Eh.. bagaimana kalau kita main ke taman hiburan setelah bertemu Ivanka nanti.."


"Kalau tuan marah bagaimana..?"


"Nggak.. dia nggak akan marah.." ucap Azkara meyakinkan. "Aku juga sudah beli baju buat kamu.. kali ini kamu ketemu Ivanka harus tampil cantik.. ingat Aira kau tidak sendiri.. kau punya aku untuk diandalkan.."


"Terima kasih Azka.."


☘☘☘☘☘


Aira dan Azkara datang di cafe Larizza. Di sana Ivanka sudah menunggu. Ivanka tampak terkejut dengan penampilan Aira.


"Aira kau.."


"Apa yang ingin kau bicarakan Iv..?"


"Oke.. aku kira kau sudah bisa menebak apa maksudku.."


"Ya aku tahu.." jawab Aira.


"Oya.. ini adalah..." tanya Ivanka sambil memandang Azkara


"Oh.. ini nona Azkara adik tuan Haiden.."


"Aku sudah tahu.. dan aku setia mengikutimu di media sosial.." ucap Ivanka sambil mengulurkan tangannya "Aku Ivanka.."


"Azkara.." sambut Azkara sinis.


"Aku senang sekali bisa berkenalan langsung denganmu.." ucap Ivanka. "Jadi kau sudah tahu kalau Abi itu Aira dan dia seorang wanita..?"


"Yah aku tahu.."


"Apa Haiden tahu..?"


"Tidak.."


"Kau pasti sudah tahu kan kesulitan keluarga kami.. dan kami terpaksa melakukan ini.."


"Tahu.. Aira sudah bercerita.. dan terus terang aku sangat tidak suka kau melakukan hal itu padanya.. tidakkah kalian memiliki hati nurani.."


"Tunggu.. kami sama sekali tidak pernah memaksa Aira.. dia sendiri yang ingin berkorban untuk menjadi jaminan di rumah keluargamu.."


"Oke.. kalau itu aku bisa memahami.. tapi bagaimana dengan kemarin..?"


"Aira.. aku atas nama keluargaku ingin minta maaf.." ucap Ivanka sambil mengenggam tangan Aira. Cuih kalau bukan karena mama aku malas memegang tangan gembel ini.. najis batin Ivanka.


Air mata pura - pura sudah membasahi pipi untuk menambah sempurna aktingnya.


"Tapi kenapa tante Nungki tega berbuat seperti itu..?"


"Aira kau tahu kan mamaku tidak pernah hidup susah selama ini.. begitu tahu keuangan kami terkena masalah ia langsung stres dan sakit - sakitan.. dan puncaknya adalah kemarin.. ia tidak bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah dan mengambil jalan pintas yaitu dengan menjualmu.. tolong maafkan mamaku Aira.. maafkan keluarga kami.."


"Aku memaafkan segala sesuatu yang kalian perbuat.. tapi tidak ada lain kali Iv.." ucap Aira bergetar menahan agar airmatanya tidak jatuh. "Aku tidak bisa mentoliler lagi jika kalian melakukan ini padaku.. ini sama saja dengan perdagangan manusia dan aku tidak akan segan melaporkannya pada pihak berwajib walaupun kalian adalah keluargaku.."


Sial.. brengsek.. sudah berani gembel ini berkata seperti itu padaku.. pasti karena dukungan Azkara batin Ivanka geram "Iya.. kami tidak akan melakukan itu lagi Ai.. aku jamin.. kami akan berusaha mencari jalan keluar lain untuk masalah keuangan.." ucap Ivanka. "Hmm apakah Haiden tahu masalah yang menimpamu..?"


"Tidak Iv.."


"Syukurlah.."


"Kalau kakakku tahu.. aku rasa keluargamu sudah tidak bisa merasakan indahnya dunia ini lagi.." ucap Azkara sinis. Ia tahu Ivanka tidak meminta maaf dengan tulus. Tapi ia menghargai keputusan Aira untuk memaafkannya.


"Terima kasih atas kebaikan hatimu Azkara dan sampaikan salamku untuk kakakmu.."


"Baiklah Iv.. karena semua sudah selesai kau bicarakan, aku akan pamit.."


"Terima kasih Aira.. mama pasti senang mendengarnya.. semalam ia tidak bisa tidur dan akhirnya jatuh sakit.." ucap Ivanka sambil memeluknya.


"Sampaikan salamku untuk om Baskara.." ucap Aira. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Ivanka.


Awas kau Aira.. lihat saja pembalasanku.. kau sudah mempermalukanku dan menunduk - nunduk untuk minta maaf padamu batin Ivanka geram.


☘☘☘☘☘


"Ai.. aku ke toilet sebentar.."


"Oke aku tunggu sini.." jawab Aira.


Mereka berdua sudah sampai di taman bermain. Mereka akan menghabiskan waktu untuk bermain seharian.


Sementara itu di toilet Azkara tampak sedang menelepon seseorang.


"El.. aku sedang di taman bermain.. kalau kau ingin menemuiku aku akan mengijinkannya.."


"Aku banyak pekerjaan.."


"Kau yakin tidak mau berkencan diam - diam dengan wanita ini.."


"Siapa..?"


"Tunggu aku kirim fotonya.."


Azkara segera mengirim foto ke Haiden.


"Aira..?"


"Betul.. aku akan bermain seharian dengannya.. datanglah jika ingin bergabung.." ucap Azkara dan langsung menutup panggilannya tanpa memberi kesempatan Haiden untuk bicara. Azkara tersenyum dan kembali menemui Aira.


"Maaf lama.."


"Tidak apa - apa.."


"Ayo kita coba semua wahana disini.." ucap Azkara bersemangat.


☘☘☘☘☘