
"El.. ibu mau liburan.."
"Kemana ibu..?"
"Ke Bandung.. ibu mau menginap di villa bersama Azkara.."
"Baiklah.. bawa pelayan dan beberapa bodyguard.."
"Tidak perlu El.. ibu ingin menikmati ketenangan tanpa bodyguard yang selalu mengawasi.."
"Tapi bu.. aku sangat khawatir dengan keselamatan ibu.."
"Ayolah El.. kan sudah ada Azka.. dia pasti bisa menjaga ibu dengan baik.. apalagi ini hanya ke Bandung saja.."
"Oke.. oke.. aku ijinkan tapi jangan lama - lama.. aku akan kesepian di rumah sendiri.."
"Terima kasih El sayang.. besok ibu akan berangkat.."
Selesai berbincang dengan Haiden, Harika kembali ke kamar.
Haiden segera memanggil Noah.
"Perintah tuan.."
"Kau tahu CCTV yang ada di koridor bawah dan atas yang beberapa waktu lalu rusak.. sudah bisa kau pulihkan lagi..?"
"Sudah tuan tapi beberapa rekaman yang lama ada yang tidak bisa dipulihkan.."
"Aku minta periksa seluruh CCTV di rumah ini pada saat aku di suntik obat perangsang oleh Ivanka.."
"Apa ada masalah malam itu tuan..?"
"Tidak ada aku hanya ingin tahu saja.."
"Baik tuan akan segera saya laksanakan.."
"Secepatnya Noah.. ingat itu.." ucap Haiden dengan nada penuh penekanan. "Kabar terbaru dengan Aira bagaimana..?"
"Maaf tuan belum ada, cuma kemarin saya mendapat laporan dari bagian keuangan bahwa nona Azkara sering mentranferkan uang ke seseorang.."
"Ke siapa..?"
"Namanya Ujang Sutresna, dia tinggal di desa Patengan Rancabali Bandung.."
"Aku tidak mengenalnya.." Haiden tampak mengingat - ingat. "Sudah kau konfirmasi ke Azka.."
"Belum tuan.. "
"Ah sudahlah.. mau diberikan uangnya ke siapa saja bukan urusanku.."
"Tapi tuan.. setelah saya lihat nona sudah tranfer empat kali ke orang itu dalam jumlah cukup besar yaitu tiga puluh juta tiap bulan.."
"Apa dia kekasihnya yang baru..?"
"Saya tidak tahu tuan bisa saja seperti itu karena saya lihat nona juga sering ke Bandung.."
"Selidiki pria itu.. aku tidak ingin adikku mendapat pria yang tidak jelas dan hanya memanfaatkannya saja.."
"Baik tuan.. tapi maaf saya ada pemikiran sendiri.."
"Maksudmu..? sampaikan.."
"Baik tuan.. jadi saya curiga bahwa Ujang Sutresna itu adalah Aira.."
"Noah.. hati - hati kau.. jangan memberikan aku harapan palsu.."
"Maaf tuan.. karena nona Azkara mentransfer uang selang satu minggu hilangnya Aira.."
"Selidiki masalah ini Noah.. secepatnya.. mengerti..!"
"Baik tuan.. saya permisi.."
Haiden duduk termenung.. kalau memang ternyata Azkara terlibat dengan hilangnya Aira.. aku pastikan dia akan menerima akibatnya batin Haiden.
☘☘☘☘☘
Waktu yang untuk liburan Harika dan Azkara tiba. Mereka sudah mempersiapkan semuanya serapi mungkin sehingga banyak yang tidak curiga dengan kepergiannya.
"Ibu pergi dulu ya nak.."
"Hati - hati di jalan ibu.." ucap Haiden sambil memeluk Harika. "Azka jaga ibu.."
"Siap kakakku.."
Mereka berdua pergi berlibur yang notabene nya menemui Aira. Waktu untuk menempuh perjalanan cukup lama. Tapi karena dorongan kebahagian Harika tidak merasa capek.
Akhirnya mereka sampai di desa Patengan Rancabali. Harika sudah tak sabar ingin bertemu Aira.
"Ayo Azka.."
"Sabar ibu.. ini juga baru jalan.."
Menurut informasi dari bik Asih saat ini Aira sedang berkebun di belakang.
"Mari lewat sini nyonya besar.." ucap Asih. Harika menurut saja. "Nah itu non Aira.." tunjuk Asih.
Mata Harika berkaca - kaca. Ia melihat Aira dengan perut besarnya tampak sedang menyiram tanaman.
"Azka.. itu Aira dan cucuku.." gumamnya.
"Iya bu.." jawab Azkara sambil menggenggam erat tangan ibunya.
"Ayo kita kesana.." ajak Harika tidak sabar.
"Iya.. iya.. hati - hati bu.. jalannya agak licin habis terkena air.."
Mereka berdua menghampiri Aira.
"Aira.. " panggil Harika.
Aira menoleh, ia terkejut melihat kedatangan Harika "Nyonya.." gumamnya lirih
Harika menghambur dan memeluk Aira "Syukurlah aku menemukanmu.."
"Maaf Aira, aku menceritakan semuanya ke ibu.." ucap Azkara
"Jangan marah dengan Azka, aku sudah menyelidiki gerak geriknya dan memaksanya untuk bercerita.." Harika menjelaskan sambil membelai lembut kepala Aira
"Saya senang bertemu dengan nyonya.. saya benar merindukan nyonya.." ucap Aira. "Bagaimana kalau kita masuk ke dalam rumah.. di sini licin..?"
"Ah ya benar.. ayo kita ngobrol ke dalam.." Azkara membenarkannya.
"Bik Asih tolong buatkan teh tanpa gula dan campur dengan sedikit daun mint.." perintah Aira
"Baik non.." jawab Asih.
"Ayo nyonya kita duduk di sana.."
Mereka berjalan dengan hati - hati menuju teras rumah.
"Bagaimana kabarmu Aira..?"
"Saya baik nyonya.."
"Mulai sekarang jangan panggil aku nyonya panggil aku ibu seperti El dan Azka memanggilku.." ucap Harika. "Dan juga tidak perlu bicara formal lagi.."
"Tapi saya belum terbiasa nyonya.."
"Eh.. harus terbiasa.. ini perintah.."
"Baiklah nyo.. eh ibu.."
"Nah begitu kan bagus.." Harika senang. "Cucuku bagaimana..?" tanyanya sambil mengelus lembut perut Aira. "Eh.. dia gerak.." teriaknya kaget. "Dia tahu kalau oma nya datang.." Harika tampak bahagia.
"Dia sangat sehat ibu.." jawab Aira
"Oya.. kami bawakan mangga.."
"Kakakmu yang membelinya kan..?"
"Tentu saja dia.. ini ada videonya.." jawab Azkara. "Itu juga yang memaksa ibu.. hahahahahhh.."
"Aira.." panggil Harika
"Ya bu.."
"Pulanglah bersama kami.. aku ingin hidup bersamamu dan cucuku.. aku juga ingin kau membentuk keluarga kecil bersama El.."
"Maaf bu.. untuk yang satu itu aku belum bisa.."
"Kenapa nak..? El selalu mencarimu.. apa kamu tidak kasihan melihatnya.. dia tampak kurus sekarang.."
"Bu.. kita beri Aira ruang dan waktu.. aku takut jika dia terlalu stres akan mempengaruhi bayinya.." ucap Azkara.
"Baiklah.. ibu akan menunggu sampai kau mau kembali dan bertemu dengan El.."
"Iya Aira tolong pertimbangkan.."
"Baiklah bu akan aku pikirkan.." jawab Aira.
"Nah sekarang kita unboxing mangga pemberian El.. ini adalah mangga pertama kali yang dia beli sendiri tanpa menyuruh Mustofa.. hahahahhh.. kau tahu Aira, ibu sampai memohon - mohon dengan mata berkaca - kaca.."
"Iya itu betul.. El paling tidak tega kalau ada wanitanya yang menangis.." kata Ibu.
Aira merasa senang dan tentu saja lega.. karena Harika mau menerimanya. Awalnya ia takut jika Harika akan menolak lantaran ia seorang pelayan.
☘☘☘☘☘
"Bagaimana hasil penyelidikanmu Noah..?"
"Untuk CCTV bisa anda lihat di sini tuan.." jawab Noah sambil menyerahkan tablet. "Ada beberapa rekaman yang hilang karena kerusakan.."
Haiden melihat dengan teliti rekaman enam bulan yang lalu tepatnya malam ketika Haiden terpengaruh obat perangsang.
Di koridor bawah ia melihat Aira yang menolongnya, bahkan sampai naik ke tangga setelah itu CCTV di bawah tidak bisa melihat karena jauh dari jangkauan.. sedangkan CCTV di koridor kamar tidak bisa menunjukkan rekaman ketika Haiden dan Aira masuk kamar.. tapi dari rekaman awal sudah bisa diambil kesimpulan kalau Aira yang membawanya masuk ke kamar.
Lama Haiden menanti tetapi tidak ada orang lain yang tertangkap CCTV. Setelah lebih dari satu jam terlihat Aira menuruni tangga dengan memakai kemejanya. Di tangannya membawa sesuatu. Tas yang sama yang di temukan Haiden di bawah tempat tidurnya. Aira pun berjalan pelan - pelan, tertatih seperti kesakitan. Wajah Haiden pucat seketika melihat hasil rekaman itu. Noah tampak diam menunduk sepertinya ia sudah bisa membaca situasinya saat itu.
"Ya tuhan apa yang telah aku lakukan.." ucapnya frustasi. "Aku telah menyakitinya Noah.. padahal aku..aku.. sudah berjanji tidak akan menyakitinya, akan selalu melindunginya.. tapi apa yang terjadi aku yang telah merusak masa depannya.." ucap Haiden sambil menangis.
"Itu bukan sepenuhnya kesalahan tuan.. saat itu tuan dalam pengaruh obat.."
"Pantas saja dia meninggalkanku.. seorang pria yang merusak masa depannya.. bodoh.. dasar bodoh..!!!" teriak Haiden. Ia membuang semua perabotannya, memukul tembok berkali - kali hingga tangannya berdarah.
"Tuan.. sadar.. tuan.." ucap Noah sambil mencegah Haiden berbuat hal yang menyakiti dirinya sendiri. "Tuan harus tenang.. saya mohon.."
Haiden menarik napas dalam - dalam, ia tampak lebih tenang. Napasnya sudah tidak memburu seperti tadi.
"Saya punya informasi lagi yang lebih penting tuan.."
Haiden menarik napas lagi untuk mempersiapkan diri menerima berita dari Noah "Apa itu..?"
"Saya sudah memeriksa semua tentang Ujang Sutresna.. jadi Ujang Sutresna itu sudah mempunyai istri.."
"Maksudmu adikku menjalin hubungan dengan pria beristri..?"
"Bukan seperti itu situasinya tuan.. istri Ujang bernama Asih Sureswari.. mereka berdua tinggal di desa Patengan dekat dengan perkebunan teh.. pekerjaan sehari - hari mereka adalah petani.. akan tetapi empat bulan yang lalu mereka sudah berganti pekerjaan yaitu sebagai penjaga dan pembantu.. cuma yang penduduk sekitar tahu yang mereka layani adalah seorang wanita.."
"Siapa wanita itu..?"
"Semua tetangga dan penduduk setempat tidak ada yang tahu.. karena jarang keluar.. kalau tuan mengijikan besok pagi saya akan berangkat untuk mengecek siapa wanita itu.."
"Baiklah besok kau berangkat.." perintah Haiden.
"Baik tuan.. hmm ada satu lagi informasi yang tidak kalah penting tuan.."
"Apa lagi..?"
"Saya baru saja mendapat telepon dari pihak kepolisian kalau Roberto berhasil melarikan diri.."
"Sial..!!! kenapa bisa terjadi..?"
"Itu yang saya tidak tahu tuan.."
"Heh.. kenapa banyak masalah datang bertubi - tubi.."
"Saya akan menyuruh orang untuk datang ke kantor polisi untuk mendapatkan informasi yang lebih tepat tuan.."
"Baiklah.. karena besok kau harus ke Bandung persiapkan semuanya.."
"Saya akan mengerahkan lebih banyak penjaga di rumah.. saya khawatir Roberto akan datang ke sini.."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku Noah.. segera kau laksanakan apa yang aku perintah.."
"Baik tuan.. saya permisi.." Noah segera keluar dari ruangan.
☘☘☘☘☘
Pagi ini Noah berangkat menuju ke Bandung tepatnya desa Patengan Rancabali. Ia akan lebih yakin melaporkan ke Haiden kalau ia memastikan sendiri kebenarannya. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Noah akhirnya sampai di desa Patengan. Ia masih harus menempuh perjalanan lagi untuk sampai di rumah Ujang.
"Permisi, apa betul ini rumah Ujang dan Asih..?"
"Leres.. tapi itu dulu.. mang Ujang sama istrinya sudah pindah atuh.." jawab wanita paruh baya
"Pindah kemana kalau boleh saya tahu..?"
"Oh, muhun mangga.." jawab wanita paruh baya itu. "Rumah paling ujung.. Eh bapak ini siapanya mang Ujang.."
"Saya saudaranya dari Jakarta.."
"Oh.."
"Kalau begitu saya permisi dulu.."
"Iya silahkan.."
Noah melanjutkan perjalanan lagi, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana hanya beberapa menit. Tampak sebuah rumah yang didominasi oleh kayu dan cukup besar. Ada sebuah mobil di depan rumah itu.
"Aku sepertinya mengenal mobil itu.." gumam Noah. "Itu mobil nyonya Harika.. sekarang aku yakin kalau ini pasti rumah Aira.."
Noah bergegas kesana. Tampaknya teka teki hilangnya Aira sebentar lagi akan terjawab. Tapi Noah harus melihat dengan mata kepala sendiri sebelum melaporkan ke Haiden.
Noah berjalan mendekat ke sana.. tampak Harika, Azkara dan Aira sedang berbincang sambil minum teh.
"No..No..Noah..!" teriak Azkara kaget. "Bagaimana kamu bisa kesini..?"
"Aira.. kamu hamil..?" Noah juga tampak terkejut.
"Noah ayo masuk, duduklah dulu.." perintah Harika. "Semua akan aku jelaskan.."
"Maaf nyonya saya harus memberitahu tuan dulu, bahwa saya sudah menemukan Aira.."
"Jangan dulu Noah..!" teriak Azkara.
Sedangkan Aira diam saja. Ia masih syok meihat kedatangan Noah yang tiba - tiba.
"Maaf nona Azkara saya tidak bisa.. saya tetap harus melaporkan.."
Noah mengambil handphone nya dalam saku dan melakukan panggilan.
"Halo tuan.."
"Iya Noah.."
"Saya sudah menemukan Aira.."
"Benarkah..?! dimana dia..?! aku akan kesana.."
"Dia di desa Patengan Rancabali Bandung tuan.."
"Iya.. iya.. aku kesana sekarang.."
"Tuan.. ternyata Aira sudah......" belum selesai Noah meneruskan kata - katanya ada sekelebat cahaya silau dari kaca seperti kaca pengintai pada sebuah senjata dan tak lama kemudian terdengat dooorrr..!!!
"Awas semuanya..!!!" teriak Noah. Kemudian peluru itu tembus di dadanya dan Noah jatuh terkapar.
"Aaaacchhhh..!!! Noah...!!!" teriak Azkara. " Mang Ujang.. cepat telepon telepon Ambulance.." perintah Azkara. "Bik Asih bawa ibu dan Aira masuk.."
"Halo.. halo.. Noah.. apa yang terjadi.." teriak Haiden di seberang telepon.
"Halo El.."
"Azka.. kenapa bisa kamu yang........"
"Cepat kemari.. Noah tertembak..!"
"Apaa..!!! oke aku kesana.."
Panggilan ditutup. Tak lama kemudian mobil Ambulance datang.. Noah segera di bawa ke rumah sakit..
Sementara itu Haiden bergegas mengendarai mobil sendiri menuju ke Bandung. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Baru menempuh perjalanan selama tiga puluh menit ia baru menyadari sesuatu..
"Sial.. rem nya blong.. ada yang menyabotase mobilku.." gumam Haiden geram. "Semuanya seperti sudah direncanakan.."
Haiden berusaha mengontrol laju mobil, tapi karena sudah terlanjur melaju dengan kecepatan tinggi Haiden agak kesulitam mengendalikannya. Tiba - tiba di depannya ada sebuah truk yang juga melaju. Truk itu sepertinya sengaja mengarah padanya dan braaaakkk..!!! terjadi tabrakan antara mobil Haiden dan truk itu. Mobil Haiden melayang dan kemudian berguling - guling beberapa meter kedepan.
"Aira.." Haiden menyebut nama Aira sebelum kemudian tidak sadarkan diri..
☘☘☘☘☘