
"Tama bisa kau menyetir lebih cepat..!"
"Iya tuan.." ucap Tama.
"Bagaimana Noah..?"
"Masih sama tuan.. tidak ada pergerakan sama sekali.."
"Itu artinya ia masih disana.. di tempat yang sama.." ucap Haiden. "Kira - kira berapa lama kita sampai disana.."
"Satu jam lagi tuan.."
"Lebih cepat Tama..!"
Tama berusaha mempercepat laju mobil di tengah kepadatan lalu lintas. Ia tahu bahwa tuannya dalam keadaan cemas. Ia sama sekali tidak membantah dan hanya diam.
"Maaf tuan.. ini ada pergerakan.." ucap Noah senang.
"Coba aku lihat.."
Noah menyerahkan ipad pada Haiden "Kau benar.." ucapnya. "Mau di bawa kemana dia..?" gumam Haiden. "Noah apakah Azkara sudah sadar..?"
"Belum ada kabar apa - apa tuan.."
"Dasar bodoh..! kau bisa meneleponnya.."
"Maaf.. baik tuan.."
Noah segera melakukan panggilan dengan pak RT. "Selamat sore pak.. apakah nona Azkara sudah sadar..?"
"Alhamdulillah.. baru saja sadar tuan.."
"Bisa saya bicara dengannya..?"
"Sebentar.. handphone nya saya serahkan ke neng Azkara dulu.."
Noah menunggu. "Tuan nona sudah sadar.."
"Kemarikan handphone mu.. biar aku yang bicara.."
"Baik tuan.."
Noah menyerahkan handphonenya.
"Halo El.."
"Azka.. kau baik - baik saja.."
"Aku baik.. tapi bagaimana dengan kakak ipar..? kau sudah menemukannya..?"
"Belum.."
"El.. kau harus menemukannya.." ucap Azkara mulai terisak. "Kondisi kakak ipar tidak baik - baik saja El.."
"Apa maksudmu..?"
"Saat kami melarikan diri dari penculik itu kakinya terkena pecahan kaca dan juga mereka mengejar kami menggunakan anjing.."
"Biadab..! Kurang ajar mereka..!!!"
"Kakak ipar di gigit anjing itu El.. tapi aku berhasil membunuh anjing itu.. maafkan aku yang tidak bisa menjaga kakak ipar.."
"Tidak.. itu bukan salahmu Azka.. ini semua salahku yang tidak menjaga kalian.." tangan Haiden mengepal erat. "Apa kau tahu siapa yang menculikmu..?"
"Aku tidak tahu.."
"Plat no polisi yang sempat dilihat adalah no polisi palsu.."
"Ah ya.. aku jadi ingat kak.. ketika mereka akan memasukkan kami ke dalam mobil aku sempat melihat sesuatu.."
"Apa itu cepat katakan..?"
"Para penculik itu menggunakan sebuah pin yang sama di baju mereka.."
"Pin apa..? seperti apa bentuknya..?"
"Pin itu bulat, ada gambar kepala singa berwarna emas.."
"David.." gumam Haiden.
"David.. jadi david pelakunya..?" tanya Azkara
"Aku belum yakin.. tapi organisasi David berlogokan kepala singa.. dan juga dia musuhku.."
Kak.. selamatkan kakak ipar.."
"Itu pasti.. aku berterima kasih atas informasi yang kau berikan Azka.. istirahatlah dulu.." ucap Haiden mengakhiri panggilannya. "Apa masih ada pergerakan..?"
"Masih tuan.. ini seperti di daerah Bandung.."
"Cari rumah, villa, hotel atau apapun itu yang atas nama David.. aku yakin dia pasti membawa Aira ke sana.."
"Baik tuan.."
Noah segera mengerahkan beberapa anak buahnya di bagian IT untuk mencari informasi tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama, semua data terlacak.
"Ketemu tuan.."
"Dimana..?"
"Ada tiga lokasi berbeda.. Villa di Lembang, hotel di daerah sukajadi dan satu unit penthouse di Gateaway Pasteur.."
"Sebar anak buahmu ke beberapa tempat itu.. pastikan apa benar Aira berada di salah satunya.."
"Baik tuan.."
🌸🌸🌸🌸🌸
Tubuh Aira terbaring lemah tak berdaya di atas sebuah tempat tidur. Luka di kakinya sudah mendapatkan perawatan.
"Bagaimana luka istri saya dokter..?"
"Ah tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan David.. istri anda telah mendapatkan suntikan anti rabies dan beberapa jahitan pada lukanya.. dan saya baru tahu kalau anda sudah menikah.."
"Terima kasih dokter.."
"Sama - sama tuan.. dan saya ucapkan selamat karena anda sudah menikah.."
"Iya.. sama - sama dokter.. anak buah saya akan mengantar anda.."
Dokter berusia setengah baya itu segera keluar mengikuti anak buah David.
David segera melihat kondisi Aira "Kau sudah bangun..?"
"Kenapa kau bilang aku istrimu..?"
"Sebentar lagi itu akan terjadi.." ucap David. "Aku sudah membuatkan mu paspor kita akan pergi jauh dari negara ini.."
Aira melihat kondisinya yang sudah berganti pakaian itu artinya jam tangan pemberian Azkara untuk mengirim sinyal juga pasti ikut terbuang. Bagaimana ini pikir Aira. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan ia melihat jam itu ada di atas sebuah meja dekat dengan balkon. Aku harus mencari kesempatan untuk mengambilnya kembali batinnya.
"David.. maaf aku sudah menikah.."
"Aku tahu.."
"Aku sudah punya anak.."
"Aku tahu.. aku tahu semuanya Aira.."
"Hahahahahhh.. di dunia ini apa yang tidak aku tahu.. hal sekecil semut pun aku tahu.." ucap Davjd menyombongkan diri. "Dave saudaramu menitip salam.."
"Dave.. dimana dia..?"
"Dia tidak tahu aku membawamu kemari.. dan tidak akan ada orang yang tahu termasuk suamimu.."
"Kenapa menculikku..?"
"Aku mencintaimu Aira.. aku ingin memilikimu seutuhnya.. kita tinggalkan negara ini dan hidup bahagia hanya berdua.."
"David.. aku tidak mencintaimu.."
"Lambat laun kau akan menyukaiku.."
"David.. tolong lepaskan aku.."
"Tidak Aira.. aku tidak akan melepaskanmu.." bisik David di telinga Aira. "Istirahatlah.."
David pergi meninggalkan Aira sendiri di kamar itu. Dua orang penjaga berada di depan pintunya.
Bagaimana aku keluar dari sini pikir Aira. Ia perlahan - lahan turun dari tempat tidur. "Aaauuww.." ia melihat luka di kakinya. Terdapat beberapa jahitan disana. Dengan langkah perlahan dan sedikit pincang Aira berjalan menuju balkon yang tertutup oleh pintu kaca.
"Wah tinggi sekali.. pemandangan di bawah juga gelap.." gumam Aira. Ia berusaha membuka pintu kaca itu tapi terkunci. Bagaimana cara aku membuka pintunya pikir Aira.
"Sedang apa kau di sana..? mau melarikan diri..?"
"Tidak.. mana mungkin aku bisa melarikan diri sedang kakiku masih terluka dan tubuhku yang lemah.."
"Kemarilah makanlah dulu.."
"Hmm.. sepertinya makan di balkon sangat menyenangkan.." gumam Aira.
"Kau ingin makan di balkon..?"
"Kalau kau mengijinkan.." jawab Aira sambil tersenyum.
"Baiklah.." David menyetujui keinginan Aira makan di balkon. Ia segera membuka kunci, menata makanan di meja. "Ayo sini.. aku bantu.." David memapah Aira untuk duduk di balkon.
"Terima kasih.."
"Makanlah yang banyak agar tubuhmu pulih.."
Aira dengan terpaksa berpura - pura untuk mendapat perhatian David.
"David.. kenapa kau menyukaiku..? bukankah banyak gadis cantik, kaya di luar sana.."
"Karena kau mirip dengan ibuku.. matamu yang jernih, senyummu yang menawan.."
"Ah.. ibumu sudah meminggal bukan..?"
"Yah benar.. ia meninggal ketika aku berumur sepuluh tahun.."
"Ayahmu..?"
"Setelah menikah lagi, aku dengan nya hidup terpisah.." jawabnya. "Sudah.. jangan membicarakan dia.. aku muak.."
"Hmm.. baiklah.. kebetulan aku sudah selesai makan.."
"Kalau begitu kita kembali ke dalam.." ucap David. "Ayo aku bantu.."
"Tidak.. aku bisa sendiri.. itung - itung latihan.." tolak Aira halus. "Kau jalanlah dulu.."
"Baiklah.." David segera masuk kembali ke dalam.
Kesempatan ini digunakan Aira untuk mengambil kunci di tangan David dan mendorong nya masuk ke dalam kamar. Aira segera mengunci lagi pintu itu. Tinggal ia sendiri di balkon.
"Aira..!!! apa yang kau lakukan..!!!" teriak David sambil menggedor pintu kaca itu.
Aira berpura - pura akan melompat dari balkon. Kakinya sudah keluar satu. David terlihat berteriak - teriak dan kebingungan. Ia akhirnya keluar dari kamar beserta dua penjaga yang berada di depan pintunya. Melihat David sudah keluar, Aira kembali dan mengurungkan niatnya melompat dari balkon. Itu memang rencananya. Aira membuka kembali pintu balkon dan masuk ke dalam kamar. Ia mengambil jam itu dan segera keluar. Langkahnya sedikit terhambat karena luka jahitan di kakinya. Jahitan itu kembali terbuka, darah segar keluar dari kaki Aira.
Sementara itu David dan dua penjaganya sudah berada di bawah. Dua penjaga itu sudah membentangkan kain tujuannya agar Aira tidak terluka ketika melompat ke bawah.
"Aira.. jangan lakukan tindakan bodoh..!" teriak David. "Aira..! Aira..!"
"Maaf tuan sepertinya nona Aira tidak ada di balkon.."
David melihat sengan seksama dan kepala dingin. Dan benar apa yang dikatakan oleh anak buahnya.
"Sial..!!! aku di tipu.." teriak David. Ia segera berlari kembali naik ke kamar di mana Aira di sekap. Kedua anak buahnya mengikuti dari belakang. "Aira..! Aira..!"
"Kosong tuan.."
"Cari ke seluruh ruangan..! aku tidak mau tahu dia harus ketemu..!"
"Baik tuan.."
David mengacak rambutnya dengan kesal. Bagaimana bisa ia di tipu oleh Aira. Tiba - tiba ia melihat beberapa bercak darah tercecer di lantai. Senyum licik mengembang di wajahnya.
"Sebentar lagi aku akan menemukanmu Aira.." gumamnya.
Ia menelusuri bercak darah yang tercecer itu. David yakin Aira tidak akan bisa berjalan jauh karena luka di kakinya. Tapi hal itu justru menguntungkannya. Ceceran darah itu sudah hilang. David mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu.
"Aira.. keluarlah sayang.. kau tidak akan bisa lepas dariku.. hahahahh.."
Tiba - tiba ia melihat kaki kecil yang luput dari perlindungan. David tersenyum senang, ia perlahan menghampiri.
"Aira.. aku segera menemukanmu sayang.." dengan sekali gerakan ia menarik kaki itu dan berhasil menyeretka keluar.
"Aaauuww..! sakit David.."
"Kalau kau menurut dan tidak pergi - pergi aku berani menjamin hidupkan tidak akan kesusahan seperti ini.." ucap David sambil mengikat tangan Aira di belakang.
Tiba - tiba..
"Angkat tanganmu David..! tempat ini di dikepung.." teriak Noah
"Wow.. cepat sekali kau datang Haiden.."
"Tutup mulutmu.. kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu.." teriak Haiden tidak mau kalah.
"Turunkan senjatamu... jika kau tak mau melihat iatri lu gotok di deoanmu.." ancam David mrnaruh pisau di leher Aira
"Oke.. Baiklah.." Haiden menurunkan senjatanya, diikuti oleh seluruh anak buah yang ada di sana.
"Berlutut..! cepat berlutut..!"
Haiden menuruti apa kemauan David, agar nyawa Aira tidak terancam. David masih dengan menodongkan pisau di leher Aira bergerak mundur menjauh dari Haiden.
Dan dari arah belakang.. jleb.. seseorang telah menikam David dari belakang. "Ini untuk Ivanka.." jleb..! ia menusuk lagi "Ini karena kau merusak keluargaku.." jleb..! ia menusuk yang ketiga kalinya "Ini untuk Aira karena kau menculiknya.."
"Aacchhh.." teriak Aira. Haiden berlari cepat menuju ke arah Aira. Ia segera menarik ke dalam pelukannya. David berlahan - lahan tumbang dan jatuh tak sadarkan diri di lantai. Ternyata Dave yang menikam David. Tangannya masih memegang pisau yang berlumuran darah.
"Kamu tidak apa - apa sayang.."
"Aku tidak apa - apa El.." ucap Aira, ia kembali memeluk suaminya "Terima kasih sudah datang menyelamatkan aku.."
"Kita beruntung sayang.. kita beruntung.." ucap Haiden.
Sementara itu Dave langsung di bawa oleh pihak kepolisian. Ia dengan sukarela di bawa tanpa adanya perlawanan.
"Ayo kita pulang sayang.." ajak Haiden sambil membopong istri kesayangannya itu.."
🌸🌸🌸🌸🌸