My Desire

My Desire
Berkorban Sementara



Setelah melakukan semua pemeriksaan terkait matanya dan kondisi tubuhnya, maka operasi bisa segera dilakukan.


"Ibu senang kamu akan bisa melihat lagi El.."


"Iya bu, kebutaanku ini cukup banyak memberiku pelajaran berharga.."


"Aku juga turut senang karena bebanku sebentar lagi akan berkurang.." timpal Azkara


"Jangan mimpi kau anak kecil, setelah aku sembuh kau tetap harus membantuku mengurus perusahaan.."


"Iya..iya.. itu kita pikir nanti, yang penting kau sembuh dulu.."


Dokter dan beberapa perawat datang untuk segera membawa Haiden ke ruang operasi.


"Selamat pagi tuan Haiden.." sapa dokter.


"Pagi dokter.."


"Sepertinya anda sudah siap untuk operasi.."


"Ya dok.. tentu saja.."


"Baiklah kalau begitu.. kita bisa mulai sekarang.."


Dua orang perawat membawa Haiden masuk ke dalam ruang operasi. Aira tidak ikut karena harus menjaga Rafael, tapi sebenarnya jauh dilubuk hatinya ia sangat takut dengan operasi Haiden. Semalam ia tidak bisa tidur, bahkan harus bolaki balik untuk melihat Haiden yang sedang tidur. Apa yang sebenarnya ia takutkan.


Operasi pencangkokan kornea mata ini berlangsung selama hampir dua jam. Dokter mengganti semua kornea dan menggunakan jahitan kecil untuk menahan kornea yang baru pada tempatnya.


Lampu diruang operasi telah padam itu tandanya operasi telah selesai dilakukan dan dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana dok..?" tanya Harika.


"Operasi berjalan dengan lancar dan tuan Haiden akan kami pindah ke ruang pemulihan. Kira - kira dua hari baru nanti boleh pulang.."


"Untuk kesembuhan matanya sampai nanti normal berapa lama dok..?"


"Hmm.. sekitar dua atau tiga bulan. Semua tergantung kondisi pasien masing - masing. Setiap dua atau tiga hari sekali saya dan seorang perawat akan datang untuk mengecek kondisi tuan Haiden.. ibu tidak usah khawatir saya pastikan tuan Haiden bisa melihat lagi.."


"Terima kasih banyak atas bantuan dokter.."


"Sama - sama ibu.. saya permisi.."


Harika dan Azkara segera menuju ruang pemulihan Haiden. Mereka harus bersabar menunggu hasil dari operasi donor mata ini. Untuk sementara Haiden tetap harus meminum obat, tidak boleh olah raga berat. Tak berapa lama kemudian Haiden sadar.


"Bagaimana perasaanmu nak..?"


"Aku baik bu.."


"Syukurlah.."


"Kapan aku bisa pulang..?"


"Dua hari lagi.. tapi masih harus pakai perban.. dokter akan memeriksa tiga hari sekali.. kalau kondisimu baik dan matamu tidak ada iritasi atau infeksi dalam waktu dua bulan kau akan bisa melihat lagi.."


Haiden diam mendengarkan penjelasan dari ibu. Sebenarnya ia sudah sangat ingin melihat Aira dan Rafael, ia sangat merindukannya.


"Mana Kania bu..?"


"Sebenarnya ia mau menunggumu disini, tapi aku kasihan dengan Rafael ia masih membutuhkan ASI.


Hmm.. sepertinya kau akan menjadi sainganku nanti dalam merebut perhatian Aira batin Haiden.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Siapa dia ma..?"


"Dia Roberto anak buah Kemal.."


"Untuk apa dia disini..?"


"Dia butuh perlindungan sementara.."


"Maksud mama dia buronan polisi..? aku tidak mau terlibat dengan polisi ma.."


"Ini sementara saja sampai nanti ia dapat paspor dan tiket ke luar negeri.."


"Terserah mama lah.. aku tidak mau ikut campur.. kalau ada apa - apa aku tidak mau terlibat.." ucap Ivanka sambil masuk ke dalam kamarnya. Roberto memandang tajam ke arah Ivanka.


"Jangan kau ambil hati perkataan anakku.. dia memang seperti itu.."


Roberto hanya diam. Wajahnya terlihat dingin dan bengis.


"Nanti kamarmu ada di belakang.. kau bisa istirahat sekarang.."


"Baik nyonya saya permisi.." Roberto segera pergi ke kamar belakang. Ia rebahan di tempat tidur sambil pikirannya melayang pada Ivanka.


Gludak.. gludak.. gludak.. ada suara keributan di belakang. Roberto segera keluar untuk melihat siapa itu. Ternyata Ivanka sedang mencari sesuatu di gudang.


"Ada yang bisa saya bantu nona..?"


"Sudah diam jangan ikut campur..!"


"Saya hanya menawarkan.."


"Bukan urusanmu..! ingat kamu itu buronan..! jangan dekat - dekat denganku..!" ucap Ivanka dengan nada tinggi. Setelah menemukan apa yang dia cari Ivanka langsung pergi meninggalkan Roberto begitu saja. Roberto melihat kepergian Ivanka dengan mengepalkan tangannya.


Saat makan malam tiba Nungki menyuruh Ivanka memberikan makan ke Roberto.


"Aku malas ma.. Dave saja.."


"Mama minta tolong Iv.. kita saat ini sudah tidak memiliki pembantu lagi.."


"Dia itu orang asing yang numpang di rumah kita.. kenapa kita harus baik - baik dengannya..?"


"Sudah.. turuti saja permintaan mama mu.." ucap Baskara.


"Hah..! ya sudah mana..?"


"Ini.."


Akhirnya Ivanka pergi ke kamar belakang. Tok..tok..tok Ivanka mengetok pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah Roberto.


"Nih makan.." Ivanka menyerahkan dengan kasar hingga kuah sayurnya tumpah mengenai kaos yang dikenakan Roberto.


"Terima kasih nona.."


"Tidak perlu..! asalkan kau segera pergi dari sini aku sudah puas.. dasar gembel..! benalu..!" umpat Ivanka sambil pergi meninggalkan Roberto dan kembali ke kamarnya


Tatapan tajam dan dingin milik Roberto membuat siapa saja pasti akan ketakutan. Tatapan seorang pembunuh berdarah dingin.


Hari sudah semakin malam. Tapi mata Ivanka seolah susah untuk terpejam. Ia mengambil sebuah botol bir dan meminumnya. Dengan harapan ia akan cepat terlelap.


"Aduh..!" teriaknya sambil memegangi perutnya. Perut bagian bawahnya kembali nyeri. "Dasar penyakit sialan.." Ivanka berjalan tertatih menuju tempat tidurnya. Ia berbaring sebentar, tiba - tiba..


Ceklek.. (suara pintu terbuka)


"Roberto..!" teriak Ivanka. "Apa yang kau lakukan di kamarku..?! keluar..! cepat keluar..!"


"Saya tidak akan keluar nona.. sebelum memberikan sedikit pelajaran untuk anda.." ancamnya sambil mengunci pintu dari dalam.


"Ap..ap..apa maksudmu..? jangan macam - macam, aku akan teriak..!!!"


Belum sempat Ivanka berteriak memanggil seisi rumah mulutnya sudah di bekap oleh Roberto.


"Hhufft..hhufft.." Ivanka berusaha mengeluarkan suara tapi hasilnya nihil


"Hahahahhh.. sekarang mulut anda sudah tidak mengeluarkan kata - kata yang melukai hati orang.." Roberto senang dengan kondisi Ivanka yang sekarang tak berdaya. Ia kemudian mengikat Ivanka pada sebuah kursi.


Ivanka mulai menangis ketika Roberto mengeluarkan sebuah pisau "Hhufft.. hhufft.."


"Apa..? anda bicara apa..? saya tidak mendengarnya.." ucap Roberto sambil meletakkan ujung pisau di pipi Ivanka. "Anda memang sangat cantik tapi sayang lidah anda setajam pisau.. pernah mendengar pepatah 'mulutmu harimaumu' anda akan segera mengetahui makna dari pepatah itu.." ucap Roberto dengan geram. Tangannya bergetar dan sleeettt.. sabetan ujung pisau itu mengenai pipi Ivanka, darah segar mengucur dari sana.


Ivanka meronta - ronta, air matanya terus mengalir. Ia merasakan kesakitan yang amat sangat. "Ini baru permulaan nona.." ucap Roberto. Ia melakukan beberapa kali sayatan di pipi Ivanka yang mulus.


"Hahahhahh...!!! ingat nona hati - hati kalau bicara.."


Plak..! plak..! plak..! Roberto memukul pipi Ivanka berulang kali. Bugh.. bugh.. bugh..!!! Roberto kembali memukul perut Ivanka berulang kali..


Tiba - tiba.. tok.. tok.. tok.. "Iv kau sudah tidur, mama mau bicara sebentar..?" suara Nungki dari luar. Seperti mendapat kekuatan Ivanka mencoba untuk berteriak "Hhuufft.. hhuufft.."


"Diam..! diam..! diam..!" ucap Roberto pelan tapi penuh penekanan.


Ivanka tidak memperdulikan perintah Roberto. Ia terus berusaha meronta - ronta, kakinya di hentak hentakan dan akhirnya kursi tempat dia diikat jatuh. Braakk..!!!


"Iv.. kamu tidak apa - apa..?" tanya Nungki. Ia berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam.


"Iv buka..! Ivanka buka..!" Nungki terus menggedor gedor pintu kamar Ivanka.


"Sial..! brengsek..!" teriak Roberto. Dia mengambil pisau dan menusuk perut Ivanka beberapa kali sebelum akhirnya melarikan diri melalui jendela kamar.


"Papa..! Dave..! papa..! Dave..!" Nungki berteriak - teriak.


"Ada apa sih ma..? malam - malam teriak - teriak.."


"Ivanka pa.. mama gedor - gedor pintunya tidak menyahut sama sekali bahkan ada suara gaduh dari dalam.." jelas Nungki.


"Dave.. ambilkan kunci cadangan.."


"Baik pa.."


Tak lama kemudian Dave kembali membawa kunci cadangan dan berhasil membuka pintu.


"Ivanka..!!!" pekik Nungki melihat darah dimana - mana.


Baskara dan Dave segera melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Ivanka yang sudah bersimbah darah.


"Siapa yang melakukan ini padamu nak..?" isak Nungki.


"Ro..ro...berto.." ucap Ivanka lirih dan kemudian pingsan.


"Dave cepat telepon Ambulance.." perintah Nungki. "Ivanka jangan tinggalkan mama.." peluk Nungki pada tubuh Ivanka yang terkapar tak berdaya.


Setelah melalui proses penyelamatan agar tidak kehabisan darah Ivanka akhirnya mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia segera di operasi untuk luka tusukan diperutnya dan sekarang masih di ICU karena tidak sadarkan diri. Wajahnya juga penuh luka sayatan.


Tampak Kemal datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ivanka. Ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Ivanka karena perbuatan Roberto.


"Bagaimana keadaannya..?"


"Ayo sini.." Nungki menarik tangannya dan mengajaknya pergi menjauh dari ruang ICU.


Plaakk..!!!


"Hei.. kenapa kau menamparku..?"


"Brengsek..! dasar pria tidak tahu diri..! tidak bertanggung jawab..!" teriak Nungki meledak - ledak.


"Kecilkan suaramu.. ini rumah sakit.." Kemal memperingatkan.


"Aku tidak peduli lagi.. yang kupedulikan adalah nasib Ivanka ke depannya nanti..lihat wajahnya..!" ucap Nungki. "Kau harus bertanggung jawab.."


"Bukan aku yang melakukannya, itu perbuatan Roberto dan aku tidak memintanya melakukan itu.."


"Tega kau berkata seperti itu.." Nungki menatap Kemal dengan geram. Tubuhnya gemetar menahan emosi mendengar ucapan Kemal.


"Salahkan saja Roberto jangan aku..! toh dia juga pernah menolongmu menjadi kambing hitam atas kecelakaan yang menimpa saudara iparmu.. orang tua Aira..!" teriak Kemal tak mau kalah.


"Oke.. fine.. tapi perlu kamu tahu satu hal.. Ivanka adalah anak kandungmu..!"


"Jadi.. jadi.. Ivanka adalah..."


"Yah benar.. dia anak kandungmu.. anak kita..!" Nungki menegaskan.


"Ya tuhan aku tidak percaya.." ucap Kemal sambil mengacak - acak rambutnya. "Kenapa kau.. kau tidak mengatakan pdaku dari awal.." sesal Kemal


"Untuk apa..? untuk menerima hinaan dari keluargamu.. aku masih punya harga diri Kemal.." Air mata Nungki mulai menetes.


"Ya.. ya.. aku yang salah.. maafkan aku.." ucap Kemal sambil memeluk Nungki.


Sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak sengaja mendengar semua kejahatan yang dilakukan oleh mereka berdua. Setelah merekam pembicaraan itu tubuhnya gemetar hebat hingga duduk bersimpuh di lantai. Dia adalah Iwan sopir pribadi Baskara.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tak terasa sudah hampir dua bulan sejak Haiden menjalani operasi donor mata. Semuanya berjalan dengan lancar dan normal. Haiden masih pura - pura seolah - olah tidak tahu kalau itu Aira dan Rafael anaknya. Saat ini Rafael semakin dekat dengannya. Anak itu selalu tenang dalam gendongan Haiden.


"Kania.."


"Ya tuan.."


"Hari ini perbanku akan di buka.."


"Ke..ke..kenapa tuan tidak mengatakan pada saya..?"


"Semua sudah dipersiapkan Noah.. toh ini hanya buka perban saja dan aku akan bisa melihat lagi.."


"Oh...ya tuan.."


"Bisakah kau ikut..?" pinta Haiden.


"Bagaimana dengan Rafael tuan..?"


"Biar Eda yang menjaganya.."


"Baiklah kalau begitu.. saya akan bersiap.."


Aira segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Bu Eda.. tuan menginginkan aku ikut ke rumah sakit.. bisakah kau jaga Rafael sebentar..?"


"Pergilah.. tenang saja aku akan menjaganya.."


"Terima kasih bu Eda.."


"Kamu gugup..?"


"Iya.. aku takut tuan akan mengusirku jika melihatku.."


"Kenapa kau berpikiran sempit seperti itu Aira.. jangan membuat kesimpulan sendiri sebelum terjadi.. hadapilah dengan berani apapun hasilnya.."


"Entahlah.. sejak ada Rafael terkadang aku menuntut lebih dari Tuhan.. Walaupun aku tahu itu sulit tapi aku sangat ingin memiliki tuan seutuhnya.. apakah aku terlalu rakus bu..?"


"Tidak Aira.. kita semua berhak mencintai, berhak jatuh cinta pada siapa saja.. tapi untuk mendapatkannya kita harus berusaha.."


"Terima kasih bu Eda selalu berada di sisiku.." peluk Aira. "Kalau begitu aku pergi dulu.."


"Ya hati - hati.." pesan Eda. "Kau sangat cantik hari ini.." puji Eda.


Aira tersenyum mendengarnya dan segera keluar kamar menuju ruang depan dan menunggu kehadiran Haiden bersama Harika dan Azkara. Setelah semua siap mereka segera berangkat menuju rumah sakit.


"Bagaimana kondisi anda hari ini tuan Haiden..?"


"Sehat dokter dan tentu saja semangat.."


"Bagus.. kalau begitu kita bisa mulai.." ucap dokter. "Suster tolong siapkan semuanya.." perintah dokter. "Baiklah tuan Haiden kita akan mulai sekarang.."


Dokter memakai sarung tangan yang steril dan mulai membuka perban Haiden pelan - pelan. Harika sangat tegang menunggu hasilnya. Aira dan Azkara bahkan saling berpegangan tangan dan saling menguatkan menerima hasil apapun.


"Nah.. coba buka mata anda perlahan - lahan tuan Haiden.."


Haiden mencoba membukanya pelan - pelan


"Ya betul seperti itu.. pelan - pelan saja untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata baru anda.. awalnya memang pandangannya agak buram tapi lama kelamaan nanti akan jelas terlihat.." jelas dokter. Haiden sudah bisa membuka matanya, ia berkedip - kedip untuk menyesuaikan.


"Bagaimana tuan..? sudah jelas penglihatannya..?"


"Dok kenapa saya masih tidak bisa melihat apa - apa..?"


"Awalnya memang pandangan agak buram tuan.. lama kelamaam nanti akan jelas karena mata sudah beradaptasi.." jelas dokter lagi.


Haiden mencoba mengedip - edipkan lagi matanya, tetapi masih saja ia mengeluh tidak bisa melihat. "Masih tidak bisa dok.."


"Tunggu sebentar.." dokter mengambil senter kecil dan memeriksa matanya. Sama sekali tidak ada reaksi.


"Bagaimana dok..?" tanya Harika.


"Hmm.. saya mohon maaf untuk pihak keluarga bahwa operasi ini tidak seratus persen berhasil seperti dugaan saya.. untuk kondisi tuan Haiden seperti ini menandakan bahwa mata pendonor belum bisa beradaptasi dengan pasien. Biasanya untuk kondisi seperti ini bisa sampai satu tahun lebih.."


"Ya tuhan dokter.." Harika sangat sedih dengan apa yang di alami oleh putra kesayangannya itu.


"Ibu dan nona Azkara bisa kita bicara sebentar..?"


"Bisa dok.. mari.."


Azkara merangkul ibunya menuju ke ruang dokter. Aira hanya sendiri berada di ruang itu. Ia berkali kali mengusap air matanya. Ia menahan isak tangisnya agar Haiden tidak mendengarnya.


"Kania.."


"Ii..iiya tuan.." jawabnya dengan suara bergetar.


"Kemarilah.. ambilkan aku minum.."


"Baik tuan.."


Setelah menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan - pelan Aira mendekati Haiden dan mengambilkannya minum "Silahkan tuan.."


"Kamu sedih..?" tanyanya sambil memegang tangan Aira yang dingin.


"Tentu saja tuan.. tapi saya yakin tuan akan bisa melihat lagi.. bukankah dokter mengatakan itu hanya perlu adaptasi antara mata pendonor dengan kondisi tuan.."


"Maaf.. aku akan merepotkan mu lagi.."


"Tidak apa - apa tuan.. saya tidak merasa direpotkan.." ucap Aira sambil tersenyum. Ia memandang mata Haiden yang masih mengalami kebutaan. Mata yang dulu membuatnya jatuh cinta yang untuk pertama kalinya, mata yang paling indah yang pernah dilihatnya. Ingin rasanya ia memeluk erat Haiden. Memberikan rasa aman dan nyaman, bahwa ia tidak sendiri ada dia, Rafael dan keluarga yang selalu mendukungnya.


"Mana Noah..? aku ingin bicara sendiri dengannya.."


"Baik akan saya panggilkan tuan.."


Aira segera keluar mencari Noah.


"Tuan memyuruhmu masuk.. "


"Permisi.." ucap Noah dan segera masuk ke dalam kamar rawat Haiden. Sedangkan Aira menunggu di luar.


"Tuan.."


"Kau masih saja tampan seperti dulu.."


"Jadi tuan bisa melihat.."


"Yah benar.. operasinya berhasil.."


"Selamat tuan.." ucap Noah. "Tapi kenapa tuan pura - pura masih belum bisa melihat..?"


"Aku memiliki alasan tersendiri.." jelas Haiden. "Setelah kau memberitahu kalau Ivanka di siksa Roberto dan saat ini ia masih DPO, Nungki dan Kemal adalah dalang dari kematian orang tua Aira, David yang semakin berani melawanku sehingga aku memutuskan untuk membuat musuh - musuhku lengah.. biar saja mereka tahu kalau aku masih buta dan lemah.. dengan begitu mereka akan mulai tidak waspada.. saat mereka lengah saat itulah aku akan menghabisi mereka satu persatu.." Haiden diam sejenak. "Aku ingin kau bekerja sama denganku.. aku hanya butuh sedikit waktu untuk membalikkan semua keadaan menjadi lebih baik.."


"Saya berjanji akan membantu tuan dan mengumpulkan bukti - bukti.."


"Bagus.. kau tahu selama mereka masih berkeliaran di luar sana aku sangat takut mereka akan mengganggu Aira dan Rafael karena mereka kelemahanku saat ini.."


"Kita beruntung Iwan ada di pihak kita tuan, sehingga ada rekaman video percakapan antara Nungki dan Kemal.."


"Kita harus menemukan Roberto terlebih dahulu.."


"Baik tuan.."


"Panggilkan Aira kesini.. kau tahu dia semakin cantik setelah melahirkan Rafael.." ucap Haiden sambil tersenyum nakal.


"Baik tuan.."


Noah segera keluar dan ternyata bertepatan dengan kembalinya Harika dan Azkara dari ruang dokter. Sesuai anjuran dari dokter Haiden harus melatih matanya dan selalu kontrol ke dokter.


"El ayo kita pulang.."


"Bagaimana kata dokter bu..?"


"Tidak masalah.. kau jangan khawatir nak.. dengan banyak latihan dan kontrol mata ibu yakin kau akan bisa melihat lagi.." ucap Harika memberi semangat.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang.."


Harika menggandeng Haiden dan segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Aira membawa Haiden kembali ke kamar. Dengan cekatan ia melepas sepatu dan mengambilkan handuk hangat untuk cuci muka. Ia juga mengambilkan baju ganti agar Haiden merasa nyaman.


"Tuan bisa saya tinggal sebentar.. saya akan menengok Rafael dulu.."


Haiden memgangguk. Aira segera menemui bayinya.


"Rafael sayang ibu kangen.." ucapnya sambil menggendong Rafael yang semakin gembul. "Heh.. ayahmu belum bisa melihat kita sayang.. tapi ibu yakin suatu saat ia akan bisa melihat dan menerima keberadaan kita.." Aira terus menciumi Rafael. Haiden memperhatikan mereka dari connecting door. Ingin rasanya ia memeluk mereka dengan erat, menjaga, memberikan cinta, rasa aman dan nyaman.


"Sabar sayang.. tunggu sebentar lagi sampai semua aman.. aku akan selalu ada untuk kalian.." Haiden segera kembali ke tempat tidurnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Setelah acara makan malam, meminum obat dan vitamin Haiden kembali ke dalam kamarnya lagi.


"Tuan mau saya pijat sebelum tidur.."


"Tidak perlu.. istirahatlah kau pasti lelah mengurusku dan Rafael.."


"Baik tuan.. tumben sekali hari ini ia agak rewel.."


"Kembalilah ke kamarmu.." perintah Haiden


"Terima kasih tuan.. saya permisi.."


Aira segera kembali ke kamarnya. Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Ia membawa Rafael tidur di sebelahnya. Biasanya ia menaruhnya di box bayi tapi karena rewel dan untuk memudahkan Aira maka malam ini Rafael satu tempat tidur dengannya.


"Kenapa kamu belum tidur sayang..?" Aira berusaha menenangkan bayinya. Kadang mengajaknya bermain dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Rasa kantuk sudah menyerang Aira. Matanya sudah berat dan akhirnya ia tertidur lelap. Rafael yang masih belum tidur, bergerak - gerak dan mulai hampir menangis.


"Sssttt.. jangan menangis my boy.." ucap Haiden sambil pelan - pelan menggendong Rafael. "Kenapa kau membuat ibumu kelelahan..? kau mau main dengan ayah..?" Haiden mulai menina bobokkan Rafael. Bayi itu tampak tenang di dekapan ayahnya. Haiden terus menggendongnya dan menepuk - nepuk punggungnya memberikan rasa nyaman.


"Maafkan ayah Rafael.." bisik Haiden. "Ayah berjanji akan mencintai dan melindungimu.."


Tak berapa lama Rafael tertidur. Dengan perlahan Haiden meletakkannya di box bayi sambil menciumnya. Setelah itu matanya beralih ke Aira yang sedang tertidur lelap karena kelelahan. Ia berbaring di samping Aira. Memandangi wajah cantik wanita yang telah membuat hatinya porak poranda beberapa waktu yang lalu.


"Kau tambah cantik.." gumamnya sambil membelai wajah Aira. "Tambah seksi dan berisi.." bisiknya di telinga Aira. Haiden mulai mencium Aira pelan - pelan keningnya, kedua matanya, hidung dan bibirnya. "Aku sangat merindukanmu Denaira Kamania Abimana.. aku sangat mencintaimu.." ciuman itu mulai turun ke leher


"Hmm.." gumam Aira. Haiden menghentikan aksinya sebentar. Setelah yakin bahwa Aira tidak terbangun ia melanjutkannya lagi. Hmm.. aroma tubuhmu tidak berubah, selalu wangi.


"Hmm.. bayi kecil ibu haus ya.." gumam Aira lagi masih dalam posisi tertidur seperti orang ngelindur, Haiden tersenyum melihatnya. Tangannya mengelus kepala Haiden yang dia kira kepala Rafael. Dengan tiba - tiba Aira mengeluarkan salah satu bukit kembarnya tepat di wajah Haiden. Kemudian menekan kepala Haiden agar menempel seperti ketika menyusui Rafael.


Haiden sangat terkejut hingga membangunkan sesuatu di bawah sana yang sudah lama tertidur. "Jangan salahkan aku Aira, kau yang memberikannya dengan suka rela.." gumam Haiden. Bibirnya mulai menikmati pucuk bukit kembar yang biasanya hanya bisa ia nikmati dalam mimpi basahnya. Suatu kenikmatan tersendiri ia bisa merasakannya di dunia nyata. Bibir dan lidahnya asyik bermain - main di sana sedangkan tangannya mulai mengelus pusat kejantanan yang semakin kencang dan berdenyut. Sementara hanya dengan tangan ia terpuaskan. Suatu saat milik inti kita akan sama - sama saling memberi kenikmatan di dunia nyata Airaku sayang batin Haiden terpuaskan..


🌸🌸🌸🌸🌸