My Desire

My Desire
Liburan 2



"Tuan benar - benar sudah menyakiti saya..!" teriak Aira. "Kalau saya seperti Ivanka yang tuan cintai itu baru namanya murahan.."


"Aira aku.. aku.." Haiden terbata - bata karena menyadari kekeliruannya. Tapi kata terlanjur terucap dari mulutnya.


Dengan mata berkaca - kaca "Saya memang orang miskin tapi harga diri saya tinggi tuan.. dan jangan katakan saya murahan lagi.." ucap Aira. Ia kemudian meninggalkan Haiden berjalan terus tanpa arah. Sepanjang perjalanan air matanya terus berderai. Ia benar - benar sakit hati dengan perkataan tuannya.


Bohong semua.. katanya mau melindungiku.. katanya tidak akan membiarkan orang menyakitiku.. ternyata semua itu bohong.. batin Aira. Menyesal aku percaya dan tersentuh dengan kata katanya. Cukup lama Aira berjalan tanpa arah.


Hah ternyata hari sudah malam. Deg.. deg.. deg.. oh sial..! ini dimana batin Aira panik. Ia melihat sekelilingnya hanya ada perkampungan tua. Dimana ini batinnya. Aira merogoh handphone nya.. hah tidak ada batinnya.. ia semakin panik.


Gara - gara marah dengan tuannya ia berjalan tak tentu arah dan jauh dari pesisir pantai. Handphone juga ia tinggal di tenda payung bersama nyonya Harika. Ia tidak berpikir akan ada kejadian seperti ini. Mana ini sudah malam, di negeri orang dan juga ia tidak mengerti bahasa orang sini.


Ya tuhan apa aku akan jadi gembel disini. Aira menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan, tujuannya adalah agar ia tidak panik dan bisa berpikir langkah apa yang akan dia ambil. Ah ya.. aku bisa sedikit bahasa inggris.. aku akan tanya penduduk sekitar di mana letak kantor polisi.


Aira berjalan beberapa langkah ke depan untuk menemukan penduduk setempat. Tak jauh dari sana ia melihat seorang wanita setengah baya menggunakan baju tradisional sedang menyalakan lentera depan rumah.


"Excuse me.."


"Chai (ya).." jawab wanita itu.


Waduh.. bisa bahasa inggris tidak ya..


"Where is the police station..?"


Wanita itu tampak bingung " Pom mai kuajai krab (aku tidak mengerti).."


Wah ibu itu kelihatan bingunh, kalau begini terus bisa di gebukin orang satu kampung karena salah paham. Coba aku tanya yang lain saja.


"Oh.. i'm sorry.. sorry.." ucap Aira sambil menunduk dan pergi meninggalkan wanita itu.


Ia berjalan lagi dengan harapan siapa tahu ada orang di depan yang bisa komunikasi dengannya.


Aduh kenapa ini perkampungan sepi ya.. tidak ada orang satu pun.. mana sudah malam lagi batin Aira mulai panik.. tenang Aira.. tenang Aira..


Tiba - tiba dari sebuah gubuk ada seorang laki - laki keluar. Ia bertelanjang dada dan menggunakan cawat tradisional khas Thailand. Dengan tubuh besar, berkulit hitam dan wajah sedikit menyeramkan.


"Radrisawat krab (selamat malam).." sapa pria itu dengan telapak tangan menutup dan jari - jari menghadap ke atas seperti sedang berdoa.


Aira diam tidak membalas. Ia justru memperhatikan penampilan pria itu. Ada seorang pria, malam - malam menyapaku yang saat ini sedang sendirian. Jangan - jangan ini yang di maksud oleh Azkara. Urban legend dari Thailand yaitu Krahang. Tangan Aira gemetar, keringat dinginnya mulai keluar. Untuk sepersekian detik ia menyesal marah dan emosi dengan tuannya. Kalau di ingat - ingat lagi ada benarnya juga tuannya mengatakan kalau ia murahan. Toh ia sudah pernah tidur dengan tuannya tanpa adanya pernikahan walaupun itu terpaksa. Seandainya ia tadi lebih tenang menghadapi tuannya, pasti kondisinya tidak akan seperti ini. Ia tersesat mana ketemu setan lagi.


"Tuan El.. selamatkan saya.." gumam Aira lirih. Ia memejamkan mata sambil berjalan mundur pelan - pelan, mulut komat kamit memanjatkan doa. Sebenarnya ia ingin melarikan diri tapi kakinya sangat berat untuk melangkah seperti ada beban lima puluh kilo. "Tuan El.. selamatkan saya.." gumamnya lagi


"He khun (Hei kamu).." panggil pria itu berulang kali. Itu malah membuat Aira semakin ketakutan.


Tiba - tiba ada sebuah tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Dari aromanya saja ia sudah tahu siapa itu. Perasaannya di liputi kelegaan.


"Tuan.." peluknya dengan erat.


"Ko tod ka (maaf).." ucap Haiden. "Meiy phm klaw (Istri saya takut).." lanjut Haiden sambil tersenyum.


"Mei bpen rai (Oke tidak apa - apa).." jawab pria itu. Kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sudah tidak apa - apa..orangnya sudah pergi.."


"Jangan bohong tuan.. bagaimana bisa tuan komunikasi dengan setan..?"


"Setan apa..?"


"Krahang.."


"Itu manusia Aira.."


"Tapi kata nona Azkara.."


"Ah kamu percaya takhayul.. atau jangan - jangan ini modus kamu untuk terus memelukku..?"


Sadar dengan apa yang di lakukannya ia segera melepas pelukannya.


"Dari mana tuan tahu dan bisa menemukan saya..?"


"Aku mengikutimu dari tadi.. aku tahu kamu tidak bawa uang, tidak bawa handphone.."


"Terus kenapa tuan tidak membantu saya waktu tadi.."


"Aku bingung.. bukankah kamu baru marah denganku..?"


"Ya.." jawab Aira memalingkan muka.


"Aku pikir menunggu sampai amarahmu mereda.." jawab Haiden. "Maafkan aku Aira.. jangan marah lagi.. okey.. aku salah.. aku salah.."


Aira diam dan tiba - tiba "Huuaaa.. hik..hik..hik.." ia menangis sejadi - jadinya untuk meluapkan kekesalannya, ketakutannya. "Tuan jahat.. jangan katakan saya murahan lagi.. hik..hik..hik.."


"Iya aku tahu aku salah..maaf.. okey.." ucap Haiden sambil memeluk dan mengelus lembut rambut Aira.


Setelah puas menangis Aira melepaskan pelukannya "Sekarang bagaimana cara kita kembali ke hotel..? apa lagi kita tersesat..? apa perlu kita menginap di sini tuan..? ini sudah malam tuan pasti capek.." tanya Aira bertubi - tubi.. belum sempat Haiden menjawab pertanyaannya "Ah ya.. tuan pasti bawa handphone kan..? ayo tuan telepon Noah untuk menjemput kita.." ucap Aira tersenyum senang seperti orang hebat menemukan solusi.


Haiden merogoh sakunya dengan cepat ia matikan handphone nya.


"Ayo tunggu apa lagi tuan.. cepat telepon Noah.."


"Hmm.. sepertinya tidak bisa.."


"Kenapa..?"


"Handphone ku mati, low bat.." ucap Haiden sambil menunjukkan Handphone yang mati.


"Yah.. bagaimana ini..?"


"Seperti katamu tadi.. kita cari penginapan disini.. untuk istirahat malam ini saja.. setelah baterai terisi penuh aku akan minta Noah menjemput kita.."


"Baiklah.."


"Ayo jalan.." perintah Haiden. Aira berjalan sedikit di depan Haiden. Sementara itu tangan Haiden di naikkan ke atas seperti memberi kode ke seseorang.


"Ah.. selamat bersenang - senang tuan.." ucap Noah melihat kode dari tuannya itu. Noah segera memberi perintah ke bodyguard yang lain untuk kembali ke hotel.


☘☘☘☘☘


Keesokan paginya..


"Kemana saja sih kalian..? aku dan ibu khawatir.."


"Maaf nona.. maaf nyonya.. karena jalan - jalan terlalu jauh saya jadi tersesat untung ada tuan.."


"Handphone kamu kemana El..? aku telepon kenapa tidak bisa..?"


"Tumben handphone kamu mati.. kamu tipe orang yang tidak membiarkan komunikasi terputus.. jangan - jangan sengaja kamu matikan ya.."


"Hei.. anak kecil jangan asal menuduh ya.."


"Handphone tuan memang mati nona.." ucap Aira meyakinkan.


"Sudah.. sudah.. yang penting El dan Aira sudah kembali.." ucap Harika. "Sekarang kalian mandi dan makan.."


Aira bergegas menuju ke kamarnya di ikuti oleh Azkara.


"Semalam Gilang mencarimu terus.. ada apa sih.."


"Kemarin sore dia mengatakan kalau menyukaiku.."


"Serius..?"


"Iya.. tapi aku menolaknya.."


"Kenapa..?"


"Ya karena aku tidak memiliki perasaan apa - apa dengan nya.."


"Terus tanggapannya bagaimana..?"


"Katanya akan terus menunggu.. lebih baik sekarang aku menghindar saja.. aku tidak mau dia berharap terlalu banyak.."


"Aku mendukung semua keputusanmu Aira.. aku akan selalu membantu.." ucap Azkara. "Sebenarnya aku lebih suka jika kau jadi kakak iparku.."


"Ah.. jangan seperti itu, tuan El tidak mungkin memiliki perasaan terhadap pelayan seperti aku.."


"Jangan pesimis.."


"Ah sudahlah.. aku mandi dulu.."


Aira berusaha menghindar dari pernyataan Azkara, ia takut jika sorot matanya mengatakan kalau ia menyukai tuannya itu.


Aira segera mandi untuk menyegarkan badannya. Cukup lama ia berendam. Ia memikirkan bagaimana selama ini secara tidak langsung hidupnya bergantung pada Haiden.


Setelah puas berendam dan badannya menjadi segar kembali. Aira segera keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Ia sekilas melihat seseorang duduk di sofa, itu pasti Azkara. Aira sibuk memilih baju yang akan dia pakai.


"Hari ini kita pergi kemana Azka..?"


Tidak ada jawaban dari Azkara.


Ah mungkin dia tidak dengar batinnya. Aira kembali membolak balikkan bajunya sambil bersenandung. Setelah memilih yang cocok ia mulai membuka handuknya. Memakai penutup bukit kembar dan ****** *****. Sebelum memakai baju yang di pilihnya ia bertanya lagi pada Azkara.


"Menurutmu bagaimana kalau aku pakai ini..?" ucapnya sambil membalikkan badan. "Aaaccchhh..!!! kenapa tu.. tu.. tuan ada disini..?" teriak Aira. Ia berusaha menutupi tubuhnya.


Haiden hanya diam saja. Dari tadi ia diam menikmati tubuh Aira yang tanpa sehelai benang pun. Sepertinya aku tidak asing dengan tubuh itu batin Haiden. Ia berusaha menarik napas kemudian mengeluarkannya pelan - pelan untuk mengendalikan sesuatu di bawah sana agar tidak meledak - ledak. Miliknya telah mengeras dan terasa berdenyut. Sial.. sial.. sial.. batinnya.


Aira berlari masuk ke kamar mandi lagi dan menguncinya. "Tuan tolong keluar..!"


"Iya.. iya aku keluar..!" ucap Haiden. Aira menempelkan telingannya di pintu kamar mandi mendengarkan dengan pasti apa tuannya sudah keluar. Ia membuka pintu pelan - pelan. Di edarkannya pandangan ke seluruh ruangan. Setelah di rasa aman ia keluar dan bergegas ganti baju.


Malam ini mereka makan bersama di sebuah kapal dengan mengarungi sungai Chao Phraya. Tampak Wat Arun atau di kenal dengan candi fajar yang megah di malam hari.


"Besok kita harus pulang.." ucap Haiden saat makan malam.


"Yah.. kenapa tidak diperpanjang lagi..?"


"Lain kali kita kembali ke sini lagi Azka.."


"Janji ya El.."


Haiden hanya mengangguk sambil menikmati makanannya.


"Makan apa sih..?" tanya Azka.


"Tom yam.. mau..?" Haiden menawarkan.


Azkara mengambil satu sendok kuah tom yam dan memasukkannya ke mulut "Uhuk..uhuk..uhuk.. pedasnya.. mana asam lagi.." ucap Azkara sambil meminum air putih sebanyak - banyaknya.


"Tumben kau suka pedas El.."


"Sepertinya suasana malam di kota Bangkok ini cocok dengan makanan pedas.."


"Hati - hati.. jangan terlalu pedas.. jaga perutmu.."


"Baik bu.. terima kasih.."


☘☘☘☘☘


Setelah hampir satu minggu berlibur di negara Thailand, Keluarga Lukashenko dan para pelayan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.


Pagi ini Aira tidak ke perusahaan seperti biasanya. Karena tuannya ada perjamuan makan siang dengan klien bisnis di rumah.


"Pagi bik Sumi.."


"Eh non Aira.."


"Bik Sumi jangan panggi non.. nggak enak kalau ketahuan yang lain.."


"Heheheh.. panggilnya kalau pas tidak ada orang non.."


Aira memperhatikan Sumi yang membawa nampan berisi obat "Bawa obat untuk siapa bik..?"


"Untuk nona Azka.. katanya perutnya sakit.."


"Loh.. nona Azkara sakit..? sakit apa..?"


"Biasa non.. tamu datang bulan.."


"Oh.." ucap Aira. Deg.. deg.. deg.. tiba - tiba ia teringat sesuatu. "Oh ya sudah bik Sumi naik ke atas, takutnya obatnya ditunggu.."


"Ya non.. bibi tinggal dulu.."


Sepeninggal Sumi, Aira langsung kembali ke kamar untuk memastikan sesuatu. Dia membuka laci dan mengambil pembalut.


"Masih utuh.." gumam Aira. Ia meletakkan kembali pembalut itu ke dalam laci. Ia beralih ke kalender, di bolak balik, dilihat dengan teliti dan kemudian terduduk lemas.


"Sudah hampir dua bulan aku tidak datang bulan.. jangan.. jangan aku.." Aira tidak berani melanjutkan prasangkanya. "Tidak.. tidak.. bisa saja aku terlambat karena stres atau kecapekan.. tidak mungkin itu terjadi karena saat ini aku tidak merasakan apa - apa.." gumamnya sendiri sambil memegangi perutnya.


☘☘☘☘☘