My Desire

My Desire
Aku Bukan Pembawa Sial



"Bagaimana keadaan Ivanka..?"


"Oh tuan David syukurlah anda mau menjenguk putri saya.."


"Yah mengingat kami dulu pernah dekat.."


"Tuan David bisakah anda menolong saya..?"


"Apa itu..?"


"Melihat kondisi Ivanka yang tidak kunjung ada kemajuan, bagaimana kalau kita bawa ia berobat ke Singapore.. saya dengar dokter di sana tidak diragukan lagi kemampuannya.."


"Saya mengerti maksud anda nyonya Nungki.. anda butuh uang bukan..?"


Nungki terkejut mendengar David dengan gampang menebak apa maksudnya "Eh iya betul.. mengingat sekarang perusahaan sudah jatuh ke tangan anda dan kami hanya seorang bawahan.."


"Tidak perlu terburu - buru nyonya.. saya rasa dokter di sini sudah cukup baik...apalagi kondisi Ivanka yang masih belum sadarkan diri akan tidak baik nantinya jika harus melakukan perjalanan jauh.."


"Eh benar juga.."


Tiba - tiba datang seorang perawat yang akan memberikan beberapa suntikan pada infus Ivanka. Itu suntikan rutin yang diberikan untuk Ivanka setiap pagi dan sore. Sekarang hidupnya tergantung pada obat dan alat.


"Permisi.. saya akan memberikan suntikan untuk nona Ivanka.." ucap Perawat itu.


"Silahkan.."


Perawat itu masuk ke dalam ruang ICU. Saat berpapasan, David dan perawat itu saling berpandangan.


Dari kaca di luar ruangan Nungki melihat perawat itu dengan cekatan menyuntikkan beberapa obat ke dalam infus. Melakukan beberapa pemeriksaan, mengecek alat - alat apakah masih berfungsi dengan normal. Setelah semuanya selesai perawat tersebut keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana suster..?"


"Kondisinya masih sama seperti kemarin bu.. dan nanti dokter visit agak siang karena ada jadwal operasi.. saya permisi dulu.."


"Terima kasih suster.."


Perawat itu kemudian pergi meninggalkan Nungki dan David. Nungki menatap putri kesayangannya dengan raut sedih. Bahkan penampilan Nungki saat ini berbeda dengan penampilannya saat bertemu dengan teman sosialitanya.


"Lihatlah tuan David.. dia dulu begitu cantik, bersemangat sekarang kondisinya sangat menyedihkan.." ucap Nungki mulai terisak. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.


"Tenang nyonya saya yakin Ivanka akan sembuh.."


Tiba - tiba dari kaca di ruangan ICU terlihat tubuh Ivanka mengalami kejang - kejang..


"Apa yang terjadi..! kenapa tubuhnya kejang..! Iv.. Iv.. Ivanka..!!!" teriak Nungki dari luar. "Dokter..! dokter..! tolong..! tolong..!"


Beberapa dokter penjaga dan perawat masuk. Jantung Ivanka tidak bekerja dengan baik. Mereka melakukan beberapa suntikan, masih tidak berhasil. Mereka mengambil defribrilator atau alat pacu jantung memberikan kejutan listrik agar detak jantung bisa kembali. Beberapa kali mereka lakukan akan tetapi hasilnya nihil. Ivanka di nyatakan meninggal.


"Tidaaaakkk..! tidak..! jangan tinggalkan mama Iv..!" Nungki menangis sejadi - jadinya.. meraung - raung di lantai tanpa memperdulikan banyak mata memandang ke arahnya.


Baskara dan Dave datang sambil berlari, ia menghampiri Nungki yang masih menangis di lantai.


"Pa.. Ivanka pa..!"


"Iya.. iya aku tahu ma.." ucap Baskara bergetar, ia menitikkan air mata sambil memeluk Nungki.


Dokter segera melepas semua alat - alat yang terpasang di tubuh Ivanka. Kemudian meletakkan jenasahnya di atas brankar. Beberapa perawat mendorongnya keluar dari ruang ICU.


David menghentikan sebentar kegiatan mereka. Ia mendekat dan membuka selimut yang menutupi wajah Ivanka.


Aku sudah membantumu menghilangkan rasa sakit itu Iv.. aku percepat proses pertemuanmu dengan tuhan agar kau tidak semakin menderita.. semoga kau tenang di sana batin David sambil tersenyum penuh arti. Dengan kode ia memerintahkan perawat itu meneruskan pekerjaannya untuk membawa jenasah Ivanka ke ruang mayat untuk di bersihkan.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Selamat siang tuan.."


"Ada apa Noah..?"


"Ada laporan dari pihak kepolisian kalau Roberto sudah ditemukan.."


"Bagus.. ayo kita kesana.."


"Maaf tuan.. Roberto sudah meninggal, tubuhnya di bakar.."


"Meninggal..?"


"Benar tuan.. tubuhnya di temukan di dekat sungai, oleh warga yang sedang memancing.."


"Gila..! ini perbuatan orang gila.."


"Di dalam tubuhnya ada racun dan terdapat empat peluru, satu di kepala, dan tiga lainnya di dada.. kemungkinan dia di racun dan di tembak sebelum tubuhnya di bakar untuk menghilangkan jejak.."


"Apa racun yang di temukan dalam tubuh Roberto..?"


"Menurut tim forensik namanya Botulinum Toxin.."


"Bisa aku melihat peluru yang di gunakan untuk menembak Roberto..?"


"Ini gambar dan penjelasannya tuan.."


Haiden melihat dengan teliti. Ia tampak terdiam dan memikirkan sesuatu. Di dalam laporan tercatat bahwa peluru yang digunakan berbahan dasar kuningan dan berlapis emas. Memiliki bentuk seperti perahu, ujungnya sangat runcing sedangkan di bagian belakangnya terlihat besar. Itu artinya peluru ini di design khusus.


Tidak semua orang menggunakannya. Peluru ini biasa di gunakan oleh orang Rusia dan di pakai pada pistol jenis Gsh-18 buatan negara mereka. Hanya orang - orang dari kementerian ketahanan Rusia saja yang menggunakannya batin Haiden. Ia tahu karena ayahnya keturunan Rusia.


"Noah.. aku mencurigai seseorang.. ayahku dulu memiliki senjata yang di isi dengan peluru jenis ini.. tidak semua orang memilikinya.. dan kau tahu bahwa kematian ayahku yang tiba - tiba jatuh sakit dan tubuhnya melemah. Itu semua di karenakan dalam tubuhnya terdapat racun yang sama seperti Roberto yaitu Botulinum Toxin.." ucap Haiden. Tangannya tampak mengepal karena emosi yang dia tahan.


"Jadi maksud tuan mereka dibunuh oleh orang yang sama.."


"Yah benar.. soal racun yang terdapat dalam tubuh ayahku hanya aku yang tahu.. saat itu aku meminta untuk dilakukan outopsi tanpa persetujuan dari ibu.. jadi rahasiakan ini.."


"Baik tuan.."


"Lakukan penyelidikan secara diam - diam di kediaman pamanku.." perintahnya kemudian.


"Maksud tuan.. tuan Kemal..?"


"Ya.. aku curiga dia dalang di balik ini semua.." jawab Haiden. "Bukankah ia orang yang paling mungkin membunuh Roberto di karenakan Roberto adalah orang yang menganiaya anaknya.."


"Tapi Roberto kaki tangan tuan Kemal, ia sudah mengabdikan dirinya untuk keluarga mereka.."


"Kemal itu berdarah dingin, dengan bibi Olif saja ia tega menganiayanya.."


"Baik tuan akan saya selidiki segera.."


"Bagus.." puji Haiden atas kinerjanya. "Sudah kau telpon Aira untuk mengantarkan makan siangku, suruh bawa juga Rafael bilang saja sekalian jalan - jalan.. aku merindukan mereka.."


"Baik tuan.. kalau begitu saya permisi.."


Noah keluar membawa berkas. Ia kemudian menyuruh beberapa orang untuk menyusup ke rumah Kemal di saat mereka tidak ada.


Tak lama kemudian datanglah Aira dengan mendorong stroller baby. Banyak mata memandang ke arahnya karena membawa bayi di kantor. Mereka bertanya - tanya kenapa seorang pelayan pribadi mengantarkan makan siang sambil membawa bayi. Tapi mereka tidak berani bergunjing atau membicarakan tuan Haiden di belakang karena pecat hukumannya.


"Selamat siang tuan.."


"Oh Kania.. masuklah.."


"Terima kasih tuan.." Aira masuk dan mendorong Rafael untuk melihat kantor ayahnya. Haiden melihat itu semua. Ia tampak bahagia, seandainya ia bisa berterus terang jika sudah bisa melihat lagi ingin rasanya ia menyambut mereka dengan sebuah pelukan yang hangat.


"Kau membawa Rafael..?"


"Iya tuan.. sesuai perintah tuan.."


"Apakah ia senang..?"


"Sepertinya sangat senang.. ia mengoceh terus selama perjalanan.."


"Benarkah..? kemari aku ingin menggendongnya.."


Aira mengangkat Rafael dan menyerahkan ke Haiden. Haiden menggelitik perut gendut Rafael dan terkadang menciumnya dengan gemas.


Aira memperhatikan interaksi di antara meraka berdua. Rafael selalu tenang di dekapan Haiden. Seandainya ia berterus terang akankah Haiden menolak kehadiran mereka.


"Tuan.. makan siang dulu.. biar Rafael saya taruh di stroller.."


"Baiklah.."


Setelah menaruh Rafael, Aira segera melayani Haiden makan siang. Kali ini Haiden makan siang dengan steak dan salad sayur. Hampir selesai ia makan tiba - tiba saja Rafael menangis.


"Aku sudah selesai.. kau bisa urus Rafael.."


"Maaf tuan.. lain kali saya tidak akan mengajaknya ke kantor.."


"Tidak apa - apa.. aku sekarang sudah terbiasa dengan suara tangisnya.."


"Maaf tuan kalau itu mengganggu tuan.."


"Tidak apa - apa Kania.."


"Kalau begitu saya permisi sebentar.." pamit Aira. Ia mendatangi stroller Rafael "Kenapa sayang.. kau haus nak.." Aira kemudian mendekapnya dalam gendongan. "Maaf tuan sepertinya Rafael haus.."


"Tidak apa - apa lanjutkan saja.. toh aku tidak bisa melihat"


Aira duduk dan mulai mengeluarkan senjatanya. Yah sebuah bukit kembar yang selalu Haiden rasakan hampir setiap malam. Ia membersihkan pucuknya dengan tisu steril sebelum memberikannya ke Rafael. Haiden melihat tanpa berkedip. Pikiran kotornya melayang seandainya ia bisa menikmatinya saat itu juga. Haiden menelan ludah berkali - kali, napasnya memburu.


"Pelan - pelan sayang tidak akan ada yang meminta.." Aira membelai lembut Rafael dan tersenyum melihat putranya yang tampak kehausan. Tanpa ia sadari pria dihadapannya yang sedang pura - pura buta itu juga kehausan.


Tok.. tok.. tok..


"Sepertinya ada tamu tuan.." ucap Aira. Ia berusaha melepaskan bukit kembarnya dari mulut Rafael. Tapi yang terjadi malah ia menangis.


"Kamu masuk ke kamarku.. lanjutkan kegiatanmu di sana.."


"Kamar apa tuan..?"


"Itu di sana dibelakang rak buku itu ada ruangan baru.. aku biasa menggunakannya untuk istirahat.."


"Oh.. baik tuan.. terima kasih.."


Aira segera membawa Rafael masuk kedalam ruangan yang dimaksud oleh Haiden. Disana terdapat tempat tidur yang cukup luas, almari pakaian, almari pendingin dan kamar mandi.


Jangan - jangan ruangan ini ia gunakan untuk tidur dengan karyawan wanitanya. Mereka semuanya jago merayu dan genit dihadapan tuan batin Aira. Ia berperang dengan pikirannya sendiri. Tiba - tiba ia mendengar suara seorang wanita.


"Oh jadi tamunya seorang wanita.. pantas dia menyuruhku masuk.." gumam Aira. "Lihat itu ayahmu setiap hari ada saja wanita yang mendekatinya.."


Setelah Rafael kenyang ia turun dari tempat tidur "Kamu tenang disini ya nak.. jika kamu tidak ingin kehilangan ayah.. ibu akan merebutnya kembali.."


Dengan langkah pelan ia keluar dari ruangan. Dari balik rak buku dengan jelas ia melihat wanita yang bernama Dewi yang memiliki bukit sangat besar. Wanita itu menyerahkan beberapa berkas untuk di tanda tangani akan tetapi kenapa ia tampak gelisah.


"Siapa..?"


"Saya dewi tuan.. bagian keuangan.."


"Ada apa..?"


"Menyerahkan berkas yang perlu tuan tanda tangani.."


"Berkas apa..?"


"Ini laporan keuangan rutin, biaya - biaya yang harus di keluarkan dan juga proyek.."


Sekilas Haiden melihat bahwa itu bukan isi dari berkas yang dia bawa. Berkas itu berisi peralihan saham. Hmm.. mau membohongiku rupanya batin Haiden.


"Dimana aku harus tanda tangan..? kau tahu kan sekarang aku buta.."


"Oh.. sebelah sini tuan.."


Aku harus bertindak. Tuan kan sekarang tidak bisa melihat, siapa tahu itu berkas untuk menjebaknya yang nanti akan menimbulkan kerugian yang besar diperusahaan. Aira mengambil air dari dalam almari pendingin. Ia akan berpura - pura memberikan air untuk Haiden.


"Maaf tuan.." ucap Aira yang tiba - tiba muncul. "Ini air mineralnya.. bukankah tadi tuan menyuruh saya mengambilnya di ruang pribadi tuan.."


"Ah ya.. bawa kemari.." perintah Haiden.


Dewi tampak sangat terkejut melihat kedatangan Aira yang tiba - tiba dari belakang. Ia pikir Haiden sedang sendirian. Wajahnya memerah menahan amarah, rencananya hampir gagal.


"Ya tuhan.. maaf tuan.. maafkan saya.. berkasnya jadi basah.."


"Apa yang kamu lakukan..!" teriak Dewi marah. "Hati - hati donk..! kerja pakai mata..!" umpatnya.


"Maaf.. maaf saya tidak sengaja.." Aira pura - pura menyesal. Padahal dalam hatinya ia bersorak bahagia.


"Jangan berkata seperti itu Dewi..! dia orangku..!sekarang kamu keluar..!" perintah Haiden.


Dewi dengan marah dan emosi keluar dari ruang Haiden dengan membawa berkas yang basah tadi. Aira tersenyum senang melihat kepergian Dewi.


"Maafkan saya tuan.."


"Tidak apa - apa toh kamu tidak sengaja bukan.."


"Iya tuan.. kalau begitu saya bereskan mejanya dulu.. permisi.."


Aira membersihkan meja bekas makan siang Haiden yang tadi memang belum sempat ia bersihkan. Terus terang saja Haiden semakin bangga dengan apa yang dilakukan oleh Aira. Rasanya ia tidak tahan ingin memeluknya. Tindakannya tadi upaya dia untuk menyelamatkan aku. Aira sudah semakin dewasa batin Haiden.


"Aira.."


"Ya tuan.. sebentar saya akan kesana.. ini masih kurang sedikit.."


Haiden terus melangkah mendekatinya, dan muncul lah suatu ide gila.


"Aduh.." ia pura - pura tersandung dan hampir terjatuh. Aira dengan sigap meraihnya, tapi karena postur tubuh Haiden yang tinggi dan besar mereka berdua akhirnya terjatuh di atas sofa dengan posisi Haiden di atas Aira.


"Maaf.. aku tadi tersandung.. kau tahu kan aku tidak bisa melihat.."


"Eh ia tuan tidak apa - apa.." ucap Aira. Ingin rasanya ia berada di posisi seperti ini terus. Walaupun ini sebuah kecelakaan, tapi ini adalah kecelakaan yang indah. Aku bisa menikmati wajahmu sedekat ini tuan batinnya. Aira menggunakan kesempatan ini untuk melihat wajah tampan Haiden. Ia pikir Haiden tidak akan tahu hal itu karena kebutaannya.


"Aku akan berdiri, tolong bantu.." ucap Haiden. Ini ia lakukan karena sesuatu di bawah sana sudah mulai mengeras. Ia takut Aira bisa merasakan proses kejantanannya yang berdiri tegak.


"Oh sebentar tuan.. maaf tuan bisa miring ke kanan agar tidak jatuh nanti biar saya yang bergeser.." ucap Aira memberi intruksi. Dadanya yang bergesekan dengan dada kokoh keras milik Haiden membuat inti kewanitaannya juga berdenyut.


Setelah melalui proses menahan hasrat bercinta mereka akhirnya duduk bersebelahan dengan dengan situasi yang canggung.


"Hmm.. kalau begitu saya pamit pulang tuan.."


"Oh ya.."


"Saya ambil Rafael dulu.."


Aira segera mengambil Rafael dan segera meninggalkan ruangan Haiden. Aira turun menggunakan lift khusus.


"Noah.. Aira dan anakku pulang awasi mereka sampai naik mobil.."


"Baik tuan.."


Aira sudah sampai di lobby. Begitu pintu lift terbuka ia di sambut oleh Dewi.


"Sini kamu.." perintah Dewi sambil menarik kasar tangan Aira.


"Hei..!.pelan sedikit aku membawa bayi.."


"Aku tidak peduli..! ikut aku.."


"Iya.. iya.. sabar..!" ucap Aira sambil mengibaskan cengkeraman Dewi dari tangannya.


Mereka menuju samping cafe karyawan yang saat itu sepi karena jam makan siang sudah habis.


"Apa maksudmu tadi..?"


"Soal apa aku tidak mengerti..?"


"Kamu tadi sengaja menumpahkan air di berkas yang aku bawa kan..?"


"Kalau iya kenapa.."


Tangan Dewi melayang ingin menampar Aira, tapi dengan sigap Aira menangkisnya.


"Kau ingin menamparku..! kau salah orang nona..!"


"Lepas..! lepas..!" Dewi berusaha melepas cengkeraman Aira.


"Ingat.. siapapun yang berusaha mencelakakan tuan Haiden dan keluarganya aku tidak akan tinggal diam..! mengerti..!" Aira menatap tajam mata Dewi.


Setelah menghempaskan tangan Dewi ia segera pergi meninggalkannya. Rafael juga bangun karena mendengar teriakan Dewi tadi.


Noah memberitahukan Haiden mengenai kejadian tadi.


"Pecat Dewi..!"


"Alasannya tuan..?"


"Karena dia berani mengganggu istriku.."


"Maaf istri tuan siapa..?"


"Aira.."


"Tapi bukankah tuan belum menikah dengannya..?"


"Aku anggap sudah.. karena dia mengandung Rafael anakku.."


"Oh.. baik tuan.."


"Dan satu lagi.. ia tadi membawa berkas yang isinya pemindahan pemegang saham.. dia pikir bisa mengelabuiku karena aku buta.."


"Baik tuan akan saya selidiki lebih lanjut, Dewi melakukan itu atas perintah siapa.."


🌸🌸🌸🌸🌸


Akhirnya Aira sampai di rumah. Ia di sambut oleh Harika.


"Bagaimana cucu oma..? apakah senang sudah ke kantor ayah..?" tanya Harika sambil mengambil Rafael dari stroller. "Oh.. cucu oma sudah semakin gendut ya.."


"Iya dia minum ASI nya sangat kuat bu.."


"Hmm.. persis seperti ayahnya waktu kecil.."


Tiba - tiba dari arah belakang Sumi datang sambil tergopoh - gopoh.


"Maaf nyonya, non Aira.. ada berita.."


"Berita apa bik..?"


"Ini tadi Iwan telepon.. ia bilang non Ivanka...."


"Kenapa dengan Ivanka..?"


"Non Ivanka meninggal.."


"Apa..! ya tuhan.. itu tidak mungkin.. kenapa om Baskara tidak menghubungiku..?"


"Itu saya kurang tahu non.."


"Ayo kita ke sana bik.." ajak Aira, walau bagaimanapun Ivanka adalah saudara sepupunya. Mereka sudah hidup bersama sejak kecil walaupun tidak akrab kematiannya yang mendadak membuatnya sangat sedih. "Bu.. bisa aku titip Rafael sebentar.."


"Tenang saja.. pergilah aku akan menjaga Rafael bersama Eda.."


Aira dengan Sumi segera pergi ke kediaman Baskara di antar oleh sopir Harika. Tak berapa lama mereka sampai. Banyak karangan bunga dan tamu dari teman - teman, rekan bisnis. Di sana tampak David di temani beberapa bodyguard datang melayat.


"Om.."


"Aira.." Baskara memeluk Aira.


"Yang sabar om.."


"Maafkan semua kesalahan Ivanka.."


"Iya om.. aku sudah lama memaafkannya.. oya dimana tante Nungki..?"


"Dia ada di dalam.. masuklah, tantemu sangat terpukul dengan kepergian Ivanka.. ia butuh seorang teman di sampingnya.."


"Baiklah om.. aku masuk dulu.."


Aira masuk ke dalam, ia melewati beberapa tamu yang duduk di kursi.


"Siapa itu..?" gumam David. Sangat cantik batinnya


"Itu Aira saudara sepupu saya.." jawab Dave yang ternyata mendengar gumaman David.


"Ah ya.. aku ingat.. aku pernah bertemu dipusat perbelanjaan bersama Ivanka.."


"Dia anak om Abimana.."


"Saudara ayahmu..? pemilik pertama perusahaan yang di kelola ayahmu..?"


"Ya benar.."


Hmm.. menarik.. menarik sekali.. ia sangat cantik.. bola matanya bening dan teduh.. seakan aku menemukan kedamaian di sana batin David.


Sementara itu di dalam Aira menemui Nungki di temani Sumi.


"Tante.." panggilnya pelan.


Nungki menoleh ke arah Aira, matanya tiba - tiba melotot "Kenapa kamu disini..?!" teriaknya. "Pergi kamu..! pergi..!!!" usir Nungki.


"Tapi tante aku datang melayat Ivanka.."


"Tidak perlu..! kamu itu pembawa sial bagi keluarga kami..!" Nungki mendorong tubuh Aira.


Aira tahu saat itu tantenya sedang shock atas meninggalnya Ivanka sehingga melakukan itu tanpa sadar. Teriakan Nungki menarik perhatian pelayat yang lain. Sumi memegangi Aira agar tidak jatuh.


"Maafkan aku tante.." Air mata Aira tidak terbendung lagi bila dikatakan sebagai pembawa sial.


"Kau yang membunuh anakku..!!! kau pembunuh..!!!" teriak Nungki. Baskara masuk ke dalam menenangkan Nungki. Sedangkan Aira terus terisak.


"Sudah.. sudah ma.. ini Aira bukan pembunuh.."


"Sejak dia hadir di keluarga kita.. ia selalu membawa sial..! perusahan bangkrut dan sekarang Ivanka meninggal.. dasar gembel..! benalu..! pembunuh..! pembawa sial..!" teriak Nungki sambil terus memukuli tubuh Aira, menampar dan mencakar dengan membabi buta. Aira hanya diam dan menangis. Ia tidak mungkin melawan. Ini adalah keluarganya yang sedang berduka. Sumi juga kewalahan melindungi Aira.


"Hentikan nyonya Nungki..!" teriak David tiba - tiba. Ia menarik tubuh Aira agar terhindar dari serangan Nungki.


"Jangan ikut campur tuan David.. anakku sudah mati itu artinya ia juga harus mati..!"


"Tolong nyonya jangan membuat keributan...kasihan Ivanka biarkan ia tenang.."


"Ma.. sudah ma.. sudah.. malu dengan tamu.."


"Tapi pa anak kita sudah tidak ada lagi.."


"Ya.. aku tahu tapi itu bukan salah Aira.." Baskara berusaha menenangkan Nungki. "Aira kamu pulanglah.. om berterima kasih kamu sudah datang.. maafkan om.."


"Iya om.. aku mengerti.." ucap Aira. Dengan tubuh lemah dan di papah oleh Sumi, Aira meninggalkan kediaman Baskara.


"Eh tunggu nona.." teriak David. "Apa tidak sebaiknya kamu obati lukamu itu..?"


"Eh tidak perlu tuan...." jawab Aira lirih. Ia merasakan tubuhnya yang sakit dan perih karena terkena kuku Nungki.


"David.. panggil saja aku David.."


Aira melihat wajah David, ia menjadi ingat dengan orang yang pernah bertemu dengannya waktu di pusat perbelanjaan bersama Ivanka dan juga David teman Haiden yang pernah menjadikannya sasaran panahan waktu menjadi Abi. Sepertinya ia tidak tahu kalau aku Abi batin Aira "Ah ya.. David.." ucapnya sambil tersenyum. "Tidak perlu.. aku pulang saja.."


"Tidak keberatan kalau aku antar..?"


"Hmm.. aku sudah ada yang menjemput.." tolak Aira halus. "Kalau begitu aku permisi dulu.."


Aira segera meninggalkan David sendiri. David melihat kepergian Aira dari jauh. "Hmm.. cantik.." gumamnya sambil tersenyum smirk.


🌸🌸🌸🌸🌸