
Pagi ini Aira terbangun dengan suasana hati yang berbeda. Entah kenapa rasa kecewa itu masih saja setia di hatinya. Ia berusaha mencoba untuk bangun.
"Aauuww.." ia meringis kesakitan. Ah sepertinya aku membutuhkan bantuan seseorang. Oh ya semalam bu Eda tidur disini batin Aira.
"Bu Eda.. bu Eda.." panggilnya pelan. Belum ada jawaban. Antara tempat tidur dan tempat untuk penunggu terhalang tirai. Akhirnya Aira memutuskan untuk berusaha turun dari tempat tidur. Sambil meringis menahan sakit ia sudah berhasil menurunkan satu kakinya. Tangannya berusaha meraih infus yang tergantung.
"Kenapa tidak membangunkan aku..?"
"Ttuan.. kkenapa ttuan ada disini.."
"Tentu saja ada disini.."
"Bbu Eda mana..?"
"Pulang.." ucap Haiden singkat. "Mau kemana..?"
"Ke kamar mandi tuan.."
"Mau apa..?"
"Hmm.. mau.. mau....." jawab Aira bingung
"Apa luka mu itu mempengaruhi otakmu..?"
"Maksud tuan..?"
"Sadar tidak kalau bicaramu gagap.."
Aira diam, bibirnya manyun ke depan "Itu semua karena pertanyaan tuan.."
"Aku kenapa..?"
"Tidak apa - apa tuan.." ucap Aira sambil berusaha turun dari tempat tidur.
Haiden yang melihat sedikit gemas dengan sikap Aira. Tanpa di komando ia segera membopong tubuh Aira.
Melihat perbuatan Haiden, Aira menjadi tambah gugup. "Aapa yang tuan lalukan..?"
"Katanya mau ke kamar mandi.."
"Oh ya.." jawabnya seperti orang bodoh.
"Infusnya.." ucap Haiden.
"Oh ya.." jawab Aira sambil mengambil infus yang masih tergantung.
Haiden segera membawa Aira ke kamar mandi.
"Di sini saja tuan.."
"Kamu bisa sendiri..?"
"Bisa tuan.." ucap Aira. Haiden masih terdiam di dalam dan belum keluar. Dengan malu - malu Aira berkata "Tuan maaf saya mau buang air kecil.."
"Oh silahkan.."
"Ttuan bisa keluar dulu.."
"Oh.. oke.." ucap Haiden menyadari kebodihannya ia kemudian keluar dari kamar mandi.
Aira segera berjalan ke closet. Ia bersiap untuk buang air kecil, tiba - tiba pintu terbuka lagi.
"Aaacchhh.. ttuaan...!!" teriaknya
"Oh.. sorry.. aku cuma mau bilang kalau sudah selesai panggil aku.."
"Iya.. iya.." jawab Aira jengkel.
Haiden segera menutup pintu lagi. Napasnya memburu. Apa yang tadi aku lihat.. apakah paha batin Haiden. Oh kenapa pagi - pagi begini pikiranku sudah kotor.. semua gara - gara Aira.
"Tuan El.. tuan.." panggil Aira dari dalam.
"Apa.." ucap Haiden
"Tadi katanya tuan kalau sudah disuruh panggil - panggil.."
Haiden mendekati Aira dan kemudian membopongnya keluar dari kamar mandi.
"Mau di tempat tidur atau di sofa.."
"Di sofa saja tuan.. saya mau ganti suasana.."
"Oke.." ucap Haiden. "Kamu nikmati saja saat - saat bisa memerintahku aku tidak akan marah.. karena setelah kamu sembuh kesempatan ini tidak akan ada.."
"Terima kasih atas hak istimewa yang tuan berikan.."
"Syukurlah kalau kamu tahu berterima kasih.." ucap Haiden. "Kamu mau buah..?"
"Hmm.. kalau tuan tidak keberatan.."
"Tunggu sebentar.." Haiden mengambil buah Apel dan mulai mengupasnya. Tak berapa lama Apel selesai di kupas "Nih.."
"Terima kasih tuan.." ucap Aira. Ia mulai menggigit Apel itu satu persatu.
"Enak..?"
"Hmmm tentu saja enak.. kapan lagi saya bisa merasakan di kupaskan Apel oleh tuan Kafael Haiden Lukashenko.." ucap Aira. "Mungkin saja saya wanita pertama yang pernah tuan kupaskan Apel.."
"Bukan.. kamu yang kedua.."
"Ooh.. maaf saya pikir...."
"Ibu wanita pertama yang pernah aku kupaskan Apel.. saat itu ia jatuh sakit ketika ayahku meninggal.." jelas Haiden.
Senyum Aira kembali mengembang..
"Kalau saya dulu sering tuan.. mungkin karena saya anak perempuan mereka satu - satunya.." ucap Aira. "Saya rindu saat - saat seperti itu.." Tatapan Aira menerawang jauh kembali mengenang ke masa - masa itu.
"Mau jalan - jalan di taman.. bisa mengurangi bosan.." Haiden menawarkan untuk mengalihkan pikiran Aira.
"Tuan tidak keberatan mendorong kursi roda saya.. nanti tunggu bu Eda atau bik Sumi saja.."
"Sudah aku bilang selama kamu sakit kamu istimewa.."
"Terima kasih.. let's gooo...!"ucap Aira kegirangan dan mengangkat tangan. "Aauuww.." teriaknya.
"Kenapa..?" tanya Haiden panik
"Hehehehehh.. tidak apa - apa.. saya terlalu bersemangat tuan.."
Haiden tersenyum sambil mengusap lembut kepala Aira. Ia mulai mendorong keluar ruangannya. Aira baru sadar jika ia di tempatkan di sebuah kamar VIP padahal ia hanya seorang pelayan.
"Tuan.. maafkan saya.."
"Untuk apa..?"
"Untuk sebuah kebohongan tentang identitas saya.."
"Aku bisa mengerti kenapa kau melakukan itu.. tapi ingat tidak ada lain kali.. kau tahu aku tidak suka kebohongan.."
"Saya janji tuan.."
"Jadi sekarang aku panggil kamu siapa..?" tanya Haiden sambil berhenti di sebuah taman di rumah sakit. Ia mengunci dulu roda di kursi roda Aira agar aman. Setelah semuanya di pastikan aman ia kemudian duduk di sebuah bangku.
"Ehem.. perkenalkan nama saya Denaira Kamania Abimana.. tuan bisa memanggil saya Aira.." ucap Aira sambil menyodorkan tangannya.
Haiden tersenyum melihatnya dan kemudian menyambut tangan Aira dan berjabat tangan.
"Umur saya dua puluh dua tahun tuan.. dan saya berjanji akan bekerja dengan sungguh - sungguh melayani tuan.." lanjutnya. "Apakah tuan bersedia menerima saya sebagai pelayan tuan..?"
"Hmm.. aku ingat kau pernah berkata bahwa kau bisa melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa dan sekarang kau buktikan dengan menerima sebuah peluru demi melindungiku.."
"Oya.. bagaimana nasib tuan Leo..?"
"Dia sudah mendekam di penjara.. apa yang dia lakukan itu sangat tidak bermoral.."
"Saya termasuk beruntung tuan.. tuan dan nona Azkara sudah menyelamatkan saya.."
"Dua hari lagi kau sudah boleh pulang.. mungkin kau ingin istirahat dulu di rumah saudara atau temanmu..?"
"Keluarga yang saya punya hanya om Baskara.. terus terang saya masih trauma tuan.. sedangkan teman saya masih ikut dengan orang tuanya jadi saya takut merepotkan.. kalau misalnya tuan mengijinkan, saya di kediaman tuan saja.. saya janji tuan saya tetap akan bekerja walaupun belum maksimal.."
"Baiklah kalau kamu memaksa ingin tetap di rumahku.."
"Terima kasih atas kebaikan tuan.." ucap Aira.
"Apa yang akan kau berikan padaku sebagai gantinya.."
"Maksud tuan..?"
"Kebaikanku seperti yang kamu bilang.."
"Saya berjanji akan mengabdi untuk tuan.."
"Itu masih kurang.." jawab Haiden. "Bagaimana dengan stempel keakraban..?"
"Hei jangan membentakku..."
"Ini bukan membentak tuan, tapi kaget.."
"Kenapa harus kaget.. bukankah kita sering melakukannya.."
"Ssstt.. tuan jangan keras - keras.. ini kan sama dengan ciuman.."
"Bukankah kau sudah tahu ciuman itu seperti apa.. dan stempel keakraban itu seperti apa.."
Heh.. menurutku itu mirip tuan batin Aira. Tuan memang paling bisa memutar balikkan kata pikir Aira.
"Heh.. memang luka itu benar - benar mempengaruhi otak mu.. kau jadi berpikir yang kotor - kotor.." ucap Haiden.
"Kapan saya berpikir yang kotor - kotor tuan..?"
"Sudah ayo kita masuk ke kamar lagi.. udara disini kurang cocok untukmu.. pikiranmu jadi jorok.."
"Tidak tuan.. saya tidak berpikiran kotor apalagi jorok.." sangkal Aira.
Haiden diam saja ia kemudian membuka kunci roda dan mulai mendorong kursi roda. Dengan sedikit membungkuk mendekat ke telinga ia kemudian memanggil Aira. "Aira.."
"Ya tuan.." jawab Aira sambil menoleh ke belakang dan sebuah bibir lembut milik tuannya mendarat dengan sempurna di bibir mungil miliknya.
"Terima kasih stempelnya.. ayo kita masuk.." ucap Haiden tersenyum. Ia geli melihat wajah Aira yang merah, bengong seperti orang bodoh.
Sepertinya benar kata tuan pikiranku menjadi kotor. Kenapa ciumannya cuma sebentar tuan aku ingin lebih lama. Karena dengan ciuman itu lukaku tidak terasa sakit batin Aira.
☘☘☘☘☘
"Saya mau melaporkan sesuatu tuan.."
"Katakan Roberto.."
"Tuan Haiden terlibat konflik dengan tuan Leo.."
"Leo..? Leo rekan bisnisku di Jepang.."
"Betul tuan.."
"Apa yang terjadi..?"
"Nyonya Nungki menjual keponakannya pada tuan Leo.."
"Tunggu keponakan Nungki di sini hanya Abi pelayan pribadinya nya Haiden.. dan itu seorang pria.. aku tahu Leo tidak menyukai hal seperti itu yang dia sukai adalah gadis belia yang masih perawan.."
"Abi itu ternyata seorang wanita tuan.."
"Apa seorang wanita..?! oh god aku tidak percaya ini.." ucap Kemal. "Hahahahhh.. pantas saja aku merasa berbeda bila di dekatnya.. naluri binatangku tidak pernah salah.." ucapnya. "Bagaimana nasib Leo sekarang..?"
"Di penjara dan usaha minuman kerasnya di Jepang sudah terbakar habis.."
"Gila.. Haiden memang gila.. tapi ada yang aneh disini.. kenapa orang seperti Haiden rela berkorban untuk seorang pelayan.. kamu selidiki itu Roberto.." perintah Kemal.
"Baik tuan.."
"Sekarang kau telepon Nungki aku ingin mendengar penjelasannya.."
"Apa..!!! kau menelepon Nungki..? ternyata kau masih berhubungan dengannya..!" teriak Olif yang tiba - tiba tanpa sengaja mendengar pembicaraan Kemal dengan Roberto.
"Diam kau.. ini hanya batu loncatan untuk merebut perusahaan Haiden.."
"Halah.. itu hanya alasanmu saja..! aku tahu kamu masih mencintainya kan..?!" teriak Olif
"Ngomong apa kamu..? tutup mulutmu..!!!" teriak Kemal tak kalah kerasnya.
"Aku akan laporkan perbuatanmu ini pada kak Harika..!" ancam Olif. Ia membalikkan badan ingin meninggalkan Kemal. Tiba - tiba dengan gerakan cepat Kemal menarik rambut Olif. Hingga tubuhnya hampir jatuh ke belakang.
"Berani kau menentangku..!!!"
"Aauuww.. sakit Kemal.. kau menyakitiku..!"
"Jika kau membangkang dan tidak patuh padaku.. maka aku tidak segan - segan lagi.." ancam Kemal. "Roberto kurang dia di ruang bawah dan jangan beri makan..!" perintah Kemal.
"Baik tuan.." jawab Roberto sambil memegang kedua tangan Olif.
"Apa yang kamu lakukan..?! Kemal, aku ini Istrimu..!!" teriak Olif sambil meronta - ronta. Roberto dengan cengkeraman yang kuat tetap menyeret tubuh Olif dan membawanya ke ruang bawah tanah.
Kemal hanya diam tidak menggubris teriakan istrinya "Siapa yang tidak patuh pada perintahku.. tidak akan aku ampuni walau dia istriku sekali pun.." ucapnya lirih dengan gigi gemeretak.
Drrrttt.. ddrrttt... handphone nya berdering.
"Halo kak.."
"Kemal apa Olif ada.. beberapa kali aku telepon tidak diangkat.." ucap Harika
"Ah.. dia sedang berlibur di Bali beberapa hari bersama temannya.."
"Oh ya sudah kalau begitu.."
"Mungkin kakak ada pesan untuknya.."
"Aku ingin mengajaknya makan malam bersama keluarga.. tapi kalau dia tidak bisa, aku batalkan saja.. nanti lain waktu aku rencanakan lagi.."
"Ada acara apa kak..? setahuku ulang tahunmu masih lama.."
"Tidak ada acara apa - apa Kemal.. hanya makan malam biasanya.." ucap Harika. "Kalau begitu aku tutup teleponnya.. sampaikan salamku untuk Olif.."
"Baik kak.." jawab Kemal sambil menutup panggilan. Ia memegang erat handphone di tangannya dan kemudian melemparnya ke sembarang arah.
☘☘☘☘☘
Tiba waktunya Aira di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Lukanya sudah mulai mengering, tapi masih belum boleh terkena air. Setiap pagi perban harus di ganti.
"Eda kau ganti perban Aira setiap pagi.."
"Baik tuan.."
"Untuk sementara bebas tugaskan ia dari pekerjaan.. tunggu sampai lukanya betul - betul mengering.."
"Baik tuan.."
"Hmm.. apalagi yang kurang..?"
"Saya rasa tidak ada yang kurang.. apa yang tuan perintahkan sudah sesuai dengan saran dari dokter.."
"Ada yang kurang bu Eda.." sela Azkara
"Apa itu nona Azkara..?"
"Pindahkan tempat tidur kakakku di dekat kamar Aira.."
"Maksud nona..?"
"Jangan dengarkan ucapannya Eda.. kau hanya mendengarkan ucapanku saja.." ucap Haiden.
"Baik tuan.."
"Tunggu saja tanggal mainnya Eda.." goda Azkara.
"Diam kau..!"
"Sudah.. sudah.. kenapa kau goda terus kakakmu..?" ucap Harika ikut bergabung di ruang kerja Haiden.
"Karena dia bodoh ibu.." ucap Azkara sambil menjulurkan lidahnya.
"Ibu dari mana..?" tanya Haiden
"Dari kamar, aku tadi telepon bibimu Olif.. tapi ada yang aneh.."
"Aneh kenapa bu..?"
"Tidak biasanya Olif tidak mengangkat teleponku walaupun ia sedang sibuk sekalipun.."
"Sudah telepon Kemal..?"
"Paman El.. paman Kemal oke.."
"Baiklah bu.. paman Kemal.." ucap Haiden tanpa banyak membantah.
"Sudah.. katanya sedang berlibur ke Bali dengan teman - temannya.." jawab Harika. "Tapi dulu pernah waktu ia liburan bersama teman - temannya ia selalu mengangkat panggilan dariku dimana pun berada.
"Ibu mau aku menyelidikinya.."
"Tidak perlu El.. aku cuma heran saja.."
"Baiklah kalau itu mau ibu.." jawab Haiden sambil memainkan handphonenya. Tampak ia sedang sibuk mengetik di handphone.
'Selidiki keberadaan bibi Olif' ketiknya dan kemudian mengirimnya ke Noah.
'Baik tuan' jawab Noah
☘☘☘☘☘