My Desire

My Desire
Menikah



Haiden berjalan mondar - mandir tidak tenang.


"Awas kalau sampai gagal.. aku pecat kau.." gumam Haiden.


Aira tersenyum melihat tingkah laku Haiden.


"Ada beberapa hal yang membuatku penasaran.."


"Apa..?"


"Kenapa kau membohongi kami semua dengan kebutaanmu itu..?"


"Setelah aku mengalami kecelakaan dan buta.. musuhku semakin meraja lela.. dan aku mengkhawatirkan mu dan Rafael.. jadi aku membuat seakan - akan diriku lemah untuk menjebak mereka.."


Aira diam mendengarkan penjelasan dari Haiden "Tuan.." panggilnya.


"Kenapa kau panggil aku tuan.. beberapa jam lagi kita menikah.."


"Baiklah.. kau mau aku panggil apa..? sayang..? El..? atau El sayang..?"


"Yang terakhir lebih bagus.."


"Baiklah.. El sayang kemarilah.. aku peluk sebentar biar kau lebih tenang.. aku pusing melihatmu mondar - mandir.."


"Jangan main - main denganku Aira.."


"Aku tidak main - main.. mana berani.." balas Aira. "Kemarilah.." Aira membuka kedua tangannya bersiap memeluk Haiden.


"Jangan menyentuhku.." Haiden membalikkan badannya.


"Kenapa..?" Aira terus menggodanya ia tahu kalau Haiden saat ini sedang menahan hasrat. Sebenarnya ia pun sama. Tapi melihat tingkah Haiden seperti itu ia tergerak buat menggodanya.


Aira mendekat dan memeluknya dari belakang "Hey my man.. i love you.." bisiknya lirih


"Aira please.."


"Apa sayang.. kau tidak mau aku peluk.."


Haiden diam sejenak. Ia menarik napas panjang "Kau yang memaksa Aira.. jangan salahkan aku.." Haiden membalikkan tubuhnya. Dengan lengan kekarnya ia mengangkat tubuh Aira dan menaruhnya di atas meja. Bibir Haiden dengan cepat meraup bibir Aira. Bibir yang selalu manis itu menjadi candu untuknya. Bibir dan lidah Haiden mendominasi, masuk bermain - main dengan lidah Aira. Drrrtt.. ddrrrt..ddrrtt..


"Sial.." umpatnya sambil melepas ciumannya. "Apa..!" teriaknya kesal saat menerima telepon.


"Semuanya sudah siap tuan.. silahkan anda menikah.."


"Kerja yang bagus Noah.." Haiden langsung menutup teleponnya dan menarik tangan Aira.


"Ayo.."


"Kemana..?"


"Kita menikah.."


Tapi El....."


Belum sempat Aira meneruskan kalimatnya Haiden sudah menariknya keluar ruangan.


Harika dan Azkara terkejut melihat pemandangan itu.. Haiden berjalan tanpa bantuan tongkat dan kacamatanya.


"Hei mau kemana kalian..?" teriak Azkara


"Menikah.." balas Haiden tanpa mempedulikan mereka.. Ia terus menarik tangan Aira dan segera masuk ke dalam mobil.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai di kantor KUA. Setelah mengucapkan akad dan menandatangani beberapa berkas mereka akhirnya sah menjadi suami istri.


"Permisi.."


Haiden kembali menarik tangan Aira. Belum sempat ia bersalaman dengan orang - orang di sana sebagai tanda terima kasih Haiden sudah menarik nya menuju ke dalam mobil.


"Keluar.."


"Saya tuan..?" tanya Tama.


"Yah.. aku mau pergi dengan istriku.. pulanglah dengan naik taxi.."


"Oh baik tttuan.."


"Maaf ya Tama.. suamiku ini tidak sabaran.."


"Tidak apa - apa Aira.." balas Tama sambil tersenyum.


"Ehem..!!!" Haiden berdehem memperingatkan.


"Eh maksud saya nyonya Aira.." ucap Tama meralatnya.


"Masuk.." perintahnya


"Iya sayang.."


Haiden segera melajukan mobilnya.


"Kita kemana..?"


"Hotel.."


"Buat apa..? aku kira kita akan pulang ke rumah.."


"Terlalu berisik.. ibu dan Azkara pasti akan meminta penjelasan kita.. aku ingin berdua denganmu.."


Aira tersenyum, ia menggenggam tangan kiri Haiden "Terima kasih El sudah mencintaiku.." Ia mencium pipi Haiden dengan lembut.


"Sama - sama sayang.. bisakah kau jangan menggodaku.. aku baru konsentrasi menyetir.. kita hampir sampai di hotel.." peluh Haiden mulai menetes di dahinya. Dari tadi mereka berlari - lari terus demi status menikah.


Setelah sampai hotel Haiden masuk dengan menggunakan masker. Jika ada yang tahu bahwa ia tidak buta lagi tentu saja akan menggagalkan rencananya. Di dalam lift ia sudah sibuk berciuman dengan Aira. Hingga pintu lift terbuka mereka masih melakukan itu.


Gila.. ini gila.. sebesar itukah hasrat suamiku kepadaku batin Aira.


"Dengan senang hati sayang.." balas Aira. Ia melingkarkan tangannya di leher Haiden dan kembali melakukan ciuman panas mereka.


Aira merasakan usapan tangan Haiden mulai menelanjanginya. Ia tidak ingin menghentikannya karena itu yang ia mau. Mimpi basah yang setiap saat hadir dalam tidurnya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Tangan Haiden menepikan bra yang mengekspos bukit kembar, memperlihatkan kedua pucuknya yang runcing mengeras.


"Jangan pandang aku seperti itu.. aku malu.." wajah Aira bersemu merah ketika Haiden menatapnya tanpa berkedip sekalipun.


"Kau tambah seksi dan berisi sayang.."


"Memangnya kau tahu tubuhku yang dulu..?"


"Tahu.. karena aku memasang kamera dikamarmu.." balas Haiden tersenyum nakal.


"Kau...." belum sempat Aira menjawab, mulutnya sudah ditutup oleh bibir Haiden.


Aira memejamkan mata dan hanya ingin merasakan mulut Haiden yang sudah ada di atas dadanya. Lidahnya memainkan perannya dengan indah, meliuk - liuk, menjilat, menghisap dan bahkan menggigitnya pelan.


"Aahh.." Aira tersentak mengerang namun mendekap kepala Haiden lebih erat ke dadanya "Oohh.."


Haiden mengganti ke bukit Aira yang satunya lagi sepertinya itu tempat bermainnya sekarang. Ia meninggalkan pucuknya yang basah, tangan yang satu lagi masih setia memijat - mijatnya hingga menimbulkan kenikmatan tersendiri pada Aira.


Jari Haiden mulai meraba inti kewanitaan Aira "Aahh...El.." erangnya penuh kenikmatan. "Kau basah sayang.." ucap Haiden dengan suara parau.


Haiden menghentikan aksinya. Tangannya menjauh, bibirnya menjauh. Aira ingin protes kenapa dihentikan saat ia mulai menikmatinya. Haiden tersenyum melihatnya. Aira yang sudah tidak tertutup satu helai benang pun berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Dengan perlahan Haiden melepaskan kancing baju dan bahkan celananya. Tampaklah tubuhnya yang kokoh, pahanya yang kuat dan liat serta kejantanannya yang menjulang tinggi. Haiden beberapa kali mengelusnya, sebelum bergabung lagi bersama Aira.


Haiden kembali menciumnya lagi. Aira merasakan Haiden mulai bergerak turun dan mulai membuka kedua pahanya. Mendekatkan wajahnya di sana. Lidahnya membelah bibir - bibirnya dan terus menjilat sepanjang belahan, membuat tubuh Aira bergetar. Selama ini ia hanya merasakannya di dalam mimpi. Dan sekarang mimpinya menjadi kenyataan dan itu memberi kenikmatan beribu - ribu kali rasanya.


Ia terus mengerang "Aaahhh.. Oohhh.. yes.. yes.. El.." jemarinya memegang erat kepala dan rambut Haiden, menekannya agar lebih mendalam. Ia merintih hebat dan tubuhnya bergetar, wajahnya memerah dan keringatnya memenuhi wajahnya di saat lidah Haiden berputar dan menghisap tonjolan kenikmatan. Tak berapa lama Aira mengeluarkan puncak kenikmatan yang pertama dan itu membuat Haiden tersenyum bahagia.


"Kamu suka sayang..?"


Nafas Aira yang masih terengah - engah dan matanya yang setengah terpejam hanya menjawab dengan anggukan. Telapak tangannya menelangkup pada kedua pipi Haiden dan menariknya untuk mendekat padanya "I love you El suamiku.." ucap Aira lirih sambil mengecup bibir Haiden.


Haiden berlutut di antara kedua kaki Aira. Tangannya dengan lembut membelai pergelangan kaki hingga ke pahanya. "Aku ingin memasukimu.. bolehkah sayang..?"


Aira mengangguk - angguk dan tersenyum melihat Haiden. Ia mirip anak kecil yang sedang merajuk meminta mainan. Sangat menggemaskan.


Haiden kembali mengusap inti kewanitaan milik istrinya itu membuat Aira memejamkan matanya. Aira kembali mengerang untuk menunjukkan bahwa ia begitu mendambakan Haiden. Dengan perlahan Haiden memasukkan kepala kejantanan di antara bibir - bibir milik Aira. Aira menahan napas dan merasakan betapa penuh inti kewanitaannya. Lalu Haiden mendesakkan diri. Aira melenguh melepaskan napas yang sudah ia tahan tadi ketika Haiden memenuhinya.


Kemudian Haiden mulai bergerak menghujam keluat masuk. Pelan pada awalnya dan dia terus menambah intensitasnya sehingga gerakannya semakin cepat. Aira terus mengerang hebat, tubuhnya bergerak mengikuti irama Haiden.


Tangan Haiden memegang panggul Aira, ia mempercepat gerakannya. Terus memompa dengan kuat. Menghujam terus menerus hingga ledakan kenikmatan menyembur keluar, memenuhi inti Aira. Tubuhnya berada diatas Aira untuk sementara waktu, merasakan denyutan dan kehangatan "Aku sangat memcintaimu Denaira Kamania Abimana istriku.." ucapnya berulang - ulang. Kemudian ia berbaring di samping dan memeluk erat tubuh Aira.


"Kamu capek..?" tanya Haiden.


Aira menggeleng pelan.


"Kita istirahat sebentar.. nanti kita lanjutkan.. aku masih belum puas.."


Aira memukul pelan dada Haiden. Ia sebenarnya sangat malu. Ia membalikkan tubuhnya dan menutup mukanya dengan selimut.


"Kau malu.." Haiden terkekeh geli melihat reaksi istrinya itu. Sambil memeluknya dari belakang Haiden terus menciumi punggung dan leher belakang Aira. "Maaf.."


"Untuk apa..? kau menyesal menikah denganku..?"


"Tidak sayang.. aku merasa bersalah waktu dulu pertama kali aku memasukimu dengan kasar.."


"Sudahlah itu sudah berlalu.. bahkan sekarang Rafael sudah ada.."


"Yah.. kau benar.. anak itu sangat mirip denganku waktu kecil.."


"Tentu saja mirip.. waktu hamil aku selalu melihat videomu.."


"Hmmm.. puas ya kalian mengerjai aku.." ucap Haiden sambil menggelitik pinggang Aira.


"Aauuww.. geli.." Aira tertawa terpingkal - pingkal. Hingga tangan Haiden mulai memijat lembut bukit kembarnya.


"Aauuww.." teriak Aira.


"Kenapa..? enak..?"


"Iya.. eh maksudku bukan itu.. ini sudah saatnya Rafael minum susu.."


"Hmm.. benar juga.. ini sudah sangat padat dan berisi.." Haiden menatap kedua bukit kembar itu dengan lapar.


"Kita harus pulang.."


"Satu lagi.. please.. setelah itu pulang.." pinta Haiden, tanpa menunggu persetujuan dari Aira ia dengan cepat menyambar bibir mungil milik istrinya.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Haiden menghentikan kegiatannya sebentar.. setelah itu ia kembali menciumi leher istrinya..


Tok..tok..tok..tok..


"Kurang ajar..!!!" umpatnya kesal.


"Buka dulu.. siapa tahu penting.."


"Awas saja kalau tidak penting.. aku porak porandakan hotel ini..!"


Haiden mengambil celana boxer dan memakainya. Ia segera membuka pintu.


"Noah..!!!" teriaknya terkejut. Apalagi ada Rafael dalam gendongannya


"Maaf tuan.. pertama saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian.." ucap Noah dengan nada bergetar karena takut. "Tapi saya minta jangan lupakan anak anda.. dia menangis terus.." Noah menyerahkan Rafael dengan senyum simpul. " Yang kedua ini tas berisi pakaian dan peralatan Rafael.. begitu pesan dari nyonya Harika.. dan saya permisi tuan.."


Haiden menatap Rafael dalam gendongannya. Bayi itu tampak tersenyum memandang Haiden dengan tatapan tanpa dosa.


"Hey boy.. kau ingin bersaing denganku rupanya.."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Hai pembaca setia My Desire semua.. maaf belum bisa Up secara maksimal.. karena tanganku masih sakit sehabis vaksin ketiga.. akan aku usahakan besok untuk Up lagi.. jangan pernah bosan menunggu kelanjutan cerita Aira dan Haiden ya.. salam sehat selalu..🥰