
Kenapa pria itu ada di sini.. jangan - jangan Azkara yang mengundangnya batin Haiden geram.
"Loh.. kak Gilang kok ada disini..?" tanya Azkara
"Aku ada bisnis di sini sekalian liburan.."
"O..o.. baguslah kalau begitu.. kita bisa liburan bareng.. Aira juga tidak akan bosen menghadapi orang yang dinginnya minta ampun.." ucap Azkara sambil melirik Haiden.
"Wah.. ide bagus itu.." ucap Gilang. "Kalian menginap dimana..?"
"Kita menginap dimana bukan urusanmu.." sela Haiden. "Azka.. kau tahu aku tidak suka ada orang asing di sini.."
"Gilang bukan orang asing El.. dia temanku dan dulu pernah jadi atasannya Aira.."
"Tapi buatku asing.. mengerti..!" ucap Haiden dengan nada penuh penekanan.
"Azka.. turuti kata kakakmu.. ibu tidak mau terjadi keributan.." bisik Harika
"Aku memang sengaja bu.." jawab Azkara lirih.
"El itu memang kurang peka.. kau tahu sebabnya..?"
"Apa coba..?"
"Karena saat umurnya masih muda dia sudah memegang tanggung jawab yang besar yaitu menjaga kita dan perusahaan.."
"Iya.. iya.. tujuanku juga baik bu.."
"Ibu mengerti.. tapi kamu harus sabar.."
Haiden tidak suka melihat kedekatan antara Aira dan Gilang. Hatinya tidak tenang.
"Aira masuk mobil.." perintahnya
"Eh.. ya tuan.." jawab Aira. "Pak Gilang saya tinggal dulu.."
"Iya.. hati - hati di jalan.. sampai ketemu nanti.."
"Azka.. kamu juga masuk.." perintah Haiden.
"Iya.. iya.. sewot amat.."
Mereka semua masuk ke dalam mobil menuju hotel. Rencananya keesokan harinya baru mereka melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Seperti Phuket, The Grand Palace, Wat Arun, Sung Nong Nooch.
"Aira kau tidur denganku ya..?" pinta Azkara.
"Tidak bisa..!"
"Kenapa tidak..? kau kan bukan Aira.. biar Aira yang memutuskan.."
"Dia pelayan pribadiku bukan pelayan pribadimu.."
"Iya memang dia pelayan pribadimu tapi juga bukan kekasihmu.. kau tidak berhak seratus persen atas dirinya.." jawab Azkara sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah.. ini dari tadi ribut terus.. kalian berdua itu sudah tua.. ibu jadi pusing..!"
Haiden dan Azkara diam dan saling memalingkan muka. Haiden tampak menyenderkan kepala dan melihat keluar. Pemandangan di Thailand ini sebenarnya hampir sama dengan Indonesia.
"Tuan.. bantalnya.."
"Terima kasih.." ucap Haiden. "Bisa pijat leherku sebentar..?"
"Tidak usah Aira..!" sela Azkara. "Nih koyo.. tempel saja di leher..! ini liburan bukan kerja.."
"Kamu anak kecil berani ya dengan orang tua..!" teriak Haiden.
"Azka pindah ke belakang.." perintah Harika. "Dan kau Aira pindah sebelah Haiden.."
"Baik nyonya.." jawab Aira.
"Huh.. kepalaku tambah pusing.." keluh Harika. "Sumi tolong pijat sebentar.."
"Baik nyonya.." jawab Sumi.
Aira segera pindah ke sebelah Haiden. Dan Azkara pindah ke belakang satu kursi. Haiden tersenyum penuh kemenangan. Karena ini yang dia harapkan. Tak berapa lama mereka sampai ke hotel. Setelah melakukan cek in, mereka menuju ke kamar masing - masing.
Kali ini Haiden harus mengalah, Aira satu kamar dengan Azkara. Ia tidak bisa leluasa jika bertemu dengan Aira.
☘☘☘☘☘
Hari kedua liburan mereka semua berangkat ke Phuket. Beberapa kapal untuk membawa mereka ke sana sudah siap..
Phuket merupakan pulau indah dengan pasir putih dan bersih. Lautnya sangat tenang. Mutiara laut Andaman merupakan julukan yang diberikan untuk Phuket.
"Nih pakai.."
Aira mengambil pakaian yang diberikan oleh Azkara.
"Ini..?"
"Iya pakai saja.."
"Tidak.. ini terlalu terbuka dan seksi...pasti tuan El marah.."
"Sudah kamu tenang saja.. kalau marah ya tinggal ganti saja.."
"Baiklah.." Aira memakai baju pemberian Azkara. Baju yang lebih mirip gaun itu berwarna kuning floral dengan tali spageti. Memang cocok untuk acara ke pantai.
"Aira kamu pernah dengar kalau di Thailand banyak hantunya..?"
"Yang aku tahu sih Mae Nak karena ada di film.."
"Sssttt.. jangan di sebut.. biasanya mereka akan datang.."
"Hahahah.. ini kan pagi Azka.."
"Tapi setelah pagi kan siang terus malam.." wajah Azka berubah tegang. "Kemarin waktu aku bilang ke teman - teman mau ke Thailand mereka berpesan untuk jangan jalan sendirian.."
"Hahahahh.. ya iyalah.. takutnya kalau kita di rampok.."
"Bukan.. bukan masalah itu.. ini lebih menakutkan lagi.."
"Ketemu banci..?"
"Aira jangan bercanda.." Azkara cemberut. "Dengar.. disini itu ada urban legend namanya Krahang jadi dia semacam hantu. Kalau siang dia jadi manusia kayak kita tapi kalau malam dia akan memangsa wanita - wanita yang sendirian.." cerita Azka. Ia berhenti sebentar untuk mengatur napasnya. "Jadi jika malam hari ketemu orang yang telanjang dada harus hati - hati.."
"Kalau yang telanjang dada itu tuan El bagaimana..? apa bisa ia di sebut Krahang.. jangan aneh - aneh deh.."
"Aku nggak aneh - aneh.. telanjang dada dan menggunakan celana cawat tradisional orang Thailand.. itu ciri - cirinya.."
"Beneran yang kamu katakan ini..?"
"Iya.. bener.." Azkara melotot meyakinkan Aira.
Aira diam dan membayangkan apa yang di ceritakan oleh Azkara. Waktu di rumah keluarga Lukashenko ia juga dikerjai hantu jadi - jadian. Tapi cukup ngeri juga lihat wajahnya yang penuh darah, Aira jadi tergidik bila mengingatnya
Tiba - tiba.. ting.. tong..
"Aaaacchhhh...!!!" mereka berdua berteriak bersamaan karena kaget.
"Aduh bikin kaget.." ucap Azkara menepuk - nepuk dadanya.
"Sebentar biar aku buka.."
Aira setengah berlari menuju pintu.
"Tuan..?"
"Ke kamarku.." perintahnya. Sial kenapa pagi ini ia cantik sekali batin Haiden begitu melihat Aira.
"Ke..ke..kamar.."
"Iya.. siapkan pakaian yang akan aku bawa.."
"Baik tuan.."
"Hei tunggu..!" teriak Azkara dari dalam. "Kau kan sudah besar.. urus dirimu sendiri.."
"Aku Kafael Haiden Lukashenko raja dunia bisnis.. ingat itu anak kecil.." ucapnya sambil menarik Aira keluar untuk pergi ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar Haiden dengan tipe Presidential Suite Room, Aira justru malah terbengong melihat kamar yang mewah dan luas. "Tuan tinggal disini sendiri..?"
"Iya.. atau mau kamu temani.." goda Haiden.
"Ti..ti..tidak tuan.. saya dengan nona Azka saja.."
"Waktu jadi Abi kau sering melakukannya bukan..?"
"Waktu itu jadi laki - laki tuan.."
"Menurutku tidak ada bedanya.. saat itu kamu juga wanita kan.." Haiden tersenyum.
"Eh.. dimana baju tuan..? akan saya siapkan.." Aira berusaha mengalihkan perhatian.
Aira melangkah cepat menuju almari pakaian, begitu di buka tercium aroma khas Haiden. Aroma iris, musk mallow dan pear ini begitu menenangkan. Cukup lama Aira berdiri dan menghirup dalam - dalam aroma itu.
"Hmm.. wangi.." gumamnya sambil memejamkan mata.
"Lebih wangi kalau mencium aroma orangnya langsung.." Haiden tiba - tiba memeluknya dari belakang. "Ini cium.. sama kan wangi nya..?" tanya Haiden sambil menaruh lengan ke hidung Aira.
"Tu..tu..tuan.." ucap Aira kaget sekaligus malu karena ketahuan oleh Haiden. Aira melepaskan tangan Haiden. "Maafkan kelancangan saya.." ucap Aira sambil menunduk. Ia tahu kalau kebiasaan Haiden setelah mandi hanya menggunakan handuk saja.
"Aku maafkan.. atau kalau masih kurang kau bisa mencium aroma tubuhku.."
"Ti..tidak tuan.. sudah cukup.." jawab Aira. "Baju dan perlengkapan yang lainnya sudah saya siapkan.. kalau begitu saya permisi.."
Haiden tersenyum puas melihat kepergian Aira. Sepertinya kau mulai menyukaiku Aira batin Haiden. Sebenarnya tanpa Haiden sadari ia yang jatuh hati dulu terhadap Aira.
☘☘☘☘☘
"Ayo.. bu cepat keburu panas.."
"Sabar Azka.. jaga sikapmu ke ibu.."
"Iya.. iya kakakku sayang.."
Mereka naik kapal bersama untuk menjelajahi pantai - pantai di phuket seperti pantai Patong dan Surin.
Mereka bermain pasir putih yang benar - benar bersih. Mengambil beberapa foto dan berenang.
"Kau tidak snorkling seperti El dan Azka..?" tanya Harika yang duduk bersantai di bawah payung tenda sambil memandangi keindahan pantai Patong
"Tidak nyonya.. saya tidak bisa berenang.."
"Eda...tanyakan ke Noah.. apa mereka masih lama.. aku capek.."
"Baik nyonya.." jawab Eda dan pergi menemui Noah.
"Mau saya pijat nyonya..?" Sumi menawarkan.
"Ya boleh.." jawab Harika. "Aku ini sudah tua Aira, kau tahu aku ingin melihat Haiden bahagia dengan keluarga kecilnya nanti.." cerita Harika. "Tapi kau tahu kan di dunianya hanya kerja dan wanita yang hanya sekilas melintas.. apa dia tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya denganmu..?"
"Tidak nyonya.. tuan hanya bercerita tentang Ivanka saja.."
"Hah.. aku tidak menyukai wanita itu.." keluh Harika
"Jangan dengan non Ivanka nyonya.. jahatnya minta ampun.." Sumi menyela.
Tiba - tiba dari belakang..
"Hai Aira.."
Aira menoleh "Pak Gilang.. kok bisa ada disini..?"
"Ah kebetulan jadwalku hari ini mengunjungi Phuket.." jawab Gilang. "Selamat sore nyonya Harika.." sapa Gilang
"Sore Gilang.."
"Dimana Azkara dan tuanmu..?"
"Oh.. mereka sedang snorkling.."
"Kau tidak ikut..?"
"Aku tidak bisa berenang.."
"Hmm.. apa kau keberatan jika ku ajak jalan menyisiri pantai..?"
"Aku ijin nyonya Harika dulu.." jawab Aira. "Nyonya, pak Gilang ingin mengajak saya jalan.. bolehkah..?"
"Ya tapi jangan lama - lama.. kau tahu bagaimana sifat Haiden.."
"Iya nyonya.. terima kasih.." ucap Aira. Ia berdiri kemudian berjalan di pesisir pantai dengan Gilang.
Sementara itu Harika mengambil handphone nya dan menelepon seseorang "Noah.. katakan ke tuanmu itu Aira jalan bersama Gilang.."
Harika mengakhiri panggilannya. Ia yakin putra kesayangannya itu akan memghentikan kegiatannya. "Sebelah sini Sumi.. masih terasa pegal.."
"Baik nyonya.." jawab Sumi.
☘☘☘☘☘
"Aku tidak menyangka.. kita akan bertemu disini.." kata Gilang membuka pembicaraan. "Apa mungkin ini jodoh..?"
Aira hanya diam. Dia memainkan kakinya di air.
"Sepertinya akan sunset.. ayo kita berfoto.." ajak Gilang
"Aku tidak biasa berfoto.. kita nikmati saja pemandangan senja ini.." tolak Aira halus.
Aira memandang keindahan sunset di pantai Patong. Ia hampir tidak percaya bisa diberikan kesempatan untuk menikmati keindahan alam ini. Semuanya berkat keluarga Lukashenko. Seumur hidup ia tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga Lukashenko terutama Haiden. Nama itu tidak hanya akrab di telinganya tapi juga di hatinya. Tapi sangat sulit meraih hati dan cintamu tuan batin Aira.
"Aira.." panggil Gilang lirih
"Ya pak.." Aira menoleh dan mata mereka berpandangan.
"Apa kau percaya dengan jodoh..?"
"Percaya.."
"Menurutmu apa kita berjodoh..?"
"Entahlah..aku tidak tahu.. tapi menurutku jodoh itu perjuangan.."
"Aira kau tahu waktu kau bekerja di cafe.. kita jarang sekali berbicara.. dan sekarang setelah kau keluar dari cafe kita sepertinya selalu dipertemukan dengan ketidak sengajaan.."
"Pak Gilang.. aku tahu ini semua bukan ketidak sengajaan.. bapak mengikuti ku.. iya kan..?"
"Da..da..dari mana kamu tahu..?" tanya Gilang gugup.
"Waktu di kantor tuan.. bapak sengaja ingin bertemu denganku bukan.. karena setelah aku pergi bapak juga pergi dan tidak bertemu dengan teman bapak. Dan juga nona Azkara bercerita ketika memesan travel tour ke Thailand itu juga berkat bantuan bapak.. jadi bapak tahu kalau kami akan ke Thailand dan menyusulnya.."
"Hehehehehh.. pintar kamu.. kamu bisa membaca langkahku.."
"Itu karena aku bekerja dengan tuan Haiden.."
"Oke.. itu semua benar.. aku mengikutimu.." Gilang berterus terang. "Aku menyukaimu Aira.. aku mencintaimu.." ucap Gilang sambil menggenggam tangan Aira.
Dengan halus Aira melepas genggaman itu "Maaf pak Gilang.. aku bukan wanita yang baik dan berkelas.."
"Aku tidak butuh itu Aira.. tolong terima rasa cintaku ini.."
"Aku tidak bisa pak Gilang.. terus terang aku sudah menyukai orang lain.."
"Apa orang itu juga menyukaimu..?"
"Entahlah.."
"Aku akan menunggumu Aira.. dan aku yakin kau akan jatuh ke pelukanku.."
Tiba - tiba..
"Jangan terlalu percaya diri kamu..!!!"
"Tuan El..". "Haiden.." ucap Aira dan Gilang bersamaan.
Haiden menghampiri mereka berdua dan menarik tangan Aira. Gilang tak mau kalah, terjadi tarik menarik antara Haiden dan Gilang.
"Kau ikut aku atau dia..?!" tanya Haiden tegas.
"Ikut tuan.." jawab Aira.
"Kau dengar sendiri kan.. sekarang lepas..!" perintah Haiden pada Gilang.
"Aira.." panggil Gilang
"Maaf pak Gilang.."
Haiden menarik tangan Aira dan mengajaknya pergi. Amarah telah menguasai hati Haiden. Ia menarik tangan Aira dan berjalan sangat cepat.
"Tuan mau kemana..?"
"Diam..!" bentaknya.
"Tuan.. lepas..! tangan saya sakit.." Aira memohon.
Haiden menghentikan langkahnya. Dengan mata menyala di tatapnya Aira. "Jadi kau berpakaian seksi untuk dia..!!! tampil cantik juga untuk dia..!!!" teriak Haiden.
Aira menatap dengan nanar ia tidak percaya dengan apa yang di katakan tuannya itu.
"Kau terlihat murahan Aira..!!!" teriak Haiden lagi.
"Cukup..! cukup sudah kau menghinaku tuan..!" teriak Aira tidak mau kalah. Kau menghina harga diriku tuan batin Aira geram..
☘☘☘☘☘