
Sore itu mendung menyelimuti kota Jakarta, bahkan gerimis ikut ambil bagian dalam sore yang syahdu itu.
"Non..kerumah sakit dulu bagaimana..?"
"Tidak usah bik Sumi.. ini hanya luka kecil.."
"Tapi non.. ini lebam - lebam di pipi terus di lengan ini bagaimana..?"
"Yang penting tuan tidak bisa melihatnya.. kalau ibu dan Azka bisa aku kondisikan.." ucap Aira sambil mengusap airmata yang tanpa diminta jatuh membasahi pipi. "Sebenarnya yang paling sakit itu disini bik.." lanjut Aira sambil memegang dadanya.
"Bibi tahu bagaimana perasaan non Aira saat ini.. dan bibi mohon yang sabar ya non.. sekarang kan ada Rafael.. kasihan kalau non Aira nangis terus..."
"Iya.. benar juga yang dikatakan bik Sumi.."
Tak berapa lama mereka sampai ke kediaman Lukashenko.
"Aira apa yang terjadi denganmu..?" pekik Harika melihat kondisi Aira.
"Tidak apa - apa bu.. hanya luka kecil.."
"Luka kecil bagaimana..? ini lebam - lebam terus ini lecet - lecet.." ucap Harika panik. "Siapa yang melakukan ini padamu..?"
Aira hanya diam tidak menjawab. Airmatanya sudah berkaca - kaca.
"Sumi..? jawab pertanyaanku.."
"Eh itu.. nyonya Nungki.."
"Dasar nenek sihir berani - beraninya melukai menantuku.." Harika geram mendengar cerita Sumi.
"Bukan salah tante Nungki bu.. mungkin saat ini ia masih shock.. Ivanka adalah putri kesayangan dan kebanggaannya.."
"Tapi sikapnya padamu sangat tidak manusiawi.."
"Sudahlah bu.. aku tidak apa - apa.. tapi ada satu hal yang aku inginkan.. jangan sampai tuan El tahu akan hal ini.."
"Alasannya apa..? El sampai tidak perlu tahu.. kamu sampai babak belur seperti ini ia harus tahu Aira.." tiba - tiba Azkara muncul masuk ke ruang keluarga.
"Kalau kakakmu tahu itu artinya aku harus berterus terang dengan identitasku.."
"Why.. why Aira.. kamu terus terang saja agar semua menjadi jelas.. lepas dari ia mau menerimamu atau tidak.."
"Aku.. aku.. takut ditolak Azka.."
"Oh my god Aira.. aku yakin kakakku mencintaimu.. ia mencarimu seperti orang gila.."
"Rafael.. bagaimana dengan Rafael..? apa ia menerimanya.."
"Kau tahu sendiri kan Haiden sangat sayang dengannya walaupun kondisi buta dan tidak tahu siapa kalian.. itu artinya ia bisa menerima kalian.."
"Tapi aku teringat kata - katamu bahwa ia tidak mau bertemu denganku.."
"El itu harga dirinya terlalu tinggi.. ia gengsi.. ia tidak mau terlihat lemah di hadapan siapa pun.."
"Baiklah.. aku akan coba berterus terang dengannya.."
"Bagus.. aku sangat mendukungmu.."
"Kalau begitu aku masuk kamar dulu.."
"Istirahatlah Aira.. Sumi akan mengobati luka - lukamu.."
Aira dan Sumi masuk ke dalam kamar membawa kotak obat.
"Aku ganti baju dulu bik.."
"Ya non.. saya tunggu sini.."
Aira segera ganti baju. Sedangkan Sumi mengeluarkan obat yang dibutuhkan untuk luka Aira.
"Sudah bik.."
"Bibi mulai ya non.. kalau perih bilang.."
"Iya bik.. pelan - pelan ya.."
Dengan telaten bik Sumi mengobati luka bekas cakaran dan pukulan Nungki.
"Heh.. tidak habis pikir saya non.. kenapa nyonya Nungki tega dengan keponakannya sendiri.."
"Sudah lah bik.. aku tidak apa - apa.. toh setelah ini kemungkinan aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi.." ucap Aira.
Dari balik connecting door Haiden melihat dan mencuri dengar pembicaraan mereka. Tangannya mengepal erat menahan emosi. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wajah Aira yang lebam dan tangannya yang lecet.
"Kania.." panggilnya.
"Ya tuan.. sebentar.." jawab Aira. "Bik Sumi sudahi dulu saja.. tuan memanggilku.." perintah Aira lirih.
"Baik non.. kalau begitu saya permisi dulu.."
"Ya terima kasih bik.."
Bik Sumi segera keluar dari kamar Aira. Sedangkan Aira bergegas menuju ke kamar Haiden.
"Saya tuan.. ada perintah.."
"Kenapa suara kamu seperti itu..?"
"Seperti itu bagaimana tuan..?"
"Kamu habis menangis..?"
"Ttii.. ttii.. tidak tuan.. saya tidak menangis.."
"Jangan bohong Kania.. sejak mataku tidak bisa melihat.. indera pendengaran dan perasaku sangat kuat.." desak Haiden. "Ada apa..? kau bisa cerita semua masalahmu.."
"Hmm.. saudara saya ada yang meninggal tuan.." suara Aira berubah menjadi sedih. "Walaupun dari kecil kami kurang akrab tapi itu adalah satu - satunya keluarga setelah orang tua saya meninggal.." Aira mulai menitikkan airmata mengenang Ivanka. "Saya sangat bahagia mengetahui tidak sendiri di dunia ini karena memiliki mereka. Walaupun ternyata perasaan mereka terhadap saya tidak sama dengan apa yang saya rasakan.. mereka menganggap saya sebagai anak pembawa sial.."
Haiden dengan penuh kelembutan memeluk dan mendekapnya, Aira menangis sejadi - jadinya dan membalas pelukan Haiden.
Haiden tahu apa yang sekarang di rasakan oleh Aira. Ia membelai lembut rambut Aira "Aku tahu apa yang kamu rasakan.. kamu tidak perlu khawatir.. kita semua di dunia ini di lahirkan membawa suatu kerbekahan bukan kesialan.. setiap orang terlahir istimewa.. dan aku yakin kau istimewa.." ucap Haiden menenangkan. Kau istimewa bagiku Aira.. kau kebahagianku..
"Terima kasih tuan.. sudah membuat saya lebih baik.."
"Tentu saja.. kalau kau bersedih bagaimana dengan bayimu.."
"Ah.. tuan benar juga.." ucap Aira sambil tersenyum. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari Haiden. Semua terasa nyaman hingga ia lupa diri.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Dave.. aku ingin tahu mengenal Aira.."
"Apa yang mau kamu ketahui..?"
"Everything tanpa satu pun yang terlewatkan..."
"Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat ia berumur sepuluh tahun.. sempat koma dan di rawat di rumah sakit selama satu bulan.. banyak biaya yang dibutuhkan untuk proses penyembuhannya.."
"Bagaimana dengan perusahaan..?"
"Setahuku papa ditunjuk sebagai wali dari Aira.. jadi secara otomatis papaku juga sebagai direktur perusahaan om Abimana.."
"Kau tidak merasa curiga..? seharusnya yang menjadi ahli waris adalah Aira.."
"Tidak.. sama sekali tidak.. bukankah saat itu Aira masih kecil.. mana bisa ia mengelola sebuah perusahaan.."
David hanya diam mendengarkan penjelasannya.
"Dulu kami yang menyekolahkannya hingga tamat SMA, tapi untuk biaya kuliah ia bekerja di sebuah cafe milik Gilang.. terkadang aku merasa kasihan dengannya.."
"Masihkan ia bekerja di cafe..? cafe apa..?"
"Sudah tidak.. ia sudah keluar.. karena......" Dave tidak melanjutkan kalimatnya.
"Karena apa..?"
"Kau tahu kan ayahku terlibat judi sehingga mempertaruhkan perusahaan.. ia meminjam modal pada tuan Haiden dan sebagai jaminannya Aira harus bekerja di sana sebagai pelayan tanpa gaji sepeserpun.."
"Wow.. ini sungguh menarik.." ucap David sambil tersenyum penuh arti. "Ia gadis yang cantik.."
"Yah benar.. dulu banyak sekali temanku yang jatuh hati padanya.. tapi karena ia bekerja keras untuk hidupnya jadi tak ada satupun temanku yang berhasil menaklukkan hatinya.." Dave memandang ke arah David. "Kau jatuh cinta padanya..?"
"Aku penasaran.."
"Sepertinya di dunia ini kau tidak pernah mencintai siapapun.. termasuk kakakku.."
"Kau benar.. semua wanita sama saja.. mereka semua hanya menyukai uang.."
"Tidak dengan Aira.. ia beda.."
"Hahahhahah.. mana aku tahu kalau belum mencobanya.."
"Oya.. barang yang kita pesan besok akan datang dan siap kita edarkan.."
"Kerja yang bagus.. bagaimana dengan kualitasnya..?"
"Yang ini kualitasnya lebih bagus karena efek ngefly nya lebih kuat.. aku hanya memesan sedikit karena belum tahu peminatnya di Indonesia.."
"Lanjutkan saja pekerjaanmu.. biar Aira aku yang urus.."
"David.. aku minta tolong jangan kau permainkan dia.. selama ini dia tidak bahagia hidup bersama dengan kami.."
"Kau tenang saja Dave yang pasti ia tidak akan seperti kakakmu.."
"Oya tuan Chiko Demitrius dari Kolombia akan berkunjung kemari.."
"Buat apa..? apakah ia tidak percaya padaku.. bisnis kokain di sini dan beberapa negara asia laku sangat keras.."
"Tuan Chiko pertama ingin berlibur di Bali dan yang pasti akan mengecek proyeknya yang ada disini.."
"Persiapkan saja semuanya.. aku malas bertemu dengan orang yang sama sekali tidak percaya dengan cara kerjaku.."
"Baik.." jawab Dave. Ia mengambil serbuk putih dan mulai membakarnya dalam sebuah alat. Kenikmatan semu ia rasakan setelah menghisap barang itu..
🌸🌸🌸🌸🌸
"Bu.."
"Ada apa Aira..?"
"Aku titip Rafael sebentar.. aku akan ke kantor El.."
"Bukankah jam makan siang masih agak lama..?"
"Aku akan berterus terang ke El kalau aku adalah Aira dan Rafael adalah anak kami.."
"Benarkah..? oh.. ibu sangat senang akhirnya kau punya keberanian untuk melakukan itu Aira.."
"Iya bu.. doakan aku berhasil.."
"Apapun hasilnya aku siap menerimanya.. tapi aku harap Haiden mau menerima kami.."
"Pasti.. itu pasti sayang.. pergilah.."
Aira mencium Rafael sebelum pamit pergi. Tekadnya sudah bulat. Ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Haiden apapun hasilnya. Itu semua demi ketenangan hidupnya. Ia tidak bisa terus hidup dalam kebohongan.
Sementara itu.....
"Kali ini aku harus berhasil.." Revina bertekad menjebak Haiden yang buta. Dengan mengenakan rok dres pendek berenda dan di dominasi dengan warna hitam Revina datang ke perusahaan Haiden. Setelah turun dari mobil ia segera masuk ke dalam sebuah lift dengan bantuan temannya. Ia naik ke lantas atas dimana ruangan Haiden berada.
Hmm benar informasi yang kudapatkan jam segini ruangan Haiden bebas dari asisten Noah yang berwajah dingin itu.
Revina membuka pintu ruangan dengan sangat perlahan. "Siapa..?" tanya Haiden.
"Aku sayang.."
"Siapa..?!" tanya Haiden setengah berteriak. Padahal ia sedang memainkan perannya sebagai orang buta.
"Kau lupa padaku..?" tanya Revina dengan suara manja. " Aku Revina yang selalu rela menjadi budakmu.."
"Oh.. Revina.. ada apa..?"
"Aku rindu padamu sayang.." goda Revina. Ia melepas kancing bajunya satu persatu dan melemparkan bajunya ke lantai. Tinggal ia memakai lingerie warna merah maron yang menggoda. Memperlihatkan bukit kembar dengan pucuknya yang tidak tertutupi.
Gila.. apa yang dia lakukan.. ia berani telanjang di depanku. Haiden tetap mengikuti permainannya. Pura - pura tidak melihat apa yang dilakukannya.
"Sayang.. aku membutuhkan belaianmu.. aku rindu ciumanmu itu.." Revina mendekat dan duduk di pangkuan Haiden.
Sial.. jika aku menghindarkan pasti rahasiaku terbongkar dan rencanaku membalas musuh - musuhku akan gagal batin Haiden. Ia berusaha bertahan dengan kepura - puraan. "Revina aku mohon turun..!" perintah Haiden dengan nada tegas.
Revina tidak kehabisan akal dan pantang menyerah. Ia menempelkan bukit kembarnya ke muka Haiden dan menekan kepalanya agar lebih dalam. Kedua tangan Haiden berusaha mendorongnya. Akan tetapi.. ceklek (pintu terbuka)
"Oh.. maaf mengganggu kegiatan panas kalian.." ucap Aira yang benar - benar terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Air matanya berkaca - kaca, hatinya sakit, kepalanya mulai pusing.
"Tunggu..! tunggu..!" teriak Haiden.
"Mau kemana kamu sayang.." Revina memegang erat tubuh Haiden. "Kau mau meninggalkanku demi pelayan murahan itu.."
"Diam..! keluar kau dari sini..!" usir Haiden. "Noah..! Noah..!" panggilnya.
Dengan berlari secepat mungkin Noah mendatangi ruangan Haiden.
"Saya tuan.."
"Usir wanita ini..!"
"Haiden jangan permalukan aku..!"
"Noah.. cepat lakukan perintahku.." teriak Haiden tanpa menghiraukan Revina. Pikirannya kacau, apa yang harus dilakukannya. Aira pasti salah paham dengan ini semua.
Noah segera mengambil pakaian Revina dan mengalihkannya di tubuhnya "Maaf anda harus segera keluar dari sini nona.."
"Dasar brengsek kalian semua..!" teriak Revina. "Aku bisa jalan sendiri.. tidak usah pegang - pegang.." Revina keluar dari ruangan Haiden.
"Noah.." panghilnya lagi.
"Siapkan mobil.. aku akan pukang.."
"Tapi tuan akan ada rapat direksi sebentar lagi.."
"Aku akan pulang kau dengar..!"
"Baik tuan.."
"Kembalilah ke kantor setelah mengantarkanku pulang.. hasilnya bisa kau laporkan padaku.."
"Baik tuan.."
Dengan segera Noah menyiapkan mobil untuk Haiden dan membawanya pulang. Wajahnya tampak kalut dan cemas.
Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Lukashenko. Tanpa basa basi Haiden segera masuk ke dalam rumah. Bahkan Noah harus memperingatkannya kalau ia buta.
"Eda.. Eda.."
"Ya tuan.."
"Mana Kania..?"
"Di kamar tuan.. dari tadi menangis terus.."
"Antar aku kesana.."
"Baik tuan.."
Eda menggandeng tangannya Haiden menuju kamar Aira.
"Sudah sampai tuan.."
"Tinggalkan aku sendiri.."
"Baik tuan.."
Lama Haiden berdiri di sana. Berulang kali ia menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya pelan - pelan.
Ceklek.. Ia membuka pintu.
"Kania.."
"Untuk apa tuan kemari..?"
"Aku tuanmu.."
"Ah.. ya saya lupa saya hanya seorang pelayan.."
"Kamu marah.."
"Untuk apa saya marah..? tuan bisa melakukan sesuka hati tuan.."
"Aku bisa jelaskan.."
Airmata Aira mulai keluar, suaranya mulai bergetar. Sungguh hatinya sangat sakit melihat pria yang di cintainya berbuat seperti itu dengan wanita lain.
"Tolong tuan.. biarkan saya sendiri.."
"Kau mengusirku.. apa masalahnya.. aku tidak melakukan apa - apa.."
"Tidak melakukan apa - apa..? yang saya lihat tadi itu apa tuan..? tuan bercinta dengan wanita di depan mata saya.." suara Aira menggebu - gebu. "Tuan jahat..! tuan jahat..!" Aira menangis dan memukuli dada bidang Haiden.
"Hei.. dengarkan aku dulu.."
"Tuan jahat..! tuan berjanji tidak akan menyakiti dan akan selalu melindungi saya.. tapi apa ini.." Aira terus menangis dan memukul dada Haiden tanpa henti.
"Denaira Kamania Abimana dengarkan aku..!" teriak Haiden.
Aira terkejut namanya dipanggil. Ia menghentikan aksinya memukuli Haiden. Ia memandang wajah Haiden "Tu.. tu.. tuan tahu siapa saya..?"
"Hmm.."
"Sejak kapan..?"
"Sudah lama.." ucap Haiden lirih. "Maafkan aku Aira.. please jangan menangis.." ucapnya dengan suara serak, Haiden menghapus airmata Aira.
Aira terkejut dan memandang jauh ke dalam kedua mata Haiden.
"Tu..tu..tuan bisa melihatku..?"
"Ya.. aku bisa melihatmu.."
"Tuan membohongiku..? baiklah ternyata aku dipermainkan disini.. tuan anggap saya lelucon.. baik.. baik.. aku akan pergi.." ucap Aira membalikkan tubuhnya bergerak meninggalkan Haiden.
Dengan sigap Haiden menarik tubuhnya kembali dan memeluknya dari belakang "Jangan tinggalkan aku Aira.. aku bisa gila.. please.. please.."
"Lepaskan tuan.."
"Tidak.. tidak akan aku lepaskan.. kau harus mendengar penjelasanku.."
"Apalagi yang perlu dijelaskan.. tuan sudah membohongi ku.."
"Aira please.. jangan tinggalkan aku.." pinta Haiden dengan suara bergetar, matanya berkaca - kaca. "Aku mencintaimu.. please jangan tinggalkan aku.." bisiknya di telinga Aira dan semakin mengeratkan pelukannya.
Aira terdiam sejenak. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Itu ucapan yang ingin ia dengar dari mulut Haiden. Ia membalikkan tubuhnya, memandang ke dalam mata Haiden.
"Apa yang tuan katakan..?"
"Aku mencintaimu.. aku mencintai Rafael.. aku sangat mencintai kalian berdua.. please jangan tinggalkan aku.."
Aira tersenyum mendengar pernyataan cinta dan perasaan Haiden padanya. Entah mendapat keberanian dari mana Aira dengan cepat menyambar bibir Haiden. Bibir yang sudah mengeluarkan kata cinta padanya sangat ingin ia nikmati. "Aku mencintaimu El sayang.." ucapnya lirih sambil tersenyum.
Mendengar itu Haiden membalas ciuman Aira. Membuatnya sedikit terkejut. Haiden mulai menciumnya membuat jantung Aira berdebar liar. Ia mulai menutup mata, melingkarkan kedua lengannya di belakang leher Haiden agar lebih dekat, membenamkan bibir mereka lebih dalam.
Bibir Haiden menyapu halus, membelai dan menghisap bibir mungil Aira. Awalnya Aira kewalahan dengan ritme Haiden, tapi lama kelamaan ia bisa mengikuti.
Lidah Haiden bermain nakal, menggoda lalu menelusup menjelajah bersama. Aira mengeratkan pelukannya ia sangat menikmati berciuman dengan Haiden. Tangan Haiden yang nakal ikut mengimbangi permainan ini. Bermain - main dengan bokong sintal milik Aira.
Aira melepas ciumannya mereka terengah - engah dan saling menempelkan keningnya. Kedua tangan Haiden beralih dari belakang menuju ke depan. Mulai meraba bukit kembar miliknya..
"Aaahh.. El.." suara itu lolos dari mulutnya. "Tunggu seben..tar.."
"Aku menginginkanmu.." pinta Haiden dengan suara parau.
"A..ku ingin ki..ta menikah.." pinta Aira yang sudah tidak berkonsentrasi lagi karena tangan Haiden yang semakin aktif memanjakannya.
"Apa..?" tanyanya sambil menghentikan kegiatannya yang nanggung.
"Ayo kita nikah dulu.."
"Serius.."
"Setelah itu lakukan sesukamu.. aku siap.."
"Janji..? aku bisa melakukan apa saja..?"
"Janji.."
"Oke.. oke.." ucap Haiden. Ia mengambil handphone dari sakunya dan tampak menelepon seseorang.
"Noah.. siapkan semua berkas.. aku mau menikah.."
"Apa tuan..?"
"Aku mau menikah sore ini.. aku tidak mau tahu semuanya harus siap.."
Aira tertawa mendengarnya. Ia tahu keinginan Haiden sudah tidak terbendung lagi.. begitupun dengannya.. Kita harus sah dulu sayang batin Aira .. kebahagiaan terpancar diwajahnya..
🌸🌸🌸🌸🌸