
"Kenapa kau menyusulku kesini.."
"Kau pasti sudah tahu kan kalau rencanaku menjebak Haiden gagal.."
"Bukankah sudah aku predeksi dari awal.."
"Aku tidak suka kau pandang remeh seperti itu.." ucap Ivanka. "Tapi aku cukup senang.."
"Senang bagaimana..?"
"Obat yang kuberikan dosisnya sangat tinggi.. malam itu dia tidak ada lawan untuk pelampiasan.. berendam dengan air dingin tidak akan cukup.. aku yakin dia pasti sangat tersiksa.."
"Ah sudahlah.. saat bersamaku jangan kau bahas si Haiden sombong itu.."
"Baiklah kalau itu mau mu sayang.. kau ingin bersenang - senang tentunya.. bagaimana kalau kita coba di kolam renang..?" ucap Ivanka sambil membuka kancing bajunya satu persatu.
David tersenyum senang karena Ivanka tahu bagaimana melayaninya dengan baik. Setelah semua bajunya terlepas tanpa sehelai benang pun, Ivanka mulai duduk di pangkuan David.
Tiba - tiba..
"Maaf tuan.."
"Brengsek..!!! siapa yang mengijinkanmu masuk..!!!" teriak David sambil melempar gelas ke bodyguardnya.
"Maaf.. maafkan saya tuan.. ada tuan Kemal memaksa untuk bertemu.."
"Suruh dia menunggu..!!! mengerti..!!!"
"Bbaik tuan.."
Bodyguard itu segera pergi.
"Sepertinya kita tidak bisa melakukannya disini.."
"Kau menolakku.."
"Tidak sayang.." ucap David sambil tersenyum. "Kita pindah ke kamar.." bisiknya di telinga Ivanka. David kemudian membopong tubuh Ivanka dan melakukan sesuatu yang tertunda.
Cukup lama Kemal menunggu, hampir saja ia tak sabar. Kalau bukan karena butuh ia malas harus tunduk oleh orang lain.
"Maaf tuan Kemal.. anda harus menunggu lama.." ucap David yang muncul dari pintu samping.
"Ah...tidak apa - apa tuan David.. maaf kalau saya mengganggu waktu anda yang berharga.."
"Silahkan duduk.. ada keperluan apa tuan Kemal sampai menyusul liburan saya di Singapore..?"
"Saya ingin minta bantuan anda untuk mengembalikan pabrik minuman milik saya yang telah ditutup oleh Haiden.."
"Wow.. keponakan anda sendiri berani melakukan itu pada anda.."
"Oleh karena itu.. saya yakin hanya tuan David yang bisa menolong saya.."
"Kenapa bisa ditutup..?"
"Ini semua karena perijinan usaha dan pajak tuan.." jawab Kemal. "Haiden melaporkan saya ke pemerintah, sehingga mereka melakukan audit dan penyelidikan.. dan hasilnya seperti yang tuan tahu.. usaha saya ditutup.."
"Itu masalah gampang tuan Kemal.." ucap David sambil menghisap cerutunya dalam - dalam. "Kompensasi apa yang akan tuan berikan ke saya.."
"Hmm.. saham mungkin..?"
"Oke.." jawab David manggut - manggut. "Berapa persen..?"
"Bagaimana kalau 10 persen..?"
"Sepuluh persen..?" ucap David. "Bagaimana kalau dua puluh persen..? kita ini bisnis tuan Kemal.. tidak mungkin saya memilih bisnis yang menghasilkan keuntungan sedikit.."
Kemal tampak berfikir, sebenarnya dua puluh persen terlalu banyak. Tapi apa boleh buat, ia tidak boleh kalah dari keponakannya itu.
"Baik.. deal.."
"Oke.. deal.."
Mereka berdua saling berjabat tangan.
"Selanjutnya saya serahkan semua ke pengacara saya.." ucap David.
"Iya.. terima kasih atas bantuan tuan.."
"Bagaimana kalau kita bersenang - senang dulu..?, saya sudah mempersiapkannya.." ucap David.
Plok.. plok.. plok.. beberapa wanita cantik dan seksi datang dan siap melayani Kemal..
☘☘☘☘☘
"El.. aku bosan.." rengek Azkara. Sedangkan Haiden masih di sibukkan dengan beberapa berkas di mejanya.
"Terus..?" tanya Haiden tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop
"Aku mau liburan.."
"Kemana..?"
"Hmmm.. Thailand atau Paris.. aku belum pernah kesana.."
"Baiklah kalau itu mau mu.. ajaklah ibu.."
"Yeaayy.." Azkara melompat keirangan. "Terima kasih kakakku sayang.." ia memeluk Haiden dari belakang. "Ah Aira pasti senang dengan liburan ini.."
"Tunggu.. siapa yang memperbolehkan mu mengajak Aira..?"
"Yah kalau tidak ada Aira, aku pasti akan kesepian di sana.. siapa nanti yang akan menemaniku berburu cowok - cowok ganteng.."
"Ibu boleh.. Aira no.. siapa yang akan mengurusku disini..?"
"Pelayanmu disini banyak El.. aku cuma pinjam Aira beberapa hari.."
"Sekali tidak tetap tidak.." ucap Haiden. "Lebih baik kau belajar bisnis biar bisa membantuku.. Bermain - main saja yang kau pikirkan.."
"Kau menyebalkan.. menyesal tadi aku memelukmu.." ucap Azkara sambil meninggalkan Haiden di ruang kerjanya. Braakkk..!!! ia menutup pintu dengan keras.
"Hei..! jaga sikapmu anak kecil.." teriak Haiden, tapi Azkara tidak memperdulikannya.
Azkara menuju taman samping di mana Aira dan Eda terkadang memghabiskan waktu istirahat mereka di sana. Dan benar juga tampak Aira duduk sendiri menikmati keripik kentang
"Sebel.. awas kau nanti..!!!" gerutu Azkara sambil duduk di depan Aira.
"Kenapa..?"
"Aku di larang liburan.."
"Oleh tuan..? mana mungkin..?"
"Karena aku mengajakmu.." jawab Azkara
"O..o.." ucap Aira sambil terus makan keripik kentang.
"El benar - benar jahat.. kau tahu aku bosan di rumah terus.."
"Hmm.. mau aku temani jalan - jalan ke mall.. atau ke villa.."
"Bosan.. pokoknya aku mau liburan ke luar negeri bersama - sama.. ibu, El, kau dan pelayan lainnya.." Azkara marah - marah. "Kamu bantu aku dong.."
"Bagaimana caranya..? mana berani aku dengan tuan.."
"Coba dulu.. siapa tahu berhasil.." pinta Azkara. "Ayolah Aira tolong aku.. please.. please.."
"Heh.. baiklah akan aku coba.." akhirnya Aira mengikuti keinginan Azkara.
Ia bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur membuatkan secangkir teh hangat untuk tuannya. Siapa tahu teh ini bisa membantunya berbicara dengan tuannya.
"Masuk.."
"Selamat sore tuan.."
Haiden hanya diam tak menjawab. Ia masih tetap memandang laptop di hadapannya.
"Saya buatkan teh hangat untuk tuan.." Aira berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia meletakkan teh itu tepat di depan Haiden.
Aduh tuan tidak berkutik sama sekali, sepertinya memang benar - benar sibuk batin Aira. Aku coba sekali lagi kalau masih tidak ada tanggapan aku angkat tangan dan menyerah.
"Aduuhh..!!!" teriak Aira tiba - tiba.
Haiden langsung berdiri dan menghampirinya "Kenapa..?"
"Sepertinya kaki saya kram tuan.." jawab Aira. "Hmm.. tidak apa - apa kok, tuan lanjutkan bekerja saja.. saya bisa jalan sendiri.."
"Dasar keras kepala.." Haiden langsung membopong Aira dan menaruhnya di atas meja kerja.
"Kenapa di sini tuan..? di sofa kan bisa.."
"Sofa letaknya jauh.. atau sekarang kamu suka aku gendong..?"
"Bbukan.. bukan itu tuan.. maksud saya..."
"Sudah diam.." potong Haiden. "Jangan banyak bergerak.. aku pijat sebentar.." ucap Haiden sambil mulai memijat kaki Aira. "Kamu itu sekarang tambah berat.." goda Haiden
Sial.. itu artinya sama saja dia mengatakan aku gendut gerutu Aira dalam hati. "Tuan kalau ada yang lihat bagaimana..? saya pelayan.."
Haiden menatap Aira "Aku tuan di sini.. tidak ada yang berani masuk ruangan ini tanpa ijinku.. mengerti..?"
"Iya saya mengerti.. tapi bagaimana dengan nyonya Harika atau nona Azkara..?"
"Mereka justru senang kalau melihat aku bersama wanita.. artinya aku normal.."
Aira hanya diam. Kalau soal berdebat dengan tuannya ia lebih banyak mengalah.
"Kakimu tidak apa - apa.."
"Nah.. seperti yang tadi saya katakan kaki saya tidak apa - apa.."
"Kau marah karena tadi tidak aku perhatikan.."
"Ti..ti..tidak tuan.. untuk apa saya marah.."
"Atau kau berusaha mencari perhatianku.."
"Ti..ti..tidak tuan.. tadi kaki saya memang kram.."
"Katakan.. apa mau mu..?"
Aira menghela napas panjang.. sepertinya aktingnya sangat payah.. Haiden dengan cepat langsung tahu kalau ia pura - pura.
"Baiklah saya akan berterus terang.." ucap Aira. "Tuan pasti sudah bisa membaca maksud saya.." Aira berhenti sejenak sambil mengatur napasnya. "Nona Azkara benar - benar ingin liburan bersama.. ada nyonya dan ada tuan.. tidak bisakah tuan meluangkan waktu untuk nya.."
Haiden diam berusaha mencerna apa yang di katakan Aira. "Tadi dia bilang ingin liburan sendiri.."
"Itu hanya kiasan...maksud sebenarnya adalah nona ingin liburan bersama dengan tuan dan nyonya.."
"Oke beri aku waktu tiga hari sampai seluruh pekerjaan ku di sini selesai.. setelah itu kita liburan bersama.."
Aira tersenyum "Terima kasih tuan.. sudah meluangkan waktu untuk nona Azkara.."
"Itu tidak gratis Aira.." ucap Haiden tersenyum smirk.
"Maksud tuan..?"
"Sepuluh stempel keakraban atau batal.."
"Apa..!!! tidak.. tidak.. kalau ini saya rugi tuan.."
"Rugi dari mana..? banyak wanita yang menginginkannya.."
"Tapi.. tapi.. aduh.. kenapa banyak sekali tuan..?"
"Pertama karena tadi kau menipuku, kedua kau memaksaku ikut liburan di saat pekerjaanku banyak dan ketiga liburan juga butuh biaya banyak.."
"Tapi tuan kan pintar, kaya, tampan jadi tidak ada masalah dengan itu semua.."
"Hahahahhh.. terserah padamu.. sepuluh stempel keakraban atau tidak sama sekali.."
"Oke..oke.." ucap Aira sambil memejamkan mata. "Silahkan tuanku.."
"Hahahahhh.. wajahmu lucu sekali.."
"Tuan mentertawakan saya.." ucap Aira cemberut. "Saya permisi mau ke belakang.." terus terang Aira sangat malu dengan sikapnya. Ia bersiap untuk turun dari meja. Tapi tangan Haiden menahannya.
"Hei..hei.. hei.." tiba - tiba cup.. cup.. cup.. Haiden mencium kening dan kedua pipinya dengan cepat.
"Tuan.." ucap Aira lirih setengah tidak percaya atau justru terlena.
"Baru tiga.." Haiden tersenyum dan cup.. cup.. cup kali ini kedua mata dan hidungnya. "Baru enam.."
cup.. cup.. bibir dan leher Aira tidak luput dari stempel keakraban. "Masih kurang dua.. kau minta dimana..?" Haiden mulai melirik ke bawah.. ke arah bukit kembarnya.
"Jangan tuan.." ucap Aira agak serak. Menerima perlakuan seperti itu dari tuannya membuatnya gugup dan kerongkongannya kering. Tiba - tiba cup.. cup.. Aira mencium bibir Haiden dua kali. "Genap sepuluh.. saya permisi.." Aira langsung turun dan berlari keluar.
Aaaaccchh.. apa yang kulakukan tadi..? Aira tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Aku rugi.. rugi.. rugiiii...!!! teriak Aira dalam hati.
☘☘☘☘☘
Waktu yang ditunggu untuk liburan sudah datang. Sesuai dengan janji Haiden mereka pergi liburan bersama. Karena waktu yang dimiliki oleh Haiden hanya sedikit mereka memutuskan untuk berlibur di Thailand negara tetangga. Azkara penasaran dengan keindahan Phuket. Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam akhirnya mereka sampai di Bangkok.
"Wooww.. Thailand i'm coming.." teriak Azkara kegirangan. "Sawaddi kha.."
Semua tertawa melihat tingkah Azkara. "Aira ayo kita ke sana.. kita harus mendapat kenalan cowok di sini.."
"Ehem.. kamu cari teman yang lain.. Aira melayaniku.."
"Kau tidak asyik El.. Kita kesini untuk liburan.. untuk bersenang - senang bukan bekerja untuk melayani mu terus.."
"Sudah.. sudah.. kita ke hotel dulu.. ibu capek.."
"Mari saya bawakan tasnya nyonya.."
"Terima kasih Aira.."
"Ehem.. bagaimana dengan tasku..?"
"Iya saya bawakan juga tuan.." ucap Aira.
"Aira biar tas nyonya aku bawakan.. kau bawa saja tas tuan.."
"Baik bu Eda.."
Mereka berjalan menuju penjemputan. Baru beberapa langkah.. tiba - tiba ada yang memanggil
"Aira.."
Semua menoleh ke sumber suara
"Pak Gilang.." ucap Aira kaget.
Haiden mengepalkan tangannya dan memandang tajam ke arah Gilang..
☘☘☘☘☘