
"Ddavid.." ucapnya lirih.
"Hai.. sendirian..?"
"Eh.. iiya.."
"Orang tuamu..?"
"Eh.. iiya benar.." Aira mengatur degup jantungnya. Karena terus terang saja ia takut dengan David. "Kamu sendiri untuk apa kesini..?" tanya Aira asal sekedar basa - basi mencairkan suasana.
"Sama denganmu.. ibuku juga di makamkan disini.." jawab David. "Tuh.. di sebelah sana.."
"O..o.."
"Sudah selesai..?" tanyanya lagi.
"Eh.. sudah.."
"Ayo pulang.."
"Maaf sudah ada sopir yang mengantarkan ku.. dan juga aku sekalian mau belanja.."
"Aku temani.." ucap David. "Kau belanja dimana..? aku bisa membantu membawakanmu barang.."
"Tidak perlu.. aku tidak mau merepotkanmu David.."
"Aku tidak merasa di repotkan.. bukankah aku yang meminta.." desak David
"Masudku.. tidak akan pantas orang terpandang seperti mu membantu seorang pelayan.."
"Pelayan yang cantik.. siapa yang akan keberatan.."
"Tapi sungguh aku bisa sendiri.." tolak Aira halus. "Permisi.." Ia segera meninggalkan David sendiri. Tapi karena agak terburu - buru dan jalanan yang licin akibat air hujan Aira terpeleset.
"Aaauuwww..!" teriaknya.
"Awas.." David segera menangkap tubuh Aira agar tidak jatuh. "Kamu tidak apa - apa..?"
Aira segera melepas pegangan David "Aku tidak apa - apa David.. terima kasih.." Aira kembali beranjak pergi. Sebenarnya pergelangan kakinya agak sedikit sakit akibat terpeleset. Aira berusaha berjalan tanpa ada masalah apa - apa. Tapi David menarik tangannya.
"Hei.. tunggu Aira.." ucapnya. "Kau takut padaku..?"
"Tidak.. buat apa aku takut padamu.."
"Atau mungkin tuanmu yang telah mengatakan hal yang jelek tentangku..?"
"Tidak sama sekali.. tuan Haiden tidak pernah mengatakan sesuatu tentang mu.. apalagi aku cuma seorang pelayan.."
"Tapi aku melihat kamu istimewa di mata mereka.."
"Keluarga Lukashenko memang selalu baik dengan semua pelayannya.."
"Itu artinya kalau kau pulang terlambat karena aku ajak makan tidak akan ada masalah kan..?"
"E..e.. sebenarnya tidak masalah.. hanya saja aku merasa tidak enak.. karena ini bukan waktu liburku.."
"Hmm.. loyalitasmu terhadap keluarga itu termasuk tinggi.."
"Ya karena mereka baik padaku.."
"Baiklah.. ayo aku antar ke mobil.."
"Terima kasih.." Aira berusaha berjalan tegak sambil menahan rasa sakit dikakinya.
Mereka berjalan berdua. Sopir yang mengantar Aira tampak kaget melihat siapa yang sedang berjalan dengan nyonya nya.
"Aku permisi.." pamit Aira
"Hati - hati.."
David membantu Aira menutup pintu mobil. Matanya terus menatap mobil hingga tidak terlihat lagi. David tersenyum smirk sambil mencium tangannya sendiri bekas ia memegang tubuh Aira.
"Aroma vanila di tubuhmu akan selalu aku ingat Aira.." gumam David
🌸🌸🌸🌸🌸
"Maaf.. tuan.."
"Ada apa Noah..?"
"Ada pihak kepolisian datang kemari.."
"Polisi..?"
"Iya tuan.."
"Baiklah.. persilahkan mereka masuk.."
Noah keluar ruangan dan mempersilahkan dua orang pria berseragam polisi masuk ke dalam.
"Selamat siang tuan Haiden.."
"Selamat siang.."
"Perkenalkan saya AKP Sutanto.."
"Oh.. ya saya ingat.. anda yang telah menangkap Roberto waktu itu.."
"Benar tuan.." jawab Sutanto. "Hmm.." ia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu - raku karena takut menyinggung.
"Ada apa komandan.."
"Eh saya turut prihatin dengan kondisi mata tuan.."
"It's okey komandan.. namanya juga kecelakaan.." jawab Haiden. "Mari silahkan duduk.."
"Terima kasih.. Hmm.. jadi begini tuan saya akan memberikan informasi bahwa tuan Kemal sudah meninggal.."
"Apa..?! paman saya meninggal.."
"Yah benar.. dia ditemukan sudah tidak bernyawa di kamar mandinya.."
"Apa penyebab kematiannya..?"
"Minum racun.."
"Racun..?
"Benar tuan.. racun yang sama seperti yang ada di tubuh Roberto.."
"Apakah anda yakin jika ini adalah kasus bunuh diri..?"
"Hasil awal pemeriksaan seperti itu tuan.."
"Kenapa bibi Olif tidak tahu..?"
"Maaf tuan.. situasi ini juga yang ingin saya sampaikan pada tuan.. ibu Olif kami temukan di ruang bawah tanah dalam keadaan terborgol.."
"Apa..?! terborgol..?"
"Betul tuan.. ibu Olif sudah ada di ruang bawah tanah sejak tiga hari yang lalu.. menurut pelayan yang ada hal itu sering dilakukan oleh tuan kemal jika bu Olif melakukan kesalahan.."
"Bagaimana keadaan bibi saya sekarang..?"
"Sedang ada di rumah sakit untuk mendapat perawatan.." ucap Sutanto. "Sebenarnya keterangan dari beberapa saksi, tuan Kemal sudah tidak kembali ke rumah cukup lama.. tiba - tiba tiga hari yang lalu tuan Kemal pulang dan bertengkar hebat dengan ibu Olif.."
"Apakah ada yang tahu penyebab pertengkaran mereka..?"
"Tidak ada yang tahu tuan.. pelayan hanya mendengar samar - samar bahwa tuan Kemal telah membunuh Roberto dengan racun.. saat ini kami juga mengembangkan penyelidikan tentang hal itu dan menemukan Botulinum toxin di dalam ruang tuan Kemal. Tapi anehnya racun itu di produksi dua puluh tahun yang lalu.."
"Dua puluh tahun yang lalu..? aneh.. sangat aneh karena sebenarnya racun itu juga ditemukan pada tubuh ayah saya.. beliau meninggal karena di di dalam tubuhnya terdapat kandungan Botulinum toxin.."
"Apakah ada kemungkian paman saya yang membunuh ayah saya..?"
"Itu masih kami dalami tuan.. saksi kunci kita adalah ibu Olif yang belum sadarkan diri sampai sekarang.."
"Baiklah.. saya dan keluarga akan segera ke rumah sakit.."
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan.. apabila ada informasi lagi akan segera kami hubungi.."
"Baik komandan.. terimakasih.."
AKP Sutanto dan anak buahnya segera keluar dan meninggalkan ruangan Haiden. Ia terduduk termenung sambil menunggu Noah masuk.
"Noah.. Kemal bunuh diri.." ucap Haiden. "Tapi aku tidak percaya.. pria selicik dia tidak akan berpikir pendek untuk mengakhiri hidupnya.. apalagi harus meninggalkan kekayaannya.."
"Maksud anda.. tuan Kemal di bunuh..?"
"Itu pasti.. aku ingin kamu selidiki beberapa hal.."
"Baik tuan.."
"Pertama pergilah ke kantor polisi kau lihat jenazah Kemal dan perlihatkan padaku. Setelah kau selesaikan administrasinya di kantor polisi kau bisa mengurus pemakaman yang layak buat pamanku.. walau bagaimanapun di tetap keluarga Lukashenko.."
"Baik tuan.."
"Baik tuan.."
"Yang ketiga perketat keamanan rumah, perlindungan terhadap keluargaku, Aira, Rafael, ibu dan Azkara akan lebih ketat.."
"Baik tuan.." jawab Noah. "Maaf sebelumnya ada hal yang harus saya sampaikan.."
"Apa itu.."
Noah memberikan handphonenya pada Haiden. Disana terlihat gambar Aira berjalan dengan David di pemakaman "Dari mana foto ini..?"
"Dari sopir tuan.."
Giginya gemeretak, tangannya mengepal "Berani - beraninya dia mengikuti istriku.." ucap Haiden penuh emosi.
"Menurut sopir, tuan David mengikuti nyonya Aira.. walaupun sudah beberapa kali ditolak dengan halus.. nyonya Aira juga tampak agak ketakutan dan tangannya sempat gemetar waktu masuk ke dalam mobil.."
"Brengsek.. laki - laki sialan.. aku harus pulang.. Aira pasti masih ketakutan.."
"Baik tuan akan saya siapkan mobil.."
Haiden bersiap pulang ke rumah untuk melihat keadaan istrinya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Haiden sudah sampai di kediamannya. Dengan setengah berlari ia mencari keberadaan Aira.
"Eda dimana istriku.."
"Ditaman samping bersama nyonya Harika.."
Bergegas Haiden menuju ke taman samping. Dilihatnya wanita yang begitu di cintainya sedang bersendau gurau dengan Rafael, ibu dan Azkara. Haiden berlari dan kemudian memeluk istrinya dengan erat "Kamu tidak apa - apa sayang..?" tanya Haiden pada Aira. Ia mencium istrinya berkali - kali.
"Hei.. hei.. hargailah kami yang ada disini.." teriak Azkara.
"Sudah sayang.. sudah.." balas Aira kegelian. "Aku baik - baik saja.. tidak ada yang perlu kau khawatirkan.."
"Bagaimana aku tidak khawatir.. kau bertemu dengan David.."
"What..? again..?" tanya Azkara sedikit terkejut. "Kakimu sedikit terkilir karena David..?"
"Eh ya.."
"Kakimu luka..?"
"Aku tidak apa - apa sayang.. hanya terkilir sedikit.. aku masih bisa jalan kok.." jawab Aira.
"Kau harus berhati - hati Aira.." pesan Azkara
"Iya.. aku pasti hati - hati.. aku tidak akan keluar jika memang tidak ada keperluan penting.."
"Dan yang pasti harus dengan pengawalan.." sela Harika
"Itu pasti bu.." balas Haiden. "Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan.."
"Apa sayang..?"
"Ibu.. paman Kemal sudah meninggal.."
"Apa..!" pekik Harika. "Ya tuhan.. bagaimana ini bisa terjadi..?"
"Hasil pemeriksaan awal dia bunuh diri.. tapi instingku mengatakan kalau ia dibunuh.."
"Aku setuju dengan mu El.. se frustasinya paman Kemal ia tidak akan bunuh diri.. lantas sekarang bibi Olif dimana..?"
"Dia di rumah sakit.."
"Kenapa..?" tanya Harika.
"Kemal mengurungnya di ruang bawah tanah selama tiga hari, hanya minum tanpa makan.."
"El.. ibu dan Azka akan kesana.."
"Aku ikut.." ucap aira.
"Tidak kau di rumah saja.. aku yakin David ada di sana.. mereka teman bisnis.."
"Baiklah.."
🌸🌸🌸🌸🌸
"David.. bagaimana rasanya di bohongi..?"
"Apa maksudmu Dave..?"
"Kita berdua telah di bodohi oleh musuh bebuyutanmu.."
"Haiden..? bicara yang jelas bodoh..!"
"Berapa kau berani bayar informasiku ini.."
"Kau lupa siapa yang telah menghidupimu..?"
"Aku tidak akan lupa.. but hidup itu pilihan.."
"Okey.." David segera beranjak dari duduknya. Ia menuju ke sebuah ruangan rahasia. Ruangan itu berisi berbagai macam senjata, beberapa brankas, minuman wine dan obat terlarang. Ia mengambil satu kantong plastik kira - kira beratnya seratus gram. Ia memberikan ke Dave "Nih.. aku kira cukup untuk kau konsumsi beberapa hari kedepan.."
"Hmm.. it's good.." balas Dave. Ia mencoba sedikit "Good quality.."
"Cepat.. informasi apa yang kau dapatkan.."
"Hei tenang bro.. aku rasa cinta telah membuatmu bodoh.." Dave tersenyum. "Kau jangan dekati lagi saudara sepupuku lagi.."
"Aira..?"
"Hmm.. ya.."
"Your reason..?"
"Dia sudah jadi milik Haiden.."
"Of course karena dia pelayannya bukan..?"
Dave menggelengkan kepala "Dia sudah menikah dengan Haiden dan memiliki seorang anak.."
"No.. it's not true.. dari mana sumbermu..?"
"Iwan sopir ayahku.." jawab Dave. "Ia tidak tahu kalau sekarang aku bekerja denganmu.. ia pikir aku masih anak manis yang selalu memperhatikan Aira dalam diam.."
"Tell me.." perintah David
"Kau tahu Aira bekerja di rumah Haiden sebagai laki - laki.. namanya Abi.."
"What Abi..? pelayan pribadi Haiden yang kecil, tak bertenaga itu.." pikiran David kembali ke masa di mana ia pernah mempermainkan Abi dengan menjadikannya sasaran panahan.
"Benar.. dan karena perbuatan kakakku yang gegabah, yang telah memberikan Haiden obat perangsang dosis tinggi, malam itu keperawanan Aira di ambil dengan paksa oleh Haiden dan Hamil.."
David terdiam, untung saja Ivanka sudah meninggal kalau tidak saat ini juga pasti sudah aku bunuh batin David.
"Aira pergi karena tidak ingin diketahui oleh siapapun termasuk Haiden. Ia disembunyikan oleh Azkara hingga kecelakaan Haiden yang menyebabkannya buta.."
"Jadi kebutaan Haiden yang membuatnya ingin kembali.."
"Kau betul.." jawab Dave. "Aku kasihan padamu David.."
"Aku tidak perlu belas kasihan darimu..! cam kan itu..!" ucapnya geram.
"Apa kau tidak ingin menabuh genderang perang dengan Haiden..?"
"Itu pasti.. Aira harus menjadi milikku.."
"Kau benar - benar jatuh cinta dengan Aira rupanya.."
"Matanya yang bening dan teduh sama persis seperti ibuku.. aku ingin memiliki Aira seutuhnya.."
Tiba - tiba datang dua orang bodyguard melapor pada David.
"Ada apa..?"
"Maaf tuan.. pabrik obat terlarang milik kita sudah di gerebek oleh polisi.."
"Apa..?!" pekik David. Ia melempar gelas minuman ke lantai. "Apakah mereka tahu aku pemiliknya..?"
"Tidak tuan.. berkas - berkas dan bukti kepemilikan sudah kami sembunyikan ditempat yang aman.."
"Ada yang berkhianat..! aku yakin itu..! cepat selidiki.." perintahnya
"Baik tuan.." bodyguard itu segera keluar dari ruangan.
"Sial..! sial..! sial..!" David berteriak frustasi sambil memporak porandakan meja kerjanya.
Dave tersenyum smirk. Aku akan membuatmu hancur pelan - pelan dan terbunuh di tangan Haiden, perbuatanmu telah membunuh kakakku sangat tidak aku sangka - sangka. Kau yang membuat keluargaku hancur batin Dave.
🌸🌸🌸🌸🌸