
"Apaa..!!! pergi kemana Eda..? kenapa tidak ijin padaku..?!" teriak Haiden sejadi - jadinya. Matanya marah menyala.
"Saya tidak tahu tuan.. pakaiannya tidak ada, almarinya kosong.." lapor Eda dengan menunduk. Selama menjadi pelayan ia belum pernah melihat Haiden semarah ini.
"Bbagaimana dia bisa pergi..!!! tanpa ijin dariku ia tidak bisa seenaknya keluar dari rumah ini..!!!" Haiden melempar semua yang ada di depannya.
Eda diam dan mundur beberapa langkah agar tidak terkena barang lemparan tuannya. Dalam hatinya bertanya - tanya apa yang terjadi dengan Aira. Karena setelah liburan dari Thailand tidak ada tingkahnya yang mencurigakan atau aneh.
Harika dan Azkara masuk karena mendengar keributan.
"Ada apa El..? kenapa pagi - pagi sudah ribut..?"
"Aira pergi bu..! berani - beraninya dia pergi meninggalkan hutang Baskara yang belum lunas..! dia tidak bisa melakukan ini padaku bu..!" emosi Haiden menjadi - jadi.
"Tenang dulu.. kita cari dulu.. siapa tahu ia hanya keluar sebentar.."
"Tidak bu...pakaiannya tidak ada.." Haiden mondar mandir kebingunan mengacak - acak rambutnya dengan asal. "Noah..! Noah..!" teriaknya memanggil Noah
"Saya tuan.." dengan cepat Noah masuk ke dalam kamar.
"Cepat kamu cari........" belum sempat ia menyelesaikan perintahnya tiba - tiba saja jatuh pingsan.
"El.." teriak Harika.
Azkara langsung mendekati dan menepuk - nepuk pipi Haiden "El.. bangun.. kau menakutiku.."
"Cepat panggil dokter.." perintah Harika.
Noah di bantu dengan pelayan yang lain membawa tubuh Haiden ke atas tempat tidur. Tak berapa lama dokter keluarga datang dan melakukan pemeriksaan.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan.. tuan Haiden pingsan karena strees dan tekanan darahnya rendah.."
"Bukan karena ada penyakit yang membahayakan dok.."
"Nyonya Harika tenang saja.. tuan Haiden hanya butuh istirahat dan vitamin.. untuk sementara jangan melakukan olah raga yang berat dulu.."
"Baiklah dokter.. terima kasih.."
Setelah menyerahkan resep dokter segera keluar dari kamar Haiden. Harika dengan setia menemani Haiden hingga siuman.
..."Hei bayi besarku.. bangun sayang.." ucap Aira sambil membelai pipi Haiden dengan lembut.."...
"Aira.. Aira..!" teriaknya dalam tidur
"El sayang.. tenang nak ibu ada disini.."
Haiden membuka matanya "Ibu..? Aira mana..? tadi dia di sini kan..?"
"Tenang sayang.. ayo minum dulu.." Harika memberikan segelas air putih. "Istirahatlah dulu.. kamu habis pingsan.."
"Aira bu..?"
"Belum ketemu.."
"Apa..! belum ketemu..! bagaimana kerja mereka semua..!" ucap Haiden menyibakkan selimut dan bangun dari tempat tidur. Tapi ia segera duduk kembali karena pandangannya kabur dan kepalanya sakit.
"El.. dengarkan ibu.. biar para penjaga dan Noah yang mencari Aira.."
"Kenapa dia meninggalkan aku bu..?" tanya Haiden dengan pandangan kosong. "Siapa nanti yang akan mengurusku..?"
"Banyak pelayan yang bisa kau minta untuk melayani kebutuhan sehari - harimu.."
"Ta..tapi dia masih berhutang kepadaku.."
"Yang berhutang itu bukan Aira tapi Baskara.. biarkan dia bebas El.."
Haiden diam, ia menatap tajam "Ibu menentangku..?!" tanyanya dengan tatapan penuh amarah.
"Tidak nak.. ibu tidak berani.. ibu sangat menghargai semua keputusanmu.. ibu hanya ingin kamu tenang.."
"Tinggalkan aku sendiri bu.." pinta Haiden.
"Tapi nak.."
"Aku mohon.. jangan sampai aku membentak pada ibu.."
"Baiklah ibu akan keluar.. jika butuh apa - apa kau panggil saja Eda.." ucap Harika sambil meninggalkan kamar Haiden.
Diluar Azkara sudah menunggu "Bagaimana bu..?"
"Dia ingin sendiri Azka.."
"Dia seperti anak kecil.."
"Kira - kira kenapa Aira tiba - tiba pergi..? padahal kemarin ketika kita liburan semuanya baik - baik saja.."
"Mungkin ada masalah yang dia pendam sendiri bu.."
"Mungkin saja.." ucap Harika. "Eda panggilkan Sumi.. suruh ia ke ruang keluarga.."
"Baik nyonya.."
"Ibu mau mencari informasi ke Sumi.."
"Iya bukankah dia dulu bekerja di rumah Baskara.. jadi menurut ibu ia lebih tahu tentang Aira daripada kita.."
"Oh bagus juga pemikiran ibu.." ucap Azkara. Maafkan aku ibu terpaksa membohongimu untuk saat ini. Suatu saat aku pasti akan bercerita kepadamu.
"Nyonya memanggil saya..?"
"Duduk Sumi aku mau bicara.."
"Baik nyonya.."
"Kau tahu kan Aira pergi dari rumah ini..?" Sumi mengangguk. "Apa dia pernah bercerita padamu kalau sedang ada masalah.."
"Hmm.. setahu saya tidak ada masalah apa - apa nyonya.. ia ceria dan bekerja seperti biasanya.."
"Apa jangan - jangan di culik Baskara atau Ivanka.."
"Itu saya kurang tahu nyonya tapi saya pernah mendengar kalau nyonya Nungki mau menjualnya.."
"Heh.. keluarga itu memang gila semua.. beruntung Aira bisa lepas dari sana.." ucap Harika. "Tapi dimana dia sekarang..? bagaimana nanti makannya, tidurnya..?" ucap Harika cemas.
Sementara itu di kamar Haiden. Ia tampak sedang terdiam. Kenapa kau pergi Aira..? apa salahku..? dimana kamu tinggal sekarang..? beribu pertanyaan muncul di benak Haiden.
Ia segera mengambil handphonenya. Ia tidak boleh berdiam diri tanpa pergerakan..
"Noah.. aku tunggu di kamarku.."
Tak lama kemudian..
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Bagaimana pencarianmu..?"
"Sampai saat ini saya belum menemukan Aira tuan.. tidak tampak di CCTV ia keluar dari kediaman ini.."
"Aneh.. bagaimana ia bisa lepas dari pandangan penjaga di luar..? pecat mereka semua.. mereka tidak becus bekerja.."
"Baik tuan.."
"Sudah kau selidiki di rumah kedua sahabatnya..?"
"Sudah tuan tapi tidak ada.."
"Bagaimana dengan rumah Baskara..?"
"Hasilnya nihil tuan.. sama sekali tidak ada.. dan tidak mungkin juga Aira kembali ke sana setelah apa yang mereka lakukan padanya.."
"Benar juga katamu.." Haiden tampak berpikir keras. "Apa mungkin di culik Ivanka..?"
"Saat ini nona Ivanka sedang berlibur di Singapura bersama David, setelah pesta itu sampai sekarang belum kembali.."
"Semuanya buntu.. sama sekali dia tidak meninggalkan jejak.."
"Betul tuan.."
"Oya.. Gilang.. kau sudah menyelidikinya..?"
"Sudah tuan.. Aira tidak bersamanya.." jawab Noah. "Saya sudah memerintahkan satu penjaga untuk mengintainya selama satu minggu ke depan.. untuk memastikan apakah ia menyembunyikan Aira atau tidak.."
"Heh.. kemana perginya..?" ucap Haiden frustasi. Cukup lama ia terdiam "Oya aku ingat.. ia pernah mengatakan jika hutangnya sudah lunas ia ingin tinggal di Bandung kota kelahiran ibunya.. kamu selidiki apakah ia ada di sana.. cari sampai ke lubang tikus sekalipun.
"Baik tuan.."
☘☘☘☘☘
Aira duduk diteras rumah, menghirup udara segar dan melihat perkebunan teh nan luas menghijau. Kehidupan seperti inilah yang sebenarnya dia inginkan. Damai, nyaman dan aman walaupun ini bukan kota kelahiran almarhum ibunya tapi ini cukup memgobati rasa rindunya.
"Non Aira ayo makan dulu.." ucap Asih membuyarkan lamunannya.
"Eh iya bik Asih.. terima kasih.." ucap Aira. "Hmm.. aromanya menggoda.. ini apa bik..?"
"Ini trancam non, terus ini ada ikan mas goreng, lalapan dan sambal terasi.."
"Kelihatannya enak bik.."
"Ini sayurannya baik untuk kesehatan non.. kebetulan ini juga nanam sendiri.."
"Baiklah.. aku coba ya bik.." ucap Aira mengambil nasi beserta lauknya. Kemudian dengan menggunakan tangan ia memasukkan nasi beserta lauk ke mulutnya. "Hmm.. enak bik.."
"Syukur kalo non Aira suka.."
"Oya bik.. mang Ujang kemana..?"
"Tadi ke kota beli kebutuhan sehari - hari non.. apa non Aira mau titip sesuatu..?"
"Ah tidak bik.. aku cuma mau lihat kebun sayurannya.."
"Oh.. kalau itu saya antar saja non.."
"Baik.. terima kasih bik.. setelah aku makan kita jalan kesana.."
"Baik non.."
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Aira menghabiskan makanannya. Setelah selesai ia dan Asih segera berjalan menuju kebun sayur.
"Ini apa bik..?"
"Oh.. ini terong belanda.. enak buat lalapan non.."
"Loh ada pohon mangga juga.."
"Iya tapi mangganya baru berbunga non.."
Aira tersenyum ia ingat waktu itu ia pernah memanjat pohon mangga dan ketahuan oleh tuannya.
Drrrtt.. drrtt.. drrtt.. handphone Aira bergetar tanda ada panggilan.
"Halo Azka.."
"Bagaimana keadaanmu di sana..?"
"Aku baik.. udara disini segar.. aku menyukainya.." jawab Aira. "Hmmm.. bagaimana dengan...." Aira tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Kabar El..?"
"Eh iya.. bagaimana kabar tuan..?"
"Tidak perlu malu padaku.. dia depresi dan terus berusaha mencarimu.." jawab Azkara. "Kau rindu padanya..?"
"Eh iya sedikit.."
"Tenang saja.. aku akan video kan diam - diam semua gerak geriknya dan aku kirimkan padamu.."
"Tidak perlu.. aku mendengar dari ceritamu saja sudah senang.."
"Aku takut bayimu merindukan dekapan ayahnya.." goda Azkara.
"Kau jangan menggodaku Azka.."
"Baiklah..hati - hati di sana.. aku tutup teleponnya.."
Panggilan terputus. Azkara tersenyum sendiri dengan kisah cinta dua manusia yang sama - sama memiliki ego tinggi.
"Azka..?"
"Ibu.. sejak kapan ibu berdiri di situ..?"
"Baru saja.. memang kenapa..? ada yang kau sembunyikan dari ibu..?"
"Tidak ada ibuku sayang.."
"Siapa yang kau telepon tadi..?"
"Oh temanku waktu SMA dulu.. dia mau menikah.."
"Azka.. ibu mau bertanya..?"
"Soal apa bu.."
"Kau tidak menyembunyikan Aira kan..? kau bukan dalang dari hilangnya Aira.
"Bu..bu..bukan bu.. dari mana ibu memiliki prasangka seperti itu..?"
"Hilangnya Aira begitu saja tanpa jejak.. sangat rapi.. ini dilakukan oleh orang yang mengerti betul strategi El.."
"Hanya karena itu ibu menuduhku..?"
"Ini hanya dugaan saja.."
"Tidak bu.. aku tidak mengetahui keberadaan Aira.. apa untungnya aku memyembunyikannya.." ucap Azkara berusaha meyakinkan Harika. Walaupun dalam hati ia meminta maaf.
"Ibu hanya ingin tahu saja.. syukurlah jika kau tidak tahu apa - apa.. kasihan kakakmu.."
"Iya aku memang sangat kasihan dengannya.. tapi harga diri dan gengsinya terlalu tinggi.. dulu waktu Aira ada El menyia - nyiakannya, sekarang Aira pergi stresnya bukan main.."
"Kau harus sabar menghadapi kakakmu..?"
"Iya.. iya aku tahu ibu.." jawab Azkara. "Sudah ah aku mau latihan berkuda.."
☘☘☘☘☘
"Eda.. Eda..!" panggil Haiden
"Saya tuan.."
"Mana parfumku.. kenapa tidak ada..? apakah sudah ada maling disini..?"
"Tidak ada tuan.."
"Aku tidak percaya..! bagaimana kerjamu dalam mendisiplinkan pelayan di sini.."
"Maaf tuan akan saya selidiki.."
"Aku tunggu.. cepat.." perintah Haiden.
Sejak sepeninggal Aira, suasana rumah kembali seperti dulu. Kehangatan yang dulu pernah ada menjadi dingin, kaku dan beku seperti hati Haiden saat ini. Selama hampir satu minggu ia mengunci diri dalam kamar. Dan hari ini ia memutuskan untuk beraktivitas lagi.
Eda segera mencari tahu dengan memeriksa CCTV yang ada di koridor kamar Haiden. Tidak ada yang masuk ke dalam kamarnya selain Noah, ia sendiri, Harika dan Azkara. Ini semua adalah orang - orang terpercaya dan tidak mungkin mencuri barang milik tuannya.
"Coba putar ulang beberapa hari sebelumnya.."
Tehknisi CCTV segera melakukan perintah Eda dengan memutar ke rekaman beberapa hari sebelumnya lagi.
"Bisakah kau lebih cepat.."
"Sabar Eda.. ini tidak mudah.."
"Tapi tuan menyuruhku cepat.. aku tidak mau dianggap tidak bisa bekerja.."
"Nih sudah.. kau lihat sendiri.."
Eda melihat gambar dengan seksama dan satu persatu tanpa ia lewatkan.
"Stop.. stop.." perintahnya. " Mundur lagi ke menit empat puluh lima.."
Tekhnisi itu segera memutar ke belakang sesuai permintaan Eda.
"Ya.. ya.. ya.. itu stop.."
Dengan cepat Tekhnisi itu menekan tombol stop. Terlihatlah dengan jelas siapa yang keluar dari kamar Haiden membawa parfum pada malam hari. "Aira.." gumamnya
Eda meminta ke tekhnisi itu untuk memindahkan rekaman itu ke dalam flashdisk. Dan ia segera memperlihatkan pada Haiden.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Maaf tuan sudah lama menunggu.."
"Sudah ketemu pencuri itu.."
"Lebih baik tuan lihat sendiri.." ucap Eda sambil menyerahkan flash disk.
Haiden menerimanya dan segera melihat seluruh rekaman itu. "Aira..!" teriaknya. "Jadi yang mencuri parfumku itu Aira. Dan itu..itu.. kemejaku juga dia bawa.. untuk apa..! untuk apa..!!!" teriak Haiden sambil membuang laptopnya. Kau berani mengambil barangku tanpa ijin Aira batin Haiden geram sambil mengepalkan tangannya..
☘☘☘☘☘