
Hati Baskara teriris melihat kondisi putranya. Memang penyesalan selalu datang di akhir. Saat ini kondisi Dave sangat mengenaskan. Terbujur lemas dengan tangan dan kaki terikat. Tujuannya agar tidak menyakiti dirinya sendiri. Baskara hanya bisa melihat dari balik pintu ruang rawat inap.
"Selamat pagi pak Baskara.."
"Selamat pagi dokter.."
"Ada yang perlu saya bicarakan.. bisa ke ruangan saya sebentar..?"
"Baik dok.."
Baskara melangkah mengikuti dokter yang bertanggung jawab terhadap putranya.
"Silahkan duduk.." ucap dokter begitu sampai di ruangan.
"Terima kasih dokter.."
"Jadi begini pak Baskara.. apakah bapak tahu sejak kapan putra bapak mengkonsumsi obat terlarang..?"
"Saya tidak tahu dok.. terus terang saya disibukkan oleh pekerjaan di perusahaan.."
"Istri bapak..?"
"Maaf dok istri saya saat ini sedang tertimpa kasus dan berada di penjara.."
"Hmm.. sekarang saya tahu alasan putra bapak lari ke barang haram tersebut.." ucap dokter. "Kebanyakan orang yang memakai obat terlarang adalah karena pergaulan atau budaya, keluarga yang berantakan.."
"Iya dok.. saya juga menyesal setelah mengetahui anak saya seperti itu.."
"Setelah kami melakukan beberapa tes yaitu tes urine kemudian rambut kami mengetahui perkiraan sudah berapa lama ia memakai barang tersebut.."
"Berapa lama dok.."
"Satu tahun.."
"Ya tuhan...ternyata sudah lama dia mengkonsumsi obat itu.."
"Itulah sebabnya pak Baskara kita sebagai orang tua harus selalu meluangkan waktu dengan anak, memberikan perhatian, memberikan nasihat dan sekaligus mengingatkan apabila mereka berada di jalan yang salah.. dan saya tahu semua itu tidak mudah.. saya sendiri sebagai orang tua juga masih banyak belajar.."
"Ya dok.. saya menyesal kenapa dulu tidak memberikan perhatian pada anak - anak saya.. dan juga mungkin ini teguran dari tuhan karena saya menelantarkan anak kakak saya yang sudah meninggal.."
"Semuanya sudah berlalu pak Baskara.. anda harus konsentrasi terhadap kesembuhan Dave.. dan juga saat ini ia di tetapkan sebagai tahanan polisi.."
"Apa yang harus saya lakukan dok..?"
"Nanti saya akan menjadi saksi dan juga saya akan memberikan surat keterangan agar Dave bisa direhabilitasi.."
"Terima kasih bantuannya dokter.."
"Iya sama - sama pak Baskara.."
"Kalau begitu saya permisi dulu.."
"Sikahkan.."
Baskara segera keluar dari ruangan dokter dan kembali duduk di depan ruang rawat inap Dave bersama beberapa polisi penjaga.
Beberapa kali ia memegang handphone seperti ingin menelepon seseorang tapi berkali - kali ia urungkan niat itu.
Kalau aku telepon Aira apakah nanti dia akan menolakku batin Baskara ragu. Mengingat kejahatan Nungki dan Ivanka membuat Baskara ragu untuk meminta bantuan terkait nasib Dave ke depannya.
"Om.." panggil seseorang.
"Aaaira.." sambut Baskara terkejut. "Dari mana kamu tahu kalau aku di sini..?"
"Kami tadi ke kantor polisi untuk menemui Dave.. dari penjaga disana mengatakan kalau Dave di bawa ke rumah sakit.. apa yang sebenarnya terjadi om..?"
"Dave mengalami sakaw.. ternyata ia sudah mengkonsumsi obat terlarang itu selama satu tahun.."
"Ya tuhan.. aku yakin ini pasti karena ia bergaul dengan David.." ucap Aira.
"Om yang salah Aira.. selama ini om sibuk dengan perusahaan, sibuk berjudi dan sama sekali tidak pernah memperhatikan Dave.. sedangkan tantemu hanya fokus pada Ivanka.."
"Sekarang kita harus memberikan dukungan moral pada Dave agar ia mau sembuh.."
"Tadi dokter juga mau memberikan kesaksian agar Dave bisa di rehabilitasi.."
"Aku rasa itu lebih baik.."
"Saya sudah memberikan pengacara terbaik saya terkait pembunuhan yang di lakukan oleh Dave.." ucap Haiden
"Terima kasih tuan Haiden.. terima kasih Aira.." ucap Baskara sambil tertunduk, matanya berkaca - kaca. "Aira.."
"Ya om.."
"Aku ingin minta maaf atas semua kesalahan yang telah keluargaku perbuat padamu.. seharusnya aku merawatmu dengan baik karena kau amanat dari kakakku yang sudah meninggal.. tapi kami justru menelantarkanmu.."
"Tidak apa - apa om.. aku sudah memaafkan nya sejak lama.. aku justru berterima kasih karena secara tidak langsung hal itu telah mempertemukanku dengan kebahagian.. memiliki suami, anak dan keluarga yang menyayangiku.."
"Terima kasih Aira.. kau bersedia memaafkan aku dan keluargaku.."
Cukup lama mereka berbincang mengenai langkah yang di ambil untuk bisa meringankan hukuman Dave. Tiba - tiba dua orang polisi datang menemui Baskara di rumah sakit.
"Selamat siang pak Baskara.."
"Siang komandan.."
"Oh.. ternyata ada tuan Haiden juga.. selamat siang tuan.."
"Selamat siang komandan Sutanto.."
"Maaf pak Baskara.. kedatangan saya mungkin mengganggu obrolan bapak dengan tuan Haiden.."
"Tidak apa - apa komandan.."
"Jadi begini pak Baskara, saya akan menyampaikan kelanjutan kasus Dave.. setelah melakukan beberapa penyelidikan tentang semua kejahatan David kami menemukan ada beberapa hal yang menyangkut Dave putra bapak.."
"Apa itu..?" tersirat rasa cemas di wajah Baskara.
"Ini terkait dengan pabrik obat terlarang yang kami temukan dan akhirnya menyeret nama Dave.."
"Maksud komandan..?"
"Sebenarnya jauh sebelum adanya pabrik itu Dave sudah lama bekerja dengan David.."
"Bekerja apa..? setahu saya Dave bekerja di perusahaan David karena rekomendasi Ivanka kakaknya.."
"Ia memang bekerja untuk tuan David tapi sebagai pengedar narkoba di kalangan anak - anak muda.."
"Apa..?!" pekik Aira dan Baskara bersamaan.
"Saudara saya tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu.. ia pasti di jebak.."
"Tidak nyonya Aira.. apa yang dilakukan Dave semuanya tanpa paksaan dari siapapun.. keterangan dari beberapa saksi Dave melakukan itu karena ia juga mengkonsumsi obat tersebut.. jadi ketika dia butuh tidak perlu uang lagi.."
"Ya tuhan Dave.. kenapa jadi begini..?"
"Kira - kira sudah berapa lama Dave menjadi pengedar..?"
"Hmm.. belum lama ini tuan Haiden.. sekitar delapan bulan.. mungkin uang tabungannya sudah habis jadi dia memutuskan untuk menjadi pengedar.."
"Berapa lama hukumannya..?"
"Minimal empat tahun dan maksimal pidana mati.. kita lihat dulu seperti apa kasusnya.."
Baskara terduduk lemas di lantai. Ia terisak sejadi - jadinya.. itu sama halnya menambah hukuman untuk Dave.
"Om.. tenang lah.." ucap Aira menenangkan.
"Maaf komandan.. semua urusan Dave saya serahkan pada pengacara saya.. ia yang lebih tahu mengenai masalah hukum.."
"Baik tuan.." ucap Sutanto. "Kalau begitu saya permisi dulu.."
"Silahkan komandan.."
Dua orang polisi segera meninggalkan Baskara sendiri.
"Terim kasih Aira.. terima kasih tuan Haiden.."
"Kalau begitu kami permisi dulu.."
"Hati - hati di jalan.."
🌸🌸🌸🌸🌸
"Hei kenapa kau sekarang mengikutiku..?"
"Perintah tuan Haiden.."
"Heh.. aku malas mendengarnya.. kau membatasi gerak ku.."
"Maaf nona saya hanya menjalankan perintah.."
"Oh common Noah.. tidak bisakah kau menuruti apa kata ku.."
"Tuan yang menggaji saya.."
"O..o.. kalau begitu sekarang aku yang akan menggajimu.. kau kira aku tidak mampu.."
"Saya tahu anda pasti mampu membayar saya.. tapi maaf hanya tuan Haiden yang bisa memerintah saya.."
Azkara tetap diam dan tidak beranjak dari tempatnya. Ia justru cuek dan pura - pura tidak melihat Noah.
"Nona.. waktu belajar akan segera habis.."
"Aku tidak peduli..!" jawab Azkara ketus.
"Baiklah...maafkan atas kelancangan saya.." ucap Noah yang kemudian menggendong Azkara dengan paksa dan membawanya masuk ke dalam ruang belajar.
"Hei.. apa yang kau lakukan..! turunkan aku..!"
"Maaf nona.. saya lakukan karena terpaksa.." jawab Noah sambil terus membawa tubuh Azkara.
"Oke.. oke.. aku menyerah.. turunkan aku.." ucap Azkara. Noah menurunkan tubuh Azkara pelan - pelan. "Aku akan belajar.. tapi bisakah selama bersamaku buang wajah dinginmu itu.. kau seperti vampir.."
"Wajah saya memang seperti ini.."
Azkara berjalan menuju ruang kerja, ia kemudian duduk di sofa yang berada disana.
"Ayo kita mulai.."
"Baik nona.." jawab Noah. Ia membawakan beberapa buku tebal dan menaruhnya di hadapan Azkara..
"Apa ini..?"
"Ini adalah buku yang harus anda baca.."
"What.. kau mau membuat mataku copot..!"
"Tidak nona.. saya yakin mata anda akan baik - baik saja.."
"Bagaimana mungkin aku bisa membaca buku tebal ini Noah.. aku malas.."
"Ini buku yang harus anda pelajari.."
"Hmm.. bagaimana kalau kau saja yang membaca buku itu kemudian kau bisa mengajarkan intinya padaku.." ucap Azkara memberi penawaran sambil mengedip - kedipkan matanya.
"Saya sudah membaca buku itu nona.."
"Kalau begitu kenapa kau menyuruhku membacanya.. kau bisa langsung mengajarkannya padaku.."
"Maaf ini perintah tuan.."
"Persetan dengan perintah El.. aku mau meneleponnya.."
"Maaf selama pelajaran di mulai anda di larang menggunakan handphone.."
"Ya tuhan.. El...!!!" teriak Azkara emosi.
Akhirnya mau tidak mau ia melaksanakan apa yang El perintahkan.
"Noah.. ambilkan minum atau mungkin cemilan.. perutku lapar.."
"Nanti sebentar lagi nona.."
"Yah berapa lama lagi aku harus ada di ruangan ini.."
"Satu jam lagi anda bebas.. bacalah buku itu nona dan anda tidak akan bosan.."
"Siapa bilang tidak bosan.. apalagi baca buku setebal batu bata di temani manusia vampir sepertimu.." gerutu Azkara.
"Ya nona.."
"Tidak apa - apa.."
Setelah melalui perjuangan yang berat dan lama akhirnya Azkara bisa keluar dari ruang kerja itu.
"Ya tuhan akhirnya aku bisa melihat dunia lagi..!" teriak Azkara penuh kelegaan.
"Tidak usah terlalu berlebihan nona.."
Azkara memandang Noah kemudian mencibirnya.
"El sudah pulang..?"
"Sudah nona sekarang sedang bersama nyonya Aira.."
"Heh kau tunggu di sini.. aku akan protes dengannya.. ini namanya penistaan terhadap hak asasi manusia.." Dengan langkah cepat setengah berlari Azkara naik ke atas menuju kamar kakaknya. Ia bisa menduga apa yang sedang di lakukan Haiden dan Aira. Justru saat - saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mengganggunya dan mendapatkan kembali kebebasannya.
Tok.. tok.. tok..!! "El buka pintu aku tahu kamu di dalam..!!!" teriak Azkara
Tok.. tok.. tok.. "Aku tidak akan berhenti sampai kau buka pintu..!!!"
Tok.. tok.. tok.. "Kakak ipar..! suruh suamimu keluar dulu..!!!" teriak Azkara lebih keras
Tiba - tiba pintu terbuka..
"Apa mau mu anak kecil..?" tanya Haiden geram.
Azkara tersenyum penuh kemenangan "Apa maksudmu menahanku..?"
"Aku tidak menahanmu Azka.. aku hanya ingin kau serius belajar.."
"Tidak dengan cara seperti ini.. suruh asisten pribadimu itu tidak bermuka seperti vampir.. kau tahu aku seperti di dalam ruangan bersama mayat hidup.."
"Itu demi kebaikanmu.. jangan membantah.."
"Oh.. kalau itu mau mu aku tidak mau menggantikan posisimu di perusahaan dan tidak akan ada waktu lagi kau bersama keluarga.."
"Oke.. oke.. apa maumu..? cepat katakan..! Aira menungguku di dalam.."
"Nah begitu kan enak.." Azkara tersenyum senang. "Aku akan belajar dan menggantikan posisimu selama cuti tapi aku tidak ingin pengekangan.. aku ingin belajar dengan suasana santai dan tidak menegangkan.. jadi suruh asistenmu yang seperti vampir itu tersenyum ramah dan menggunakan pakaian yang lebih santai.."
"Baiklah.. aku setuju.." jawab Haiden. "Noah..! Noah..!" panggilnya.
"Saya tuan.."
"Turuti apa kemauan nona Azkara.. perintahnya sama juga perintahku.. yang penting belajar sesuai aturan.. mengerti..!"
"Mengerti tuan.."
"Sudah puas..?"
"Terima kasih kakakku sayang.." ucap Azkara sambil memeluk Haiden. "Ingat hati - hati ketika menjenguk anakmu dalam perut kakak ipar.. jangan sampai dia ketakutan melihat milikmu yang terlalu besar itu.." bisik Aira. Ia berlari menghindar sebelum Haiden menjitak kepalanya.
"Kau dengar sendiri kan Noah.. perintahku adalah perintah kakakku.." ucap Azkara mengerlingkan matanya..
🌸🌸🌸🌸🌸