
"El.. kau sudah dengar.." tanya Azkara menghampiri Haiden.
"Soal apa Azka..?"
"Pabrik obat terlarang sudah di grebek oleh polisi.. dan kau tahu siapa pemiliknya..?"
"Siapa..?"
"Baskara om nya Aira.."
"Kau percaya akan hal itu.."
"Tentu saja.. bukankah mereka keluarga yang jahat.."
"Pikiranmu masih terlalu dangkal untuk memperkirakan suatu permasalahan.."
"Hei jangan menghina..!"
"Tidak.. aku tidak menghina.. kau baru saja terjun di dunia bisnis seperti ini.. pengalamanmu dalam menghadapi suatu permasalahan masih sangat kurang.."
"Maksudmu..?"
"Sekarang coba kau flashback ke belakang.. Baskara saja berhutang dan tidak membayar sepeser pun padaku.. kehidupan ekonominya morat marit bahkan kalau bukan karena Ivanka dekat dengan David aku yakin mereka akan jadi gelandangan.. bagaimana mungkin ia bisa membangun pabrik yang begitu besar.. apalagi pabrik obat terlarang.."
"Jadi maksudmu Baskara hanya sebagai kambing hitam..?"
"Betul.. tebakanmu.." puji Haiden sambil menyeruput teh mint hangat buatan istrinya.
"Kira - kira siapa dalang di balik ini semua..?"
"Kau masih tidak bisa menebaknya..?"
"Ayolah El.. jangan bermain teka teki denganku.. aku pusing.."
"Siapa penyokong dana terbesar di keluarga Baskara..? siapa yang sekarang mengambil alih perusahaan yang seharusnya milik Aira..?"
"David.." jawab Azkara cepat."Jadi David pelakunya..?" lanjutnya.
"Yah benar.. cuma bukti kepemilikan saham itu sudah mereka sembunyikan terlebih dahulu.. polisi hanya menemukan nama Baskara di sana.." ucap Haiden. "Tapi tenang saja aku akan segera mendapatkannya.."
"Wah.. wah.. kau benar - benar hebat kakakku.." puji Azkara senang.
"Sudah dari dulu.."
"Hmm.. sombong.."
"Belajarlah bisnis yang serius.." perintah Haiden.
"Buat apa toh sudah ada kamu.."
"Azka.. aku juga ingin istirahat sebentar.. yah mungkin satu tahun.. aku ingin menikmati waktu bersama keluarga kecilku tanpa beban pekerjaan.."
"Kau yakin aku mampu..?"
"Of course.. ada darah Lukashenko dalam tubuhmu.."
"Aku tidak percaya diri.."
"Ada Noah yang akan mengajarimu.."
"Pria dingin itu..?" cibir Azkara. "Bisa - bisa aku mati kaku.. kau lihat wajahnya tak berekspresi sekalipun.."
"Tapi dia pintar dan setia.." ucap Haiden. "Cobalah untuk mengenalnya.."
"Heh.. baiklah kakakku sayang.." balas Azkara. "Aku lakukan ini demi kamu.. aku harap aku segera mendapatkan keponakan yang banyak.."
"Terima kasih atas doa mu Azka.." ucap Haiden sambil membelai kepala Azkara.
"Ah sudahlah.. aku pergi dulu.."
"Mau kemana..?"
"Kakak ipar tidak mengatakannya padamu.."
"Dia belum ijin.."
Tiba - tiba dari arah belakang..
"Ini juga mau ijin sayang.." ucap Aira sambil mencium pipi suaminya. "Sebentar lagi Eda ulang tahun.. disini ia hanya memiliki kita.. jadi aku dan Azka ingin memberinya hadiah.."
"Kami cuma sebentar El.."
"Bawa bodyguard.." perintah Haiden
"Hei.. buat apa..? kau tidak percaya dengan kemampuan adikmu..?"
"Aku percaya.. tapi aku lebih percaya dengan bodyguardku.."
"Tapi El.. aku tidak leluasa.." bantah Azkara.
"Dengan bodyguard atau tidak keluar sama sekali.."
"Sudah Azka.. kita turuti saja kakakmu.." Aira menengahi. "Jika kita belanja agak banyak ada mereka yang membawanya.."
"Heh.. baiklah karena kakak ipar yang meminta.." ucap Azkara. "Ayo.."
"Sayang aku berangkat dulu.." Aira mencium sekilas bibir suaminya, tapi bukan Haiden namanya jika tidak meminta lebih.
"Hei bucin.. istrimu ini perginya cuma sebentar.." ucap Azkara yang melihat mereka berciuman. Kakaknya itu seperti tidak mau melepaskan Aira pergi.
"Hati - hati.." pesan Haiden seperti tidak rela istrinya pergi.
"Iya sayang.. aku cuma sebentar kok.."
Mereka berdua meninggalkan Haiden sendirian di ruang keluarga. Tak lama kemudian datang Noah dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Kita bicara saja di dalam.."
"Baik tuan.." ucap Noah sambil mengikuti langkah Haiden menuju ruang kerjanya.
"Informasi apa yang kau dapat..?"
Noah menyerahkan sebuah berkas pada Haiden. Haiden membuka berkas itu dan melihatnya satu persatu. Itu adalah hasil outopsi Kemal pamannya. "Polisi menemukan beberapa sidik jari di tangan tuan Kemal.."
"Milik siapa..?"
"Milik David.."
"Bagus.. kita bisa melihatnya di penjara sekarang.." ucap Haiden puas. "Bagaimana dengan kepemilikan saham pabrik obat terlarang..?"
"Pabrik itu milik Chiko Demitrius seorang pria berkebangsaan Kolombia.."
"Tunggu bagaimana bisa tuan Chiko menanam saham di pabrik obat terlarang jika ia tidak bekerja sama dengan orang Indonesia.."
"Itu benar tuan.."
"Selain bisnis obat terlarang cari informasi apakah ia pernah melakukan bisnis lain disini..? mungkin saja di atas namakan istri, anak atau saudaranya.."
"Saya masih belum mencari informasi kesana tuan.."
"Aku yakin dia pasti memiliki bisnis di Indonesia sebelum pabrik itu.. karena ia melihat peluangnya bagus di Indonesia maka ia berani membangun pabrik itu di sini.."
"Baik akan saya cari informasi itu tuan.." ucap Noah sambil membuka laptopnya. Dengan cekatan ia mengumpulkan data - data dan menyelidikinya satu persatu.
Tiba - tiba handphonenya berbunyi. Noah segera mengangkatnya. Dia melakukan pembicaraan yang singkat.
"Maaf tuan.. saya mendapat informasi dari rumah sakit kalau nyonya Olif sudah sadar.."
"Satu lagi berita bagus.. aku akan ke rumah sakit bersama ibu.. kau lanjutkan saja pekerjaanmu.. hari ini kau harus dapat informasi itu.."
"Baik tuan.."
🌸🌸🌸🌸🌸
Tak memakan waktu yang lama Haiden dan Harika tiba di rumah sakit. Mereka menuju ke ruang rawat inap Olif.
"Selamat siang dokter.."
"Oh keluarga nyonya Olif.. perkenalkan saya dokter yang merawat beliau.."
"Bagaimana keadaan adik saya dokter..?"
"Syukurlah nyonya Olif sudah melewati masa kritis.. saya harap ke depannya harus di perhatikan gizi makanannya.."
"Baik.. terima kasih dokter.. saya akan menemui adik saya.."
"Silahkan.. kalau begitu saya permisi.."
Harika dan Haiden mendatangi tempat tidur Olif.
"Kak.." sapa Olif lirih.
"Bagaimana kondisimu..?" tanya Harika sambil memegang tangan Olif.
"Aku tidak apa - apa kak.. terima kasih atas bantuannya.."
"Kita kan keluarga.. memang harus saling membantu.."
Hik.. hik.. hik.. Olif terisak menangis "Maafkan suamiku kak.."
"Sudahlah.. lupakan saja.. yang sudah terjadi biarlah terjadi.. biarkan Kemal tenang di sana.."
"Apa maksudmu Olif..?"
"Bibi Olif istirahat saja.. masih ada waktu untuk bercerita.." ucap Haiden.
"Tidak kak, Haiden.. aku harus bercerita biar aku tenang.."
"Baiklah.. aku dan El akan mendengarnya.."
Olif mengusap air matanya "Dua puluh tahun lalu suamiku telah melakukan kejahatan.. kejahatan yang tidak bisa di maafkan kak.."
"Kejahatan apa..?"
"Dia yang sudah membunuh suamimu.."
"Apa..?!" pekik Harika dan Haiden bersamaan.
"Dia yang menaruh racun di tubuh kakak ipar.. sehingga ia mati pelan - pelan.."
Haiden geram mendengar cerita Olif. Tangannya mengepal kuat, tubuhnya bergetar. Harika tahu apa yang di rasakan putranya itu. Ia segera menggenggam tangan Haiden. Ia berusaha tegar mendengar cerita itu tanpa mengeluarkan airmata.
"Ia juga melakukan pembunuhan berencana atas suami dan anak Eda.." cerita Olif sambil menangis sesenggukan.
"Kurang ajar..!!!" teriak Haiden. "Mengapa bibi Olif tidak menceritakan pada kami..?"
"Mma.. mmaaf Haiden.. bibi juga baru tahu waktu bibi di sekap di ruang bawah tanah.. dengan frustasi Kemal menceritakan semuanya padaku.. ia menganggap aku akan mati.. tapi syukurlah ada orang yang menemukanku.."
"Aku.. aku.. terus terang sangat kaget mendengar ceritamu Olif.." suara Harika bergetar.
"Satu lagi kak.. ternyata Ivanka itu adalah anak kandungnya.. Kemal membunuh Roberto karena ia yang membuat Ivanka terluka.."
"Ya tuhan aku tidak menyangka bahwa Kemal bisa berbuat senekad itu.."
"Kenekatannya semakin menjadi setelah ia berbisnis dengan David.."
"Dengan David..?" tanya Haiden untuk meyakinkan apa yang dikatakan Olif.
"Iya.. David musuhmu dalam bisnis.."
"Bisnis apa yang mereka jalankan bi..?"
Uhuk..uhuk..uhuk.. Olif terbatuk. Harika segera mengambilkan minuman untuknya. "Terima kasih kak.."
"Haiden kita biarkan bibimu ini istirahat dulu.."
"Tidak kak.. aku tidak apa - apa.." ucapnya. "Aku akan menceritakan semua yang aku tahu.."
"Baiklah.." ucap Harika sambil kembali meletakkan kembali air mineral di atas nakas.
"Pamanmu memiliki berbagai macam bisnis dengan David. Minuman keras, pembangunan resort dan beberapa swalayan.."
"Pembangunan resort..? dimana itu bi..?"
"Di Bali.."
"Apa bibi tahu nama perusahaan yang bergabung dengannya..?"
"Bibi kurang tahu.. kau bisa mencarinya di brankas di ruang kerja pamanmu.."
"Baiklah.. aku akan menyuruh Noah kesana.."
Dengan segera Haiden menelepon Noah untuk memeriksanya.
"Olif.. terus terang aku merasa sedih karena gagal menyatukan keluarga Lukashenko seperti pesan yang disampaikan suamiku sebelum meninggal.. ia sebenarnya tahu bahwa ada suatu jarak antar dirinya dan Kemal.." ucap Harika. "Tapi apa daya semuanya telah terjadi.. mudah - mudahan tuhan mengampuni semua dosa Kemal.."
"Iya kak.. aku minta maaf karena gagal mendampingi Kemal menjadi seorang suami dan adik yang baik.."
"Istirahatlah.. kau harus fokus pada kesehatanmu.. besok aku akan kembali bersama Azka.."
"Terima kasih kak.."
"Bibi Olif kami permisi dulu.." pamit Haiden.
Mereka berdua keluar dari kamar Olif. Dua orang bodyguard masih berjaga di sana.
Drrtt.. drrtt.. handphone Haiden berdering.
"Ibu.. duduklah sebentar disini, aku terima telepon terlebih dahulu.."
"Baiklah.." balas Harika.
"Halo.. ada apa Noah..?"
"Sudah saya temukan tuan.. tuan David dan tuan Kemal memang melakukan kerja sama sebelumnya dengan tuan Chiko dalam pembangunan lapangan golf dan Resort mewah di Bali.."
"Perusahaan itu atas nama tuan Chiko sendiri..?"
"Bukan tuan.. atas nama istri tuan Chiko.."
"Aku yakin David pemilik pabrik itu.. minta kepada polisi surat penggeledahan di rumah David.."
"Baik tuan.."
Panggilan terputus. Tidak lama lagi kau akan merasakan dinginnya jeruji besi David, kita lihat saja nanti batin Haiden.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Bagaimana kakak ipar.. kalung ini bagus kan..?"
"Hmm bagus.. sangat cocok dengan Eda.. aku yakin ia pasti suka.."
"Baiklah kita ambil yang ini.." ucap Azkara pada salah satu pelayan.
Setelah selesai melakukan transaksi mereka segera keluar dari toko..
"Azka kita beli syal sebentar buat ibu ya.."
"Boleh.. ayo kita kesana.."
"Maaf nyonya.. tuan menyuruh anda pulang.."
"El..? kenapa tidak meneleponku..?" Aira keheranan. Ia segera memeriksa handphone di dalam tasnya. "Yah aku tidak dengar dia meneleponku.. dia pasti cemas.. kita pulang saja.."
"Baiklah.." ucap Azkara kecewa. "Kenapa kau takut dengan suamimu sih.."
"Bukan takut Azka.. aku hanya berusaha untuk menjadi istri yang baik.. yang penurut.. dan terus terang saja aku malas bertengkar.."
"Oke.. oke.. ayo kita pulang.." ucap Azkara sambil menggandeng tangan Aira.
Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir diikuti oleh bodyguard. Akan tetapi belum sampai mereka masuk mobil tiba - tiba.. dor..! dor..! dua bodyguard tertembak.
Ada empat orang pria bertopeng menodongkan senjata pada Aira dan Azkara.
"Siapa kalian..!" teriak Azkara.
"Diam..!" teriak salah seorang pria itu. Sepertinya ia pemimpin dari komplotan itu. "Bawa mereka ke dalam mobil.." perintahnya kemudian.
Satu orang berlari membuka pintu mobil van warna hitam dan dua orang lagi membawa Aira dan Azkara dengan tangan terikat di belakang.
"Lepaskan..! lepaskan..! kalian tidak tahu siapa kami..!"
"Kami tidak peduli nona.. yang penting dengan menyerahkan kalian kami akan mendapatkan uang yang sangat banyak.."
Aira dan Azkara terus meronta - ronta hingga membuat dua orang pria itu kewalahan. Karena sudah tidak bisa di kendalikan lagi dua pria itu memukul kepala Aira dan Azkara hingga pingsan.
Mereka kemudian memasukkannya kedalam mobil van warna hitam dan segera meninggalkan tempat parkir.
Salah seorang bodyguard bergerak sepertinya ia belum mati tertembak. Ia sempat melihat mobil van yang membawa majikannya pergi. Dengan gerakan pelan ia berusaha menghubungi Noah.
"Apa..! mereka di culik.."
"Benar Noah.."
"Siapa mereka..?"
"Aa..ku kurang ttta.. hu.. tta..tapi aku sempat melihat mmo..mmobilnya.."
"Cepat katakan.."
"Mobil vvvan warna hhi..hhitam dengan nomor ppolissi B 8756 KJ.." jawabnya terbata - bata. Dan tiba - tiba hening tanpa suara.
"Halo..! halo..! halo..!" teriak Noah berkali - kali.
Mobil Haiden telah sampai kembali dari rumah sakit. Haiden dan Harika turun. Dengan cepat Noah segera melaporkan.
"Maafkan saya tuan.."
"Ada apa Noah..?"
"Nyonya Aira dan nona Azkara di culik.."
"Apa..?!" pekik Haiden dan Harika bersamaan. Harika yang hari ini banyak sekali mendapat kejutan akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Eda..! Eda..! panggilkan dokter cepat.."
"Baik tuan.."
Setelah memastikan ibunya mendapatkan perawatan. Haiden segera beraksi mencari keberadaan istri dan adiknya.
🌸🌸🌸🌸🌸