
Aneh.. kenapa seperti ada bau parfum milik tuan.. Apa karena sering berada di kamar tuan jadi aromanya sering menempel di tubuhku pikir Aira. Ah masa bodoh..
Ia segera bangun dari tempat tidurnya dan mandi.
Tok..tok..tok.. "Abi.."
"Iya sebentar.."
"Abi.."
"Iya.. iya sebentar bu Eda.. aku baru mandi.."
Aira bergegas memakai rambut palsu. Setelah dirasa penampilannya sudah beres ia segera membuka pintu.
"Ada apa bu..?"
"Semalam Noah memberitahuku, hari ini tuan akan kunjungan proyek di Surabaya.. rencananya kau juga ikut.."
"Jam berapa berangkatnya bu..?"
"Pesawatnya nanti siang.."
"Naik pesawat..?"
"Iya.. kenapa..?"
"Heh.. aku masih takut kalau pesawat take off.."
"Tenang saja nanti kamu akan terbiasa.. bersiaplah.. untuk bersih - bersih ruangan tuan biar aku saja.."
"Baiklah kalau begitu.. aku akan bersiap.. terima kasih bantuanya bu Eda.."
Aira segera mempersiapkan koper untuk pakaiannya. Ia membawa beberapa baju, rambut palsu dan baju tidur perempuan. Ia tidak bisa tidur nyenyak jika tidak mengenakan itu. Setelah dirasa semua nya siap ia segera menuju kamar Haiden untuk membangunkannya.
"Abi kau sudah tahu kalau hari ini aku ada kunjungan kerja ke Surabaya..?"
"Tahu tuan, tadi pagi bu Eda sudah memberitahu saya.."
"Hari ini aku tidak ke kantor.. aku ingin berkuda sebentar.. sudah lama aku tidak bertemu dengan Black.."
"Baik tuan saya akan menemui Jamal.."
"Tidak.. Jamal sudah tidak bekerja lagi.. temui saja Abdul dia sekarang yang mengurus Black.."
"Jamal sudah berhenti.. kenapa tuan..?"
"Ia pulang kampung.. menikah mungkin.."
"Oh baiklah kalau begitu saya akan menemui Abdul.." ucap Aira. "Pakaian tuan sudah selesai dikemas..?"
"Sudah aku kemas sendiri semalam.."
"Baik tuan.. saya pamit.."
Haiden menganggukan kepala.
Aneh kenapa tiba - tiba Jamal pulang kampung.. Apa benar ia mau menikah.. kenapa bu Eda tidak cerita kepadaku.. Ah banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab di benakku pikir Aira.
☘☘☘☘☘
Haiden bermain - main dengan Black cukup lama hingga Harika menyusul putra kesayangannya itu. Ia melihat Aira yang sedang memandangi Haiden dengan tatapan kagum. Harika tersenyum tipis dan berdiri di sebelah Aira.
"Hah.. anakku itu sangat tampan.. bukankah begitu Abi..?"
"Eh nyonya.. iiyya betul nyonya.."
"Kalau dia sudah bermain dengan Black selalu lupa waktu.."
"Iya nyonya.. atau mungkin nyonya ingin sarapan di sini..?"
"Oh.. ide yang bagus Abi.. lakukan saja.."
"Baik nyonya saya permisi.."
Aira meninggalkan Harika sendiri untuk bertemu Mustofa dan Eda. Mengatakan pada mereka jika Harika ingin sarapan di luar. Dengan segera beberapa pelayan mengatur meja dan hidangan di sana.
"Nyonya sarapannya sudah siap.."
"Tolong kamu panggil putraku.."
"Baik nyonya.."
Aira dengan setengah berlari menghampiri Haiden yang masih asyik menunggang Black.
"Tuan.. tuan El..!" panggilnya
"Kenapa..?"
"Nyonya menunggu anda untuk sarapan.. itu di sana.." tunjuk Aira.
Haiden melihat Harika duduk di sana dengan hidangan sarapan. Haiden melambaikan tangan ke ibu yang sangat di sayanginya.
"Hmm.. aku baru sebentar bermain dengan Black tapi kau sudah menggangguku.."
"Maaf tuan tapi tadi nyonya.."
"Oh.. kau menyalahkan ibuku dalam hal ini.."
"Bbukkan itu maksud saya.."
"Kalau begitu kau harus terima hukumannya.."
Yah dihukum.. kenapa sih tuan sekarang sering sekali menghukumku.. mudah - mudahan tidak stempel keakraban.. kalau begini terus bisa kecanduan aku.. habis bibir tuan manis sekali batin Aira sambil tersenyum malu.. wajahnya memerah..
"Hei.. kenapa melamun di situ.. sini..!" panggil Haiden.
"Bbbaik tuan.."
"Kenapa wajahmu merah..? melamun hal - hal kotor ya..?"
"Bbbukan tuan.. bbbukan.." jawab Aira gugup.
"Pasti benar.. nyatanya kamu gugup.."
"Tidak tuan.. benar saya tidak mikir hal yang jorok.."
"Ya sudah.. ayo naik.."
"Naik kemana tuan..?"
"Ke pohon.." jawab Haiden. Aira kaget mendengarnya. "Dasar bodoh..! naik kesini.." tunjuk Haiden ke punggung Black.
"Takut tuan.."
"Dulu kan sudah pernah.. jangan jadi penakut.."
"Tuan tidak turun.."
"Yakin berani naik sendiri.. oke kalau kamu berani aku turun.."
"Jangan.. jangan tuan saya takut.."
"Dasar lemah.. penakut.." ucap Haiden
"Saya duduk di mana tuan..?"
"Di depanku.."
Dengan ragu - ragu Aira naik ke atas punggung Black dibantu oleh Haiden.
"Siap.."
"Siap apa tuan..?"
"Siap lari.." ucap Haiden sambil memacu Black agar berlari.
"Aaaacchhh..!" teriak Aira. "Jangan cepat - cepat tuan nanti jatuh.."
"Hahahhah.. lebih cepat lagi Black.. hiya.. hiya.. hiya.." ucap Haiden sambil memacu lagi agar Black berlari cepat.
"Tuan.. stop.. stop.. saya benar - benar takut.." teriak Aira sambil mencengkeram tangan Haiden.
"Oke..oke.." ucap Haiden sambil menarik tali kekang agar Black berhenti berlari. "Hahahhah.. dasar penakut.. lihatlah wajah kamu yang pucat itu.."
Aira hanya diam menenangkan jantungnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Napasnya terengah - engah.
"Ayo turun.."
"Kaki saya gemetar tuan.."
"Sini aku bantu.."
Dengan bantuan Haiden akhirnya Aira bisa turun. Ia langsung duduk di atas rumput karena masih lemas.
"Pagi bu.. maaf menunggu.."
"Apa yang kamu lakukan El..? jangan menggodanya terus.."
"Ah.. itu karena dia terlalu penakut.." ucapnya sambil menyeruput teh hangat.
"Nanti kau jadi ke Surabaya..?"
"Iya hanya dua hari saja.. ibu mau ikut..?"
"Tidak.. aku baru malas bepergian.. sudahkah kau mendapat pengganti Bella.."
"Hari ini akan datang.. nanti biar Eda yang mengurusnya.."
"Terima kasih El.." Haiden hanya tersenyum dan memulai sarapan pagi dengan Harika.
Setelah itu ia bergegas untuk persiapan pergi ke Surabaya.
☘☘☘☘☘
"Abi.. ini kunci kamar kamu.."
"Terima kasih Noah.." ucap Aira lega karena ia mendapat kamar sendiri. Tentu saja hal itu membuatnya leluasa ketika di dalam kamar. Tidak seperti ketika mereka berkemah di Maldives.
"Kamar tuan di mana..?"
"Bersebelahan dengan kamarmu.."
"Oh.."
Mereka bertiga naik ke lantai tujuh belas.
"Noah.. sudah kau beri tahu Abi tentang semua jadwalku disini.."
"Sudah tuan.."
"Ingat Abi jangan sampai terlambat.. aku tidak suka orang yang tidak disiplin.."
"Baik tuan.."
Akhirnya mereka sampai di lantai tujuh belas. Kamar paling besar adalah milik Haiden. Setelah memastikan tuannya masuk ke dalam kamar, Aira segera masuk ke dalam kamarnya..
"Wow..!" teriaknya.. Bagus banget. Aku nanti akan menelepon Eka dan Nayla dengan bebas tanpa gangguan siapa pun. Aira langsung melompat ke tempat tidurnya. "Hmm.. empuknya.. lembut banget..". Setelah berguling - guling sebentar merasakan betapa nyaman tempat tidurnya, Aira segera menuju ke kamar mandi. Lagi - lagi ia berteriak "Aaacchhh.. aku bisa berendam lama disini.. yesss..!"
Ting..tong..
"Aduh siapa sih.. mengganggu kesenanganku saja.." gerutu Aira sambil menuju ke depan dan membuka pintu.
"Ada apa Noah..?"
"Sudah kau baca jadwal tuan..?"
"Belum semuanya.."
"Ada perubahan.. nanti malam tuan ada perjamuan makan malam dengan pengusaha dari Jepang namanya tuan Hiroshi.. kamu bersiap jam tujuh malam jangan sampai terlambat.."
"Baik.. untuk besok pagi apa juga ada perubahan..?"
"Tidak ada setelah sarapan tuan akan golf dengan tuan Hiroshi sambil meninjau pembangunan hotel and resort.."
"Baiklah kalau begitu.."
"Ingat jangan sampai terlambat.."
"Iya.. iya.."
Setelah menyampaikan serangkaian perubahan jadwal Haiden, Noah meninggalkan kamar Aira. Sambil menghela nafas panjang "Yah gagal semua rencanaku.."
☘☘☘☘☘
Malam ini Haiden makan malam dengan tuan Hiroshi. Dia adalah pemilik Hotel di mana mereka menginap. Rencananya mereka akan melakukan kerja sama pembangunan Hotel and Resort serta lapangan golf.
Tamu yang datang tidak begitu banyak hanya kolega terdekat dan beberapa direksi. Tapi perjamuan makan malam ini sangat mewah dan berkelas.
"Tuan El.. untuk chocolate mousse cake ada kandungan kacangnya untuk hidangan yang lainnya aman8.."
"Terima kasih Abi sudah mengingatkan.."
"Sama - sama tuan.." ucap Abi tersenyum senang atas kinerjanya.
Haiden kemudian bergabung bersama tuan Hiroshi dan koleganya. Noah selalu siaga di belakang Haiden.
Wah hidangannya semuanya enak - enak. Aku bersyukur bisa menikmatinya. Aku akan cerita nanti ke Eka dan Nayla pasti mereka iri padaku batin Aira.
"Mau minum tuan.." seorang pelayan menawarkan minuman ke Aira.
"Apa ini..?"
"Sampanye.."
"Hmm.. tidak - tidak.." tolak Aira. Ia melihat - lihat lagi kemudian memutuskan mengambil jus jeruk nipis. "Yang ini saja.." ia pelan - pelan meminum jus itu hingga habis.. rasanya aneh tapi segar batin Aira. Ia mengambil lagi sambil mengawasi tuannya dari kejauhan.
Selang beberapa waktu.. Aduh kenapa kepalaku pusing ya.. hah kenapa tuan jadi ada dua batin Aira. Tampak Haiden bersalaman dengan Hiroshi tanda acara makan malam telah selesai.
"Abi ayo kembali ke kamar.."
"Bbaik tuan.." jawab Aira sambil melangkah mengikuti tuannya. Tapi apa yang terjadi dia malah sempoyongan dan hampir terjatuh.
"Kamu kenapa..?"
"Tidak tahu tuan.. kepala saya pusing.. dan lihat itu jalannya bergelombang.. hehehehhh.. dan anehnya lagi kenapa tuan jadi ada dua.."
"Kamu habis minum.. kamu ini mabuk.."
"Oh tidak mungkin tuan.. saya.. saya.. cuma minum jus jeruk nipis.. hehehehhh.. tiga gelas.. keren kan.." ucap Aira yang sudah mulai kehilangan kesadaran.
Dia pasti habis minum Margarita. Heheheh lucu dia tidak menyadari yang dia minum itu kandungan alkoholnya cukup tinggi batin Haiden sambil tersenyum.
"Ayo kita keluar dari sini.." Haiden menggandengnya agar tidak jatuh tapi begitu sampai di depan pintu lift tiba - tiba Aira melompat ke tubuh Haiden.
"Hei apa yang kamu lakukan..?"
"Saya hampir jatuh tuan.. untung ada pohon besar.."
"Sial dia menganggapku pohon.." ucap Haiden.
Noah hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tuannya itu. Karena ia tahu sebenarnya tuannya itu gemas dengan tingkah Aira. Akhirnya mereka sampai di kamar.
"Noah kau istirahatlah.. kegiatan kita besok sangat padat.. persiapkan semuanya.."
"Baik tuan.. saya permisi.."
Noah meninggalkan mereka berdua. Aira masih tetap dalam gendongan Haiden. Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamar Aira dan meletakkannya di sofa.
"Hei tunggu pohon.. kenapa kau mau pergi..?" rengek Aira.
"Untung kamu tidak sadarkan diri.. kalau tidak aku pastikan kamu terima hukumannya...tidak ada pelayan yang selancang ini denganku.." gumam Haiden
"Pohon.. pohon.. pohon..!" teriaknya. Mau tidak mau membuat Haiden mendekat. "Kamu itu seperti tuanku.." lanjut Aira
"Tuanmu siapa..?"
"Tuan El tentu saja.. heheheh.."
Haiden tersenyum melihat tingkah Aira yang mirip anak kecil sangat menggemaskan.
"Pohon.. karena kau sudah menjagaku seperti tuan El.. maka aku akan memberimu hadiah.." ucap Aira. Tiba - tiba ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Haiden dan menariknya mendekat ke wajahnya. "Muuach.. muuach.. muuach.. stempel keakraban.." ia mencium bibir Haiden berkali - kali.
Haiden memandang tajam ingin rasanya ia ******* bibir Aira. Tapi ia tahan karena ia tidak mau dikira memanfaatkan kondisi orang. Ia ingin melakukan atas dasar suka sama suka.
"Ssstt.. jangan bilang tuan El ya kamu sudah mendapat stempel keakraban dariku.." ucap Aira dan setelah itu tertidur tak sadarkan diri.
"Aku maafkan.. tapi jika itu pria lain kau akan tahu akibatnya.. istirahatlah.." ucap Haiden sambil menyelimuti tubuh Aira kemudian meninggalkannya sendiri menuju kamarnya.
☘☘☘☘☘
Ting.. tong.. ting.. tong
"Aduh siapa sih yang mengganggu..!" gerutu Aira. Mana kepala ku berat dan pusing lagi batinnya. Dengan malas ia berjalan pelan menuju pintu.
Ting.. tong.. ting.. tong
"Iya.. iya sebentar.." teriaknya kesal sambil membuka pintu.
"Siapa kamu..?! kenapa kamu bisa di kamar Abi..?!"
Kenapa tuan bertanya siapa aku. Deg.. deg.. Aira memegang rambutnya yang terurai panjang. Kemudian melihat dirinya sendiri yang hanya memakai kemeja panjang. Ya tuhan apa yang harus aku katakan.. Ayo cepat berpikir Aira. Wajah Aira sudah pucat pasi. Keringat dingin sudah muncul di dahinya.
"Hmm.. saya kekasihnya Abi.." ucapnya
☘☘☘☘☘