
"Saya tidak berbohong tuan.. saya tidak berani.. saya cuma menatanya saja karena bosan dan tidak melakukan apa - apa sementara tuan tidur.."
Haiden menatap tajam ke dalam mata Aira "Oke.. aku terima alasanmu tapi aku tidak mudah percaya seratus persen dengan apa yang kau katakan.. karena instingku berkata lain.." ucap Haiden dengan nada penuh penekanan. "Aku tunggu penjelasanmu..!"
Aira menghela napas panjang "Se..se..sebenarnya saya menyukai aroma parfum di baju tuan.. aroma itu membuat saya tenang.. itu sebabnya saya mengambil satu kemeja tuan.. maafkan saya jika lancang.." jelas Aira. Ia berusaha mengambil hati tuannya agar apa yang terjadi di malam itu tidak terbongkar.
Haiden tersenyum, matanya yang menyala berubah menjadi teduh. "Benarkah kau menyukai aromaku..?"
"Bukan aroma tuan tapi parfum tuan.." Aira menegaskan kembali.
"Menurutku itu sama saja.." ucap Haiden. Ia tiba - tiba menarik Aira hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka. "Jika kau suka aromaku.. aku mengijinkan kau dekat denganku.."
Tubuh Aira langsung bergetar, ia teringat kejadian malam itu. Keringat dingin mulai keluar "Ma..ma..maaf tuan.." ucapnya sambil mendorong tubuh Haiden. "Ini tidak pantas jika dilihat orang lain.." lanjutnya. Aira memalingkan muka karena tidak sanggup bila harus dekat dengan tuannya.
"Hei.. kau takut padaku..? kenapa..?"
"Sssaya merasa ini tidak pantas saja tuan.. maaf.."
"Yah terserah kamu.." ucap Haiden kesal. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Aira dan pergi ke kamar mandi.
Aira bernapas dengan lega. Seperti lepas dari himpitan sebuah batu besar. Ia berpikir kembali, bagaimana kelanjutan hidupnya dirumah keluarga Lukashenko bila seperti ini terus.
"Aira.." panggil Haiden
"Ya tuan.." Aira bergegas keluar dari walk on closet menghampiri tuannya.
"Ambilkan pakaianku.."
"Tuan mau pergi..?"
"Ya.."
"Oh baik tuan.." Aira menyiapkan segala perlengkapan Haiden.
"Kau juga sekalian ganti baju.."
"Saya tuan..?"
"Iya kamu juga ikut.."
"Oh baik tuan saya permisi.." Aira keluar dari kamar Haiden.
☘☘☘☘☘
"Jalan.." perintah Haiden.
"Baik tuan.." ucap Tama.
Selama perjalanan Aira hanya melihat keluar jendela. Kebetulan diluar hujan suasana di dalam mobil dingin. Ia segera mengecilkan AC, mengambil selimut dan memberikan ke Haiden.
"Kamu saja yang pakai.." tolak Haiden.
"Tapi tuan masih sedikit demam.."
"Aku pakai jas Aira.."
"Oh.. baiklah kalau begitu.. terima kasih tuan.." Aira segera memakai selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Tubuhnya dingin sedingin suasana hatinya saat ini. Tiba - tiba saja Haiden meletakkan kepalanya di pangkuan Aira.
"Lama - lama aku juga kedinginan.." ucap Haiden cuek. Mereka berdua berselimut bersama.
Tak lama kemudian Haiden tampak tertidur pulas di pangkuan Aira.
Kalau tidur begini kamu sangat tampan tuan, tidak seperti malam itu. Kamu terlihat sangat liar batin Aira. Tangannya membelai kening Haiden memastikan suhu tubuhnya. Ah sudah tidak demam lagi.
Aira membetulkan letak selimut sehingga bisa menutupi tubuh Haiden.
"Kita mau kemana Noah..?"
"Ke kantor polisi.."
"Untuk apa..?"
"Nanti kamu juga tahu.. maaf aku tidak menjelaskan tanpa ijin tuan.."
"Baiklah.. aku akan menunggu tuan bangun.."
Aira menepuk - nepuk bahu Haiden agar tidurnya bertambah nyenyak.
Tak lama kemudian mereka sampai di kantor polisi.
"Tuan.. bangun kita sudah sampai.."
"Oaheemm.." Haiden menguap pelan. "Ayo kita turun.."
Noah membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya keluar.
Dalam hati Aira bertanya - tanya untuk apa ia harus ikut ke kantor polisi.
"Selamat sore tuan.." sambut seorang laki - laki paruh baya dengan menggunakan seragam coklat.
"Selamat sore AKP Sutanto.."
"Ah.. jangan terlalu formal tuan Haiden.. panggil saya Sutanto saja.."
"Saya rasa pak Sutanto akan menjadi panggilan yang lebih sopan.."
"Baiklah.. baiklah.." ucap Sutanto. "Silahkan duduk tuan.."
"Bagaimana apa dia sudah di tangkap..?"
"Sudah tuan, kami menaruhnya di sel sampai menunggu berkas selesai selanjutnya akan kami pindahkan.. apa tuan ingin bertemu..?"
"Ya.. aku rasa Aira pasti ingin berbincang sebentar dengannya.."
Aira kaget.. kenapa namaku di sebut.. siapa yang harus aku temui batinnya.
"Baik.. tuan dan mbak Aira bisa bertemu dengan tersangka di ruang interogasi.. silahkan.."
Haiden berdiri "Ayo.." ajaknya.
"Saya tuan..?"
"Iya.."
"Tapi untuk apa..?"
"Nanti kau akan tahu setelah masuk ke dalam.."
Aira akhirnya mengikuti langkah tuannya menuju ruang interogasi. Tampak di sana seorang laki - laki bertubuh besar dengan wajah blesteran Italia duduk dengan tangan di borgol.
Aira membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia sangat mengenal pria itu bahkan selalu hadir di mimpinya ketika ia dulu koma setelah kecelakaan yang menimpa keluarganya.
Dengan langkah cepat bahkan setengah berlari Aira menghampiri laki - laki itu "Kenapa kau menabrak mobil kami..?! kenapa kau mencelakai kami..?! kenapa..!!!" teriak Aira sambil mencengkeram kerah baju laki - laki itu. "Jawab..!!! kenapa..?!" Aira mengguncang - guncang tubuh Roberto. Aira menangis dan berteriak histeris. Ia mengingat kembali kejadian yang membawa trauma di kehidupannya selama bertahun - tahun.
"Kenapa diam..!!! ayo jawab..!!!" teriak Aira lagi.
"Aira.. Aira tenangkan dirimu.." Haiden memegangi Aira agar tidak lepas kendali. "Aira.. tenang ini kantor polisi.."
"Bagaimana saya bisa tenang dihadapan pembunuh seperti dia tuan..!!! dia yang mengambil semua kebahagian saya..! membuat hidup saya menderita..!"
"Aku tahu.. aku tahu.." ucap Haiden memeluk tubub Aira. "Aku tahu.. aku tahu.. tenangkan dirimu oke.. ada aku disini.."
Aira menangis sejadi - jadinya dalam pelukan Haiden. Saat ini hatinya diliputi kebingungan antara senang, sedih dan sedikit dendam.
Aira duduk berhadapan dengan Roberto. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya. "Kenapa kau melakukan itu..? kenapa harus kami yang kau celakai..?" tanya Aira dengan mulut bergetar.
"Aku tidak menyukai keluargamu nona.."
"Hanya itu..? apakah hanya karena tidak suka lantas kau bisa seenaknya menghilangkan nyawa orang..? kau tahu betapa menderitanya aku setelah orang tuaku meningal..?"
"Ya hanya itu.." jawab Roberto singkat.
"Kenapa kau tidak suka dengan keluarga kami..?"
"Ayahmu pernah menolakku bekerja, di saat aku benar - benar membutuhkan uang.. kau tidak akan tahu bagaimana rasanya kekurangan uang.."
"Apa..! kau pikir setelah orang tuaku meninggal aku tidak kekurangan uang.. saat itu aku berada di titik terendah hingga mau bunuh diri.. tapi itu tidak menyelesaikan masalah dan akhirnya aku bangkit.. jangan kau kira aku tidak merasa kesusahan saat itu.."
"Apa kau disuruh oleh seseorang..?" tanya Haiden.
"Tidak tuan.. saya bergerak sesuai keinginan saya sendiri.. tidak ada orang lain yang terlibat dalam kecelakaan itu.."
Haiden diam sambil mencerna kata - kata Roberto. Ia hanya merasa janggal dengan kasus ini.
"Apa kau menyesal dengan apa yang telah kau lakukan..?" tanya Aira.
"Sama sekali tidak nona.."
Mata Aira berkaca - kaca mendengarnya, kemudian ia berkata dengan mulut bergetar dan mencoba untuk kuat "Awalnya aku akan memaafkanmu atas apa yang kau lakukan pada keluargaku.. aku berusaha menerima apa yang telah terjadi karena segala sesuatu sudah ada yang mengatur.. tapi mendengar kau tidak ada penyesalan sama sekali sungguh sangat di sayangkan.. biarlah kau berada di penjara dan aku yakin karma yang akan berbicara.." Aira berdiri dan meninggalkan Roberto.
"Hahahahh..!!! aku tidak percaya dengan karma nona.. hahahahhh...!" teriak Roberto sambil tertawa terbahak - bahak.
Haiden mengikuti Aira dari belakang, ia segera menghindar dari Roberto karena tidak ingin emosinya memuncak dan mengeluarkan senjata yang ada di balik jasnya. Ia tahu ini di kantor polisi biarlah hukum yang berjalan sesuai dengan aturan.
"Noah.."
"Ya tuan.."
"Kamu yakin tidak ada orang lain di belakang Roberto..?"
"Semua bersih tuan.. bukti semua mengarah pada Roberto.."
"Apa mungkin Kemal terlibat dalam kasus ini.."
"Sulit untuk mengetahuinya tuan.. karena antara tuan Kemal dan ayah Aira sama sekali tidak saling mengenal..
"Baiklah.. pastikan dia membusuk di penjara dan buat dia merasakan apa itu neraka dunia..!"
"Baik tuan.."
☘☘☘☘☘
Selama perjalanan pulang Aira hanya terdiam di mobil. Haiden mengerti apa yang dirasakan oleh Aira karena ia dulu juga pernah merasakan kehilangan sosok ayah yang selalu ia banggakan. Tapi dengan beriringnya waktu ia bisa menerima itu semua dan ia yakin Aira juga bisa.
Hari sudah menjelang malam, matahari sudah tidur diperaduannya.
"Ayo turun.." perintah Haiden
"Loh.. ini dimana..? ini rumah siapa..?"
"Nanti kau akan tahu.."
Aira keluar dari mobil. Tampak sebuah villa besar yang sangat asri. Villa yang di dominasi dengan kayu dan kaca ini menggambarkan kehangatan.
"Ayo masuk.."
"Villa ini milik siapa tuan..?"
"Jangan banyak tanya.."
Aira terdiam, ia mengikuti tuannya dari belakang.
"Apa aku juga yang harus membuka pintu untukmu..?"
"Oh maaf tuan.. ini karena saya terkesima melihat villa yang asri ini.." jawab Aira. Ia segera membuka pintu dan...
"Surprise...!!!" teriak orang - orang yang ada di dalam. Ini membuat Aira benar - benar terkejut.
Harika, Azkara, Eda, Sumi dan Mustofa semua ada disana.
"Ke.. kenapa semua ada disini..?" Aira tampak kebingungan.
"Selamat ulang tahun Aira.." ucap semua bersamaan. Aira yang mendengarnya menitikkan air mata. Setelah sepuluh tahun baru kali ini ada orang yang mengingat hari kelahirannya selain dua sahabatnya.
"Terima kasih nyonya, nona dan semuanya.." ucap Aira dengan suara bergetar.
Harika dan Azkara memeluknya "Jangan menangis Aira.. ini adalah hari bahagiamu.." ucap Harika.
"Oya jangan berterima kasih pada kami.. tuh kamu juga harus berterima kasih pada bayi besarmu.." ucap Azkara sambil menunjuk Haiden.
"Terima kasih tuan.." senyum kebahagiaan terpancar di wajah Aira.
"Selamat ulang tahun Aira.."
"Terima kasih bu Eda, bik Sumi.."
"Dan ini request dari tuan.. kue ulang tahun dari permen kapas.." ucap Mustofa.
"Wow.. ini cantik sekali.." puji Aira.
"Sudah - sudah.. ayo sekarang tiup lilinnya dan buat permohonan doa yang baik untukmu.." perintah Harika.
Aira menutup matanya kemudian segera meniup lilinnya.
"Eh siapa yang akan kau beri suapan pertama..?" teriak Azkara.
"Hmmm.. tentu saja tuan El.. banyak sekali kebahagian yang saya dapat hari ini.." ucap Aira sambil memberi Haiden permen kapas.
Semuanya tampak bahagia menikmati keindahan villa milik Azkara yang memang di buat Haiden sebagai hadiah.
Aira berjalan menuju balkon. Ia melihat pemandangan, menikmati udara malam yang dingin dan tentu saja permen kapas.
"Suka..?" tiba - tiba dari arah belakang haiden muncul.
"Eh tuan.. ya tentu saja saya suka.." jawab Aira. "Terima kasih tuan.. hari ini sudah memberikan saya banyak kejutan.."
"Kamu pantas mendapatkannya.."
"Bagaimana tuan bisa menangkap Roberto..?"
"Itu hal yang mudah untukku Aira.." ucap Haiden sedikit menyombongkan diri. "Jika kau menemui kesulitan katakan saja padaku.."
"Saya senang akhirnya orang yang mencelakakan orang tua saya tertangkap.."
"Hmm.. hadiah apa yang kau berikan padaku..?"
"Ha..ha..hadiah..? bukankah hari ini saya berulang tahun.. seharusnya saya yang mendapat hadiah.." protes Aira.
"Oke.. if that's what you want.. i will give you a gift.." dengan tiba - tiba dan tak terduga Haiden mencium bibir Aira. "Stempel keakraban.. kamu senang dengan hadiahku..?"
"Hah.. iiyyaa tuan.." jawab Aira sambil memalingkan muka.
Terima kasih tuan El karena sudah menangkap pembunuh kedua orang tuaku.. sudah membuat pesta kejutan di hari ulang tahunku.. memberikan kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga.. Aku akan berusaha melupakan apa yang terjadi di malam itu karena aku tahu itu bukan keinginanmu menyakitiku.. aku harap ini setimpal.. biarlah rahasia ini tertutup rapat dan tersimpan rapi sampai aku bawa mati.. dan aku berdoa kau selalu di kelilingi oleh kebahagiaan tuan El..
☘☘☘☘☘