
"Apa yang telah kamu lakukan pa..?" tanya Nungki dengan nada emosi.
"Aku.. aku kalah berjudi lagi.."
"Ya tuhan.. aku sudah muak dengan tingkahmu itu.."
"Jangan berkata seperti itu..! kamu istriku..!"
"Aku tidak peduli..! sudah banyak yang kukorbankan untukmu..!"
"Tidak..! kau harus tetap membantuku.."
"Aku muak dengan segala masalahmu..! terus terang aku malu dengan teman - temanku.."
"Aku ini suamimu..!" teriak Baskara. "Atau.. atau kau minta saja bantuan pada temanmu siapa itu namanya.. eee Kemal.. yah Kemal.."
"Kau gila..! tidak.. aku tidak akan meminta bantuannya lagi.. kau suruh saja keponakanmu itu jual diri.. toh dia masih perawan pasti akan banyak pria kaya yang mau dengannya.."
"Aku.. aku tidak tega Nungki.. dia yatim piatu dan sekarang dia jadi pelayan di rumah keluarga Lukashenko.. terus terang beberapa hari ini aku bermimpi terus tentang kakakku.."
"Halah.. aku lebih memilih tega daripada kita hidup dikolong jembatan..! mengerti..!"
"Aku rasa kita sudah cukup menyiksanya.. dan untuk membawa dia keluar dari kediaman Lukashenko juga bukan perkara mudah.."
"Terserah aku tidak peduli.. urus saja masalahmu sendiri.." ucap Nungki sambil meninggalkan suaminya itu keluar rumah. Ia mengendarai mobil dan pergi entah kemana.
Dari kejauhan tampak sepasang mata dan telinga yang mendengar itu semua. Wajahnya menjadi pias memikirkan bagaimana nasib Aira. Ia sudah banyak menderita dan hidup dalam kekurangan.
"Aku harus bilang ke non Aira tentang rencana jahat keluarga ini.. agar ia selalu waspada jika sewaktu - waktu diajak keluar oleh tuan Baskara" gumamnya lirih.
"Sumi apa yang kau lakukan disini..?"
"Eh den Dave.. eh anu saya.. saya mau bersih - bersih den.. permisi.."
"Tunggu.."
"Ya den.."
"Kamu mendengar apa yang papa dan mamaku bicarakan..?"
"Ttiidaakkk.. den.." jawab Sumi gugup
"Jangan bohong..!"
"Saya.. saya.. saya memang mendengar den.."
"Jangan katakan pada Aira apa yang telah kamu dengar.."
"Ttapi den kasihan non Aira.."
"Aku akan membujuk papa.. tapi ingat jangan kau katakan apa - apa.. aku tidak ingin orang beranggapan negatif tentang orang tuaku.."
"Ttapi den.."
"Aku akan menjamin tidak akan terjadi apa - apa dengan Aira.."
"Baiklah den.."
"Lanjutkan pekerjaanmu.. dan usahakan jangan ikut campur tentang semua hal yang tidak ada urusannya denganmu... mengerti..?!"
"Mengerti den.. kalau begitu saya permisi.."
Sumi segera ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Tapi hatinya tetap tidak tenang dan ia berniat untuk menceritakannya pada Iwan.
Aira aku sebenarnya kasihan padamu. Kelembutan hatimu yang telah membuatku berpandangan berbeda tentangmu. Maaf kalau selama ini aku kadang berkata - kata kasar padamu. Ini semua karena aku tidak ingin adanya perselisihan antara aku dan keluargaku sehingga menimbulkan pertengkaran batin Dave.
☘☘☘☘☘
"Pagi ibu.. semuanya sudah siap..?"
"Sudah El sayang.. Bella sudah membantuku berkemas.."
"Bagus.."
"Andai Azkara sudah pulang ia pasti akan senang dengan kegiatan ini.."
"Yah benar kata ibu.. aku sudah merindukannya.."
"Siapa nanti yang akan ikut..?"
"Kita.. ditambah Noah, Abi, Bella, Eda, Mustofa dan beberapa bodyguard.."
"Berapa lama kita akan berkemah..?" tanya Harika
"Selamat pagi tuan.. nyonya.." Aira datang dari arah belakang.
"Eh Abi.. selamat pagi juga.. wajah kamu hari ini berseri - seri.."
"Ah biasa saja nyonya.."
"Kamu sudah bersiap..?"
"Bersiap untuk apa nyonya..?" Aira balik bertanya
"El sayang.. kamu tidak memberi tahu Abi..?"
"Belum.." jawab Haiden enteng sambil meminum kopinya.
"Kamu ini bagaimana sih El.. kasihan kalau dia tidak ada persiapan.."
Memang aku sengaja agar kamu tidak ada persiapan disana nanti. Kita lihat sejauh mana kau bisa tetap terus dengan penyamaranmu ini Abi batin Haiden.
"Persiapan apa nyonya..?"
"Kita akan berkemah di pulau pribadi milik kami Abi.."
"Bbberkemah.."
"Iya benar.. Ah sudah lama aku tidak melakukan kegiatan diluar rumah. Dulu kami bertiga sering melakukannya.."
"Ttapi saya tidak bisa berkemah nyonya dan tenda saya juga tidak punya.."
"Hahahahh.. tenang Abi soal tenda, bahan makanan semua sudah dipersiapkan.. kamu tinggal membawa beberapa baju dan peralatan mandi saja.."
"Kita akan berkemah kemana nyonya..?"
"Kami memiliki pulau pribadi di Maladewa.. aku yakin kau akan suka disana Abi.."
"Kalau begitu saya akan bersiap nyonya.."
"Seharusnya begitu.. karena kita akan berangkat satu jam lagi.." jawab Haiden enteng
What..! satu jam lagi. Tuan sudah gila pasti uaq sedang mengerjai aku. Yang lain sudah tahu dan bersiap sedangkan aku masih tenang disini batin Aira.
Wajahnya seketika panik bukan main. "Saya permisi dulu tuan.. nyonya.."
Aira langsung mengambil langkah seribu alias lari. Haiden yang melihat tingkah tersenyum puas. Anak itu mudah sekali dikerjai.
"Ibu lihat akhir - akhir ini kau suka sekali tersenyum dan tertawa.. ada yang membuatmu senang..?"
"Benarkah..? aku merasa seperti biasanya ibu.."
"Ibu melihat wajahmu sekarang penuh kehangatan tidak dingin seperti dulu.. seandainya ibu tahu siapa yang telah merubahmu seperti ini ibu akan berterima kasih padanya.."
"Tidak ada yang berubah ibu.. aku masih seperti dulu.. mafia bisnis berdarah dingin.." tegas Haiden.
Aku akan memanfaatkan momen disana untuk menggodamu tuan Haiden. Tunggu saja aku jamin kau akan jatuh dipelukanku sama seperti Kemal.
Sementara itu di dalam kamar, Aira tampak berpikir. Bagaimana nanti dengan penyamarannya di tempat terbuka pasti akan lebih sulit. Apalagi ketika mandi kemudian ganti baju. Bagaimana kalau penyamarannya akan diketahui oleh salah satu dari mereka.
"Aacchhh...!" teriaknya
"Kenapa Abi..?"
"Eh bu Eda.. ini aku sedang bersiap untuk berkemah.."
"Kenapa tidak kamu lakukan tadi malam..? sebentar lagi kita berangkat.." ucap Eda.
"Aku tahunya juga baru saja bu.." jawab Aira kesal.
"Tuan semalam tidak memberi tahumu..?"
Bagaimana memberitahu semalam selalu menggodaku dengan stempel keakraban terus batin Aira.
"Oya bu kita kesana berapa hari..?"
"Tiga hari.."
"Aneh.."
"Apanya yang aneh..?"
"Kenapa orang kaya seperti tuan suka berkemah di alam bukankah tinggal di hotel lebih nyaman..?"
"Tuan dari kecil sering menghabiskan waktu dengan berkemah karena tuan merasa bisa lebih quality time dengan nyonya dan nona Azkara. Alam akan melatih kekebalan tubuh mereka dalam menghadapi apa saja. Dan jangan kau kira tenda di sana seperti anak SD. Tenda milik tuan sudah canggih dengan fasilitas komplit dan mewah termasuk penghangat ruangan.."
"Oh begitu.. bagaimana dengan kamarnya..? kemudian tempat mandinya..?"
"Hahahhh.. kamu tidak perlu khawatir.. semuanya ada.. satu tenda untuk dua orang.."
"Oh.. ya sudah kalau begitu.." ucap Aira lega. "Aku sudah siap bu Eda.. ayo kita keluar.."
Mereka berdua keluar dari kamar dan bergegas ke depan berkumpul dengan yang lain. Setelah mendengar penjelasan Eda, Aira merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Mereka masuk ke dalam mobil menuju bandara karena harus naik pesawat pribadi untuk sampai ke pulau Maladewa. Karena merasa sebagai pelayan Aira mengira satu mobil dengan bodyguard yang lain. Oleh karena itu ia berjalan menuju mobil paling belakang.
"Abi.. kau satu mobil denganku.." perintah Haiden.
"Tapi tuan apa tidak penuh.. nanti nyonya tidak nyaman.."
"Kau menghina mobil mewahku..? mobil ini sangat besar masih ada sisa satu kursi buatmu.. apalagi kau pelayanku.."
"Ttidak tuan saya tidak menghina.. baiklah saya akan pindah"
Aira keluar dari mobil bodyguard dan masuk ke dalam mobil tuannya.
"Maaf nyonya.." ucap Aira. Didalam mobil itu hanya ada Tama, Noah, Eda, Harika, Haiden. Wah mobilnya luas.. badanku tidak akan terasa pegal walau menempuh perjalanan yang lama.
"Masuk saja Abi.. kau duduk di kursi belakang ya.."
"Baik nyonya.. permisi.."
Aira duduk bersebelahan dengan Eda. Ia merasa agak tenang. Selama perjalanan ia merasa senang kadang bercerita dengan berbisik takut suaranya mengganggu tuan dan nyonya.
Apa yang mereka bicarakan, ia sepertinya senang batin Haiden. Harika yang memperhatikan gerak gerik putra kesayangannya itu dari tadi tersenyum. Haiden tampak duduk tidak tenang, sesekali menengok ke belakang.
"Eda.."
"Ya nyonya.."
"Bisakah kau pijat pundak dan tanganku..? rasanya pegal sekali.."
"Baik nyonya.." jawab Eda. Ia mulai memijit pelan pundak Harika.
"Eda sepertinya kalau kau duduk disebelahku akan terasa lebih nyaman dalam memijat.."
"Tapi nyonya.. bagaimana dengan tuan..?"
"El sayang kau tidak keberatan kan kalau pindah kebelakang sebentar.. biar Eda leluasa memijatku.."
"Tidak apa - apa bu.." jawab Haiden dengan rona diwajahnya yang bahagia. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Aira.
Selama perjalanan Aira bingung harus ngobrol apa dengan tuannya.
"Kok diam..? tadi dengan Eda kau cerewet sekali.."
"Terus terang saya canggung tuan.."
"Denganku..?"
"Iya.. siapa lagi kalau bukan tuan.." jawab Aira enteng.
"Apa yang kau bicarakan dengan Eda..?"
"Banyak tuan.. tentang kegiatan berkemah nanti.. terus terang ini pertama kalinya saya berkemah di alam luar.."
"Waktu sekolah..?"
"Tidak pernah tuan.. untuk ikut berkemah atau berwisata pasti membutuhkan uang.. saat itu saya belum bekerja.."
"Bukankah om kamu kaya..?"
"Hehehehh.. iya juga sih.. tapi saya tidak enak untuk minta uang.. saya tahu diri tuan.."
"Dasar bodoh.."
"Eh tuan jangan menghina.. saya ini termasuk murid yang pintar.."
"Murid yang pintar..? hahahahhh.." Haiden tertawa terbahak - bahak. "Kalau pintar kamu nggak akan jadi pelayan.."
"Itu karena permintaan om saya tuan.."
"Ya sama saja kamu bodoh.. mau saja di jadikan jaminan.."
"Nyonya.. bu Eda.. tuan El membully saya lagi.." adu Aira.
"El sayang.. kasihan Abi.." ucap Harika menenangkan. "Eh tunggu dulu apa tadi kamu panggil..? tuan El..?
"Eh.. iya nyonya.."
"Tidak apa - apa Abi.. yang penting seijin tuanmu yang arogan itu.." ucap Harika tersenyum sambil menikmati pijatan Eda.
Haiden melanjutkan obrolan lagi dengan Aira. Ia menjelaskan bagaimana keadaan di pulau. Berkemah disana nanti seperti apa. Dan terkadang mereka meributkan hal sepele. Perjalanan dari kediaman Lukashenko menuju ke bandara membutuhkan waktu empat puluh lima menit.
"Aku ngantuk.."
"Saya ambilkan bantal leher tuan.. atau kursinya mau saya atur biar tuan lebih nyaman..?"
"Tidak perlu.. pinjam pahamu saja.." ucap Haiden yang langsung tertidur di paha Aira.
"Tapi tuan.."
"Sssttt.. jangan berisik aku mau tidur.."
Aira melihat tuannya itu memejamkan mata. Wah gawat ini nanti kakiku bisa kesemutan seperti dulu, padahal perjalanan masih cukup jauh belum nanti harus naik pesawat. Heh capek.. capek.. batin Aira.
☘☘☘☘☘