My Desire

My Desire
Aku Mencintaimu Tuan..



"Tuan.. bisakah besok saya libur satu hari..?"


"Untuk apa..?"


"Hmm.. orang tuanya Nayla masuk rumah sakit lagi.. saya dan Eka mau menjenguknya.."


"Baiklah.. tapi tidak menginap.."


"Ya terima kasih tuan.."


"Aira.." panggil Haiden


"Ya tuan.."


"Tolong kau katakan pada Mustofa untuk membelikanku permen kapas.."


"Permen kapas..? untuk saya tuan..? tapi saya sedang tidak ingin makan permen kapas.."


"Permen itu untukku.."


"Untuk tuan..? bukankah tuan tidak suka makanan manis.."


"Aku pikir minum teh sambil makan makanan manis tidak ada salahnya untuk di coba.."


"Baiklah tuan saya permisi.."


Aira keluar dan bertemu dengan Mustofa untuk menyampaikan apa yang diinginkan tuannya.


☘☘☘☘☘


Hari ini Aira bersiap untuk keluar. Walaupun ia berbohong tapi ini semua ia lakukan demi kebaikan.


Dengan naik ojek Aira menuju ke rumah sakit bersalin. Ia kemarin sempat mencari informasi mengenai dokter kandungan.


Setelah membuat janji Aira datang hari ini untuk periksa.


"Selamat pagi.. apa dokter Lita sudah datang..?"


"Sudah.. mau periksa..?"


"Iya betul.."


"Nama dan umur..?"


"Denaira Kamania Abimana umur 22 tahun.."


"Sudah saya catat.. silahkan tunggu dulu sebentar.."


Aira duduk di ruang tunggu menunggu panggilan.. ada beberapa ibu hamil juga yang antri untuk periksa. Aira melihat wajah mereka yang bahagia.


"Ibu Denaira.."


"Ya.."


"Silahkan masuk.."


Hati Aira berdebar - debar. Bagaimana kalau hasil pemeriksaannya nanti ia hamil. Apa yang harus dia lakukan.


"Selamat pagi dokter.."


"Selamat pagi.. silahkan duduk ibu.. ada yang bisa saya bantu.."


"Hmm Aira saja panggilnya dok.." pinta Aira. "Begini dokter saya sudah hampir dua bulan ini tidak datang bulan.."


"Oh ya sudah menikah..?"


"Belum dokter.."


"Hmm.. kalau begitu kita USG dulu.. silahkan.." dokter Lita mempersilahkan Aira untuk naik ke atas tempat tidur.


"Tenang.. rileks saja.. tidak usah tegang oke.." dokter Lita memulai pemeriksaan. Dengan teliti dokter Lita melihat layar USG. "Selamat kamu ya akan menjadi ibu baru.. lihat itu adalah gambar janinmu.."


Aira mencengkeram kasur, terus terang ia tidak percaya dengan hasil pemeriksaannya. Ia baru pertama kali melakukan itu kenapa bisa hamil. Dan titik sebiji kacang hijau itu adalah janinku.


"Aira.. Aira.." panggil dokter Lita berulang kali.


""Eh ya dok.."


"Jadi berdasarkan pemeriksaan ini usia kandunganmu baru sekitar tujuh minggu.. biasa nya di hamil muda seperti ini sangat rentan.. tapi itu semua tergantung dengan kondisi si ibu masing - masing.."


"Tapi kenapa saya sama sekali tidak merasakan mual, pusing, lemas seperti kondisi orang hamil pada umumnya.."


"Semua kondisi ibu hamil itu berbeda Aira.. tidak bisa di samakan satu sama yang lain.. tapi bersyukurlah di kehamilanmu yang pertama ini kamu tidak mengalami mual, muntah ataupun pusing.. kandunganmu juga kuat dan sehat.."


"Baik dok.."


"Untuk trisemester pertama ini jangan stress, jangan terlalu capek dan juga makanan yang bergizi.."


"Baik dok.."


"Ini resep vitamin dan susu hamil yang harus kamu minum pagi hari.. hmm ada pertanyaan..?"


"Tidak ada dok.."


"Oya.. satu lagi, aku harap kau memberitahu kekasihmu kalau kau hamil.. menikahlah dan bentuk suatu keluarga.. membesarkan anak sendirian bukanlah suatu hal yang mudah.."


"Oh.. ya.. te..te..terima kasih atas sarannya dok.. saya permisi dulu.." ucap Aira sambil memasukkan resep dan hasil USG ke dalam tas nya. Aira membuka pintu dan terkejutlah ia dengan siapa yang berdiri di depan pintu


"Az..Azkara.. bagaimana kamu tahu aku disini..?"


"Ayo ikut.. kita perlu bicara.."


"Ta.. ta.. tapi bagaimana bisa kamu menemukan aku..?" ucap Aira gugup, tangannya dingin.


"Panjang ceritanya.. kamu tidak perlu takut Aira.." ucap Azkara menggenggam tangan Aira dengan lembut.


Setelah membayar dan mengambil vitamin di apotek mereka berdua makan siang di sebuah cafe.


"Dari mana kamu tahu..?"


"Oke.." ucap Azkara sambil menarik napas panjang. "Awalnya aku melihat kamu malam itu keluar dari kamar Haiden dengan mengenakan kemeja miliknya. Bahkan kau juga membawa sprei dari kamar Haiden dan kamu simpan di kamarmu bukan..?"


"Ii..ii..iiya benar.."


"Maaf Aira terus terang aku masuk ke dalam kamarmu tanpa ijin ketika kau ke rumah sahabatmu.. dan aku melihat kemeja El dan sprei yang ada noda darahnya.."


"Aku bisa jelaskan.."


"Tunggu.. biar aku selesaikan ucapanku.." ucap Azkara berhenti sejenak. "Aku diam saja karena keesokan paginya Haiden sakit dan seperti tidak tahu apa - apa.. lantas aku mencoba mengorek informasi dari Noah.. awalnya dia tidak cerita tapi setelah mendapat ijin dari El dia mau menceritakan secara detail kejadian di pesta Ivanka dan aku mengambil kesimpulan kau diperkosa oleh kakakku yang saat itu dalam pengaruh obat.. aku benar bukan..?"


"Iya kamu benar.." jawab Aira menunduk.


"Aku menunggumu untuk bercerita kepadaku Aira.. bukankah aku sudah pernah berjanji akan menjadi sahabatmu.."


"Awalnya aku ingin bercerita tapi karena banyak pertimbangan jadi aku urungkan.."


"Haiden harus tahu ini Aira.. apalagi kamu sekarang hamil.."


"Pelayan Azka.. statusku seorang pelayan.."


"Terus kenapa.. ibuku tidak pernah memandang suatu kasta Aira.. ibu sangat menyukaimu.."


"Tapi tidak dengan kakakmu.."


"Tidak kah kau bisa merasakan.. kakakku itu sebenarnya mencintaimu.. hanya saja.. hanya saja dia belum menyadarinya.."


"Tidak.. aku tidak yakin dia mencintaiku Azka.." ucap Aira. "Aku tidak mau dia terpaksa mencintaiku hanya karena aku hamil.. dan juga aku takut jika dia mengira aku menjebaknya.."


"Jangan berpikir terlalu jauh Aira.. kita belum mencobanya.. El itu egonya tinggi sehingga malu mengungkapkan isi hatinya.. ingat semua perhatian yang dia berikan kepadamu.."


"Tolong.. hargai keputusanku Azka...please jangan katakan apa - apa pada kakakmu.."


"Oke.. oke.. aku janji.. tapi bagaimana dengan perutmu..? setiap bulan akan bertambah besar.. bagaimana kau akan menyembunyikannya..? kau tidak berpikir untuk menggugurkannya kan.."


"Tentu saja tidak.. dia adalah hadiah terbaik yang tuhan berikan untukku yang hidup sendirian ini.."


"Apa yang akan kau lakukan..?"


"Aku akan pergi Azka.."


"No.. no.. jangan lakukan itu Aira.." cegah Azka. "Anak yang kau kandung itu keponakanku.. cucunya ibu juga.. bagaimana bisa kau bawa pergi begitu saja..?"


"Lantas aku harus bagaimana..?"


Azkara diam dan berpikir keras "Kau berani bertaruh..?"


"Maksudmu..?"


"Bagaimana jika tidak..?"


"Aku menerima semua keputusanmu.. lakukan yang terbaik untuk dirimu dan anakmu.. kau berhak bahagia Aira.. bagaimana..?"


Aira terdiam cukup lama. Ia nampak memikirkan tawaran Azkara "Baiklah.. deal.." jawabnya.


"Aku minta kau berhati - hati.. ingat yang kau kandung itu anak mafia bisnis.."


"Iya aku tahu.." jawab Aira. "Azka ingat jangan katakan pada siapapun.."


"Oke.. aku mengerti.."


Aira dan Azkara kemudian pulang ke kediaman.


"Azka aku berhenti disini saja.."


"Kenapa..?"


"Aku tadi ijin dengan tuan kalau mau menjenguk orang tua Nayla di rumah sakit, tuan pasti akan curiga jika kita pulang bersama.."


"Baiklah kalau itu mau mu.." ucap Azkara. "Ingat pulangnya jangan naik ojek.. diperutmu ada keponakanku.."


"Iya.. iya.."


Azkara meninggalkan Aira sendiri. Tak lama kemudian ada sebuah taxi berhenti di depan Aira. Aira segera naik dan menuju ke suatu tempat. Ternyata itu pemakaman umum di mana kedua orang tuanya di peristirahatan terakhir.


"Ayah, ibu aku hamil.. aku tidak tahu masa depan seperti apa yang akan menantiku.. bisakah aku mendapatkan kebahagiaan sedangkan ayah bayi yang kukandung tidak mencintaiku.." ucap Aira di depan pusara kedua orang tuanya. "Maafkan aku ayah, ibu belum bisa menjadi anak yang membanggakan untuk kalian.. tapi aku berjanji akan hidup lebih baik lagi bersama anakku.."


Setelah itu Aira kembali ke rumah. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya. Meningalkan keluarga Lukashenko adalah hal yang berat untuknya terutama Haiden. Ia pasti akan sangat merindukannya.


☘☘☘☘☘


Sudah satu minggu ini Azkara mencari rumah untuk Aira tinggal. Sebuah rumah yang sederhana di daerah Bandung tepatnya di desa Patengan Rancabali dekat dengan perkebunan teh. Udara di sana sangat segar dan tentu saja cocok untuk ibu hamil.


"Aira aku sudah dapat tempatnya.."


"Sssttt.. jangan keras - keras..!" Aira memperingatkan.


"Kamu suka dengan suasana di Bandung kan..? aku sudah mendapatkannya.."


"Benarkah..? kalau begitu nanti malam aku akan bersiap.."


"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu.."


Aira mengangguk..


"Kamu rela meninggalkan ini semua.."


"Harus rela.. aku masih perlu waktu untuk berpikir.."


"Baiklah.. aku akan bersiap kita berangkat malam karena kita akan menempuh perjalanan cukup lama.."


"Oke.."


Aira masuk ke dalam kamar. Ia memasukkan bajunya ke dalam koper. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama karena baju dan barang yang di bawa juga sedikit.


Setelah semuanya selesai Aira memandangi kamar nya. Ah ia akan sangat merindukan suasana hangat di keluarga ini..


Hari sudah malam suasana di rumah keluarga Lukashenko juga sudah sangat sepi. Semua sudah di kondisikan oleh Azkara. Termasuk penjaga.


"Aku nanti hanya mengantarkanmu saja.. karena kalau pagi aku tidak ada El pasti akan curiga.."


"Ya aku tahu.."


"Dan juga sudah ada yang menemanimu di sana.. namanya mang Ujang sama bik Asih.."


"Terima kasih Azka.."


"Sama - sama kakak ipar.." goda Azkara.


"Hmm.. aku.. aku.. akan ke kamar tuan sebentar.." ucap Aira malu.


"Aku tunggu di pintu belakang.."


Aira masuk ke dalam kamar tuannya. Tidurnya tampak pulas karena hari ini kegiatannya sangat padat. Lama Aira memandang tuannya. Dengan lembut di belai wajah Haiden. Dan kecupan penuh cinta mendarat di bibirnya. "Aku mencintaimu tuan.."ucap Aira lirih. Ia mengambil kemeja dan parfum tuannya sebelum keluar dari kamar, karena akhir - akhir ini aroma itu yang membuatnya semangat dan tidak muntah.


Aira benar - benar meninggalkan rumah keluarga Lukashenko.


..."Hei, di mana ini..?" Haiden tampak tertegun yang mendapati dirinya duduk di sofa di sebuah kamar...


..."Tuan.."...


..."Aira.. kenapa pakaianmu seperti itu.."...


...Aira mengenakan baju lingerie berbahan sutra dengan warna peach cocok dengan warna kulitnya yang putih. Dengan langkah berlahan ia mendekati Haiden yang masih duduk di sofa. Aira duduk di atas pangkuannya dan mengalungkan lengannya ke leher Haiden....


..."Apa yang kau lakukan Aira..?"...


..."Aku menginginkanmu tuan.." ucap Aira berbisik di telinga Haiden....


..."Kau.." suara Haiden tertahan karena Aira sudah menciumi leher dan bermain di sana. Membuat suatu kenikmatan tersendiri untuk Haiden. Membangunkan sesuatu di bawah sana....


...Aira mulai mencium bibir Haiden memberikan sentuhan lembut. Haiden pun membalasnya, membelai bibir Aira dengan ahli dan mulai mendesakkan gigi - giginya yang menggoda. Kedua tangannya yang kokoh memeluknya begitu erat sehingga membuat Aira seperti di rantai oleh besi yang kuat....


..."Aaacchhh.. tuan.." suara Aira keluar lolos begitu saja dari mulutnya....


...Ciuman Haiden pindah ke lehernya, Aira menikmati, matanya terpejam ketika Haiden mengecup dan menggigitnya sehingga meninggalkan jejak kepemilikan di kulit halusnya. Sementara tangannya menyusup ke dalam, mulai memegang lembut dan memainkan dua bukit kembar milik Aira....


..."Oohhh.. tuan.."...


...Haiden yang mendengar suara Aira tambah bersemangat, mulai menarik ke atas lingerie dan membuangnya asal....


...Matanya takjub melihat bukit kembar Aira yang kencang dan menggoda. "Kamu sempurna.." bisiknya dengan suara serak....


...Perut Aira serasa meledak, tubuhnya meremang ketika Haiden mulai memainkan salah satu puncaknya, memakannya dengan lembut seperti permen kapas. Tangan yang satunya lagi aktif menjepit dan memelintir pucuknya....


...Pandangan Aira mulai berkabut, ia sudah tidak fokus lagi dan hanya mengeluarkan suara - suara seraknya. "Rasamu sangat manis Aira.." bisik Haiden ia kemudian membawa Aira ke tempat tidur sambil terus berciuman. Haiden membaringkan tubuh Aira dengan lembut. Tubuh yang sekarang ini tanpa sehelai benang pun. "Aku menginginkanmu Aira.."...


..."Lakukanlah tuan.."...


...Haiden mulai melepas pakaiannya satu persatu. Tubuhnya yang besar dengan otot kuat, dada yang bidang, perut ramping berotot dan tentu saja kejantanannya yang menjulang sebagai bukti bahwa dia memang benar - benar menginginkan Aira....


...Haiden lalu melebarkan kedua paha Aira. Tangannya mulai meraba dan memberikan sentuhan yang lembut di sana. "Kamu sudah lembab sayang.."...


...Haiden lalu menunduk di antara kedua kaki Aira. Lidah nya mulai menari - nari disana memainkan pusat pribadi Aira....


..."Aaacchh..." Aira mengangkat pinggulnya, matanya terpejam, napasnya memburu. Keahlian Haiden dalam memainkan lidahnya membuat jantung Aira berdetak tak karuan. Tubuh Aira bergetar dan menegang di iringi dengan datangnya puncak kepuasan pertamanya....


...Haiden menindihnya walaupun tubuh Aira masih bergetar. Haiden mulai berusaha memasuki Aira dengan perlahan. Semua terasa penuh di lubang terdalam. Haiden berhenti untuk memastikan kalau Aira nyaman "Boleh aku memulainya sayang..?" Aira hanya mengangguk pelan....


...Haiden mulai bergerak menjauh kemudian menghujam maju seperti itu berulang - ulang dengan pelan. Mendesak dirinya masuk lebih dalam. Haiden kembali mencium bibir Aira, memberikan gigitan kecil di sana "Kaitkan kakimu di pinggangku sayang.." Aira melakukan apa yang diperintah Haiden....


...Haiden merubah ritme nya menjadi lebih cepat, lebih kuat, lagi.. dan lagi.. Aira hanya memejamkan mata menikmati semua permainan Haiden "Sebut namaku sayang please.."...


..."El.." ucap Aira ...


..."Lagi.." perintahnya sambil terus bergerak lebih cepat...


..."Aaahhh.. El.."...


...Haiden bergerak lebih cepat lagi, keringatnya bercucuran "Aku mencintaimu Aira.." teriaknya bertepatan dengan ledakan kepuasan dalam dirinya....


..."Aku mencintaimu El.."...


"Aira.. Aira..!!!" teriak Haiden dalam tidurnya. Ia terbangun dengan keringat dan tentu saja cairan kepuasan.


"Sial aku mimpi.." gumamnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya.


Tubuhnya terasa lemas terkuras, kepalanya pusing berdenyut - denyut.


"Aira.. Aira.." teriaknya memanggil pelayan pribadinya itu. Tak ada sahutan dari Aira.


Haiden meraih handphone dan memanggil Eda. Eda dengan segera masuk ke dalam kamar Haiden.


"Panggilkan Aira.. katakan padanya kepalaku pusing.." perintahnya.


"Maaf tuan Aira.. Aira tidak ada.. Aira pergi meningalkan rumah ini tuan.." jawab Eda


"Apa..!!!"


☘☘☘☘☘


Mohon Maaf untuk pembaca setia "My Desire" yang telah lama menunggu up date eps selanjutnya. Karena ada beberapa kata yang tidak lolos karena mengandung unsur dewasa jadi awal eps 72 ditolak dan harus di revisi.. Tetap dukung terusnya..🥰🙏