My Desire

My Desire
Oh Syukurlah..



"Ayo kita pulang.." ucap Haiden sambil membopong istri kesayangannya itu. Akan tetapi tidak ada jawaban dari Aira. Ia terkulai lemas. "Aira..! sayang..! kau tidak apa - apa..?" panggil Haiden berulang kali. "Noah aku akan ke rumah sakit, Aira pingsan.. kau urus segala sesuatu disini.."


"Baik tuan.."


"Ayo Tama.."


"Baik tuan.."


Haiden segera membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Mereka menuju ke rumah sakit terdekat. Takutnya kalau harus kembali ke Jakarta akan memakan waktu yang cukup lama.


Haiden memandangi tubuh istrinya yang tampak lusuh, banyak lebam di tangan, luka di kepala yang darahnya mengering dan juga luka jahitan di kakinya yang kembali terbuka.


Haiden menitikkan airmata, ia merasa gagal sebagai seorang suami, gagal sebagai seorang kakak, gagal sebagai seorang kepala keluarga. "Kamu harus baik - baik saja sayang.." Haiden membelai rambut istrinya. Ia mencium keningnya "Aku mencintaimu.."


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit swasta di daerah Bandung. Haiden segera membawa masuk dan meletakkan istrinya di brankar. Beberapa orang perawat dan dokter membawa Aira ke ruang IGD.


Cukup lama Haiden menunggu kabar dari dokter, hampir satu jam.


"Keluarga pasien nyonya Aira.." panggil seorang perawat.


"Saya.." ucap Haiden sambil memghampiri perawat itu.


"Silahkan tuan urus administrasinya terlebih dahulu di loket.." ucap perawat sambil menyerahkan berkas.


"Bagaimana keadaan istri saya..?"


"Nanti dokter yang akan menjelaskan tuan.. saya permisi dulu.." perawat itu masuk kembali ke dalam ruang IGD. Haiden segera menuju loket menyelesaikan administrasi. Biasanya Noah yang melakukan pekerjaan semacam itu, sekarang ia harus mandiri.


Setelah selesai, Haiden tampak melakukan panggilan dengan handphone nya. "Halo Noah.. bagaimana dengan kondisi di sana..?"


"Semuanya terkendali tuan.. pihak kepolisian sudah membawa jenazah David.. semua anak buahnya juga sudah tertangkap termasuk yang menculik nyonya Aira.."


"Bagus.. bagaimana dengan Dave..?"


"Polisi sudah membawanya.. walaupun ini pembunuhan untuk pembelaan diri tetap juga namanya pembunuhan.." jelas Noah di telepon. "Menurut AKP Sutanto mungkin hukumannya tidak seberat hukuman pembunuhan berencana.."


"Kau cari pengacara terbaik untuk meringankan hukumannya.. walau bagaimana pun ia sudah menolong menyelamatkan Aira.."


"Baik tuan.."


"Setelah selesai, kau segera jemput Azkara dan antar ia pulang ke rumah.."


"Baik tuan.."


"Aku masih di sini menunggu Aira.." ucap Haiden sambil mengakhiri panggilan teleponnya.


Haiden kembali duduk di ruang tunggu.


"Keluarga nyonya Aira.." panggil dokter


"Saya dok.."


"Anda siapanya pasien..?"


"Saya Haiden suaminya.. bagaimana kondisi istri saya..?"


"Syukurlah sudah melewati masa kritis.." ucap dokter. "Mari kita bicara di dalam.."


"Baik dok.." Haiden mengikuti langkah dokter.


"Silahkan duduk.. mohon maaf sebelumnya.. apa yang terjadi dengan istri anda..?"


"Ia korban penculikan dokter.. mungkin pihak kepolisian juga akan meminta keterangan dari rumah sakit nantinya.."


"Baiklah.. Jadi begini tuan Haiden.. istri anda mengalami dehidrasi karena tidak makan dan minum, tensi darahnya sangat rendah.."


"Apa penyebabnya dok..?"


"Tenaganya banyak terkuras dan juga kehilangan banyak darah.." jelas dokter. "Tapi syukurlah nyonya Aira sangat kuat walaupun kondisinya seperti itu bayinya tidak apa - apa.."


"Istri saya memang wanita yang tangguh dok.." ucap Haiden. "Eh tunggu.. bayi..? maksud dokter apa..? saya kurang mengerti.."


"Jadi anda tidak tahu kalau saat ini istri anda sedang hamil..?"


"Sa..sa..saya tidak tahu dok.." ucap Haiden gugup. Baru pertama kali ini ia bersikap gugup di hadapan orang lain.


"Menurut saya, istri anda juga tidak menyadari kalau dia sedang hamil.. kalau tahu tentu ia tidak akan membuat tubuhnya seperti ini.."


"Saya sangat bersyukur dok.. karena istri saya bisa selamat.."


"Usia kandungan nyonya Aira masih empat minggu.. masih sangat rentan.. saya mohon untuk di jaga asupan gizinya.. jangan stres dan jangan terlalu capek.."


"Baik dokter.."


"Apa perlu saya buatkan rekomendasi dokter kandungan di sini..?"


"Tidak dok.. karena kami tinggal di Jakarta.."


"Baiklah kalau begitu.. saat ini istri anda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.. untuk luka jahitannya untuk beberapa hari kedepan jangan terkena air dulu.. sekali lagi saya ucapkan selamat tuan Haiden.."


"Terima kasih dokter.. saya permisi dulu.."


🌸🌸🌸🌸🌸


Terima kasih tuhan kau telah mempercayakan pada kami lagi seorang malaikat kecil yang akan mewarnai perjalanan rumah tangga kami. Aku berjanji akan lebih menjaga kalian batin Haiden sambil mencium punggung tangan Aira.


"Hmm.."


"Sayang kau sudah bangun.."


"Ini di mana..?" gumamnya lirih sambil mengerjap - erjapkan matanya.


"Di rumah sakit.."


"El.. peluklah aku.. aku takut.."


"Oke.. oke.. semuanya sudah selesai sayang.. tidak ada yang perlu kau takutkan lagi.." Haiden menenangkan sambil memberikan pelukan hangat untuk istrinya.


"Azka mana..?"


"Noah sudah menjemputnya untuk pulang.. ia baik - baik saja.."


"David..?"


"Ia meninggal akibat luka tusukan.. polisi sudah mengurus jenazahnya.."


"Ah syukurlah.. aku sangat ketakukan kalau sewaktu - waktu ia datang dan kembali menculikku.."


"Tenang sayang.. itu tidak akan terjadi.. kau sudah aman.."


"Terima kasih El.." ucap Aira sambil mengusap pipi suaminya itu. "Bagaimana dengan Dave..?"


"Aku harus tahu El.. ia saudaraku, anak om Baskara.. aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya om Baskara bila mendengar ini.. anak satu - satunya masuk penjara.. istrinya juga masuk penjara.."


"Itu semua karena dosa dan perbuatan jahat mereka sendiri.. hidup itu pilihan.. dan sayang sekali mereka memilih jalan yang salah.."


"Kau memang benar sayang.. di keluarga itu hanya Dave yang baik padaku.. apalagi kemarin dia yang menolongku.."


"Aku sudah mengirimkan pengacara terbaik untuknya.. istirahatlah kau tidak perlu khawatir.. ingat di dalam perutmu sekarang ada kehidupan.."


"Maksudmu..?"


"Rafael akan menjadi seorang kakak.."


"Kakak..?"


"Yah.. kamu hamil lagi sayang.." ucap Haiden dengan suara bergetar sambil terus mencium tangan Aira.


"Ya tuhan.. aku senang mendengarnya El.."


"Iya aku juga.."


Tiba - tiba dari arah belakang.


"Ehem.. aduh.. aduh.. ini rumah sakit kakakku sayang.."


"Azka.. ibu.." jawab mereka bersamaan


"Bagaimana kabarmu sayang..?" tanya Harika


"Tidak apa - apa ibu.. badanku sudah tidak lemas lagi.."


"Syukurlah bila semuanya baik - baik saja.."


"Kakak ipar.." panggil Azkara


"Ada apa Azka..?"


"Aku minta maaf sudah meninggalkanmu kemarin.."


"Kau tidak pernah meninggalkanku Azka.. aku yang menyuruhmu.."


"Kenapa..?"


"Aku tidak bisa melihat El bersedih jika kau dalam bahaya Azka.. dia sangat mencintaimu.. dia juga sangat mencintai ibu.."


"Kenapa kau berpikiran seperti itu kakak ipar.. sekarang kita adalah satu keluarga dan akan saling melindungi satu sama yang lain.."


"Iya.. iya.. maafkan aku karena terlalu egois.."


"It's okey.." ucap Azkara sambil memeluk Aira.


"Ingat kamu harus menjadi dewasa Azka dan mulai belajar bisnis.." ucap Haiden


"Hah.. itu lagi yang kau bahas.. tidak ada yang lain..?" Azkara mencibir.


"Kau harus belajar.. aku akan sibuk dengan dua anakku nantinya.."


"Enak saj.... eh tunggu dulu.. dua anakmu..? kakak ipar hamil lagi..?" pekik Azkara


Aira mengangguk - angguk membenarkannya.


"Heh.. tidak heran kakak ipar cepat hamil lagi.. suara teriakan kalian kalau malam sudah cukup membuktikan usaha kalian ingin membuatkan Rafael adik.."


"Hahahahhhaa.." semua tertawa. Sedangkan Aira tersipu malu.


"Selamat Aira.. kau akan menjadi ibu lagi.. aku senang sekali.." ucap Harika sambil memeluk menantunya.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Dave..! Dave..!" teriak Baskara memanggil putranya yang sedang meringkuk di sel tahanan. Ia menjenguk Dave yang saat ini masih di tahan di kantor polisi "Kau sakit..?" tanyanya lagi.


"Pa.. pa.." panggil Dave lirih.


"Pak polisi bisa minta tolong di buka sel nya..? anak saya sepertinya sedang sakit.."


"Bisa tapi sebentar saja.."


"Baik terima kasih.."


Opsir polisi yang sedang berjaga segera membukakan pintu sel. Setelah Baskara masuk ia menutup dan mengunci pintunya kembali.


Baskara segera mendekati Dave. Tubuh Dave tampak gemetar, berkeringat dingin, matanya berair. "Dave kamu kenapa nak..?"


"Sakit pa.. rasanya sakit.. aku tidak kuat.."


Baskara bingung dengan apa yang menimpa putranya itu.


"Pak..! pak penjaga..! pak polisi..! tolong..! anak saya sakit.."


"Jangan pura - pura.."


"Tidak pak.. anak saya tidak pura - pura.. ia benar - benar sakit.."


"Sebentar.." polisi penjaga tadi memanggil orang dari kesehatan datang untuk memeriksa. Benar - benar sakit atau pura - pura. Tak lama kemudian datanglah dua orang tenaga kesehatan.


"Tolong bapak minggir dulu.. biarkan kami memeriksa.."


Setelah memeriksa tubuh Dave, salah satu tenaga kesehatan tersebut menelepon ambulance.


"Bagaimana..? apa yang terjadi dengan Dave anak saya.."


"Putra bapak mengalami sakaw.. ini adalah efek samping dari mengkonsumsi obat terlarang.."


"Apa..?! maksud anda anak saya seorang pecandu..? jangan asal menuduh..!"


"Bapak tenang dulu.. ciri - cirinya hampir sama dengan orang sakaw.. oleh sebab itu kami akan membawa nya ke rumah sakit untuk melakukan beberapa test.."


"Tidak.. ini tidak mungkin.. anak saya adalah anak baik - baik.."


"Pak saya mohon tenang.. nanti kalau hasilnya sudah keluar baru kita oasti dan yakin..


Setelah ambulance tiba, Dave di bawa kerumah sakit untuk melakukan beberapa tes. Baskara dengan setia dan penuh kasih sayang selalu menjaga anaknya. Ia selalu mendampingi Dave menjalani beberapa tes.


"Bagaimana dok..?"


"Maaf pak Baskara dengan berat hari saya mengatakan kalau anak anda adalah seorang pecandu narkoba.. kami akan laporkan kepada pihak kepolisian tentang masalah ini.." ucap dokter.


Tidaakk..! tidaakkk..! ini tidak mungkin batin Baskara. "Maafkan papa Dave.." isak Baskara. Memang penyesalan selalu datang di akhir.


🌸🌸🌸🌸🌸