
"Abi.. kesini.." panggil Kemal.
Aira berjalan mendekati Kemal yang saat itu sedang duduk di pesawat.
"Tuan Kemal memanggil saya.."
"Tolong kau pijit pundakku.."
"Maaf.. saya akan meminta ijin dulu ke tuan.."
"Tidak perlu.. aku ini kan pamannya.."
"Saya tahu, tapi tetap saja saya harus minta ijin dulu.. karena saya pelayan tuan.."
"Halah.. sebentar saja..ia pasti tidak keberatan.." paksa Kemal.
"Kemal.. biarkan Bella yang memijatmu.." ucap Harika menyela. Ia bisa membaca situasinya maka dengan segera ia menengahi.
"Ach pijatan Bella tentunya tidak sekuat Abi yang seorang pria kak.."
"Kalau begitu biar Mustofa saja.."
"Kenapa aku tidak boleh menggunakan jasanya..?"
"Bukannya tidak boleh.. Abi adalah pelayan pribadinya El.. hanya ia yang bisa memerintahnya.. aku saja jika minta tolong Abi harus seijin El.. mengertilah sifat keponakanmu itu Kemal.." jelas Harika panjang lebar. "Jangan berebut dan membuat masalah dengannya.."
"Baiklah kak.." ucap Kemal kecewa dan geram.
"Abi kembalilah ketempat dudukmu.. sebentar lagi pesawat take off.."
"Baik nyonya terima kasih.."
Aira segera kembali menuju tempat duduknya, sebelumnya ia melewati tempat duduk Haiden.
"Abi.."
"Ya tuan.."
"Duduk sebelahku.."
"Maaf tuan saya akan menemani bu Eda.. apalagi saya takut keberadaan saya di sebelah tuan akan membuyarkan bayangan tuan tentang nona Ivanka.." jawab Aira. "Saya permisi.."
Aira segera pergi menuju tempat duduknya.
"Kau dengar itu Noah.. siapa yang memikirkan Ivanka.. mendengar namanya saja aku sudah malas.."
"Mungkin masalah kalung kemarin masih berlanjut tuan.."
"Apa dia cemburu..?"
"Mungkin saja tuan.."
"Hahahahhah.. ini lucu dan tentu saja menarik.."
Sementara itu Aira tampak kebingungan karena tidak menemukan Eda. Yang ada tempat duduknya sudah di tempati Mustofa.
"Mana bu Eda..?"
"Duduk menemani nyonya.."
"Bukankah sudah ada Bella..?"
"Bella duduk dengan nyonya Olif.. katanya nyonya Olif kurang enak badan.."
"Ya sudah aku duduk disini ya pak.."
Aira kemudian duduk di sebelah Mustofa. Mustofa hanya diam dan memandang terus ke arah jendela. Terkadang ia memejamkan matanya.
"Pak Mustofa kenapa..?"
"Ssssttt... sebenarnya aku takut ketika pesawat take off Abi.."
"Jadi pak Mustofa juga takut..? lantas kemarin waktu berangkat bagaimana..?"
"Aku minum obat tidur.. jadi selama perjalanan aku tidur terus.."
"Ini tadi juga minum pak..?"
"Iya sudah cuma entah kenapa aku belum merasa mengantuk.." ucap Mustofa.. "Oahammm.." Mustofa mulai menguap.
Wah gawat ini.. pak Mustofa takut, aku juga takut bisa - bisa turun dari pesawat aku menderita sakit jantung.. apa aku duduk saja dengan tuan ya seperti kemarin.. tapi tadi aku sudah menolak ajakannya.. malu donk batin Aira kebingungan.
"Bi.."
"Ya pak.."
"Obatnya sudah mulai bereaksi.. aku sudah mengantuk.."
"Ya pak Mustofa tidur saja.."
Aira kembali cemas.. kalau pak Mustofa tidur siapa yang mengajakku ngobrol.. apa aku cuek saja dan langsung duduk di sebelah tuan.. kalau keadaan seperti ini aku harus buang rasa maluku batin Aira.
Pelan - pelan Aira bangkit dan mulai berjalan ke arah Haiden. Dengan tebal muka ia tiba - tiba langsung duduk sebelah Haiden..
"Hei.. tadi kau menolak kenapa sekarang mau duduk disini..?"
"Maaf saya takut tuan El.."
"Bukankah kamu duduk sebelah Eda..?"
"Bu Eda menemani nyonya tuan.."
"Dasar tidak tahu malu.."
"Saya benar - benar tidak ada jalan lain tuan.."
"Oke.. kau boleh duduk di sini tapi ada syaratnya.."
"Apa itu tuan..?"
"Aku dengan kerelaanku menerimamu duduk disebelahku.. itu semua karena kita akrab sebagai teman dekat.. berarti aku harus menerima stempel keakraban darimu.."
"Ttapi tuan.. ini tidak wajar dan banyak orang.. bagaimana anggapan mereka nanti jika melihat kita ciuman.."
"Apa..! ciuman..? maksudmu kita ciuman..? bukan.. bukan seperti itu Abi.. aku tidak menganggap ini sebuah ciuman.. ini stempel keakraban.."
"Tapi mirip dengan ciuman tuan.."
"Aachh..!! kenapa vulgar begitu..!" teriak Aira sambil menutup wajah dan memalingkan muka.
"Hahahahh.. itu artinya kau belum pernah berciuman yang sebenarnya.. memangnya apa yang kau lakukan dengan pacarmu..?"
"Tidak seperti itu tuan.. itu dosa.." ucap Aira. "Kami.. kami cuma jalan ke mall saja.." lanjutnya berbohong.
Haiden tersenyum puas karena tahu ciuman pertama Aira jatuh padanya. Ia pria pertama yang bisa merasakan manis bibirnya. Ah.. kalau dia tahu bagaimana ciumannya ketika minum obat perangsang aku pastikan ia akan pingsan batin Haiden.
"Oh kamu termasuk pria kuno.."
"Biar saja tuan saya menjaga kehormatan.."
"Baiklah kalau model pacaranmu seperti itu.. tapi akhirnya kamu tahu kan kalau stempel keakraban itu bukan ciuman.."
"Menurutku sama saja.." gumam Aira lirih.
"Apa kamu bilang..?!"
"Eh tidak apa - apa tuan.. baiklah saya akan menuruti apa yang tuan perintahkan.."
"Bagus.. ayo lakukan aku rela.."
Ini orang sakit atau bagaimana sih.. kalau seperti ini seolah - olah aku yang menginginkannya padahal dia tadi yang minta batin Aira kesal.
"Baiklah.." dengan memejamkan mata Aira berusaha mendekatkan wajahnya ke Haiden.
"Apa yang kau lakukan..?"
"Memberi stempel keakraban sesuai yang tuan minta.."
"Bagaimana bisa kalau kamu memejamkan mata..?"
"Oh.. baiklah.." ucap Aira. Dengan gerakan cepat ia mencium bibir Haiden sekilas.
"Bagus.. kau bisa duduk dengan tenang di sebelahku.." ucap Haiden tersenyum.
"Terima kasih tuan El.." jawab Aira yang berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan. Semoga tuan tidak menyadarinya.. pasti akan terlihat aneh jika pria mencium pria lain tapi gugup dan berdebar.. ya tuhan kapan penyamaranku ini akan berakhir.. aku ingin bebas..
☘☘☘☘☘
Setelah melakukan perjalanan liburan alam selama tiga hari. Aira disibukkan kembali dengan rutinitas seperti biasanya. Sudah menjadi tugasnya tiap hari untuk membersihkan ruangan Haiden.
Ruangan kerja tuan kenapa ada yang aneh. Ada beberapa barang yang tidak sesuai tempatnya. Seingatku tiap malam sebelum tuan meninggalkan tempat ini selalu dalam keadaan bersih batin Aira.
Ia kemudian mulai menata ruang itu mulai dari puntung rokok diasbak, bantal kursi yang berserakan bahkan berkas yang ada diatas meja juga berserakan.
Aku harus melaporkan hal ini pada tuan. Walaupun tidak setiap hari seperti ini tapi aku sudah tiga kali menjumpai ruang kerja tuan agak berantakan.
Hei tunggu apa ini batin Aira.. ia mengambilnya dari tempat sampah.. bukankah ini barang yang sama yang pernah aku temukan bersama dengan bu Eda. Bahkan bu Eda tidak memberitahu apa - apa. Sempat aku mengira ini guna - guna tapi sepertinya bukan.
"Apa yang kau lakukan disitu Abi..?"
"Eh tuan.. kok sudah bangun.. maaf saya terlambat membangunkan tuan.."
"Tidak aku memang bangun terlalu pagi.. semalam tidurku kurang nyenyak.." ucap Haiden. Semalam aku hanya memikirkan ciumanmu ketika di Maldives. Membayangkan saja membuatku tidak bisa tidur.
"Apa mungkin tuan terlalu lelah..? saya akan buatkan teh chamomile agar tuan sedikit rileks.."
"Nanti saja setelah mandi kamu buatkan.. hari ini aku tidak ke gym dulu.. lanjutkan bersih - bersihmu.. aku harus memeriksa beberapa berkas.." ucap Haiden sambil duduk di belakang meja kerjanya.
"Hmm.. tuan.."
"Ya kenapa Abi..?"
"Ada yang perlu saya sampaikan.."
"Bicaralah.." ucap Haiden sambil memeriksa berkas di laptopnya.
"Sudah tiga kali ini saya melihat ruang kerja tuan berantakan.."
"Maksudmu..?" Haiden mendongakkan kepalanya melihat tajam ke arah Aira.
"Jadi begini tuan.. selama saya bekerja disini sudah tiga kali saya mendapati bantal kursi berserakan, kemudian ada puntung rokok, berkas - berkas diatas meja tuan juga tidak rapi, dan yang saya heran ada ini di tempat sampah.." ucap Aira sambil memperlihatkan barang temuannya.
"Kau tahu itu apa..?"
"Tidak tuan.. awalnya saya pikir itu semacam guna - guna karena bentuknya yang aneh.."
Haiden tersenyum mendengarnya. Ia merasa pelayan nya itu terlalu polos..
"Oke.. lanjutkan ceritamu.."
"Jadi saya tanya ke bu Eda dan sampai sekarang dia juga tidak memberi saya jawaban dan berpesan jangan terlalu penasaran dengan apa yang terjadi dirumah ini.. tugas saya hanya bekerja begitu kata bu Eda.."
"Jadi Eda sudah tahu tentang hal ini..?"
"Sudah tuan.."
"Baiklah aku sangat berterima kasih atas informasi yang kau berikan padaku.." ucap Haiden. "Oya kamu betul - betul tidak tahu itu apa..?"
"Tidak tuan.."
"Abi kau tahu alat kontrasepsi jenis ******..?"
"Pernah mendengar dan tahu dari televisi tuan.. tapi secara langsung bentuknya seperti apa saya tidak pernah tahu.." jawab Aira.
"Itu yang kau pegang namanya ******.." ucap Haiden
"Aapppaa..!" teriak Aira kaget dan melemparnya lagi ke tempat sampah
"Dan itu sudah terpakai.." jelasnya lagi.
Apa..! aku memegang ****** yang sudah terpakai batin Aira tidak percaya. Seluruh tubuhnya lemas, tangannya gemetar dan berasa mual. Ia kemudian duduk dilantai. Pantas saja bu Eda langsung kaget dan tidak memberitahunya apa - apa.
"Ttuan saya permisi mau kebelakang sebentar.."
"Are you okay..?" tanya Haiden.
"Saya tidak apa - apa tuan.. permisi.." pamitnya.
Sepeninggal Aira, Haiden berpikir siapa yang berani - beraninya bermain curang dan berkhianat di belakangku. Setelah aku tahu siapa orangnya jangan harap akan lolos dengan mudah.
☘☘☘☘☘