My Desire

My Desire
Misi Azkara



"Kau rindu padaku El..?"


"Bisakah kau sopan sedikit padaku.."


"Sopan..? denganmu..? jangan harap.. kau bisa besar kepala nanti.."


"Ayo pulang.. ibu sudah menunggu.." ucap Haiden sambil melepas pelukannya.


"Tunggu El.. siapa gadis itu.."


"Ssssttt.. nanti aku ceritakan.."


"Kau menyembunyikan sesuatu..?"


"Sudah diamlah.. kau nanti akan mengerti.."


"Hmm.. baiklah.. tapi tidak murah.." jawab Azkara menyetujui.


"Tas, mobil, berlian..?"


"Belum terpikirkan olehku.. nanti akan kuberitahu.."


Haiden dan Azkara menghampiri Noah dan Aira.


"Hai Noah.."


"Selamat datang nona.."


Azkara hanya tersenyum dan mengangguk pandangannya beralih ke Aira. "Dan Kamu..?"


"Saya Abi.. pelayan pribadi tuan yang baru.." Aira memperkenalkan diri. "Selamat datang nona.."


"Hmm.. pria yang tampan.." puji Azkara.


"Sudah kita lanjutkan saja di mobil.." perintah Haiden.


Mereka segera menuju mobil. Noah duduk di depan. Haiden dan Azkara duduk di tengah sedangkan Aira duduk paling belakang. Hampir setiap saat Haiden selalu melirik ke belakang. Aira justru nyaman - nyaman saja karena kali ini ia aman dari godaan tuannya.


Azkara yang melihat tingkah saudaranya itu tersenyum penuh arti.


"Abi.."


"Ya tuan.."


"Apa dudukmu nyaman di belakang..?"


"Oh nyaman sekali tuan.. lebih leluasa.."


"Apa maksudmu..? biasanya kau tidak leluasa..?"


"Bbbukan itu maksud saya tuan.. ternyata di belakang saya lebih leluasa menjaga dan memperhatikan tuan.."


"Oh.." ucap Haiden.


Tak kurang dari lima menit Haiden kembali bertanya. "Bagaimana kalau badanku pegal seperti biasanya..?"


"Justru saya lebih gampang memijat kalau dari belakang tuan.. apa badan tuan terasa pegal..? apa perlu saya pijat sekarang..?" tanya Aira


"Tidak perlu.."


"Hmm benar juga.. sebentar lagi kita juga akan sampai tuan.."


Haiden hanya diam. Beberapa kali ia menggosok hidungnya.


"Hei.. kenapa kau gelisah..?" tanya Azkara sambil memegang tangan Haiden.


"Bukan urusanmu.."


"Jelas urusanku.. kau saudaraku satu - satunya kalau ada yang membuatmu tidak nyaman aku harus buat perhitungan.."


"Yang membuatku tidak nyaman adalah kenapa kau begitu pintar.."


"Aku belajar darimu El.." ucap Azkara terkekeh. Akhirnya ada juga yang tahan dan bisa menaklukkan kakaknya.


Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman, Harika sudah menyambut kedatangan mereka.


"Azka putri kecilku.." peluk Harika.


"Ibu.. aku sudah besar.."


"Tapi bagiku kau masih putri kecilku.."


"Bagaimana denganku..?"


"Kalau kau bayi besarku.." jawab Harika. Kemudian mereka berpelukan bertiga.


Aira terharu melihat momen itu. Sudah lama ia ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga. Nanti kalau aku sudah bebas, aku harus hidup bahagia batinnya. Ia mengusap air matanya.


"Hei kenapa kau menangis..?"


"Maaf tuan saya terharu melihat kehangatan keluarga tuan.."


Haiden mendekati Aira. "Pria tidak boleh cengeng.." ucapnya sambil mengusap kepalanya. "Apa aku perlu beri stempel keakraban biar kamu merasakan kehangatan..?" bisik Haiden


"Tidak tuan.. tidak perlu.." jawab Aira sambil menutup mulutnya. "Saya permisi membantu bu Eda.." Aira mengambil langkah seribu


"Hahahah.. penakut.." Haiden tertawa terbahak - bahak melihat wajah pelayannya itu.


Azkara kembali tersenyum melihat tajam ke arah kakaknya. Kau sudah berubah El, kau tertawa itu tandanya kau bahagia batin Azkara.


"Sudah.. sudah.. jangan kau goda terus Abi.. kasihan dia.." lerai Harika.


"Oh.. sekarang kau punya mainan baru rupanya.. tapi aku senang jika kau bahagia El.."


"Azka.. ayo ibu antar ke kamarmu.."


☘☘☘☘☘


"Heh.. kenapa aku sulit tidur.." ucap Haiden kesal. Ia bangkit dari tempat tidurnya menuju balkon hanya dengan telanjang dada. Atau aku bangunkan saja dia pikir Haiden. Tidak.. tidak.. dia pasti capek batin Haiden. Ia menghela napas panjang. Ia kemudian mengambil ipad nya untuk melihat apakah Aira sudah tidur.


"Sudah tidur.." telepon Haiden


"Belum tuan.."


"Buatkan aku susu.."


"Oh baik tuan.." jawab Aira. Di layar tampak Aira berganti baju dan memakai rambut palsu. Haiden tersenyum melihat kepanikan Aira.


Sementara itu setelah Aira berganti baju ia segera membuatkan susu hangat di dapur.


"Kau belum tidur Abi..?"


"Eh belum nona Azkara.." jawab Aira. "Tuan minta susu hangat.."


"Susu hangat..? dia tidak bisa tidur..?" tanya Azkara keheranan.


"Sepertinya begitu nona.."


"Baiklah kau antarkan saja ke kakakku.."


"Baik saya permisi dulu nona.." pamit Aira.


Ia segera naik ke atas ke kamar Haiden.


Tok..tok..tok


"Masuk.."


"Tuan ini susu nya.."


"Terima kasih.." Haiden segera meminum susu itu dengan harapan segera mengantuk. Setelah habis ia memberikan gelas kosong itu ke Aira.


"Kenapa senyum..?"


"Itu tuan minum susu nya belepotan.." ucap Aira sambil mengusap bibir Haiden.


"Oh.." Haiden sedikit malu


"Tuan susah tidur..?"


"Dari mana kamu tahu.."


"Aku memang susah tidur.."


"Hmm.. mau saya pijat sebentar tuan..?" Aira menawarkan.


"Boleh.." jawab Haiden yang kemudian rebahan di atas tempat tidur.


Aira mulai memijat telapak kaki Haiden.


"Biasanya kalau susah tidur yang di pijat telapak kaki tuan.. dulu waktu tante Nungki insomia saya juga melakukan hal seperti ini.."


"Abi.."


"Ya tuan.."


"Kau sering disuruh bekerja seperti itu..?"


"Yah.. begitulah tuan.. hidup saya juga tergantung dengan mereka.. itu sebagai bentuk balas jasa saya.."


"Tapi mereka tidak memperlakukanmu layaknya keluarga.."


"Tapi saya sudah bersyukur tuan.. mereka mau menampung saya.."


"Bagaimana kalau seandainya Baskara tidak membayar hutangnya padaku..?"


"Saya masih menaruh harapan om Baskara bisa membayarnya.. tapi lubuk hati saya mengatakan itu sulit.."


"Jadi bagaimana..?"


"Sebenarnya saya sudah memiliki rencana untuk kembali ke kampung halaman ibu saya.. dengan membeli sebuah rumah yang kecil.. saya juga ingin merasakan kebebasan.." cerita Aira sambil terus memijat kaki Haiden. "Tapi jika memang harus menjadi jaminan di rumah ini seumur hidup saya tidak apa - apa yang penting para pekerja tidak mengalami PHK.. kasihan kalau sampai mereka tidak bekerja.. dan juga bukankah disini sudah seperti keluarga baru untuk saya.. ada tuan, bu Eda dan nyonya Harika yang selalu menjaga saya.. jadi untuk apa saya khawatir jika harus jadi jaminan seumur hidup.." lanjutnya


"Kau tidak dendam dengan Baskara..?"


"Kalau sakit tentu saja sakit.. tapi saya kembalikan lagi bahwa om Baskara adalah keluarga saya satu - satunya.. selama masih bisa ditoleransi tindakan mereka saya menerimanya.."


"Bagaimana dengan cita - cita mu di masa depan..?"


"Saya tidak mungkin bahagia diatas penderitaan banyak orang.. saya tidak mungkin egois.. saya rela memupuskan cita - cita saya demi melihat mereka bahagia.. Toh mereka dulu juga sudah berjuang bersama ayah saya sehingga saya merasa bahagia di masa kecil walau hanya sepuluh tahun.."


Haiden terdiam mendengar cerita dan isi hati Aira. Semakin menambah rasa kagum dengan kebesaran hatinya.


"Cukup kau boleh tidur.. kau pasti capek.."


"Tidak.. tuan dulu yang harus tidur.. saya akan memijat tuan sampai tuan tertidur.." ucap Aira sambil tersenyum. "Saya tidak mau besok tuan bangun dengan badan yang tidak segar.."


"Baiklah aku akan tidur.. mataku sudah mengantuk.."


"Silahkan tuan.."


Aira terus memijat kaki Haiden hingga benar - benar rileks dan tenang tanpa gerakan.


Sepertinya tuan sudah tidur, aku akan keluar dari kamar pikir Aira. Dengan perlahan ia turun dari atas tempat tidur. Dia mulai mengatur suhu ruangan agar tuannya tidur lebih nyenyak. Aira juga tidak lupa menyelimuti tubuh Haiden.


"Ah tuan.. kenapa kau selalu tidur setengah telanjang.. kau tahu itu membuat jantungku tak beraturan.. aku adalah wanita paling beruntung bisa melihatmu seperti ini dengan cuma - cuma.." bisik Aira. "Selamat malam tuan selamat istirahat.." ucap Aira sambil mencium kening Haiden.. "Terima kasih sudah menjagaku.."


Aira kemudian mematikan lampu dan keluar kamar dengan pelan.


Haiden tersenyum senang melihat tingkah laku Aira yang diam - diam mencuri ciuman dari dirinya.


Ah akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak batin Haiden.


☘☘☘☘☘


"Pagi semuanya.." sapa Haiden sambil mencium pipi Harika dan Azkara


"Pagi El sayang.." ucap Harika. "Wajahmu berseri - seri.. semalam tidurmu nyenyak..?"


"Pasti nyenyak donk bu.." sela Azkara


"Dari mana kamu tahu..?"


"Hmm tanya saja sendiri sama El.."


"Yang sopan dengan kakakmu.."


"Semalam memang tidurku nyenyak bu.. karena susu buatan Abi.."


"Malam - malam kau minum susu..? tumben.." Harika keheranan. "Kasihan Abi malam - malam belum istirahat.."


"Tidak apa - apa nyonya...karena kalau sulit tidur paginya pasti akan marah - marah.. saya juga nanti yang kena.." ucap Aira


"Hahahhahahh.. ya betul.." Harika tertawa. "Benarkah susu buatanmu bisa membuat orang cepat tidur..? kapan - kapan aku akan memintamu membuatkannya.."


"Baik nyonya.."


sarapan kali ini berjalan dengan bahagia karena kehadiran Azkara yang memeriahkan suasana. Setelah sarapan Haiden ke ruang kerja sebentar sebelum berangkat kantor.


Tok..tok..tok..


"Boleh aku masuk El.."


"Masuk saja.."


"El.."


"Hmm.."


"Apa kau tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya padaku..?"


"Duduklah.." perintah Haiden. "Apa yang ingin kau tanyakan..?"


"Tentang Abi.. dia seorang wanita bukan..?"


"Oke.. dia memang seorang wanita.. dia kerja untukku sebagai jaminan atas hutang - hutang Om nya.."


"Dia membohongimu El.. kenapa kau masih menerimanya..?"


"Ya aku tahu.. tapi itu dilakukan karena memang dipaksa oleh Om dan Tantenya.. ia yatim piatu Az.."


"Atau kamu sudah mulai menaruh hati dengannya..? ini diluar sifatmu yang selalu tegas dalam mengambil keputusan.."


"Entahlah.. aku tidak tahu dengan apa yang kurasakan.. aku tidak tega melihatnya menderita.. aku geram jika ada orang yang menyakitinya dan aku selalu mentoleransi setiap kebohongan dan kesalahan yang dia lakukan.."


"Oh common El.. it's love.. dari wajahmu aku sudah tahu kalau memberikan perhatian khusus padanya.."


"Aku masih ada keraguan tentangnya.. aku ingin tahu motif yang sebenarnya ia mau bertahan di rumah ini sebagai jaminan.." ucap Haiden. "Oleh sebab itu aku ingin minta bantuanmu menyelidikinya.."


"Oke.. kalau kau yang meminta.."


"Nama aslinya Aira.. tapi dia disini mengaku Abi.. aku yakin setelah mengenalnya kau akan menyukainya.. ia memiliki hati dan pribadi seperti malaikat.."


"Oke..oke.. stop memujinya El.. aku tahu dia wanita baik - baik karena telah berhasil menaklukkan mu tanpa ia sadari.."


"Jadi kau mau membantuku..?"


"Tenti saja.. akan aku lakukan demi kakak ku yang tampan ini.."


"Thank's Az.." ucap Haiden. "Tapi bagaimana kamu bisa langsung tahu kalau dia seorang wanita..? aku butuh waktu yang cukup lama untuk menyadarinya.."


"Kau lupa kalau aku seorang pekerja seni.. dari postur tubuh, wajah, cara bicara aku bisa tahu kalau dia seorang wanita.."


"Hebat.. adikku ini ternyata otaknya tidak bebal.."


"Hei jangan menghina ya.." ucap Azkara cemberut. "Tapi El kenapa kau tidak membongkar penyamarannya..?"


"Aku takut dia akan merasa bersalah dan menjauh dariku.. jadi aku hanya menunggu.."


"Hei.. menunggu..? kau Haiden Kafael Lukashenko terkenal sebagai seorang mafia, seorang raja di dunia bisnis kenapa menunggu..? orang yang biasanya selalu menunggumu.. aku rasa memang kau sedang jatuh cinta El.."


"Entahlah.. aku rasa ini adalah simpati.."


"Oke.. kalau saat ini kau belum mau mengakui perasaanmu.. tapi aku bahagia untukmu El dan aku berharap kau bertemu dengan wanita yang benar - benar tulus mencintaimu.."


Azkara memeluk dan mengusap punggung kakak satu - satunya itu..


"Oke.. lanjutkan pekerjaanmu dan aku akan melakukan misi ku.." ucap Azkara sambil keluar dari ruang kerja.


Azkara sebenarnya sangat menyukai Aira yang cantik dan sederhana.. hanya kakaknya itu yang belum pasti dengan perasaannya.. Aku akan membuatmu tahu akan perasaanmu sendiri El tekad Aira..


☘☘☘☘☘