
"Kau tahu kalau aku akan marah bukan..?" tanya Haiden sambil menyelimuti tubuh istrinya
"Tentu saja aku tahu.. melihat David datang ke sini saja urat - urat di wajahmu sudah menegang.." ucap Aira sambil bersandar di dada Haiden. "Aku tidak mau menjadi sasaran kemarahanmu yang tidak jelas seperti waktu itu.."
"Hmm.. jadi kau menggunakan ini untuk merayuku.." Haiden mengangkat bra yang berbulu itu ke atas.
"Sudah ah.. aku malu.." Aira merebut bra itu dari tangan suaminya dan menyembunyikannya.
"David sekarang lebih berani.. dia mau membebaskanmu dari kurunganku.."
"Hahahahhh.. tenang saja sayang.. aku lebih suka dalam kurunganmu.."
"Kau harus lebih berhati - hati.. jangan sampai dia tahu kalau ada Rafael.. aku mengkhawatirkan kalian.." Haiden mencium kening Aira dan mempererat pelukannya.
"Aku dan Rafael baik - baik saja sayang.. kau konsentrasilah pada rencanamu.."
"Sekarang aku tidak berani seperti dulu.. mungkin karena saat itu aku masih sendiri.. aku tidak memikirkan keselamatan siapapun.. tapi sekarang beda, aku tidak mau kehilangan kalian berdua.."
Aira memandang ke Haiden. Salah satu tangannya memegang pipi suaminya itu. Matanya menatap suaminya "El.. aku tidak mau kehadiranku dan Rafael menyurutkan keberanianmu seperti dulu.. selama kamu benar kami akan mendukung.." Aira mencium bibir Haiden sekilas.
"Terima kasih sayang sudah mendukungku.." Haiden membalas kecupan istrinya. "Kamu lelah.."
"Kalau denganmu aku tidak pernah lelah sayang.."
"Kalau begitu satu kali lagi.. oke.." pinta Haiden sambil mengunci tubuh istrinya.
"Hei.. hentikan.. geli sayang.. hahahahhh.."
Kegiatan panas mereka masih belum usai.
Sementara itu Noah datang ke kediaman Lukashenko membawa sesuatu.
"Eda.. tuan ada..?"
"Ada.."
"Aku akan menemuinya di ruang kerjanya.."
"Heh.. kau tunggu di dapur saja akan aku buatkan camilan.."
"Kenapa..?"
"Tuan sedang dikamar bersama dengan nyonya Aira.. kau pasti mengerti kan..?" jawab Eda dengan tatapan penuh arti.
"Heh yah.. aku akan mengikuti saranmu.. pasti akan lama.."
"Ayo.." ajak Eda ke dapur.
Dia membuatkan Noah pancake dan teh hangat.
"Makanlah.."
"Terima kasih Eda.."
Tak berapa lama muncul Azkara dan Harika dari belakang, ia sepertinya habis berkebun.
"Kenapa kau di dapur..? tumben..?" tanyanya pada Noah sambil mencuci tangannya.
"Saya menunggu tuan.."
"Kenapa di dapur..? biasanya di ruang kerja.." Azkara membantu Harika mencuci tangan.
"Tuan sedang ada di kamar.."
"Terus.."
"Pasti lama.."
"Eda, El ada di kamar bersama Aira..?" tanya Harika.
"Benar nyonya.."
"Ya sudah daripada bosan biar Noah di sini saja.."
"Hah.. dasar tidak tahu waktu.. pagi, siang, sore, malam.." ucap Azkara jengkel.
"Sudah.. namanya juga pengantin baru.."
"Pengantin baru apa bu.." protes Azkara. "Dia itu pengantin lama nyatanya ada Rafael.."
"Ingat kakakmu menikah diumur tiga puluh enam tahun.. wajar kalau dia sering menghabiskan waktu bersama istrinya.."
"Dasar bujang lapuk.. bujang tua.." Azkara masih saja jengkel. Ia duduk di dekat Noah dan tanpa sadar memakan pancake milik Noah. "Hmm.. enak.."
"Maaf nona.."
"Kenapa..? mau ikut membela tuanmu juga.."
"Bukan.. itu pancake saya.."
Azkara sedikit malu, tapi bukan keluarga Lukashenko kalau tidak memiliki gengsi yang tinggi.
"Dasar pelit.." gumam Azkara sambil meletakkan sendok di piringnya. "Eda buatkan aku juga.." perintahnya. "Ibu mau..?"
"Boleh.. tapi jangan terlalu manis Eda.."
"Baik nyonya.."
"Aku akan naik ke atas.."
"Eh buat apa..? jangan ganggu kakakmu.."
"Ini tidak bisa di biarkan bu.. bagaimana kalau itu urusan penting.." Azkara beranjak dari tempat duduknya.
"Azka.. Azka.. Azka..!" panggil Harika berusaha mencegah tindakan putri kesayangannya itu. Tapi semuanya sia - sia. Azkara berjalan cepat menuju kamar Haiden.
Tok..tok..tok..tok..
"El.. El.. El.." panggil Azkara berulang kali.
Hampir sepuluh menit ia menunggu pintu itu terbuka, sambil terus mengetuk pintu.
"Sial..!" teriak Haiden
"Sayang buka pintunya dulu.."
"Ada perlu apa anak kecil itu.."
"Siapa tahu Azka ingin menyampaikan hal penting.."
"Hah.. baiklah kau tunggu di sini.." perintah Haiden. Ia mengenakan celana boxer nya dan telanjang dada. "Awas saja kalau tidak penting..!" gumamnya kesal. Ia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya sedikit.
"Apa..!"
"Oh syukurlah kau masih hidup El.."
"Sialan kau anak kecil.." ucap Haiden. "Mau apa..?"
"Banyak yang mau bertemu denganmu.. semuanya penting.. bisakah kakakku yang tampan ini keluar dan melepas istrinya satu menit saja.."
"Heh.. baiklah.. aku mandi dulu.."
"Benar kau mandi dulu.. bau mu penuh dengan air surga milikmu.." cibir Azkara. "Hueekk.."
"Hei yang sopan dengan orang tua.."
"Kakak ipar..!" teriak Azkara dari luar. "Mandinya jangan lama - lama.. El banyak tamu.." lanjutnya sambil menjulurkan lidah pada Haiden dan pergi meninggalkannya.
Haiden segera menutup pintu
"Kita lanjutkan di kamar mandi sayang.." ucapnya sambil menggendong Aira dari tempat tidur menuju kamar mandi.
🌸🌸🌸🌸🌸
Setelah satu jam menunggu Haiden selesai mandi
"Informasi apa yang kau bawa sampai menggangguku..?"
"Maaf tuan.."
"Cepat katakan.."
"Saya menemukan diary Roberto tuan.."
"Yah tuan.. tulisan tangan Roberto berisi tentang pribadinya.." jawab Noah sambil menyerahkan buku itu pada Haiden.
"Dimana kau menemukannya..?"
"Roberto cukup pintar.. dia menyewa safe deposit box di sebuah bank.. isinya tabungan, beberapa sertifikat dan buku ini.. karena dia sudah meninggal maka pihak bank menyerahkan pada ahli waris sesuai yang tertera di surat perjanjian.."
"Bukankah Roberto hidup sendiri tanpa keluarga..?"
"Dia mengangkat seorang anak laki - laki sepuluh tahun yang lalu di sebuah panti asuhan.."
Haiden melihat buku yang sudah cukup tua. Dengan hati - hati ia membukanya. Dan membacanya pelan - pelan.
"Hmm.. ini sudah cukup menjadi bukti kejahatannya.. ada nama Nungki dan Kemal.." ucap Haiden. "Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.. mereka bisa terkena pasal pembunuhan berencana.. kerja yang bagus Noah.."
"Terima kasih tuan.."
"Jangan beri tahu siapa pun termasuk Azka.. aku yakin ia pasti akan mendesakmu.."
"Baik tuan.."
"Dan satu lagi.. jangan sampai Istriku tahu dulu kalau Nungki yang merencanakan pembunuhan terhadap orang tua nya.."
Praankkk... "Apa...!!!" teriak Aira. "Benarkah yang aku dengar itu sayang..? tante Nungki dalang pembunuhan orang tuaku..!"
"Aira tenang sayang.. duduk dulu aku akan menjelaskan semuanya.." ucap Haiden. "Noah kau keluarlah dulu.."
"Baik tuan saya permisi.."
Noah segera keluar. Air mata Aira mulai turun.
"Sayang duduklah sini.." pinta Haiden sambil memeluk istrinya. "Jangan menangis please.."
"Aku tidak menangis.. entah bagaimana air mata ini bisa keluar.. aku lega pembunuh orang tuaku bisa tertangkap.. tapi terus terang aku tidak menyangka kenapa bisa keluarga dekatku yang melakukannya.."
"Awalnya aku tidak percaya.. tapi dengarlah ini.." Haiden mendengarkan sebuah rekaman video antara Kemal dan Nungki waktu di rumah sakit.
"Ya tuhan aku tidak menyangka mereka tega melakukannya.. dan juga Ivanka anak tuan Kemal.."
"Baskara telah banyak di tipu oleh Nungki.. aku sekarang jadi tahu kenapa hubungan Kemal dan Nungki di tentang oleh kakekku.." ucap Haiden. "Nungki adalah seorang wanita uang bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk mengorbankan keluarga termasuk kamu dan Ivanka anaknya.."
"Yah kamu benar sayang.. bagaimana nanti dengan om Baskara kalau tahu kakaknya di bunuh oleh istrinya sendiri.."
"Aku tidak tahu...tapi Baskara tidak terlibat dalam pembunuhan itu.."
"Apakah bukti ini cukup kuat..?"
"Aku masih memiliki satu lagi bukti.." Haiden menunjukkan sebuah buku pada Aira.
"Apa ini..?"
"Buku harian Roberto.. dia mencatat semua kejahatan yang telah dilakukannya.." jawab Haiden. "Disini juga ada kejahatan yang lainnya termasuk membunuh orang - orang yang menghalangi tujuan Kemal.."
"Oh syukurlah sayang kita bisa menemukan buku ini.."
"Yah.. aku juga bisa memenjarakan Kemal.." ucap Haiden sambil memeluk erat Aira. Karena kelegaan hatinya yang berhasil menguak satu demi satu kejahatan di sekitarnya
Sementara itu..
"Hei.. informasi apa yang kau bawa untuk kakakku..?"
"Maaf nona.. saya hanya membawa laporan keuangan seperti biasa.."
"Jangan bohong.. aku bisa membedakan mana laporan penting dan laporan tidak begitu penting.. kalau kamu rela menunggu lama itu artinya sangat penting.. apa itu..?"
"Maaf nona.. itu bukan informasi penting.."
"Oh.. mencoba setia dengan kakakku ya.." ucap Azkara. "Jangan sebut namaku Azkara kalau aku tidak tahu informasi apa itu.. kita lihat saja nanti.." ucapnya sambil pergi meninggalkan Noah.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Tolong aku David.. tolong.."
"Tenang tuan Kemal.. duduklah dulu.." ucap David sambil mempersilahkan Kemal duduk. Ia mengambilkan segelas wiski dengan es batu dan memberikan pada Kemal. "Silahkan diminum tuan Kemal.."
"Terima kasih.." Kemal langsung menenggak minuman itu hingga habis.
"Tuan Kemal.. kali ini aku tidak bisa menolongmu.."
"Apa..?! Tolong sembunyikan aku.."
"Kali ini Haiden tidak main - main.. aku sudah pernah bilang.. jangan terlalu serakah tuan Kemal.." ucap David. "Anda justru tidak akan mendapat apa - apa.."
"Keponakan tidak tahu diri..!" teriak Kemal geram. "Anda tidak takut kalau saya membocorkan rahasia anda ketika saya tertangkap nanti.."
"Ups.. rahasia apa yang tuan Kemal tahu..? silahkan saja tuan katakan semuanya di kantor polisi.."
"Anda tidak takut..?"
"Hahahahhhh.. sama sekali tidak tuan.. anda tidak memiliki bukti apapun bukan.. saya terlalu bersih.."
Kemal terdiam sejenak, ia menyadari ancamannya tidak akan membuat David menolongnya.
"Tuan Kemal.. saya akui anda seorang petarung dalam bisnis.. tapi yang dibutuhkan tidak hanya kekuatan saja tapi juga ini.." ucap Haiden menunjuk kepalanya.
"Maksud tuan saya bodoh..?"
"Yah benar.. pantas saja anda selalu kalah bertarung dengan Haiden.. kemampuan berpikir anda seperti seorang pelayan rendahan.."
"Kurang ajar..!!! jaga mulutmu David..!!!" Kemal mencengkeram kerah baju David. Beberapa bodyguard sudah mengacungkan senjata ke arahnya.
David mengangkat tangannya sebagai tanda untuk tidak menembak. Kemudian kedua tangannya mencengkeram erat kedua tangan Kemal yang mencengkeram bajunya dan menghempaskannya.
David tersenyum "Tenang tuan Kemal.. saya akan membantu anda.."
"Benarkah..?" tanya Kemal tersenyum lega.
"Benar.. saya akan menyembunyikan anda ke dalam liang kubur.. hahahahhh.."
"Kau..!!!" Kemal akan memukul David tapi tiba - tiba dia memegang lehernya.
"Bagaimana rasanya..? itu adalah rasa yang sama yang di rasakan oleh Roberto.."
"Kkkkaa..kkkkaaa..kkkkau meracuniku.."
"Aku hanya membantumu untuk bisa bertemu dengan Ivanka anakmu.. hmm betapa baiknya diriku bukan.."
"Kkkkkhhhhh.." Kemal tidak bisa mengeluarkan suara. Tenggorokannya seperti tercekik, mata melotot dan wajahnya memerah.
"Sssttt jangan banyak bicara tuan Kemal.. nikmati saja prosesnya.. itu juga aku lakukan pada Ivanka biar dia tidak terlalu lama menderita.. hahahahahhh.." David duduk di sebuah sofa sambil memandang Kemal yang jatuh terkapar di lantai. "Seandainya saja kau tahu saat tubuhnya kejang - kejang kehabisan oksigen.. itu sangat menyenangkan.."
Mulut Kemal mulai mengeluarkan busa.
"Bawa dia ke rumahnya.. buat seolah - olah dia mati bunuh diri.."
"Tapi dia masih hidup tuan.."
"Memang.. begitu sampai di sana ia akan mati.. itu untuk mengelabui polisi ketika tiba di sana.."
"Baik tuan.."
"Selamat jalan tuan Kemal.." ucap David lirih.
Sementara itu ada sepasang mata yang geram mendengar apa yang David katakan.
🌸🌸🌸🌸🌸
Pagi itu Aira meminta ijin pada Haiden untuk pergi ke makam orang tuanya. Dengan diantar oleh sopir keluarga Aira berangkat, ia pergi membeli bunga terlebih dahulu.
Ia sudah mendengar penangkapan Nungki. Ingin rasanya ia melihat keadaan tantenya itu. Tapi hati kecilnya seperti menolak. Ia butuh waktu dan keberanian untuk menemui tantenya di penjara. Walau bagaimanapun ia dulu yang merawatnya ketika kedua orang tuanya meninggal. Diluar perlakuannya yang tidak manusiawi.
Tak berapa lama ia sampai ke pemakaman, ia ingin menyampaikan apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya. Betapa leganya ia setelah menemukan siapa pembunuh orang tuanya.
Tiba di kedua makam orang tuanya Aira meletakkan bunga yang di belinya tadi sambil membersihkan beberapa rumput yang tumbuh di sekitarnya.
"Aira.."
Deg.. deg.. seketika wajahnya berubah menegang. Ia mengenal suara itu.
"Ddavid.." ucapnya lirih.
🌸🌸🌸🌸🌸