My Desire

My Desire
Berkemah 2



"Nyonya...tuan.. kita sudah sampai.." ucap Noah


"Aahh.. akhirnya kita sampai.. aku ingin segera rebahan di dalam pesawat.."


Noah turun dari mobil dan bergegas untuk membukakan pintu. Bodyguard sudah turun untuk mengecek segala kondisi pesawat dan situasi sekitar bandara. Setelah dirasa aman, mereka memberikan kode untuk Noah.


"Abi.. kita sudah sampai.. bangunkan El.."


"Baik nyonya.." ucap Aira lega karena sebentar lagi kakinya bebas bergerak. "Tuan.. bangun.. kita sudah sampai.."


"Hmmm.."


"Tuan.. tuan.. tuan bangun.."


"Biarkan aku tidur sebentar lagi Abi.." jawab Haiden dengan suara sedikit serak tapi terkesan seksi. Haiden melingkarkan tangannya ke perut Aira.


"Maaf nyonya tuan tidak mau bangun.."


"Mungkin dia kecapekan Abi.."


"Ttapi nyonya.."


Siapa yang melihat ini pasti akan mengira tuan menyimpang. Ia sangat nyaman tidur di paha seorang pria.


"Lima menit lagi nanti kamu bangunkan.. aku naik pesawat dulu.." Harika keluar dari mobil dan naik ke dalam pesawat.


"Tuan El.. tuan.." panggil Aira. Kali ini Aira sambil mengguncang pundaknya. Dan akhirnya usahanya membuahkan hasil. Haiden membuka matanya. Mata mereka saling bertatapan. Cukup lama Aira memandang mata yang menurutnya paling indah.


"Heh.. kau mengganggu tidurku.. awas kalau sudah sampai pulau.."


"Maaf tuan.."


"Ayo keluar.."


Mereka berdua keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam pesawat. Aira terkagum - kagum dengan pesawat pribadi milik tuannya.


"Abi.. duduk sini.."


"Baik bu.." jawab Aira dan duduk di sebelah Eda.


"Abi.."


"Ya tuan.." jawab Aira. "Bu Eda aku tinggal sebentar.." pamit Aira. Eda hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Duduk.." perintah Haiden.


"Tapi saya sudah duduk dekat bu Eda tuan.."


"Membantah..?!"


"Hehehehh.. tidak berani tuan.." jawab Aira dan kemudian duduk di sebelah tuannya.


Haiden kemudian mengulurkan tangannya dan Aira menyambut uluran tangan tuannya.


"Siapa yang mengajakmu salaman..?"


"Oh maaf tuan.. saya kira mau bersalaman.."


"Pijat tanganku.."


"Oh baik tuan.." Aira mulai memijat perlahan tangan Haiden. Tiba - tiba ada arahan dari pramugari untuk menggunakan sabuk pengaman karena pesawat akan take off dan semua penumpang di wajibkan mengenakan safety belt. Wajah Aira berubah pias mendengar peringatan dari pramugari. Ia mencengkeram erat tangan Haiden. Menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan pelayannya itu akhirnya Haiden bertanya.


"Kenapa..? takut..?"


Aira hanya mengangguk saja. Matanya terpejam, keringat dingin mulai membasahi dahinya.


"Hei.. buka mata kamu.."


"Takut tuan.."


"Coba buka dulu.. atau perlu aku stempel keakraban.."


"Jangan tuan.." jawab Aira. "Iya.. iya.. saya buka.." perlahan Aira membuka matanya. Sekali lagi ia melihat mata yang paling indah. Mata milik tuannya, tatapan yang tajam tapi menyejukkan dan juga melindungi..


"Dulu waktu aku kecil aku juga merasa sangat takut naik pesawat.. padahal ayahku dari Rusia dan keluarga ibuku di Turki.."


"Lantas apa yang tuan lakukan..?"


"Aku tidak melakukan apa - apa.. aku hanya mendengar ayahku bercerita dan ibuku bernyanyi.."


"Benarkah semudah itu..?"


"Iya semudah itu.. coba saja.. sekarang dengar aku akan bercerita.."


"Cerita apa tuan..?"


"Hmm.. bagaimana kalau putri salju dengan tujuh kurcaci..?"


"Hahahahhh.. itu cerita anak - anak tuan.." Aira tertawa terbahak - bahak. Tanpa sadar pesawat sudah take off.


"Bagaimana kalau bernyanyi..?"


"Tuan bisa..?"


"Bisa.. twikle - twikle little star.."


"Hahahahhh.. itu juga lagu anak - anak.."


"Hmmm sepertinya kau meremehkan aku.."


"Saya tidak meremehkan tuan hanya geli saja.."


"Aku yakin suaramu tidak lebih bagus dariku.."


"Tunggu sampai tuan mendengarkan nyanyianku baru memberikan pendapat.." Aira mencibir dan sedikit sombong. Ia mulai bernyanyi dan memang diakui oleh Haiden suaranya cukup merdu.


Begitulah mereka terus berbincang kadang bertengkar karena beda pendapat, kadang mentertawakan hal - hal kecil. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi gerak gerik mereka.


Kenapa interaksi dan kedekatan mereka tidak wajar. Apa tuan Haiden mengalami penyimpangan seksual. Memang tak bisa dipungkiri Abi itu pria yang berwajah cantik batin Bella. Aku tidak boleh kalah. Setelah sampai di pulau nanti aku pastikan Haiden harus tidur denganku.


Setelah menempuh waktu hampir lima jam akhirnya mereka sampai di pulau pribadi keluarga Lukashenko.


"Wah.. bagusnya.." teriak Aira begitu turun dari pesawat. "Bu Eda.. lihat itu pasirnya putih.."


Eda hanya tersenyum melihat Aira berlari kesana kemari seperti anak kecil. Tapi Aira memang anak yang dituntut untuk dewasa sebelum waktunya. Terkadang Eda merasa kasihan dengan nasib yang mempermainkannya. Tapi ia percaya suatu saat ia akan menemukan kebahagiaan.


"Ada apa..?"


"Ayo cepat sini.." Aira melambaikan tangan lagi.


"Sabar.. usiaku sudah lebih dari setengah abad.."


"Lihat itu bu.. ternyata tendanya seperti itu.. betul - betul mirip.. wow bagus sekali.." Aira tak henti - hentinya mengagumi tempat itu. "Itu dari kayu ya bu.."


"Iya itu dari kayu oak.. tuan memesannya khusus dari Amerika dan mendesain agar bentuknya mirip dengan tenda. Didalamnya ada tempat tidur kamar mandi dan perapian. Untuk makan ada ruangan tersendiri di sebelah sana.." tunjuk Eda di sebuah bangunan mirip sebuah cafe yang juga terbuat dari kayu oak.


Dari kejauhan Haiden melihat kehebohan Aira dengan senyuman. Ia menjadi geli karena mulut Aira tidak henti - hentinya menganga karena terkagum - kagum dengan tempat ini.


"Lihatlah anak itu.. sepertinya ia senang sekali.." ucap Harika yang tiba - tiba ada di samping Haiden.


"Iya bu.. mungkin dia jarang bepergian ketempat - tempat seperti ini.."


"Mungkin benar tebakanmu.." ucap Harika. "Baiklah kamu urus semuanya.. aku akan masuk ke tenda.."


Haiden memerintahkan Noah untuk membagikan kunci kamar ke semua yang ikut.


"Maaf Noah.. kenapa aku tidak dapat kunci kamar.. aku satu kamar dengan siapa..?" tanya Aira cemas. "Kalau aku tidak dapat kamar aku tidur dengan bu Eda saja.."


"Aku sudah satu kamar dengan Bella.." jawab Eda.


"Apalagi kamu pria.. tidak pantas satu kamar dengan wanita.." ucap Noah.


"Tapi bu Eda kan sudah tua dan sudah menganggap aku seperti anak sendiri.. iya kan bu.."


Eda hanya tersenyum mendengar argumentasi Aira.


"Kamu satu kamar denganku.." ucap Haiden yang tiba - tiba muncul dari arah belakang.


"Apaa..! satu kamar dengan tuan..? ttaapiii kenapa satu kamar dengan tuan..?" ucap Aira kaget.


"Karena kamu pelayanku.."


"Saya memang pelayan tuan.. tapi tidak harus satu kamar kan.. atau saya tidur sendiri saja.."


"Oh kamu mau tidur sendiri.. silahkan saja kamu tidur disana.." tunjuk Haiden di sebuah ayunan pohon atau hammock.. "Kalau ada ular atau laba - laba tarantula yang menggigitmu jangan salahkan aku.."


Waduh..! ular..? laba - laba tarantula..? hiiii mengerikan batin Aira tergidik ngeri. "Baiklah saya tidur dengan tuan.."


"Oh.." Haiden manggut - manggut. "Jadi kau mau tidur denganku.. dengar ya Abi aku masih normal.. aku tidak menyukai pria.."


"Bbbukan itu.. maksud saya satu kamar dengan tuan.."


"Baiklah kalau begitu.. ayo semuanya masuk ke dalam kamar.. kita istirahat sampai nanti makan malam.." perintah Haiden.


"Baik tuan.." jawab semuanya serempak.


Aku harus hati - hati menyembunyikan barang - barangku. Jangan sampai tuan tahu dengan penyamaranku ini. Aku harus lebih waspada. Tuhan lindungi aku.


"Kenapa diam disitu..? ayo masuk.."


"Baik tuan.."


Aira masuk ke dalam kamar yang mirip dengan tenda itu. Benar yang dikatakan Eda didalamnya semua barang komplit dengan fasilitas yang mewah. Cuma di dua kamar yang berbeda, lebih besar. Satu milik Haiden dan satu lagi milik Hatika. Di dalam kamar ini memiliki dua tempat tidur yang satu king size yang satu lagi single bed yang letaknya di bawah. Mungkin memang untuk pelayan pribadi saja.


"Kamu mandi saja dulu.. aku mau keluar ketemu ibu sebentar.."


"Baik tuan.."


Haiden segera keluar, sedangkan Aira menata baju tuannya di dalam almari. Sedangkan miliknya dia biarkan di dalam tas. Setelah selesai ia segera mandi.


Sementara itu dalam perjalanan keluar Haiden bertemu dengan Bella yang membawa sebuah minuman.


"Maaf tuan.. ini minumannya.."


"Taruh saja di dalam kamarku, aku mau bertemu ibu sebentar.."


"Baik tuan.." jawab Bella dengan senyuman yang sangat manis.


Bella berjalan lemah gemulai bahkan ia menggunakan pakaian dengan belahan dada yang cukup rendah. Ia segera masuk ke dalam kamar Haiden dan meletakkan minuman di meja.


Tampak ia mengeluarkan sebuah obat dari dalam saku bajunya. Maafkan aku Haiden, terpaksa aku beri obat perangsang dalam minumanmu karena sangat sulit sekali menjebakmu batin Bella dengan tersenyum licik. Setelah melakukan aksinya ia segera keluar.


Tak lama kemudian Aira keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar.


Hmmm.. baru ditinggal mandi saja sudah ada teh hangat.. betul - betul fasilitas hotel. Aira segera meminum minuman yang ada di atas meja. Kemudian ia melanjutkan dengan menyimpan tas dan barangnya di tempat yang aman. Setelah itu ia mengambil sebuah buku, dengan duduk diatas sofa. Aira mulai membaca. Kira - kira sepuluh menit berlalu ia merasakan badannya sangat panas dan gerah. Keringatnya mulai keluar pandangannya mulai kabur dan tidak fokus.


Kenapa rasanya gerah sekali.. panas.. panas.. ya tuhan badanku kenapa ini.. apa aku sakit.


Tiba - tiba pintu terbuka masuklah Haiden ke dalam kamar.


"Kamu sudah mandi..?"


"Ssuudah tuan.."


"Kalau begitu aku akan mandi.." ucap Haiden. Ia menengok ke arah Aira yang seperti orang kepanasan. "Kamu kenapa..?"


"Tidak tahu tuan.. tiba - tiba badan saya terasa panas dan gerah.."


Haiden berjalan mendekati Aira dan duduk disebelahnya. Ia memegang kening Aira. Aneh suhu tubuhnya normal tapi kenapa napasnya terengah - engah, wajahnya memerah dan banyak keringat. Jangan - jangan dia minum obat perangsang batin Haiden. Ia melirik dan melihat minuman untuknya sudah sisa setengah. Haiden berniat memeriksa gelas itu tapi tiba - tiba Aira duduk di atas pangkuannya.


"Tuan badan saya terasa gerah.." ucapnya manja. Ia dengan gerakan tanpa sadar membuka wig nya hingga terlihatlah wujud asli Aira.


Ini gila.. cantik dan menggairahkan. Haiden memandang pria yang berubah menjadi wanita cantik dengan mata tak percaya.


Aira mulai menggesekkan tubuhnya dengan tubuh Haiden. Napasnya terengah - engah. Kemudian ia mulai mencium bibir seksi milik tuannya.


Hmm.. naluri pria jantan dalam tubuh Haiden muncul. Ia segera mengimbangi permainan Aira. Ia mulai membalas ciuman Aira.


"Hmmm.. manis tuan.." ucap Aira dengan suara menggoda dan menjulurkan lidahnya untuk merasakan ciuman Haiden di bibirnya. Perlahan ia membuka kaos dan terlihatlah sebuah korset yang selama ini ia gunakan untuk menutupi bukit kembar miliknya. Dengan kulit yang putih dan halus tentu saja akan membuat semua pria terpana.


"Oh syiitt..! ini gila..!" teriak Haiden.


"Ini memang gila tuan.." ucapnya dengan suara serak. Dan kemudian kembali mencium bibir Haiden dengan rakus.


Baiklah Abi.. jangan salahkan aku jika aku berbuat lebih jauh.. dan ingat jangan menyesal batin Haiden..


☘☘☘☘☘