
Helm yang Hiyola kenakan kali ini terasa sangat sulit untuk di buka. Mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 19. 25 menit lah alasannya. Untung saja saat ini di parkiran, tidak nampak satu pun tanda-tanda bahwa Roberth sudah pulang, jadi Hiyola masih bisa sedikit bernafas lega.
Berlari ke pintu rumah. Kepala Hiyola terus berbalik ke belakang, menatap cemas ke pintu gerbang, takutnya Roberth akan muncul dari balik sana.
Sesekali Hiyola juga mengarahkan anak kunci untuk membuka pintu namun, tanpa sadar saat terlalu kuat mendorong, pintu nya terbuka dan tubuh Hiyola terhuyung masuk. Mata Hiyola membelalak saat kepalanya tidak sengaja menabrak sesuatu di depan.
‘Hmm… beraroma manusia.’ Batinnya.
Gawat nya saat Hiyola menengadah, wajah tampan Roberth tengah memandangnya dengan datar.
Sepertinya dia marah.
“Kau tahu pukul berapa sekarang?” Tukas Roberth.
Keringat bercucuran keluar dari pelipis Hiyola. Padahal udara yang masuk dari pintu cukup menyejukkan.
Hiyola mendorong pelan dada bidang Roberth, kemudian mundur selangkah ke belakang. Roberth sudah tampak rapi dengan setelan jas nya, sepertinya dia sudah menunggu cukup lama.
Hiyola menyengir, satu tangan nya menggaruk telinga yang tidak gatal.
"Eh, tuan sudah pulang? Kok mobil nya tidak ada di parkiran?" serunya menunjuk ke luar.
Roberth melipat ke dua tangan nya di depan dada, "Lalu kenapa kalau mobil saya tidak ada di depan? Jangan beralasan! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan."
Tadi pagi saat di kantor, seseorang tidak sengaja menabrak mobil Roberth di parkiran kantor, itu sebabnya tidak ada mobil di depan, dan untuk berapa hari Roberth akan pulang pergi bersama Petra.
Hiyola mendesis. “Saya bisa jelaskan.”
Satu alis Roberth terangakat naik, penuh selidik. “Apa lagi alasan mu? Apa kau memang selalu seperti ini? Tidak tepat waktu?” tuding Roberth.
Wajahnya memerah, meskipun tampak tenang, Hiyola tahu pria itu sedang menahan emosinya.
“Bukan begitu, saya punya pekerjaan pukul enam, jadi saya harus menyelesaikan nya, saya kira bisa tepat waktu tapi ternyata macet di jalan hampir satu jam.” Ungkap Hiyola dengan ekspresi lucu saat menceritakan bagaimana kalang kabut nya ia saat di jalan tadi.
Roberth berdecak. “Pekerjaan apa lagi yang kau maksud? Bukankah pertemuan pukul 7 sudah di batalkan perusahan? Jadi, apa lagi alasan mu?”
Tadi saat di kantor setelah meeting selesai Roberth langsung memerintahkan Petra untuk membatalkan janji temu antara Hiyola dan pelanggan nya agar Hiyola tidak punya alasan untuk datang terlambat.
Hiyola berdesis pelan. Ingin rasanya ia mengutuki Roberth karena membatalkan janji temu nya. Pria sialan ini bahkan tidak tahu berapa yang akan Hiyola hasilkan jika pergi menemui pelanggan satu itu.
Sambil memilin jari-jari menatap Roberth. “Sebenarnya saya menerima job dari tempat lain, agar tidak terlalu merasa rugi karena janji temu yang batal.” Hiyola menunduk menatap jari-jari tangan nya agar Roberth tidak melihat air wajah sebenarnya yang ia sembunyikan.
Raut wajah kesal dan jengkel yang sedang ia tahan. Dia hanya berpura-pura menyesal agar Roberth merasa senang dan tidak mengamuk, lagi pula selama waktu yang ia buang menghasilkan uang, Hiyola tidak peduli. Memangnya bertemu keluarga Roberth menghasilkan uang?
Roberth berdecak. “Kau memang wanita yang rela melakukan apa pun demi uang, huh!”
Hiyola mengangkat kepalanya sedikit mengernyit, walau benar apa yang roberth katakan, nada dalam kalimat nya sedikit mengganggu di telinga Hiyola.
“Kenapa melotot? Bukankah benar kau itu wanita mata duitan?” wajah Roberth tetap datar walaupun mengatakan kalimat sarkasme yang membuat darah Hiyola kian mendidih.
Walau sering mendengar kalimat itu, entah mengapa mendengarnya kali ini terasa lebih menyakitkan. Mata Hiyola yang tadinya melotot berubah sayu, tapi ia tidak menunjukkan nya untuk di lihat Roberth. Dia memalingkan wajah nya kearah lain.
“Baiklah, saya tahu Tuan marah, tapi harusnya tuan membentak saya, atau paling tidak meninggikan suara, mengatai orang dengan ekspresi datar seperti itu jauh lebih menyebalkan!!!” Hiyola mulai meninggikan suaranya.
Apakah Roberth ini alien? Bisa-bisanya dia menghina orang tanpa berekspresi seperti itu?
“Saya tidak mau membuang tenaga untuk wanita seperti kamu.”
“Wanita seperti saya? Memangnya saya wanita seperti apa? Tahu apa tuan tentang saya?” protes Hiyola, seraya marah-marah.
Roberth melipat ke dua tangan nya di depan dada, alis nya mengerut. “Bukankah yang seharusnya marah itu, saya? Kenapa jadi kamu yang naik pitam?”
“Itu karena-“
“Sudah!” Roberth mengangkat satu tangan nya, menjeda kalimat yang akan keluar dari mulut Hiyola.
“Sebaiknyakau ke atas dan bersiap-siap. Saya akan meminta Petra untuk menjemput kita.”
Imbuhnya lalu berjalan keluar melewati Hiyola yang tampak dongkol.
Rasanya seperti tinggal bersama mayat hidup.
Mendengus sebal, Hiyola langsung berjalan menuju lantai dua. Untuk pertama kali nya Hiyola rindu di marahi. Roberth bagaikan mayat hidup yang kehidupan nya sangat tertata. Dia tidak pernah tersenyum, tidak marah, bahkan tidak pernah mengomel.
“Seandainya dunia ini penuh dengan spesies Roberth, aku akan mendaftarkan diri untuk pergi ke Mars.” Celoteh Hiyola seraya meraih ganggang pintu kamar dan membuka nya. Sebelum benar-benar membuka pintu, Hiyola sempat berbalik, melihat ke lantai satu dengan sinis.
Sungguh mood nya sudah benar-benar hilang.
“Dasar manusia tak normal. Sepertinya keahlian dia membuat orang kesal!” ketus nya masih mengomel.
***
Tok… tok… tok…
Hiyola terkejut saat mendengar ketukan pada pintu kamar nya.
“Siapa?” tentu saja dia menebak itu Roberth.
“Buka pintu nya, saya yang akan memilih baju untuk mu.” Balas suara dari luar yang sudah bisa di pastikan itu Roberth.
“Saya bisa memilih sendiri.” Sahut Hiyola masih meradang. Saat ini Hiyola sudah selesai mandi dan masih mengenakan baju santai nya.
Tangannya masih memilah satu per satu dress yang belum sempat dia lihat kemarin.
Ceklek…
“Bagaimana tuan bisa masuk?” pekiknya penuh selidik.
Roberth menghindar sambil menyelonong masuk begitu saja. Tangan nya bahkan sedikit menyenggol Hiyola agar menyingkir dari depan lemari.
“Kau tak mengunci pintu.” Ucap nya beralasan.
Hiyola mengernyit, lagi-lagi insting curiganya mulai mendominasi. Dengan tidak percaya Hiyola berjalan ke arah pintu, mendorongnya sedikit untuk melihat apakah ada tanda-tanda dorongan paksa yang sialnya tak ada.
Hiyola kembali menoleh menatap punggung Roberth.
Hiss… pria ini lama-lama terlihat aneh.
“Kenakan ini.” Roberth meletakan dress hijau sage di atas ranjang.
Hiyola tampak mengernyit, baju yang Roberth suguhkan tidak bisa di katakana terbuka, tapi tidak bisa di katakan tertutup juga.
Tanpa menunggu komentar Hiyola, Roberth melenggang pergi. Sepertinya manusia satu itu memang tidak punya perasaan seperti manusia pada umum nya, dirinya hanya punya sedikit reaksi kekesalan, lebih banyak datar-datar saja dan tidak punya sedikit pun rasa canggung.
Padahal baru beberapa menit lalu mereka bersitegang di bawah, lihatlah sikapnya sekarang seperti tidak ada yang terjadi.
“Huh! Alien kaku, tidak punya perasaan.” Omel Hiyola sesudah memastikan Roberth menghilang dari kamar nya.
Tidak sampai lima menit Hiyola telah siap, perlahan namun pasti ia berjalan menuruni tangga. Masih beralaskan sandal rumah, gadis itu memijakkan kaki nya di lantai satu. Gerakan nya agak risih, rambut nya juga hanya di sanggul asal ke atas.
Roberth yang tengah berbincang dengan Petra di sofa menoleh ketika merasakan kehadiran orang lain. Walau sekilas Hiyola bisa tahu kalau kedua pria itu sempat terkesima dan hal itu cukup meyembuhkan kekesalan di hati nya.
“Kenapa berdiri saja di sana? Ayo cepat kita sudah terlambat”
Hiyola mengekori Petra sambil mencibir ketika Roberth melenggang kelur lebih dulu.
“Dasar pria jahat!” sewotnya di dengar Petra. Pria itu berbalik dengan ekspresi tak percaya.
Hiyola melebarkan matanya, “Apa?” sewotnya lagi. Tapi Petra pun tidak menghiraukan nya.
"Dasar! Bos dan anak buah sama saja." cibir Hiyola pelan agar petra tidak mendengar.
Sebelum naik mobil, Petra menyerahkan sesuatu yang terbungkus di dalam kantong bertulis Pandora yang Hiyola tahu nama sebuah took sepatu terkenal tempat ia pernah menjadi salah satu karyawan di sana.
“Pakailah nona, tuan Roberth yang membeli nya.”
Hiyola meraih kantong tanpa berkomentar, dia lalu membuka dan melihat isi nya. Sebuah high heels berwarna cream dengan model simple, berujung lancip. Sepatu yang sangat pas jika di padu padan kan dengan dress yang Hiyola kenakan saat ini.
“Aku harus mengenakan heels? Aku tak biasa.” Sungut Hiyola menatap ngeri high heels yang dia sodorkan kembali pada petra.
“Sebaiknya anda kenakan saja, nona. Ini perintah nyonya Violeta.”
Mendengar nama Violeta, Hiyola tanpa ragu-ragu langsung mengenakan heels yang ternyata sedikit kekecilan di kaki nya. Sungguh wanita itu sedikit menyeramkan menurut Hiyola.
Mobil melaju membelah jalan malam yang nampak ramai. Hiyola yang kelelahan tanpa sadar memejamkan mata nya. Bibirnya yang di poles lipstik merah merona sedikit terbuka kala wanita itu tertidur. Roberth yang dari tadi membuang muka ke luar jendela perlahan menoleh ke sisi kiri nya.
Mata Roberth berhenti sebentar kala menatap wajah Hiyola, “Tidak ada anggun-anggun nya.” Komentar Roberth. Petra melirik lewat cermin dashboard sedikit tersenyum.
“Fokus saja menyetir.” Tegur Roberth yang sadar sedang di amati.
“Baik tuan.” Seru Petra terciduk.
***
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah megah berlantai tiga. Rumah itu adalah rumah milik keluarga Kohler yang di bangun Violeta khusus untuk keluarga nya yang berada di Indonesia. Rumah yang hanya berpenghuni jika ada pertemuan keluarga.
Roberth menepuk pelan wajah Hiyola, membangunkan nya. Setelah mata Hiyola mengerjap barulah Roberth turun dan menunggu di luar.
“Hoaamm…” Mata Hiyola terbuka, dirinya sedikit terkejut saat tidak mendapati Petra di kursi depan dan Roberth di samping nya. Setelah menoleh keluar, Hiyola baru sadar bahwa mereka ternyata sudah sampai dan Roberth masih berdiri di luar.
“Maaf, saya tertidur.” Ucap Hiyola menyesal.
“Jika menyesal cepat keluar.” Sergah Roberth. Berhasil membuat Hiyola kembali mencibir.
Mereka masuk dengan Hiyola yang mengapit tangan nya pada lengan Roberth.
‘Kuno sekali.’ Sewot Hiyola dalam hati.
Mereka melangkah perlahan memasuki pintu rumah.
Dari luar Hiyola bisa dengan jelas mendengar suara ramai orang-orang yang tengah berbincang. Jantungnya berdegup tak karuan, tangan nya bahkan mulai gemetar.
“Tenang lah.” Ujar Roberth, tangan kirinya yang bebas terangkat mengusap tangan gemetar Hiyola yang tersisip di balik lengan kanan Roberth.
Perlakuan yang sedikit kaku namun terasa manis itu sontak saja membuat sesuatu dalam diri Hiyola menghangat.
Entah mengapa jantungnya jadi dua kali lebih cepat berpacu dari sebelum nya. Dalam hati Hiyola bertaruh bahwa ia sedang tidak jatuh cinta pada si kaku Roberth.
Sayang nya, belum juga aliran hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, sambutan aneh bembuat tubuh Hiyola membeku di tempat.
Seorang wanita yang tak Hiyola kenal berjalan bersama Nyonya Violeta.
“Jadi ini, Kimberly tiruan itu?”
Degghh….!
***