Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 8 : Rencana pukul 7



Hiyola sampai di gerbang kampus tepat 5 menit sebelum mata kuliah pertama di mulai. Hari yang ia jalani kini terasa jauh berbeda. Jika biasanya dia akan berpamitan pada Miona dan bibi Alya, kali ini ia harus menjalani hidup secara sembunyi-sembunyi. Ada kalanya takut orang-orang terdekatnya tahu akan pernikahan kontrak, ada kalanya ia takut berpapasan dengan para undangan yang datang kala itu.


Dengan lesu, Hiyola menapaki satu demi satu anak tangga. Hidupnya kini tidak lagi mudah. Tapi, bukankah hidupnya memang tak pernah mudah?


Waktu berjalan cukup lambat hingga dua jam berlalu. Dosen baru saja keluar ruangan di ikuti beberapa mahasiswa.


Mata Hiyola menerawang jauh, lewat jendela kaca mengamati beberapa mahasiswa yang tersebar di seluruh pnjuru kampus, sambil menopang dagu.


Ada yang berbincang ria bersama para sahabat, ada yang duduk berdua saja bersama pacar, bahkan ada yang berjalan pulang karena tidak punya jadwal kuliah, lalu yang bagian manakah dirinya?


Seandainya ia bisa berjalan pulang setelah kuliah, mengeluh lapar kepada orang di rumah, merasa kesal karena beda pendapat dengan Miona lalu mengurung diri hingga malam menjelang.


“Ahh…membayangkan saja sudah sangat menyenangkan.” Ucapnya, mengambil tas di bangku lalu berjalan ke luar.


Hari ini sama sekali tidak ada job yang masuk, dari aplikasi pun tak ada. Mungkin karena namanya yang di ganti di aplikasi, jadi para pelanggan nya tidak bisa menemukan dia lagi.


“Apa yang harus ku lakukan?”


Kaki Hiyola berhenti tepat di sebuah bangku taman, dia duduk lalu mengeluarkan telur goreng yang ia buat tadi, menggabungkan nya dengan empat lembar roti tawar yang di bungkus bersama.


Satu gigitan,


Dua gigita,


Tiga gigitan. Belum juga dia menelan, seseorang mengejutkan nya.


BUGhhh…


“Uhuk..!”


Satu pukulan mendarat di pundaknya membuat Hiyola yang tadi sedang mengunyah, tersedak. Daniel si biang kerok buru-buru membuka tas Hiyola mencari botol minum, tapi nihil.


“Apa kau tak membawa minum?” ujarnya khawatir.


Hiyola menggeleng sambil berucap tak jelas. Daniel langsung menarik lengan Hiyola untuk pergi dari taman. Mereka harus ke kantin untuk membeli minum.


Seperti orang gila keduanya berlari melewati beberapa mahasiswa yang menatap mereka keheranan, lebih tepatnya menatap Hiyola yang berpenampilan beda dari biasanya. Ternyata saat ke rumah tadi Hiyola tidak sempat mengganti baju karena waktu yang sudah sangat mepet.


“Pel-n-pe-an, Da-iel…” teriak Hiyola tidak jelas.


“Apa kata mu?”


“Bajuku sia lan…!”


Daniel langsung mengerem di tempat, tepat di depan kantin. Dia memang tidak melihat baju Hiyola tadi dan baru tersadar sekarang.


Melihat penampilan beda sahabatnya, Daniel sontak tertawa terbahak-bahak. Ini pertama kalinya Daniel melihat Hiyola mengenakan dress. Dan kuning? Pilihan pertama yang buruk.


“Jangan melihat ku seperti itu, belikan aku air,”


celoteh Hiyola masih merasa sesak.


“Oh iya, aku hampir lupa.” Daniel maju ke salah satu toserba di kantin lalu memesan sebotol air.


“Hei, uang!” serunya pada Hiyola sambil menadah tangan.


Hiyola mundur selangkah dan menggeleng, “Kau yang membuatku tersedak, bayar pakai uang mu.”


“Ckckc… dasar kikir! Padahal kau yang hampir mati!” cibir Daniel menyerahkan selembar uang 50 kepada abang penjual. Mereka kembali duduk di taman setelah mengambil kembalian.


“kemana saja kau?”


Belum juga Hiyola mendaratkan bokong nya, Daniel sudah mulai menginterogasi.


“Aku menghubungi Miona hari itu, dan katanya dia berada di luar kota. Bibi Alya kecelakaan? Bagaimana bisa hanya mereka yang pergi dan kau yang tinggal?” tatar Daniel tanpa jeda.


Memang benar dirinya mengganti nomor ponsel, tapi itu hanya untuk sementara. Dia ingin menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini.


“Aku harus melunasi hutang.” Jawab Hiyola singkat. Dia mulai menyandarkan punggung lelah nya di bangku taman, kemudian menatap langit jauh di atas sana.


“Aku harap saat itu ayah juga membawa ku.” Serunya mengadu.


Plak…!


“Aduh..” keluh Hiyola melotot karena Daniel baru saja menampar mulutnya. “Kau mau mati ya?”


“Peluk!” ujar Hiyola tiba-tiba. Matanya yang sayu menatap Daniel mengiba.


“Bisakah kau memeluk ku saja, dari pada mengomel?” pinta Hiyola lagi. Kali ini suaranya nyaris tidak terdengar.


Daniel tahu betul jika gadis ini meminta untuk di peluk, artinya ada sesuatu yang tidak ingin dia bicarakan.


Seperti seorang Kakak, Daniel memeluk Hiyola sambil mengusap pundak nya lembut.


Sementara di balik pundak Daniel, Hiyola terus memandang jauh ke depan, matanya tampak kosong, entah beruntung atau duka yang sedang dia alami saat ini.


***


Malam tiba. Waktu menunjukkan pukul 09:15 setelah kerja sampingan di perpustakaan, Hiyola akhirnya sampai di rumah. Rupanya Roberth pun sudah pulang karena mobil yang sudah berada di parkiran.


Kening Hiyola sedikit mengrut, sepertinya ia tadi melihat mobil ini tapi tidak tahu di mana.


Sesudah memarkirkaan motor, Hiyola berjalan sambil membawa travel bag yang berukuran lumayan besar, berisi pakaian-pakaian nya, masuk ke dalam rumah.


Di dalam sana, Hiyola kembali terperanjat saat mendapati Roberth yang lagi-lagi berada di depan TV. Untung saja kali ini dengan pakaian lengkap.


Dengan langkah pelan, Hiyola berjalan mengendap-endap.


“Kau sudah pulang?” Tanya Roberth seketika menghentikan langkah Hiyola yang berencana masuk diam-diam.


“em… iya.” Jawab Hiyola canggung, tidak melangkah maju ataupun menghampiri Roberth.


“Ganti pakaian mu, lalu kita akan bicara.”


Untuk pertama kali Hiyola berharap di omeli saat pulang larut malam. Biasanya kalau pulang larut, bibi akan langsung menyuruh nya makan, atau Miona yang bertanya bagaimana kuliah dan pekerjaan hari ini. Seumur hidup tidak ada seorang pun yang memarahinya karena pulang larut, jadi kenapa dia harus berharap pada Roberth yang notabene orang asing?


“Baiklah.” Jawab Hiyola singkat, kemudian berjalan naik ke atas.


Setelah berganti pakaian, Roberth dan Hiyola duduk di ruang makan, sambil berhadapan.


“Besok kamu akan ikut bersama saya ke pertemuan keluarga.” Ujar Roberth membuka percakapan.


“Besok? Jam berapa?”


“Jam 7 malam.”


Hiyola membelalak. Jam 7 ia punya janji temu dengan pelanggan dari aplikasi dan tidak mungkin di batalkan, di tambah karena mengganti nama di aplikasi, Hiyola harus kehilangan para pelanggan setianya.


“Tidak bisakah tuan saja yang pergi? Saya punya janji temu dengan pelanggan Meet me besok.” Tanya Hiyola ragu-ragu. Tangan nya bahkan di letakkan di atas meja, mengatup, dengan wajah penuh harap sambil tersenyum mengiba.


“Berhenti memandang saya seperti itu, ini juga mendadak bagi saya, saya bahkan harus membatalkan pertemuan dan merugi 1 M."


Hiyola mencibir, dalam hati dia ingin berteriak.


'Sombong amat!!!'


"Ingat! Besok jam 7 tepat saya akan menjemput. Jadi, pastikan saat itu kau sudah berada di rumah. Untuk pekerjaan, biar saya yang urus.” Ujar Roberth tidak bisa di bantah.


Dia lalu beranjak kembali ke depan TV menyisahkan Hiyola dengan kekesalan di hati nya. Gadis itu bahkan mengambil garpu dari rak sendok, kemudian mengarahkan ke punggung Roberth yang sudah membelakanginya seakan ingin menikam, namun, dengan gerakan cepat menyembunyikan kembali garpu itu di balik punggung nya karena Roberth yang tiba-tiba berbalik.


“Oh, ya, pakailah salah satu pakaian yang berada di lemari. Jangan gunakan seperti yang kau kenakan saat ini.” Tuturnya lalu kembali melanjutkan langkah. Ingin berteriak tapi tak bisa, ingin memaki lebih tidak mungkin, mukin kekesalan seperti itulah yang sedang Hiyola tahan detik ini.


Mengerucutkan bibir, gadis itu mengomel dalam diam sambil melihat pakaian yang ia kenakan. Celana jins selutut dengan aksen sobek- sobek, baju kaos oblong kebesaran dengan gambar tengkorak di bagian depan.


“Memang nya apa yang salah dengan pakaian ku?”


“Apa dia menyuruhku mengenakan baju-baju kurang bahan yang ada di lemari? Yang benar saja.”


“Dasar pria mesum!”


“Pria jahat!” Kesal Hiyola dengan suara sepelan mungkin agar orang yang dimaksud tidak mendengar, tapi di detik berikutnya dia malah membungkam mulutnya sendiri.


“Saya bisa mendengar mu.” Seru Roberth dengan mata tetap pada layar TV. Hiyola memandang Roberth tidak percaya.


“Apa dia itu vampire sampai bisa mendengar suara sekecil ini?”


“Itu juga saya masih bisa dengar.”


***