Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 24 : Memenuhi keinginan (Bagian 3)



Suasana hening. Baik Hiyola maupun Roberth, sama-sama membuang pandangan mereka. 


Kembali ke beberapa detik lalu, saat keduanya larut dalam keinginan masing-masing. Ketika mata mereka telah terpejam, sebuah panggilan masuk dari Petra menghancurkan segalanya. Saking shock dengan yang ia lakukan, Hiyola mendorong Roberth, hingga kepala pria itu terhantuk dinding kabin. 


Hiyola yang langsung berpindah tempat duduk, merutuki kebodohan nya karena ikut larut dalam permainan Roberth. Padahal dirinya sudah harus tahu bahwa tidak mungkin untuk pria itu menyukainya. Dia punya wanita idaman lain, dan sampai kapan pun, Hiyola tidak akan pernah bisa menduduki posisi tersebut. 


"Pikir apa aku?" gumam Hiyola tersenyum miris. Apa mungkin di sudut hatinya ia berharap semua nya terjadi seperti seharusnya, bagaimana jika Petra tidak menelpon tadi, apakah ia sanggup menolak Roberth? Dan, apa yang Roberth pikirkan saat ini?


Entahlah, apa yang Roberth pikirkan. Di satu sisi ia merasa lega. Walau bagaimana pun, Hiyola bukan istri seperti yang seharusnya. Roberth sadar sungguh, dirinya tidak punya hak untuk menyentuh nya. Tapi, di sisi lain, bersamaan dengan itu, Roberth turut merasa kesal karena telepon masuk dari Petra. Semuanya semakin ambigu. 


"Tuan mau berpegangan kaku terus, seperti itu?" 


Akhirnya setelah diam seribu bahasa. Hiyola berusaha mencairkan kembali suasana. Bianglala baru saja berputar. Tidak mungkin mereka akan duduk mematung sepanjang beberapa menit kedepan. 


"Oh, saya..." Roberth nampak salah tingkah. Dia menggaruk tengkuk nya. Roberth merasa ia kembali muda lagi. Dirinya seolah kembali pada beberapa tahun lalu saat ia masih duduk di bangku perkuliahan. Padahal saat bersama Kimberly, ia tidak pernah merasa se'salting ini.


"Mari kita lupakan kejadian tadi." timpal Roberth tak nyambung. Hiyola ikut mengangguk menyetujui. 


"Ya! Anggap saja tidak pernah terjadi. Saya juga sudah melupakan nya." jawaban luwes Hiyola membuat Roberth mengerutkan dahinya. Padahal dari pengalaman nya dengan beberapa gadis yang mendekat, mereka tidak akan melupakan kejadian sekecil apa pun jika menyangkut diri nya. Bahkan jika Roberth sendiri yang meminta mereka untuk melupakan sikap pedulinya, mereka akan memaksa untuk mengingat nya. 


"Ya! Kau memang ahli melupakan." Ada nada tidak senang di sana. 


Oh, ayolah, Rob, jangan bilang kau berharap sesuatu yang lain.


"Jadi, Tuan sudah bisa menyesuaikan diri dengan bianglala?" Suasana mulai mencair dengan Hiyola yang mulaierubah topik.


Roberth mengangguk, namun, penampakkan nya masih lumayan dalam mode tegang. 


"Berteriak saja, Tuan!" saran Hiyola, sudah kembali pada jati dirinya.


Roberth menggeleng, menolaka saran yang menurutnya sangat kekanakan. 


"Berteriak hanya untuk anak kecil, saya-" 


"Aaaaaa.....!!!" 


Kalimat Roberth di potong oleh teriakan Hiyola yang tiba-tiba. Gadis itu sengaja, dirinya sudah tahu apa yang akan pria kaku itu katakan selanjutnya. 


"Saya bukan anak kecil." cibir Hiyola dalam hati, meniru Roberth. 


"Kamu gila, ya?" teriak Roberth masih dalam mode terkejut.


Hiyola tertawa. Wajah nya ia tempel pada jendela bianglala yang berukuran kecil dengan terali besi. Dia berteriak ke luar jendela, kemudian menoleh melirik Roberth. Ia melakukan nya beberapa kali, memancing emosi pria itu, agar ketakutan nya segera hilang.


Namun, bukan nya emosi, Roberth malah ikut menekuk tubuhnya, kemudian berteriak. 


"Aaaaaa....!!!" 


Hiyola di buat terkejut. Suara Roberth yang biasanya terdengar rendah dan sek si, jadi lebih jelas. 


Keduanya tampak bodoh saat saling menatap. Mereka tertawa sambil sesekali berteriak melepaskan ketakutan. 


Tampak sederhana, tapi bagi Roberth, ini adalah hal paling tidak mungkin yang pernah ia lakukan. Berteriak layaknya orang bodoh, dan rasanya sangat relaks. 


***


"Bagaimana rasa nya, Tuan?" tanya Hiyola. Mereka baru saja turun dari bianglala. 


"Sangat menyenangkan bukan?" Hiyola merentangkan kedua tangan, merilekskan otot-otot tubuh.


"Menyenangkan apanya? Suara saya hampir habis!" ketus Roberth berdusta. Tentu saja ia menikmati momen ini, namun, dirinya tidak mau menunjukkan ekspresi senang nya.


"Nanti besar kepala dia!" batin Roberth.


"Setelah ini, ada satu tempat di dekat sini yang ingin saya tuju, Tuan." ucap Hiyola tanpa jeda. Jujur saja Roberth sudah mulai kelelahan karena hari yang semakin larut.


"Mulai melunjak, huh?" 


Hiyola menarik naik kedua sudut bibir, melirik arloji coklat yang masih melingkar di tangan nya. "Masih pukul sembilan, Tuan." ujarnya merayu. "Satu tempat terakhir, dan kita akan pulang." Matanya mengerjap penuh harap. 


Melihat ekspresi Hiyola yang seperti itu, jantung Roberth seketika berdebar tidak karuan. Entah apa yang terjadi pada hati nya. Apa ia mulai terpengaruh senyum Hoyola? Tadi saat berada di bianglala juga karena Hiyola terus tersenyum ke arah nya, jadi otaknya tidak berpikir jernih. 


"Berhenti tersenyum!" sergah Roberth, melenceng jauh dari topik. Dia harus membuat Hiyola mengurangi kebiasaan tersenyum. Apalagi seperti yang ia lakukan saat ini, tersenyum sambil melebarkan mata bulatnya.


Hiyola mencibir. "Jangan beralih topik, Tuan! Jadi atau tidak?" Nampaknya Hiyola mulai menuntut. Padahal saat di tawar pertama kali, katanya minta maaf saja cukup.


"Dasar plin-plan!" sindir Roberth. Tapi, Hiyola kembali mendesak meminta Roberth untuk membawanya ke tempat terakhir. 


"Ayolah, Tuan. Setelah ino saya tidak akan meminta apa-apa lagi! Kesalahan tuan, sepenuh nya saya lupakan." 


Roberth memutar bola mata, jengah. Sepertinya dia sudah lebih bisa berekspresi, ketimbang sebelumnya yang selalu datar-datar saja.


"Baiklah! Dasar, banyak mau!" tatar Roberth, berjalan menuju mobil. Tidak tahu apa alasan nya, namun Roberth semakin tidak ingin hari ini berakhir. 


***


Setelah perjalanan menempuh 15 menit, mobil berhenti tepat di sebuah gerbang masuk bertuliskan, 'Noisy Beach.'


Walau tidak seberisik nama nya, pantai tersebut cukup ramai di waktu yang sudah selarut ini. Pantai yang memiliki kafe dan penginapan di sepanjang pesisir nya, dipenuhi dengan pengunjung dari luar kota bahkan luar negri. Kebanyakan pengunjung yang datang merupakan keluarga. 


Hiyola teringat beberapa tahun lalu, saat terakhir kali mereka sekeluarga lengkap, bahkan di tambah  bibi Alya dan paman Hans yang masih bersama. 


Kebahagiaan yang tidak akan pernah terulang, kembali tergambar jelas di benaknya seperti sebuah kaset lama yang di putar ulang. Senyuman sang ayah, pelukan kasih sayang ibu, suara berisik Miona, dan kemesraan paman dan sang bibi, membuat senyum Hiyola semakin melembut. Dia bersyukur mendapat kesempatan untuk mewujudkan keinginan yang karena tuntutan hidup tidak bisa ia wujudkan.


Sementara itu, tepat di sisi kiri, Roberth yang berjalan di samping Hiyola, terus memandangi wajah yang membuatnya mulai bimbang. 


Awalnya Roberth mengira Hiyola akan meminta bermacam-macam hal. Mengingat kesukaan nya 'uang', Roberth mengira Hiyola mungkin akan berbelanja, atau membeli mobil, ponsel atau barang mahal lain yang bisa di tukar dengan uang.


Nyatanya ia salah. Semakin hari, makin mengenalnya, Hiyola semakin menunjukkan ketidak samaan nya dengan beberapa wanita yang Roberth kencani sebagai pelampiasan saat putus dengan Kimberly, dulu.


Roberth bahkan tidak menyangka Hiyola meminta hal-hal sederhana, yang tidak akan di minta seseorang yang benar-benar menyukai uang. 


Bakso pukul 19.10, es krim, bianglala. Semuanya tampak tidak masuk akal di benak Roberth, tapi tidak tahu mengapa, Hiyola berhasil membuat beberapa keinginan kecil Roberth yang sempat ia kubur, kembali muncul di permukaan. 


"Duduk di sana, Tuan." Hiyola langsung menarik tangan Roberth. Karena melamun, Roberth mengikuti saja kemana Hiyola membawanya.


Mereka duduk tepat di bawah sebuah pohon yang baru mulai membesar. Hiyola menarik nafas panjang, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajah nya. 


"Ah, sudah sangat lama, ya..." bisik Hiyola pada pantai yang menjadi saksi bahwa bahagia pernah menghampiri nya dulu. 


Mata Hiyola mulai terpejam. Roberth mengambil kesempatan untuk sekali lagi menerawang wajah cantik yang tengah di terpa sinar rembulan. 


"Kamu sudah bisa memaafkan saya sekarang?" tanya Roberth memecahkan lamunan Hiyola. Dia menoleh. Mata abu Roberth selalu berhasil menyihirnya.


Hiyola tersenyum, "Sudah saya katakan, 'Saya tidak menyalahkan, Tuan!'" suaranya lembut. 


Roberth menyentuh dadanya, "Sudah saya bilang, jangan tersenyum seperti itu!" peringat Roberth, mulai merasa debaran di jantung nya.


Hiyola merengut, wajahnya masam. 


"Kenapa berekspresi seperti itu?" tanya Roberth, satu alisnya terangkat. 


Hiyola kembali mengubah ekspresi nya. Lagi-lagi ia memberikan senyuman terbaik nya. 


"Sudah saya bilang jangan tersenyum!" Roberth mulai sadar Hiyola semakin mempengaruhi kesehatan jantungnya. 


"Tuan!" sergah Hiyola. Memutar menghadap Roberth. Membuat Roberth bisa melihat senyum merekah itu dengan sangat jelas.


"Saya itu manusia. Saya akan tersenyum ketika bahagia, tertawa ketika sesuatu terasa lucu, menangis ketika bersedih, marah ketika kecewa, berteriak saat butuh di dengar, saya akan berekspresi sesuai apa yang saya rasakan. Jadi, saya berharap tuan pun melakukan hal yang sama. Hidup terlalu singkat untuk di tanggapi dengan datar-datar saja." 


"Jadi, maksudmu, saya itu orang nya datar-datar saja?" sewot Roberth, di sambut anggukan Hiyola. 


"Yu! Tuan terlalu datar untuk seseorang yang punya segala nya."


Hiyola kembali memutar tubuh nya menatap deru laut di depan sana. Kedua tangannya ia gunakan untuk menyanggah tubuh. Roberth terus memantau gerak-gerik nya.


"Hah, setidaknya dengan berekspresi sesuai keadaan, tuan akan memiliki sesuatu untuk di kenangan nantinya." tambah nya, menoleh seraya tersenyum.


"Jadi, mungkinkah aku akan mengingat hari ini sebagai sebuah kenangan nantinya?" batin Roberth.


 


***